Baca tema bulan ini:

Sebongkah Pemikiran Intan Paramaditha

oleh Syarafina Vidyadhana

05 Oktober 2016 Durasi: < 1 Menit
Sebongkah Pemikiran Intan Paramaditha

Intan Paramaditha adalah seorang feminis, penulis, akademisi, pengajar, ibu - kemungkinannya tak terbatas. Intan menerbitkan kumpulan cerita pendek, Sihir Perempuan (2005), dan bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad, menggarap buku Kumpulan Budak Setan (2010), sebuah tribut untuk Abdulah Harahap.

Intan menyelesaikan program doktoratnya di New York University dengan konsentrasi Kajian Film. Disertasinya menganalisa film, aktivisme, dan politik seksualitas di era pasca-reformasi. Saat ini, Intan tinggal di Sydney dan mengajar kajian film dan media di Macquarie University. Gramedia.com berbincang dengan Intan menyoal Sastra Gotik, penulis-penulis yang menginspirasinya, dan novel terbarunya yang akan terbit dalam waktu dekat.

G: Cerpen-cerpen Anda (terutama dalam Sihir Perempuan) mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Angela Carter. Apa pendapat Anda soal Angela Carter?

IP: Saya membaca The Bloody Chamber karya Angela Carter pada waktu yang agak terlambat, yaitu di usia pertengahan dua puluhan. Sebelumnya saya melihat bagaimana dongeng-dongeng dipelintir/ direvisi lewat karya-karya Margaret Atwood, khususnya The Robber Bride yang terinspirasi dari dongeng horor Grimm, “The Robber Bridegroom.” Sejujurnya saya lebih banyak dipengaruhi oleh Atwood ketimbang Carter, mungkin karena saya mengenal karya Atwood lebih dulu di masa-masa formatif – 18-19 tahun – sebagai feminis muda pemarah (sekarang masih feminis, tapi tidak terlalu pemarah, haha).

The Bloody Chamber terbit di tahun 1979, seumuran dengan saya, dan saya menyesal terlambat mengenalnya. Saya menyukai cerpen Carter yang berdarah-darah; ini membuatnya jadi lebih dekat dengan dongeng Grimm yang serba sadis – penuh dengan pembunuhan, mutilasi, dan lain sebagainya -- namun pada saat yang sama ia berkhianat dari watak dongeng yang secara umum patriarkis dengan menyodorkan teks feminis. Membaca The Bloody Chamber meneguhkan keinginan saya untuk mengolah interpretasi feminis atas teks yang dominan, termasuk di dalamnya dongeng, kanon sastra, dan kitab suci. Margaret Atwood menyebut Angela Carter “fairy godmother,” sedangkan Salman Rushdie menyebutnya “high sorceress” dalam kesusastraan Inggris. Saya sepakat dengan mereka.

[Baca obituari Abdullah Harahap oleh Ugoran Prasad.]

G: Anda menulis skripsi mengenai pengalaman sublim tokoh Prometheus dan ideologi gender dalam Frankenstein (Mary Shelley). Selain itu, Anda juga menyukai karya-karya Margaret Atwood. Bagaimana kedua penulis ini mempengaruhi visi Anda sebagai seorang penulis dan feminis?

IP: Saya belajar dari Mary Shelley dan Margaret Atwood, sebagaimana juga kemudian dari Angela Carter, bahwa membaca dan menulis ulang adalah strategi feminis. Frankenstein adalah pembacaan ulang atas mitos Prometheus, figur pencipta sekaligus pemberontak yang memikat banyak seniman di zaman Romantik. Perspektif feminis atas mitos Prometheus dalam Frankenstein tercermin dalam pertanyan seputar proses penciptaan, ilmu pengetahuan, dan pengkultusan individu. Proses kreatif saya bisa dikatakan terinspirasi oleh proses yang dilakukan oleh Shelley dan Atwood: membaca, memberi interpretasi berbeda, dan menyodorkan teks baru. Pengarang perempuan kerap mengkritik dengan menulis ulang, seperti Angela Carter merevisi sejumlah dongeng lewat The Bloody Chamber dan Toeti Heraty mereka ulang kisah Calon Arang. Dan kenapa tidak? Perempuan tumbuh dengan dongeng, tapi dongeng tak memberi banyak pilihan untuk perempuan. Perempuan digambarkan tak berdaya dan harus diselamatkan (lewat perkawinan). Ketika ia menyelamatkan diri sendiri dengan melanggar norma yang tidak berpihak padanya, ia diharus dihukum, seperti ibu tiri Putri Salju yang dalam versi cerita klasiknya dipaksa memakai sepatu besi panas dan menari sampai mati.

