Yang Tersisa Usai Bercinta: Siasat Pengarang Baca Ekosistem Sastra

Yang Tersisa Dari Bercinta - Cep Subhan KM

Dalam berbagai pembicaraan, kita tahu seks adalah topik yang digemari sekaligus dirisak dalam satu tarikan napas. Dari konteks sastra Indonesia kita pernah mengenalnya lewat berbagai neologisme bernada oposisi biner: Gerakan Syahwat Merdeka, Sastra Mazhab Selangkangan yang dikomandoi Taufiq Ismail. Namun, perihal ini, saya tak hendak membincangkan seni semata-mata sebagai eksplorasi estetis atau alat perjuangan ideologi tertentu, yang terkadang dapat mereduksinya pada bias, kepentingan, dan posisi pengarang di medan kebudayaan.

Tindakan represif dan pembungkaman oleh negara menjadi strategi tekstual pengarang di medan kebudayaan untuk lantas menerbitkan novel dengan kadar seksualitas dominan. Momen itu kemudian membuat para pembaca barangkali terkaget dan gagap membaca tubuhnya sendiri.

Kita mengenal judul-judul ini untuk perkara penggambaran seksuallitas yang dominan: Saman, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), dan Ode untuk Leopold von Sacher Masoch. Untuk nama terakhir, kita mengenal sosok Masoch yang akrab dengan gejala-gejala seksualitas dan kerap dijadikan referensi di berbagai medium dunia cerita. Begitu pula novel Yang Tersisa Usai Bercinta karangan Cep Subhan, ketika ia menaruhnya epigraf di halaman prelim buku.

Saat seorang pengarang memutuskan menaruh kutipan teks di gerbang sebelum pertunjukan dimulai, maka saya kira dengan sadar ia punya siasat. Pertama, pengarang berterima kasih pada teks dan pengarang sebelumnya karena ia telah menemukan jejaring makna untuk cerita yang ia garap. Kedua, pengarang membantu pembaca agar horizon pembacaannya tidak jauh meleset karena ia telah memberikan peta di awal gerbang. Ketiga, pengarang bisa mengembangkannya menjadi bagian dari plot cerita.

Dikisahkanlah dalam karya Ceb Subhan tersebut sosok Pandu dan Anjani, mahasiswa sastra yang menjadi sepasang kekasih dalam ikatan pernikahan. Ikatan ini adalah premis dan titik tolak dalam dunia cerita. Wanda seorang pekerja LSM di bidang pemberdayaan perempuan tanpa pasangan, Zen seorang wartawan sekaligus dukun yang menolak masuk dalam perangkap stereotip, Ustaz Jamal penceramah kondang yang namanya kian melejit ketika hidup dalam industri dan komodifikasi media. Kisah juga menghadirkan beberapa tokoh dengan atribut mahasiswa sastra dan pegiat sastra. Masing-masing tokoh tersebut berperan penting dalam menggerakan cerita dengan kausalitasnya terjaga. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, suara-suara serta gestikulasi tokoh bergerak sesuai motif yang dikehendaki pengarang.

Apabila frasa dulce et utile yang dibawa Horatius wajib hadir dalam karya sastra, maka novel ini memberikan penawarannya lewat isu-isu kontemporer dan kecenderungannya membaca gejala yang beredar di sebuah ekosistem. Baik dari seksualitas, sastra dan perbukuan, komodifikasi agama, hingga dunia mistis dan rajah.

Akun Alter, Mistisisme, dan Hiper-realitas

Dalam mazhab pemikiran yang menekankan materialisme, kita tahu sebuah dunia dikatakan baru dapat dipahami apabila berkenaan dengan pancaindra manusia. Pengecualian dapat diberlakukan terhadap dunia gaib yang transenden, maupun dunia maya yang bawel dan penuh tipu-tipu. Namun, realitas kita di negeri ini membuat kita akrab dengan cerita mengenai jimat dan rajah dari dunia yang tak terjamah awam. Cep Subhan pun tak ketinggalan menghadirkan atribut serupa dalam penceritaannya. Eksklusivitas adalah cara kerja yang mutlak dan mekanisme defensif adalah salah satu alasan tokoh-tokoh dalam Yang Tersisa Usai Bercinta tekun mendalami dunia mistik. Kendati berkelindan alam mitis, hidup di zaman modern, para tokoh bagaimanapun masih mengakrabi ponsel, laptop, dan internet. Selebrasi dan pengelabuan identitas adalah siasat yang dilakukan oleh tokoh seperti Ustaz Jamal dalam dunia alter, atau rimba maya yang lain.

Apabila kita mengenal jimat dan rajah sebagai cara untuk bertahan dan langgeng dalam menjalani aktivitas kehidupan, maka kita mengenal alter-ego dan akun alter sebagai perpanjangan tangan di media sosial dengan tangan yang lain. Dunia hiper-realitas yang di dalamnya penuh dengan distorsi dan realitas yang lain.

