Baca tema bulan ini:

Merawat Harapan Aditya Bagus Arfan Menembus Dunia

oleh Charles DM

01 September 2016 Durasi: < 1 Menit
Merawat Harapan Aditya Bagus Arfan Menembus Dunia

Hujan baru saja berhenti. Hawa dingin yang datang bersama butir-butir hujan belum benar-benar pergi. Namun, semangat Eka Satya Prasaja (38) dan Nina (35) sudah langsung mendidih saat berkisah tentang sang buah hati, Aditya Bagus Arfan (9). Aditya baru akan menginjak usia 10 tahun pada 31 Oktober nanti, tetapi prestasinya di dunia catur sudah sampai ke tingkat internasional. 

Perjalanan hidup putra pertama yang jauh dari ingar-bingar pemberitaan, seakan mendapat ruang pelampiasan ketika penulis bertandang ke kediaman mereka di Perum Pondok Sani, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada akhir Agustus lalu. Terlebih, Aditya baru saja pulang dari Rusia mengikuti Olimpiade Catur U-16. Saat kedua orang tuanya merayakan lebaran di Tanah Air, Aditya berjuang seorang diri dengan hanya ditemani ofisial dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI). 

“Kami tidak bisa dampingi karena butuh dana sekitar Rp.50 juta buat ongkos,” tutur Eka yang berprofesi sebagai karyawan swasta. 

Tekad dan semangat Aditya akhirnya meyakinkan Eka dan sang istri untuk merelakannya berjuang sendiri. Perjalanan jauh Aditya pun tak sia-sia. Sebagai peserta termuda kehadirannya benar-benar mencuri perhatian. 

“Sebelumnya kami berpikir bahwa perlombaan itu berdasarkan kategori usia. Ternyata tidak. Sehingga Aditya berhadapan dengan lawan-lawan yang rata-rata berusia 14 hingga 16 tahun,”ungkap Eka. 

Walau kembali tanpa gelar mengingat lawan-lawan yang dihadapi dari kelompok usia lebih tua, Eka mengaku sang anak mendapat banyak manfaat. Selain pengalaman dan mental bertanding, wawasan pergaulan Aditya juga semakin luas. Tampak di jejaring sosial instagram Eka, presiden FIDE (Federasi Catur Dunia), Kirzan Ilyumzhinov, dan presiden dari negara bagian Sakha, Mikhail Nikolaev, tengah serius memperhatikan Aditya bertanding. 

 

Grand Master ASEAN 

Aditya bisa melanglang buana hingga ke Eropa Timur bukan tanpa sebab. Perjalanan ke Negeri Beruang Putih tak lepas dari prestasi yang ditorehkan di tingkat Asia Tenggara sebulan sebelumnya. Tampil di ASEAN +Age Chess Championships di Dusit Thani Pattaya, Thailand, Aditya sukses menyabet medali emas di kategori U-10. Ia mengalahkan 40 peserta yang berasal dari 13 negara, termasuk China, setelah bertarung sembilan babak. 

Nina yang mendampingi Aditya mengaku deg-degan melihat sang anak berjuang babak demi babak. Pengalaman pertama bertanding di luar negeri, ditambah lagi harus berhadapan dengan lawan-lawan dari sejumlah negara, benar-benar menguras adrenalin wanita murah senyum itu. 

Nina tahu bahwa perbedaan fisik bisa menjadi tantangan tersendiri. Melihat lawan-lawan dengan warna kulit berbeda dan berpostur lebih besar bisa membuat nyali Aditya ciut. Selain memberikan dukungan langsung, sebelum bertanding Nina tak lupa berpesan agar Aditya santai dan tak terbawa suasana. 

“Saya berpesan kepada dia untuk anggap pertandingan itu seperti main sama teman-teman atau sama gurunya. Tetapi saya ingatkan untuk tidak anggap remeh karena peserta yang datang itu bagus-bagus karena mewakili negara masing-masing,”tutur Nina. 

Perjuangan Aditya selama kurang lebih sepuluh hari akhirnya berbuah medali emas. Bocah hitam manis yang kini duduk di kelas empat SD IT Global Insani, Bekasi itu mendulang 7.5 poin. Ia mengungguli Vo Pham Thien Phuc dari Vietnam yang mendapat 7.0 poin serta tiga pecatur Vietnam lainnya yang berada di lima besar. Tak hanya membawa pulang medali emas, Aditya juga berhak atas predikat ASEAN Master dari aseanchess.org. 

Melengkapi kegemilangannya di Thailand, Aditya sukses melampaui rekor pecatur nomor satu Indonesia saat ini, GM Utut Adianto sebagai pecatur termuda yang sukses mengalahkan Grand Master (GM). Pada hari terakhir kejuaraan, dalam tajuk simultan catur, Aditya membungkam GM Eugene Torre yang merupakan Grand Master pertama ASEAN. Aditya adalah satu-satunya dari 30 peserta yang menumbangkan GM asal Filipina itu. 

“Menurut informasi dari Kepala Bidang Bina Prestasi PB Percasi, Kristianus Liem saat itu Utut mengalahkan Grand Master pada usia 13 tahun sementara Aditya saat berusia 9 tahun,”terang Eka. 

Eka pernah berusaha mencatatkan rekor sang anak ke Museum Rekor Indonesia (MURI). Proses sudah lewat separuh jalan, namun terpaksa urung diselesaikan. Tebusan piagam MURI sebesar Rp.7 juta terasa sangat berat. 

“Saya sudah ajukan ke MURI beserta bukti-bukti atas pencapaian mengalahkan Grand Master dan sudah disetujui. Tetapi untuk nebus piagam dibutuhkan biaya administrasi. Karena keterbatasan biaya maka tidak bisa nebus piagam itu,” tandas Eka. 