Semangat membaca ulang secara feminis juga berarti membaca karya-karya penulis perempuan secara lebih dekat dan menimbang pengaruh mereka dalam proses kreatif. Ini kedengarannya gampang, tapi kalau kita baca wawancara pengarang tentang siapa saja yang mempengaruhi mereka, nama-nama yang kerap muncul adalah nama laki-laki. Dan ini terkait dengan persoalan akses, kanonisasi, siapa yang dibicarakan, siapa yang dianggap penting. Di Amerika, upaya menggugat peminggiran penulis perempuan dari kanon sastra dimulai di akhir 60-an – artinya ini terbilang baru, kalau bukan terlambat. Beberapa bulan lalu saya menulis esai berjudul A Feminist Trajectory of Literary Influences, sebuah upaya untuk menelusuri pengaruh pengarang atau intelektual perempuan yang mempengaruhi proses kreatif saya. Tentu banyak karya penulis laki-laki yang saya sukai, tapi saya rasa kita perlu mengembangkan sebuah etika feminis dalam membaca, yakni berupaya menelusuri nilai penting dari karya-karya penulis perempuan — khususnya dalam konteks non Barat. Jadi buat saya ini bukan hanya menelusuri jejak Mary Shelley, Margaret Atwood, Angela Carter, Anne Sexton, tapi juga Arundhati Roy, Toni Morrison, Toeti Heraty. Akhir-akhir ini saya senang menemukan The Vegetarian karya Han Kang. Saya suka khususnya bagian pertama dari novel ini karena menawarkan alternatif atas penggambaran kekerasan yang kerap hipermaskulin dalam film-film art-house Korea.

G: Bagaimana Anda menggunakan framework Sastra Gotik sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai feminis?

IP: Apakah gothic sebagai framework berarti perangkat analisis? Sastra gothic punya ciri khas yang bisa berlaku universal, seperti tema-tema yang gelap, horor, pembunuhan, kematian, tabu, dan lain sebagainya, tapi ia juga secara spesifik lekat dengan sejarah sastra Barat. Gothic muncul di zaman Romantik, terus berkembang di zaman Victoria, lalu kemudian ada Southern Gothic di Amerika. Kastil, loteng, dan koridor gelap adalah latar khas sastra gothic. Apakah kita akan menamai tradisi horor di Indonesia — jimat, susuk, kuntilanak, babi ngepet, dan demit lainnya — sebagai gothic? Apakah gothic suatu kategori imperialistik atau apakah kita bisa melakukan apropriasi yang membuatnya jadi teori produktif? Saya rasa ini butuh analisis lebih jauh.

Tapi untuk konteks pertanyaan ini, saya melihat sastra gothic sebagai serangkaian karya Barat seperti Shelley, Poe, Stoker — juga Southern Gothic seperti Flannery O’Connor— yang saya akrabi karena latar belakang formal pendidikan saya dan saya jadikan referensi dalam berkarya. Abdullah Harahap sayangnya baru saya kenali setelah Sihir Perempuan terbit, tapi kemudian setelah membaca karya-karyanya saya menggagas proyek Kumpulan Budak Setan bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad. Secara umum, saya mengolah horor sebagai moda naratif, sebagai strategi bercerita bahkan dalam karya yang tidak sepenuhnya masuk ke genre horor. Referensi saya tidak cuma sastra, tapi juga film yang mengolah moda horor khususnya karya Hitchcock dan David Lynch.

[Simak elaborasi Eka Kurniawan tentang proses kreatifnya.]

Yang paling menarik perhatian saya dari horor adalah selalu ada pijakan realis untuk kemudian dikhianati. Ia bukan genre fantasi, yang sejak awal memang berpijak pada konvensi dunia lain, atau fiksi sains, yang melibatkan proses kognitif untuk memaknai keanehan / keajaiban. Ia tak terjelaskan, karena itu ia mengganggu. Gangguan adalah kata kunci yang saya curi dari horor. Sebagai pembaca, saya tidak suka diceramahi; saya ingin diganggu. Dan buat saya tema gangguan ini bersinggungan dengan feminisme sebagai paradigma; perspektif feminis bertugas mempertanyakan, membongkar, mengganggu apa yang kita anggap baik-baik saja. Horor memungkinkan kita menemukan retakan atas keseharian yang aman, atas nilai-nilai yang kita percaya.

G: Bagaimana peran sebagai ibu mengubah perspektif Anda?

Di satu sisi, saya tidak mengidentifikasikan diri saya di ruang publik sebagai seorang ibu. Sebagian alasannya adalah saya menolak praktik pengotakan di media yang lebih sering mengaitkan status orang tua dengan perempuan dibanding laki-laki. Pembaca diasumsikan ‘kepo’ terhadap yang privat dan menakar perempuan berdasarkan ukuran-ukuran domestik: sudah punya suami belum, ya? anaknya berapa? bagaimana membagi waktu antara karier dan keluarga? Status ibu juga kerap menjadi strategi deradikalisasi — ini dilakukan oleh media, negara, dan bahkan perempuan sendiri untuk kepentingan tertentu. Embel-embel ibu membuat narasi tentang perempuan-perempuan high achievers alias ganas seperti Sri Mulyani atau Susi Pudjiastuti jadi lebih ‘manusiawi.’

