Waktu untuk Tidak Menikah: Amanatia Junda, Kompromi Perempuan dengan Nasib

Waktu Untuk Tidak Menikah, Amanatia Junda, Buku Mojok
(Waktu Untuk Tidak Menikah, Amanatia Junda, Buku Mojok)

Cerpen-cerpen Amanatia menunjukkan persentuhan langsungnya dengan pahitnya mencari keadilan di hadapan timpangnya relasi kuasa.

Dalam bisik-bisik dunia perbukuan yang berhasil saya curi dengar, menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpen diibaratkan sebagai perjudian yang sayangnya jarang sekali dimenangkan. Jika pun kemenangan itu tiba, untung yang diperoleh pun tak banyak. Buku kumpulan cerpen yang bernasib baik di pasar memiliki dua rumus. Pertama, penulisnya memang seorang tokoh kesohor yang punya ruang di jagat sastra nasional; dan kedua, seperti genre buku apa saja, penulisnya telah membangun citra di media digital (blog atau media sosial) yang membuatnya telah lebih dahulu memiliki basis pembaca.

Amanatia Junda, penulis buku kumpulan cerpen Waktu untuk Tidak Menikah tak memenuhi dua rumus itu. Tulisan-tulisan Amanatia memang pernah termuat di media massa, tapi tetap saja ia adalah nama baru dalam kontestasi sastra Indonesia. Karya yang berisi empat belas cerita pendek ini adalah buku pertamanya. Namun, ternyata, empat belas tokoh perempuan yang ia kisahkan dalam buku ini toh berhasil merebut perhatian.

Buku ini diterima publik dengan baik. Cetakan pertama amblas dalam dua bulan saja. Bagaimana buku ini melenggang dengan optimistis dalam pertaruhan itu?

Waktu untuk Tidak Menikah tentu saja adalah judul yang seksi. Jika saya seorang pembaca muda yang sedang memegangi satu per satu buku yang terpajang pada sebuah rak “sastra” sebuah toko buku, judul semacam itu sudah pasti menggiring saya untuk membaca sinopsis pada bagian belakangnya. Beruntung, sampul belakang buku memang menjelaskan cukup gamblang tentang satu cerita yang dipakai untuk menjadi judul utama buku.

“Sebentar lagi Nursri menikah. Orang tuanya di kampung sibuk menyiapkan pesta yang meriah. Doa-doa baik teriring untuknya. Yang jadi permasalahan hanya satu: Nursri mendadak merasa harus pergi dari kamar pengantin dan kembali ke Timalayah, kota industri yang memagari nasib baik-buruknya selama ini.”

Nursri yang kabur dari helatan pernikahan di pagi hari itu adalah sesosok buruh perantau yang punya kisah cinta lama dengan sesama buruh. Perempuan desa biasa yang jadi tumpuan ekonomi keluarga, sekaligus tetap harus segera punya pasangan agar tidak dianggap kedaluwarsa. Peristiwa-peristiwa kebetulan yang memadati pagi sebelum akadnya tumpang tindih mengganggu keyakinan Nursri yang akhirnya memilih tak menikah.  

Sosok Nursri tercipta dari ingatan masa kecil Amanatia kepada Nur, buruh pabrik buku tulis yang juga bekerja di rumah saudaranya. Ia sering mendengar Nur berkeluh kesah. Fragmen tersebut adalah persentuhan pertama dirinya dengan kisah-kisah perburuhan.

Warna muram yang datang dari isu buruh, lingkungan, konflik agraria, dan kekerasan terhadap perempuan muncul teratur dalam kumpulan cerpen ini. Amanatia, jika harus disebut secara eksklusif sebagai penulis perempuan, tak berangkat secara khusus dari keresahan-keresahan perihal seksualitas dan gugatan akan kebebasan individu yang biasa jadi prasyarat label “penulis perempuan”. Alam ide Amanatia berangkat dari pengalaman ketubuhannya dalam konflik sosial yang secara langsung menempatkan perempuan sebagai subjek pelaku yang mengalami, memikirkan, dan memosisikan diri dalam sebuah peristiwa. Kita mungkin boleh mengatakan bahwa ide dasar cerita-cerita Amanatia yang bertokohkan buruh, mahasiswa, aktivis, orang asing biasa, dan jurnalis ini, sebetulnya berasal dari sesuatu yang lekat dengan kehidupannya.

