Baca tema bulan ini:

Wanggi Hoed, Melawan dalam Sunyi

oleh Fandy Hutari

15 September 2016 Durasi: 4 Menit
Wanggi Hoed, Melawan dalam Sunyi Wanggi Hoed, seniman pantomim (Fotografer: George Mandagie).

Pantomim sudah menjadi dunia Wanggi sejak 2006 lalu. Sewaktu kecil, tak pernah terlintas dalam pikirannya menjadi seorang seniman pantomim. Namun, ketika menekuni teater saat SMP hingga kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (sekarang Institut Seni Budaya Indonesia Bandung), pantomim lantas menjadi pilihan ia berkesenian.

Perjalanan Wanggi

Pria asal Cirebon ini baru benar-benar mengasah kemampuannya dalam teater bisu itu ketika duduk di bangku kuliah. Bersama beberapa kawannya, ia pun mendirikan komunitas pegiat pantomim yang dinamakan Imaji Mime Theatre. Komunitas ini memiliki program untuk mengadakan pertunjukan pantomim, dengan tujuan mengankat kembali seni bisu ini di masayrakat.

Dari sana, Wanggi terus mempertajam kemampuannya berpantomim. Wanggi tak seperti aksi pegiat pantomim lain, semisal Septian Dwicahyo, yang kerap mempertontonkan pantomim sebagai hiburan di televisi.Wanggi berbeda. Jalanan adalah panggung bagi seniman pantomim bernama lengkap Wanggi Hoediyatno Boediardjo ini.

Ia berdialog dengan gerakan tubuh dan mimik wajah. Menyapa orang-orang yang melintas dengan gerak-geriknya.

“Saya nggak mau cari panggung, nggak mau eksis. Wanggi ingin pantomim yang ditampilkan bisa menarik akar-akar sejarah masa lalu, sebagai medium perjuangan, ingatan untuk manusia-manusia lain, dan untuk perlawan terhadap penguasa,” kata pria kelahiran 1988 itu.

Ia mengaku belajar pantomim secara otodidak. Asupan pengetahuannya mengenai pantomim didapat dari menonton video di Youtube, menonton televisi, dan membaca literatur-literatur soal seni gerak tanpa suara itu.

Master pantomim asal Prancis, Marcel Marceau, dan seniman pantomim Indonesia, Sena A. Utoyo adalah dua dari banyak seniman lain yang menjadi referensinya. Ketika sudah cukup menguasai seni pantomim, Wanggi pun mulai bersosialisasi dengan para seniman pantomim dunia. Ia masuk ke forum-forum pantomim. Hingga akhirnya, pada 2011 Wanggi ditunjuk sebagai wakil dari Indonesia untuk World Mime Organisation yang berpusat di Beograd, Serbia..

World Mime Organisation memiliki sejumlah program. Salah satunya adalah mengadakan peringatan hari kelahiran seniman pantomim legendaris asal Prancis, Marcel Marceau,yang jatuh pada 22 Maret—hari yang juga disebut sebagai Hari Pantomim Dunia. Wanggi pun ditugaskan mengadakan pertunjukan di Indonesia, khusus memperingati hari itu.

Cara Wanggi memperingati hari pantomim di Indonesia terbilang unik. Kondisinya adalah pantomim di Indonesia sudah kurang digemari. Maka, yang kemudian Wanggi upayakan adalah sebuah program yang mampu mengangkat lagi pantomim. Ia pun menyusun program yang dinamakan “Nyusur History Indonesia”.

Pada 2009 hingga 2010, ia berkunjung ke sejumlah kota, seperti Jakarta, Solo, Yogyakarta, Indramatu, Cirebon, dan Bali. Di kota-kota itu, Wanggi mementaskan pantomim di jalan-jalan, dengan latar bangunan tua. Program ini bukan bagian dari peringatan Hari Pantomim Dunia. Ini adalah program inisiatif Wanggi dan Imaji Mime Theatre sendiri.

“Selama menyusuri kota-kota itu, masyarakat dan teman-teman komunitas heran, karena konsep seperti itu belum pernah dipakai di kota-kota mereka,” katanya.

Orang-orang yang menyaksikan Wanggi berpantomim di kota-kota tadi menyebut ia sedang mengamen. Namun Wanggi membantahnya. Menurutnya, hal yang ia lakukan adalah bagian dari uji mental menghadirkan pantomim di ruang publik. Setelah menuntaskan jalan-jalan pantomimnya, Wanggi kembali ke Bandung. Dari kota kembang itu ia mulai menyusupkan kritik ke dalam bahasa tubuh di ruang publik.

Perlawanan Pantomim

Wanggi mengakui, aksi pantomimnya di jalan bukan tanpa risiko. Beberapa kali aksi pantomim “Nyusur History Indonesia” di Jakarta pada 2010 lalu, terpaksa harus berurusan dengan aparat.

“Alasannya waktu itu tak ada izin. Dan ada pertemuan presiden di Kota Tua. Kita hampir ditangkap. Akhirnya, kita cari titik (pertunjukan) lain,” kata dia.

Ia dan seorang kawannya pun terpaksa melanjutkan aksi pantomim “Nyusur History Indonesia” di dekat Kali Krukut.

Selain di “Nyusur History Indonesia” kendala juga pernah Wanggi alami ketika Hari Perayaan Tubuh di Bandung pada Maret 2016 lalu. Ia bermaksud melakukan pantomim di enam titik, dari monumen nol kilometer Bandung hingga bekas bioskop Palaguna. Namun rencana itu tidak berjalan mulus. Ia ditangkap. Alasannya lagi-lagi karena tak mengantongi izin keramaian. Ia terhenti di titik kelima, yakni di Tugu Asia Afrika.