Di sisi lain, saya menganggap bahwa peran ibu harus terus ditelaah sebagai wacana publik. Konstruksi apa yang beroperasi dalam imajinasi kolektif kita tentang ibu? Bagaimana tubuh ibu diatur? Setelah menjadi ibu saya cukup tekun menelusuri pertanyaan-pertanyaan ini sebagai tema akademis maupun kreatif. Setahun setelah Sihir Perempuan terbit, saya menulis tesis magister tentang representasi ibu dalam film Indonesia dan menggarisbawahi peran ibu sebagai perangkat ideologi dan ajang kontestasi. Rezim Orde Baru, seperti yang telah diungkap Saskia Wieringa, dibangun atas dikotomi antara perempuan baik-baik di wilayah domestik (Ibu) dan perempuan tidak baik-baik di wilayah politik (Gerwani). Padahal, status ibu adalah bagian penting dari politik Gerwani.

Dan tentu saja, Sihir Perempuan adalah buku tentang dan untuk ibu saya. Saya selalu tertarik pada  tokoh ibu sekaligus monster, seperti Calon Arang dan Sycorax, dan apa yang melatarbelakangi kegilaan perempuan-perempuan yang luar biasa ini. Mungkin karena dulu saya pikir ibu saya agak gila. Tapi kemudian saya memahami monster di dalam diri ibu saya secara lebih kompleks. Dan pengalaman sebagai ibu membuat saya tahu rasanya menjadi ‘perempuan sinting di loteng.’

G: Cerpen Anda, “Goyang Penasaran,” telah diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan teater oleh Teater Garasi. Saat saya menonton pementasan tersebut, saya sangat terkejut karena semua pemainnya adalah laki-laki, termasuk yang memerankan Salimah. Apa tujuan dari keputusan itu? Dan, apakah tercapai melalui pementasan?

IP: Saat orang membaca “Goyang Penasaran” dalam buku Kumpulan Budak Setan, imajinasi yang muncul tentang Salimah bisa macam-macam. Ia bisa seseksi Monica Bellucci, Eva Arnaz, atau Elvy Sukaesih (maafkan referensi keseksian yang agak jadul). Ketika kami dalam tim pertunjukan mewujudkannya ke atas panggung, dan dengan demikian menggunakan tubuh aktor, banyak pertimbangan yang muncul dan dibicarakan bersama. Bagaimana kami menghindari eksploitasi tubuh Salimah? Akhirnya kami melihat teknik cross-dressing, dalam kasus ini aktor laki-laki memerankan tokoh perempuan, sebagai suatu eksperimen yang berkaitan dengan cara menatap. Bagaimana penonton melihat tubuh Salimah di panggung? Apakah mereka akan mereproduksi obyektifikasi yang dilakukan oleh karakter laki-laki terhadap Salimah, atau ada sesuatu yang lain?

Berdasarkan komentar penonton, ternyata ada beberapa yang mengaku tak bisa bersimpati dengan Salimah karena penglihatan mereka terus-terusan ditipu. Ketimbang menciptakan identifikasi, Goyang Penasaran justru menghasilkan alienasi (padahal sejujurnya dalam diskusi tim kami tidak pernah membicarakan Verfremdungseffekt-nya Brecht). Ini menarik untuk didiskusikan. Apa yang dapat kita ungkap dari hasrat penonton atas otentisitas tubuh Salimah? Apakah memang simpati terkait erat dengan feminisasi korban, dalam arti kita lebih bersimpati pada mereka yang cantik (dan otentik) sebagaimana kita mengasihani karakter Monica Bellucci dalam film Malena?

G: Saya mendengar kabar bahwa Anda akan menerbitkan sebuah novel baru. Apa yang dapat para pembaca harapkan dari novel itu?

IP: Ya, manuskrip sudah selesai, tapi saat ini sedang dalam tahap editing dan baru akan terbit tahun 2017. Novel itu mengolah tema perjalanan, perpindahan, dan gagasan atas rumah dalam konteks dunia global yang kita diami. Tema ini berdasarkan pengalaman saya berpindah-pindah kota dan negara dalam satu dekade terakhir. Cerita dimulai dengan seorang perempuan yang bertransaksi dengan iblis, seperti Faust, agar bisa bertualang. Apa yang dapat pembaca harapkan? Mungkin sebaiknya tidak mengharapkan cerita horor sebab kali ini saya lebih bertumpu pada genre petualangan. Tapi tentu saja batas keduanya tipis sebab petualangan terkadang berakhir horor, hahaha.(*)