 

Tak Terduga 

Piagam MURI yang tak tertebus adalah satu dari beragam persoalan yang membayangi Eka dan sang istri dalam mendukung bakat sang anak. Sejak menyadari adanya potensi besar dalam diri kakak dari Gelsi Aurelia Savaira (6) ini, Eka dan Ani berjibaku mulai dari membimbing, mendampingi, hingga mencarikan sponsor. 

Secara teknis Eka tak memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan bermain catur. Dari garis keturunan keluarga pun setali tiga uang. Karena itu Eka kaget saat mengetahui sang anak bisa bermain catur. Kejadian tersebut terjadi saat Aditya berusia 4,5 tahun. 

Saat liburan ke rumah sang kakek di Kuningan, Jawa Barat, Aditya melihat orang-orang di sana bermain catur. Aditya minta sang kakek yang kebetulan bisa bermain catur mengajarinya memainkan bidak-bidak berwarna hitam dan putih itu. 

Selama dua minggu sang kakek dengan sabar mengajari Aditya. Kakeknya yang berlatarbelakang petani, menuntun Aditya dengan hanya bermodalkan pengalaman bermain catur di sela-sela ronda malam. Ternyata bimbimbang seadanya itu benar-benar membuka bakat besar cucunya itu. 

“Pulang dari kampung Aditya langsung meminta papan catur. Saat itu di rumah tidak ada papan catur. Terpaksa saya pinjam dari tetangga. Saya kaget ternyata dia bisa bermain catur dan mengalahkan saya,”terang Eka sambil tergelak. 

Dengan sumber daya terbatas, Eka dan Nina terus mendukung bakat sang anak. Mereka melengkapi ruang pembelajaran putranya dengan tutorial catur yang rutin dibeli secara online hingga buku-buku berbahasa Inggris. 

“Aditya belajar dari pola-pola yang ada dalam buku bahasa Inggris itu. Bila ada kata-kata bahasa Inggris yang tak dimengeri nanti ia bertanya kepada saya,”papar Eka. 

Eka juga kerap bertindak sebagai sparring partner. Demi mengimbangi sang anak, Eka sengaja meminta bantuan petunjuk dari sejumlah gadget. Berbagai perjuangan itu pun berbuah gelar bergengsi pertama pada Juni 2013. Tampil di kejuaraan catur junior Provinsi DKI Jakarta, Aditya berhasil mengumpulkan poin terbanyak dan keluar sebagai pemenang. Saat itu usianya enam tahun. 

Dua tahun berselang, Aditya kembali menjadi yang terbaik di ajang Kejuaraan Nasional Catur U-9 di Jakarta. Berbagai rupa piagam kini tertata rapi di salah sudut ruangan di lantai dua, bukti nyata prestasi yang telah ia raih. 


Butuh Sponsor 

Setelah menorehkan prestasi di tingkat Asia Tenggara, Eka tengah menyiapkan sang anak untuk melebarkan sayap kompetisi ke level lebih tinggi. Sejumlah agenda sudah dipatok di antaranya mengikuti kejuaraan di Malaysia pada akhir tahun ini untuk mengejar target berikutnya yakni tampil di Kejuaraan Asia pada 2017 dan Kejuaraan Dunia setahun kemudian. 

Menurut Eka, target berjenjang tersebut perlu dibuat untuk menjaga cita-cita sang anak menjadi pecatur profesional. Saat dimintai komentar, Aditya mantap bertekad menjadi seorang Grand Master bahkan ingin menjadi seperti sejumlah idolanya yang merupakan pecatur kelas dunia yakni Garry Kasparov, Anatoly Karpov, dan Magnus Carlsen. 

“Selain itu saya ingin sekolah di Hungaria,”tutur Aditya mengacu pada negara di Eropa timur yang telah melahirkan para pecatur top. 

Walau demikian, Eka sadar perjalanan tersebut membutuhkan perjuangan ekstra. Selain kemampuan Aditya yang harus terus diasah, modal finansial pun perlu disiapkan sejak dini. Dari segi kemampuan, Eka optimis dengan potensi sang anak yang kini mendapat tambahan pelajaran dari sekolah catur Utut Adianto. 

Persoalan dana benar-benar masih mengganjal. Tak sedikit anggaran yang diperlukan untuk tampil di mancanegara, terutama untuk keperluan transportasi, biaya hidup, dan penginapan selama kejuaraan. Dari pengalaman tampil di Thailand, Eka sedikit mendapat gambaran bahwa para peserta yang tampil di level internasional diwajibkan melengkapi diri dengan fasilitas memadai. 

Saat tampil di Thailand, Aditya terbantu dengan uluran tangan sejumlah pihak. Warga Masjid di dekat rumah pun turut bergerak mengulurkan bantuan. Tentu sejumlah agenda besar ke depan membutuhkan anggaran lebih besar. 

Eka dan Nina tak kapok mencari donatur, bahkan kini semangat itu semakin berlipat ganda. Selain mendatangi perusahan-perusahaan untuk menawarkan proposal, mereka juga giat berpromosi melalui sejumlah platform sosial media dan website pribadi www.adityabagusarfan.net. Bukan mustahil, seperti yang Eka yakini, kejutan demi kejutan bakal datang, sama seperti letupan bakat sang anak yang membuatnya sempat tak percaya. 

“Saat ini tak bisa hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah sebab hampir semua cabang olahraga mengalami keterbatasan anggaran. Semoga ada sponsor yang mau membantu. Saya yakin pasti akan ada jalan,”harap Eka. 

 

 

Charles DM

test