Baca tema bulan ini:

Little Prince: Mengadaptasi dari Hati

oleh Raksa Santana

20 September 2016 Durasi: < 1 Menit
Little Prince: Mengadaptasi dari Hati

Butuh banyak metafor untuk menyingkap bobroknya dunia. Begitulah kesan yang paling terasa dari narasi The Little Prince, karya dari Antoine de Saint-Exupéry. Pengarang yang juga merupakan pilot itu menghadirkan sosok anak kecil—dari antah berantah—untuk mempertanyakan keganjilan polah orang dewasa. Hasilnya adalah sebuah jalan cerita yang menuntut kelapangan hati, serta penalaran yang sungguh-sungguh, demi memahami jalan pikir sesosok anak kecil, yang bisa kita panggil sebagai Pangeran Cilik.

Pangeran Cilik datang dari sebuah asteroid yang tidak lebih besar dari dirinya. Ia berkelana ke berbagai asteroid lain, karena terpantik oleh ketidakpahamannya terhadap sesosok Bunga Mawar angkuh yang ia cintai. Bermacam-macam asteroid beserta penghuninya ia temui. Mulai dari Raja (The King), Orang Sombong (The Conceited Man), Pemabuk (The Drunkard), Pengusaha (The Businessman),  Penyulut Lentara (The Lamplighter), hingga Ahli Bumi (The Geographer).  Baru setelah melalui asteroid-asteroid tersebut, ia menginjakkan kakinya di bumi.

Bumi jauh lebih luas dari asteroid-asteroid yang Pangeran Cilik temui. Interaksi yang ia hadapi pun terasa lebih rumit. Ia bertemu dengan ular yang tampil layaknya malaikat pencabut nyawa. Ular tersebut begitu dingin—terlihat dari caranya menawarkan kematian. Setelah itu, Pangeran Cilik menemui kebun berisikan ribuan bunga mawar, yang wujudnya persis Bunga Mawar di asteroidnya. Pangeran Cilik gundah. Sebab dulunya, Bunga Mawar yang ia cintai mengaku sebagai satu-satunya bunga mawar di alam semesta.

Dalam keadaan yang tidak mengenakkan itu, Pangeran Cilik bertemu dengan seekor rubah. Pertemuan keduanya, yang terbilang singkat, menjadi titik penting dalam cerita. Rubah memberikan pencerahan ihwal interaksi antar dua insan—melalui konsep menjinakkan dan dijinakkan. Berkat Rubah, Pangeran Cilik sadar bahwa sekalipun satu jenis makhluk hidup jumlahnya ada puluhan ribu, terdapat pertemuan dan interaksi yang membuat satu sama lain unik. Begitulah kemudian ia memaknai Bunga Mawarnya. Bunga Mawarnya terasa spesial bukan karena hanya ada satu di dunia, tapi karena waktu yang ia habiskan bersamanya.

Pilot adalah ujung dari perjalanan Pangeran Cilik. Sang pilot menampung seluruh cerita dan menuturkan ulang kisah tersebut, lengkap dengan berbagai ilustrasi buatannya. Pertemuan Pilot dan Pangeran Cilik, yang terjadi di tengah gurun, juga di antara hidup dan kematian, Saint-Exupéry kemas sedemikian rupa, hingga mampu memantik obrolan panjang dalam memandang seluk beluk menjadi manusia. Terlepas dari siapa yang menceritakan siapa, tak terlalu sulit untuk merasa bahwa kita berada di dalam ruang yang mereka ciptakan lewat kisahnya.

Little Prince dalam Film

The Little Prince telah disadur ke lebih dari dua ratus bahasa. Medium yang digunakan bermacam-macam. Salah satunya film. Terakhir, pada 2015, film The Little Prince garapan Mark Osborne beredar. Film tersebut menggunakan teknik animasi komputer untuk kisah Gadis Cilik dan Sang Pilot, serta teknik stop-motion untuk kisah Pangeran Cilik. Sebuah pendekatan yang berbeda dari karya adaptasi sebelumnya, yakni The Little Prince (1974) garapan Stanley Donen. The Little Prince versi Donen menggunakan manusia sebagai aktor, dan berkonsepkan musikal—salah satu ciri khas Stanley Donen yang sukses lewat Singin’ in the Rain (1952).

Selain dari tampilan visual, kedua film The Little Prince tersebut juga memiliki perbedaan pada ceritanya. Cerita dalam adaptasi versi Stanley Donen sepenuhnya mengacu pada kisah The Little Prince, dengan tambahan nyanyian dan tarian. Sementara dalam versinya Mark Osborne, kisah The Little Prince menjadi sebuah dongeng yang seorang pilot ceritakan kepada seorang anak perempuan—yang hidup bersama ibunya, dengan jadwal hidup yang ketat, masa depan yang terukur, di sebuah dunia yang juga serba teratur.

Bagi yang sekadar ingin menikmati kisah The Little Prince secara apa adanya, tanpa diarahkan ke konteks kekinian, mungkin versi Stanley Donen terasa lebih pas. Sementara bagi yang ingin mencicipi The Little Prince dalam bentuk narasi berlapis, dengan fragmen-fragmen dongeng yang berpijak pada masa kini, versi Mark Obsorne tentu terasa lebih segar. Namun yang pasti, kedua karya tersebut tidak bisa memuaskan semua orang. Begitu juga halnya kisah The Little Prince yang tak bisa menyenangkan anak-anak dan orang dewasa secara bersamaan.