Demikian pula tokoh-tokoh dalam dunia cerita Cep Subhan kerap berganti akun Twitter. Akun utama untuk unggah konten berkenaan dengan pekerjaan atau citra diri, akun kedua bergerilya untuk pemuasan hasrat dalam diri. Fenonema role player atau bermain peran yang biasa berlaku dalam intercourse di ranjang, berlaku dan beragam pula di setiap akun dan linimasanya. Ada yang menggunakan jilbab dan cadar untuk mendapat efek sublimasi sebagai pemuas hasrat seksual. Dan efek itu menawarkan transaksi dan ekosistem yang tumbuh subur di dalamnya.

Ustaz Jamal sebagai tesis dari hiper-realitas dan simulasi itu sendiri. Citra yang dihadirkan di layar kaca saat ia bekerja nampak berbeda dengan saat ia berada di kesunyian lalu asyik masyuk dengan kelaminnya. Saat ia bertitah, semua halnya menjadi seperti tersentuh tangan Midas. Apa yang diucapkan dan tindak-tanduknya bermuara pada ekonomi, khususnya untuk koceknya sendiri.

Tokoh dalam cerita juga digambarkan dengan apa yang dimaksud komodifikasi. Memanfaatkan ketimpangan-kerentanan pemahaman followers terhadap konten yang mereka konsumsi. Ketika sosok opinion leader dan raja-raja kecil bersabda, maka gaungnya akan luas dengan jejaring yang dapat beranak-pinak dengan mantra andal di masa internet ini: share, repost, retweet, dan sebagainya.

Begitu pula dengan jimat dan rajah itu sendiri, tokoh di dalamnya menggunakan hal tersebut karena kesadaran dan kepentingan. Meski kita tahu semua itu akan menjadi penuh risiko bila kita sebagai pembaca hanya memahaminya hanya secara parsial dan sembrono. Hal itu juga kerap kali muncul dalam dunia maya, ketika pesohor terpeleset atau selip kata dalam berargumen. Mengamini manifesto narator dalam dunia cerita: internet, sebagaimana Tuhan, tidak selalu memberi jawaban langsung.

Seksualitas dan Otoritas

Seks adalah rutinitas biologis manusia: sama halnya seperti tidur, buang air, lapar dan haus itu sendiri menjadi bagian inheren aktivitas manusia. Demikian pulalah seks dalam Yang Tersisa Usai Bercinta hadir bukan sebagai bumbu kisah semata, melainkan sebagai bahan baku utama.

Motif-motif tokoh dalam dunia cerita hadir sebagai subjek dan kesadarannya masing-masing. Pandu, Anjani, Wanda, Zen, Ustaz Jamal maupun tokoh pendamping lainnya adalah potret seseorang yang sadar akan kebutuhan dan ketubuhannya. Interaksi seks para tokoh bukan sebagai dekorasi ruangan, melainkan sebagai konstruksi bangunan itu sendiri. Mereka melancong, berburu, bebas dalam menentukan nasib hingga masuk dalam ikatan perkawinan karena kesadaran mereka sendiri.

Saya melihat wacana seksualitas dalam medium karya selalu berkaitan dengan permainan kuasa. Tubuh dapat menolak, terseret atau bersikap. Kita tahu bahwa sejarah manusia dapat menggerakkan peradaban, salah satunya adalah melalui libido dan hasrat seksual. Seks sebagai laku berkomunikasi dan berekspresi. Tanpa seks, cerita tak ada. Begitu pula realitas dunia.

Kita juga mengenal keberadaan Eros dan Thanatos dalam mitologi Yunani. Gairah hidup dan vice versa. Pandu seorang pengarang dan kritikus, masuk dalam siklus itu dengan intensitas yang dominan. Ia memiliki kesadaran itu dan menyangkalnya lewat dunia cerita rekaannya. Bahwa semua makhluk akan mati, sehebat apa pun perangkat teknologi, dan Pandu pada suatu bagian merasa terjebak pada romansa eskapisme.  

Kecenderungan itu juga muncul dalam suara Leopold Von Sacher Masoch dalam epigraf. Ia hadir melalui penyebutan nama-nama tokoh, seperti Wanda. Apabila dalam sumber primer hubungan sadisme Wanda dan Masoch digambarkan terpaksa karena ketergantungan ekonomi, maka dalam dunia Yang Tersisa Usai Bercinta relasi dan motif antar tokohnya dimodifikasi.

Tartarus sebagai Miniatur

Dunia Yang Tersisa Usai Bercinta terbaca sarat akan referensi dan ada intensi untuk mengacu pada sebuah iklim, baik bagi khazanah kesusastraan Indonesia maupun pelaku industri perbukuan. Saya membaca gelagat itu ketika pengarang memberikan penamaan Tartarus pada markas kesayangannya: perpustakaan pribadi.

Pada mitologi Yunani Kuno, Tartarus digambarkan sebagai penjara bawah tanah bagi para Titan. Sementara dalam mitologi Romawi, ia digambarkan sebagai tempat yang dikelilingi oleh sungai berapi dan dijaga oleh dewi angkara murka. Tak jauh berbeda, asosiasinya adalah tempat yang penuh penderitaan dan eksklusif.

