Hidup adalah terminal, tulis Kenanga–tokoh penari perempuan yang garis hidupnya diceritakan di novel Kulit Kera Piduka–dalam buku hariannya. Terminal dalam suatu perjalanan paling tidak memiliki fungsi sebagai titik pemberangkatan, pemberhentian sementara, dan tujuan akhir. Dhianita Kusuma Pertiwi membaca berbagai terminal dalam novel debut Putu Juli Sastrawan.

Dua puluh empat kontributor Selepas Napas menceritakan bagaimana keajaiban dimunculkan di panggung. Papermoon Puppet Theatre membuktikan bahwa bahasa boneka adalah bahasa yang universal.

Redaksi Jurnal Ruang mengundang 8 toko buku independen untuk merekomendasikan 5 buku favorit mereka di tahun 2020. Bagi mereka, tidak jadi soal apakah buku itu terbitan terkini, karena buku yang baik tentu datang pada momen yang baik bagi pembacanya.

El Filibusterismo tergolong inovasi baru. Novel-novel Jose Rizal, pengarangnya, bukan hanya punya arti penting dalam memahami arah gerak revolusi kemerdekaan Filipina, melainkan juga dinamika kesastraan Filipina. Novelnya menjadi cetak biru yang mengilhami generasi penerus selanjutnya dan tokoh-tokohnya menjadi tokoh pola dasar gambaran radikal sastra Filipina.

Di tengah pandemi COVID-19, Dhianita Kusuma Pertiwi mengimajinasikan pandemi 100 tahun dari sekarang. Para perempuan "buruh afektif" hadir sebagai sosok dominan. Bagaimana kecanggihan teknologi di masa depan "mengalahkan" pandemi?

Pada 22-25 Desember 1928, diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia nasional pertama di Yogyakarta. Tanggal penyelenggaraan kongres, 22 Desember, di kemudian hari dipolitisasi menjadi Hari Ibu. Prakarsa para ibu guru Tamansiswa ini melampaui zamannya, menggugat status quo, demi pendidikan anak perempuan, dan demi bangsanya.

Kelebihan dan pesona gagasan buku B. Herry Priyono dalam pembahasannya mengenai korupsi tampak pada rincian semesta pendekatan kontemporer yang dipergunakannya. Dari wilayah filsafat moral ke ilmu sosial dengan pendekatan ekonomi, tata kelola, antropologi, kriminologi, hingga Marxisme.

Telah dua tahun berlalu, pengalaman Pradewi sebagai wakil dari Penerbit Marjin Kiri untuk hadir di perhelatan akbar Sharjah International Book Fair ini mengupas persoalan di dunia buku dan bagaimana buku-buku berbahasa Arab dari wilayah jazirah Arab dapat lebih kita jangkau.

Selama menekuni dunia menulis, Avianti Armand merasa puisi adalah bahasa paling jujur sebab secara personal mampu menyuarakan pikirannya. Ia bercerita tentang buku termutakhirnya, Museum Masa Kecil, dan proses kreatifnya menulis berbagai antologi puisinya yang mengganjar banyak penghargaan prestisius.

Banyak istilah jenaka diciptakan para pencinta buku untuk mereka yang hobi menumpuk buku: dari pengepul hingga tsundoku. Ambeth Ocampo, sejarawan Filipina, menceritakan pengalamannya "berhadapan" dengan buku-buku kesayangannya dan keterbatasan ruang penyimpanan.