Persoalan audiens dari kisah The Little Prince sebetulnya bukan merupakan hal yang baru. Pada 1943, saat bukunya pertama kali terbit, pertanyaan tersebut sudah muncul. Kala itu, jawaban dari Saint-Exupéry memang tidak terlalu tegas. Ia hanya berkata bahwa bukunya itu ia dedikasikan untuk temannya, orang dewasa, yang tinggal pada zaman pendudukan Nazi di Prancis. Namun dari pernyataan itu, ia meminta maaf kepada anak-anak, karena ia telah mempersembahkan buku tersebut kepada “orang dewasa.” Sekalipun, Saint-Exupéry juga mengatakan bahwa orang dewasa yang menjadi temannya itu adalah orang yang mampu memahami buku anak.

Yang tersirat kemudian adalah, terlepas kepada siapa Saint-Exupéry mempersembahkan bukunya, ia mempunyai kesadaran bahwa buku tersebut bisa ditujukan kepada anak-anak. Namun kenyataannya, tidak banyak yang berpikiran sama dengan Saint-Exupéry. Vincent Canby dari New York Times misalnya. Dalam tulisannya tentang film The Little Prince karya Stanley Donen, ia berkata bahwa ada banyak hal yang anak kecil dan orang dewasa bisa nikmati bersama: kebun binatang, sirkus, Alice in Wonderland, Charlie Brown, roller coaster, dan hot-dog. Tapi menurutnya, The Little Prince bukan salah satunya.

Pernyataan tersebut terasa masuk akal, mengingat banyaknya metafor, serta aforisme yang membutuhkan daya tangkap yang besar. Sementara kita tahu, daya tangkap urusannya tak melulu dengan kecerdasan, tapi juga berkaitan dengan kematangan usia. Nyatanya, terlalu banyak hal rumit yang The Little Prince tawarkan, tapi belum tentu aksesibel di benak anak kecil. Sebut saja misalnya, tautan simbolik dari Tanaman Baobab, profesi para penghuni asteroid, bahkan kehadiran Pangeran Cilik itu sendiri.

Bagi anak kecil, The Little Prince mungkin hanya sesederhana perjalanan epik seorang bocah penghuni asteroid. Perjalanan itu diselingi dengan sentimen terhadap sosok orang dewasa—yang mungkin tak terlalu mengena juga, lantaran sentimen itu lebih menyerupai kritik ataupun otokritik dari Saint-Exupéry. Justru bisa jadi, alih-alih menyuarakan keresahan anak kecil terhadap kelakuan orang dewasa, berbagai sentimen itu malah memperkenalkan kepada mereka seperti apa orang dewasa itu. Sementara kita tahu, tidak semua orang dewasa itu kaku, daya imajinasinya lemah, dan pragmatis.

Dari kondisi yang demikian, rasanya wajar bila kemudian adaptasi The Little Prince menjadi sulit—bahkan Orson Welles pun urung menggarap adaptasi The Little Prince. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mengadaptasinya ke dalam medium film. Tak hanya perkara teknis, seperti penggambaran asteroid dan para penghuninya, melainkan juga perkara yang lebih substansial, yakni kepada siapa film itu ditujukan. Repotnya lagi adalah, saking begitu kompleks kandungannya, kisah The Little Prince juga rentan mengalami pendangkalan ketika dituturkan ulang—apalagi ketika terlebih dahulu melalui proses alih-medium.

Risiko pendangkalan makna itulah yang menghantui sutradara Mark Osborne. Nyatanya, Mark Osborne sempat menolak saat pertama kali ditawarkan untuk mengadaptasi The Little Prince. Mark Osborne baru memutuskan untuk menggarap The Little Prince, ketika ia menemukan cara tutur yang tak merusak daya magis The Little Prince. Caranya adalah dengan tetap meletakkan The Little Prince sebagai teks—dongeng yang diceritakan oleh Pilot ke Gadis Cilik. Dari situlah kemudian, film versi Osborne tidak mengisahkan The Little Prince, tapi mengisahkan betapa kuatnya kisah tersebut dalam mempengaruhi cara pandang Gadis Cilik.

Pilihan Mark Osborne sungguh terasa bijak. Sebab, seperti halnya yang berbagai kalangan yakini, The Little Prince memang bukan karya sembarangan. Menceritakan ulang mungkin mudah—karena jalan cerita dan sejumlah ilustrasinya sudah terpampang jelas di buku. Akan tetapi, kekuatan The Little Prince bukanlah apa yang tertera di manuskripnya. Kekuatan The Little Prince berada di tempat-tempat yang tak tampak oleh mata. Baik itu di dalam hati para pembaca, maupun di tangan para pembaca yang berhati.


The Little Prince
Antoine de Saint-Exupéry
Gramedia Pustaka Utama
2015

Daftar Referensi:

Blair, Elizabeth. 2016. 'Little Prince' Adaptations Aren't Easy—Just Ask Orson Welles. 

Murphy, Mekado. 2016. How ‘The Little Prince’ Came to Animated Life.

Canby, Vincent. 1974. 'Little Prince': An Exasperating Film at the Music Hall.

Saunders, Tristram Fane. 2016. Netflix's all-star animated Little Prince will break your heart.