Amanatia lahir di Malang, kemudian beranjak remaja di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sebelum pergi ke Yogyakarta. Membicarakan Porong, selintas kita akan sampai pada ingatan akan Marsinah, buruh pabrik jam pemberani yang diperkosa dan dibunuh sebab memimpin aksi mogok kerja terhadap pimpinan pabrik yang bekerja sama dengan militer pada masa Soeharto. Tugu Kuning, jalan masuk menuju pabrik tempat Marsinah bekerja, terletak tak jauh dari rumah Amanatia. Hari-hari ketika Marsinah hilang lalu ditemukan tewas di sebuah hutan di Nganjuk, wartawan ramai datang ke Porong untuk meliput. Berita-berita agak seram pun beredar. Konon, Amanatia yang ketika itu masih kecil sampai sawan sebab membayangkan kengerian-kengerian itu.

Belasan tahun kemudian, Porong kembali jadi perbincangan media nasional. Amanatia bersentuhan langsung dengan pahitnya mencari keadilan di hadapan relasi kuasa yang jelas timpang. Ia dan keluarga besarnya beserta seluruh penduduk desanya adalah korban terdampak Lumpur Lapindo Brantas (2006) yang oleh berbagai media, secara politis disebut sebagai bencana lumpur panas Sidoarjo.

Amanatia menyaksikan bagaimana orang-orang di sekitarnya merasa sedih, marah, tak berdaya bahkan gila sebab mereka terpaksa pindah tempat tinggal lantaran semburan lumpur yang berasal dari pengeboran industri sumur gas.

Sementara, ia menyaksikan teman-teman masa kecilnya lulus SMA lalu mabrik—bekerja di pabrik sepatu dan alat-alat elektronik. Kadang-kadang, ia melihat realitas itu dengan berjarak. Seringkali, pemandangan yang langsung di depan matanya itu hadir begitu lekat. Di balik kesejahteraan yang mudah diperoleh dari gaji dengan standar UMR tinggi, ada cerita pelecehan, kecelakaan di tempat kerja, dan konflik keluarga yang subtil.

Jadilah tokoh-tokoh perempuan di buku bersuara dengan mandiri. Semuanya berbicara, meski terkadang kepada dirinya sendiri. Terkadang, cerita itu juga dinarasikan oleh seorang penumpang kereta Gaya Baru Malam Selatan jurusan Jakarta-Jombang yang mengisahkan Widuri, perempuan buta yang semua anggota keluarganya perempuan dan pernah bekerja sebagai buruh pabrik bulu mata palsu.

“Diam-diam dia ingin jadi menteri ketenagakerjaan. Edan sekali, bukan, cita-citanya? Mungkin di Mewek, satu-satunya yang punya cita-cita seperti itu cuma anak itu. Satu per satu teman baiknya setelah lulus SD memilih jadi buruh idep. Sementara teman-temannya sibuk nabung buat beli hape atau baju bagus, eh, dia malah nabung buat beli buku. Aku harus kuliah, pikir Widuri. Ya, untuk jadi menteri dia harus kuliah. Sukarno saja di zaman penjajahan bisa sarjana. Kenapa dia nggak?” lanjut lelaki ini tanpa bisa menyembunyikan nada suaranya yang menggebu. (“ Sepasang Bulu Mata Merah”, hlm. 131)

Bagaimanapun ngeyelnya tokoh-tokoh yang punya hasrat melawan ini, mereka tetap saja memiliki sisi rapuh yang dalam cerpen-cerpen Amanatia beberapa kali dilarikan pada peristiwa mimpi. Sebuah fase dialami oleh subjek yang tengah paranoid dan tidak punya pelarian untuk masalah yang ia pikirkan.

