Hidup adalah terminal, tulis Kenanga–tokoh penari perempuan yang garis hidupnya diceritakan di novel Kulit Kera Piduka–dalam buku hariannya. Terminal dalam suatu perjalanan paling tidak memiliki fungsi sebagai titik pemberangkatan, pemberhentian sementara, dan tujuan akhir. Dhianita Kusuma Pertiwi membaca berbagai terminal dalam novel debut Putu Juli Sastrawan.

Dua puluh empat kontributor Selepas Napas menceritakan bagaimana keajaiban dimunculkan di panggung. Papermoon Puppet Theatre membuktikan bahwa bahasa boneka adalah bahasa yang universal.

Redaksi Jurnal Ruang mengundang 8 toko buku independen untuk merekomendasikan 5 buku favorit mereka di tahun 2020. Bagi mereka, tidak jadi soal apakah buku itu terbitan terkini, karena buku yang baik tentu datang pada momen yang baik bagi pembacanya.

Seperti kebanyakan masyarakat, kami membuat list album-album terbaik yang rilis di tahun 2020 dan menyortirnya menjadi sepuluh nama. Selamat menikmati.

Kami berbincang-bincang dengan Fanny Chotimah, sutradara dokumenter "You and I" pemenang penghargaan Film Dokumenter Terbaik di FFI 2020.

El Filibusterismo tergolong inovasi baru. Novel-novel Jose Rizal, pengarangnya, bukan hanya punya arti penting dalam memahami arah gerak revolusi kemerdekaan Filipina, melainkan juga dinamika kesastraan Filipina. Novelnya menjadi cetak biru yang mengilhami generasi penerus selanjutnya dan tokoh-tokohnya menjadi tokoh pola dasar gambaran radikal sastra Filipina.

Kembali lagi bersama kami di SEKILAS edisi November. Kali ini, Anida Bajumi memberikan rekomendasi versinya, menggantikan Tomo Hartono yang berhalangan hadir.

Di tengah pandemi COVID-19, Dhianita Kusuma Pertiwi mengimajinasikan pandemi 100 tahun dari sekarang. Para perempuan "buruh afektif" hadir sebagai sosok dominan. Bagaimana kecanggihan teknologi di masa depan "mengalahkan" pandemi?

Pada 22-25 Desember 1928, diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia nasional pertama di Yogyakarta. Tanggal penyelenggaraan kongres, 22 Desember, di kemudian hari dipolitisasi menjadi Hari Ibu. Prakarsa para ibu guru Tamansiswa ini melampaui zamannya, menggugat status quo, demi pendidikan anak perempuan, dan demi bangsanya.

Kelebihan dan pesona gagasan buku B. Herry Priyono dalam pembahasannya mengenai korupsi tampak pada rincian semesta pendekatan kontemporer yang dipergunakannya. Dari wilayah filsafat moral ke ilmu sosial dengan pendekatan ekonomi, tata kelola, antropologi, kriminologi, hingga Marxisme.