Ia kemudian diintrogasi perihal pertunjukannya itu selama 60 menit.Ia menerangkan, sebenarnya pertunjukan yang bertajuk “Napak Nafas” itu ingin mengangkat sejarah Kota Bandung. Pascainsiden itu, selama hampir seminggu, Wanggi masih merasakan tekanan. Bila ditengok ke belakang, rasanya masih banyak perlawanan yang Wanggi sampaikan lewat pantomim.

Pada 28 Februari 2012 lalu misalnya, ketika Hari Gizi Nasional, Wanggi pernah melakukan aksi pantomim di depan Gedung Sate dan pinggir Lapangan Gasibu, Bandung. Aksi yang bertajuk “Sehat Milik Siapa” itu kabarnya membuat panas beberapa pejabat yang merasa tersindir.

Dalam pantomim itu, Wanggi menampilkan mimik wajah yang sedih, membawa susu dalam plastik di tangan kanannya. Lalu, ia bergerak duduk, berdiri, dan duduk kembali. Seolah mengekspresikan kepedihan anak yang kekurangan gizi, ia menyedot susu menggunakan selang berukuran kecil dengan bibir gemetar. Di tangan kiri, ia memperlihatkan foto anak yang mendertia gizi buruk.

Bagi Wanggi, pantomim adalah perlawanan. Ia percaya, bahasa tubuh adalah bahasa universal yang kuat dalam menyampaikan kritik dan aspirasi.

“Dalam gerakan-gerakannya, saya akan mengundang impresi, orang bisa merasakan. Ketika mereka melihat kesakitan saya, orang merasakan. Apalagi ketika saya berinteraksi dengan menyentuh, memegang. Itu energi.”

Selain aksi pantomim untuk memperingati hari-hari tertentu, Wanggi pun kini rutin menggelar aksi solidaritas Kamisan. Aksi Kamisan awalnya mulai muncul di Jakarta sejak 18 Januari 2007. Aksi ini merupakan aksi damai para korban maupun keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia—rutin digelar di depan Istana Merdeka, Jakarta, setiap hari Kamis sore. Wanggi, yang membaca koran soal Aksi Kamisan di Jakarta, tergerak untuk ikut juga mengadakannya di Bandung.

Menurutnya, sudah lebih dari 300 kali Aksi Kamisan, tapi tak ada respons dari negara. Ia kemudian menilai bahwa butuh lebih banyak suara yang mendukung visi dari Aksi Kamisan. Alhasil,Wanggi mencetuskan Aksi Kamisan Bandung, yang berlokasi di depan Gedung Sate. Ia pun menggandeng komunitas-komunitas, LSM, dan aktivis kampus.Aksi Kamisan Bandung pertama kali digelar pada 18 Juli 2013.

Tak hanya bersuara untuk sesama manusia, Wanggi juga pernah bersuara mewakili alam. Mengusung pesan agar setiap orang menjaga alam dan lingkungan, pada Juli 2015, Wanggi melakukan pantomim di alam terbuka.Tidak tanggung-tanggung, aksi pantomim ia lakukan di puncak tertinggi pulau Jawa, Gunung Semeru. Di sini, ia mengaku melakukan perjalanan spiritual.

“Saya akan sujud pada bumi, Saya akan sembah pada semesta. Pantomim saya adalah pantomim spiritual. Itu pesan untuk menjaga alam,” katanya.

Hebatnya, aksi pantomim di puncak gunung belum pernah dilakukan seniman pantomim mana pun di dunia. Ke depan, ia juga bercita-cita melakukan pantomim di dalam air.

Perjalanan Wanggi tentu saja bukan hal yang mudah. Bukan pula hal yang murah. Namun, Wanggi tak pernah memikirkan uang dari pertunjukan pantomimnya. Kalau pun pertunjukan bersifat komersil, ia selalu menyelipkan pesan-pesan sosial dan kemanusiaan di dalamnya. 

Untuk mengartikulasikan perlawanannya pun Wanggi tidak sembarangan. Wanggi selalu meriset terlebih dahulu. Entah itu melalui literatur-literatur, maupun llangsung dari korban ketidakadilan yang ada di lingkungannya.

“Datang ke Aksi Kamisan Jakarta, datang ke penggusuran. Mellihat. Saya pantau. Riset tersendiri.”

Bagi Wanggi, bersuara dalam bisu sangat efektif. Ia percaya, diam adalah teriakan paling keras. Saat melakukan aksi diam, lalu berdialog dengan mimik dan gerak, ia percaya itu adalah teriakannya. Hal itu menjadi gambaran orang-orang yang sedang memperjuangkan haknya. Menurutnya, pantomim itu bebas ditafsirkan penikmatnya. Bebas diimajinasikan. Saat ia berpantomim dengan gerak dan mimik gembira, itu adalah kegembiraan. Saat tersenyum tapi pelik, itu adalah kesakitan.

“Dan, pantomim adalah salah satu bentuk bahasa perdamaian dan bahasa untuk semua,” kata Wanggi (*)

Fandy Hutari

Fandy Hutari. Editor Sejarah di Jurnal Ruang. Penulis, periset, dan pengarsip sejarah hiburan. Berminat pada kajian sejarah sandiwara dan film Indonesia.