Sebuah metafora akan romantisasi penderitaan penulis yang identik dengan postulat: mahakarya agung lahir dari kesusahan tiada akhir. Atau pandangannya pada buku tak melulu pada rasio, karena menurutnya buku memilki jiwa dan ia akan menemukan pemiliknya, maka buku harus disentuh, dibaca, dirawat, dan diobrolkan.

Ada pula cerita mengenai dinamika sebuah industri dan skena sastra di dalamnya. Hal yang lazim manakala kongsi gibah dan penjaga gerbang ekosistem saling berinteraksi, begitu pula ketika Pandu memberikan penomoran pada rak-rak bukunya dengan pertimbangan numerologi dan hal-hal magis. Ada pertimbangan dan alasan terkait penempatan buku dalam raknya. Baik trivia, sistem kelas, dan prioritas.

Contohnya ketika Pandu berpandangan mengenai suatu karya klasik dan menceritakannya kepada Anjani, istrinya. Atau ceritanya mengenai stipulasi pada buku cerita dan pengarang yang baik menurutnya.

Baginya, karakter cerita yang tak berjiwa adalah pertanda buku cerita gagal dan penulis buruk. Buku yang berhebat-hebat mengolah cerita dan alur tetapi abai soal karakter-karakternya hanya akan jadi buku cerita tanpa jiwa. (hlm. 82)

Pengarang amatir biasanya merumit-rumitkan alur dan mencanggih-canggihkan pengisahan, kemudian ketika mereka putus asa untuk keluar dari kerumitan yang mereka ciptakan, mereka akan ambil langkah terbodoh yang mungkin diambil seorang pencerita di muka bumi: deus ex machina, keajaiban ujug-ujug yang muncul membereskan persoalan-persoalan biasa yang terlalu dirumit-rumitkan sepanjang cerita. (hlm. 99)

Yang Tersisa Usai Bercinta sepakat dengan pernyataan narator cerita. Cep Subhan menulis novel dengan alur linear tanpa berusaha merumit-rumitkan. Pilihan fokalisasi tersebut bukan tak berisiko. Tendensi pengarang untuk menyiasati alih-alih menasihati, masuk dan meniupkan suaranya lewat pandangan tokoh di dunia cerita. Apabila tak proporsional, saya membaca gelagat narator sebagai agen naratif yang berusaha untuk mengamplifikasi objek, isu dan peristiwa di realitas masuk dalam dunia cerita.

Berikutnya acuan dan diksi di dunia cerita, kita bisa melihat banyaknya silang sengkarut teks. Jalinan antara satu buku ke buku lain, satu teori ke teori lain. Ada kesenangan juga kejumudan tersendiri ketika membaca fiksi dengan ragam referensi. Pertama, ia sebagai juru berita, menganggap hal itu penting untuk diketahui secara bersama. Kedua, menganggap pembaca tak tahu dan perlu dituntun. Ketiga, karena ada kecenderungan pengaruh bagi penulis, dan memudahkan pembaca membaca mitos proses kreatif. Keempat, karena memang adalah keperluan cerita dan fokalisasi tokoh.

Novel ini berada pada yang terakhir, yang artinya berbagai referensi tersebut dihadirkan karena memang dirasa perlu. Bila sekadar menyebut: The Golden Bough, Dante’s dream, The Book of Erotic Stories by Women, Poppy Field, Interpretation of Dream, Sappho’s Lyre, Gabriel Palace: Jewish Mystical Tales, Cintaku di Kampus Biru, seri Hannibal, masalah kelamin Hitler, empat arketipe Jung, dan lain-lain.

Lalu dari diksi, pengarang menuliskannya dengan gaya yang beragam; ada kalanya seperti esai yang berbalut diktum, seperti penggunaan quid pro quo, buduh, kata turunan perempuan dan istilah seksual seperti cunnilingus, fellatio; menganggit yang arkaik seperti kata cempiang hingga penyertaan pengucapan lisan seperti tuiter dan CLBK.  

Pada akhirnya, novel ini menawarkan hal yang menyenangkan dan meninggalkan rasa yang khas bagi pembacanya. Meski, Cep Subhan dapat pula menghadirkan ruang biografi tokoh yang kiranya bisa dikisahkan lebih, alih-alih (barangkali tergoda) mencoba formula yang dilakukan pengarang amatir seperti yang diucap narator di dunia cerita. Kita bisa mengandaikannya seperti apa yang kita rasakan sehabis percintaan itu sendiri, kisah tentang belitan aneka rasa hormon dan endorfin yang muncul. Jalinan kebahagiaan dan penyesalan, keduanya bukanlah dikotomi melainkan satu paket tak terpisahkan.


Judul Buku: Yang Tersisa Usai Bercinta

Penulis: Cep Subhan KM

Editor: Hamzah Muhammad

Penerbit: Odise Publishing, Yogyakarta, November 2020

Tebal: 182 halaman

Info pembelian: Berdikaribook, Stanbuku