“Meski mimpi ini datang berulang kali, di alam sana aku tidak bisa menguasainya, tidak bisa mengubah alurnya, bahkan tidak bisa mencegah Noni hilang, ataupun menghentikan para binatang yang berlari. Tidak bisa pula kukendalikan rasa takut, rasa sepi, rasa tegang, dan rasa-rasa tak enak lainnya yang membuat sekujur tubuhku lungkrah ketika kesadaranku kembali penuh.” ( “Denyut Merah, Kuning, Kelabu”, hlm. 3)

“Kuhancurkan daftar nama yang sudah kususun tadi. Mungkin karena kelelahan, aku jatuh tertidur. Di dalam dunia yang asing, yang terjadi bertahun-tahun kemudian, aku berada dalam sebuah ruangan yang hangat. Bingkai-bingkai foto bertempelan di salah satu sisi dinding. Bingkai-bingkai itu seolah bercerita bahwa aku mampu melewati hidup yang keras bersama putriku…” ( “Baru Menjadi Ibu”, hlm. 62)

Pikiran iseng saya, mungkin memang Amanatia ini pengarang “baik-baik”. Ia tidak melarikan tokohnya pada lingkaran setan yang semakin membuat si tokoh berakhir konyol. Cerpen “Lantai Tiga Beringharjo” pun memunculkan ‘aku’, seorang pedagang gombal baik-baik yang mengisi waktu bengongnya dengan membaca majalah-majalah lawas. Oh, sesosok perempuan koruptor, tokoh utama dalam cerpen “Abha” mungkin bisa disebut berkeputusan kurang baik untuk berkompromi dengan nasib buruknya di masa tua.

Dalam cerpen “Baru Menjadi Ibu”, ada sosok perempuan (Aku) yang menjadi olok-olok keluarga besar mertua sebab tak kunjung hamil. Di sebuah angkot yang ditumpanginya, ia menjadi korban kekerasan seksual seorang laki-laki asing yang membuatnya hamil. Sang suami menceraikannya. Si Aku mempertahankan kehamilan hingga si bayi lahir dengan selamat di sebuah rumah sakit bersalin meskipun penulis kemudian mengakhiri cerita itu dengan cukup tragis.

Bagian favorit dalam buku ini justru cerpen “Pisah Ranjang”. Ceritanya simpel saja, perihal sepasang suami istri yang gagal menemukan solusi komunikasi dalam pernikahan mereka. Tone cerita terbangun dari dialog dua tokoh, mirip komedi situasi. Akhirnya, Amanatia bisa lucu juga, batin saya.

“Mereka kini pisah ranjang, sesuai apa yang diinginkan si Istri. Seharian, sang Suami sibuk membelah dipan kayu menjadi dua. Ia menambahkan sepasang kaki dipan pada dua bagian yang terbelah. Ia memotong kasur menjadi dua bagian lantas menjahit kedua sisi yang baru. Gumpalan kapas randu beterbangan di sela-sela keasyikannya menjahit kasur dengan jarum besar.” (“Pisah Ranjang”, hlm. 173.)

Satu bagian yang agak membuat kurang nyaman adalah sebuah cerpen yang berlepas dari identitas cerpen lainnya, berjudul “Planet Tanpa Gravitasi”. Pengarang sepertinya sedang bereksperimen dengan teknik penceritaan fiksi ilmiah. Akan tetapi, ketika dipaksa masuk dalam komposisi buku ini, ia bagaikan sebuah cerita yang tersesat di jagad cerita realis yang melankolis atau sesederhana punya kesan sebagai cerita pelengkap yang dipaksakan agar menambahi kuota halaman sebuah buku.

Selebihnya, saya sangat menunggu Amanatia segera menerbitkan sebuah novel sebab masing-masing gagasan dalam tiap judul sebetulnya punya potensi karakter penokohan, setting, alur dan konflik yang kuat. Pada beberapa judul, saya merasa ide yang ia sampaikan jadi amat menggantung untuk dipenjara dalam sebuah cerita pendek. Tahun-tahun mendatang, saya berharap dapat menjumpai kembali Desa Timalayah, Desa Gayut, Desa Mewek bersama manusia-manusia yang melewati takdir di atas tanah yang mereka terima sebagai nasib baik-buruk itu. Memoar luka sekaligus perlawanan Nursri, Widuri, dan lainnya mesti didokumentasikan lebih layak lagi dalam ruang penuturan yang lebih lega untuk menampung emosi mereka.

Judul buku: Waktu untuk Tidak Menikah

Pengarang: Amanatia Junda

Penerbit: Buku Mojok (Yogyakarta), Januari 2019

Tebal: 178 halaman

Kalis Mardiasih
Kalis Mardiasih adalah seorang penulis opini dan aktivis muda Nahdlatul 'Ulama (NU). Buku keempatnya berjudul Sisterfillah You'll Never Be Alone (Qanita, 2020).