Baca tema bulan ini:

Ode buat Penggila Vinyl

oleh Raka Ibrahim

20 April 2017 Durasi: < 1 Menit
Ode buat Penggila Vinyl

Ketika Wahyu ‘Acum’ Nugroho tiba di pasar loak terbesar di Malang, ia mengulangi “rumus yang sudah hafal di luar kepala.” Satu per satu, Acum mendatangi kios-kios penjual kaset bekas di pasar tersebut, berharap akan dikenalkan pada pedagang atau kolektor tersembunyi yang menyimpan piringan hitam (vinyl) langka. Akal-akalan klasik itu berhasil: ia mendapat nomor ponsel seorang kolektor bernama Mas Fatah.

“Waktu menunjukkan jam 5 sore saat motor kami menyusuri gang-gang kecil,” kenang Acum. “Memasuki halaman depan rumahnya, sebuah tempat yang berada di dekat kali kecil, saya dihadapkan kepada tumpukan vinyl di teras.”

Di antara tumpukan vinyl tersebut, Acum menemukan album klasik musisi luar negeri seperti The Smiths dan Talking Heads, plat 7 inci berbahasa Mandarin dan India, hingga album lawas Iwan Fals. Jelang senja, sang tuan rumah mengajak Acum menjajal koleksi piringan hitamnya yang kini teronggok di gudang. Dalam remang-remang, mata Acum mengintip ratusan piringan yang lapuk dan berdebu. Ia kenal betul dengan nama-nama besar yang terpampang di sampul: Sinatra, Presley, Cash.

“Saat itu,” lanjut Acum, “yang ada di benak saya adalah: andaikan saya memiliki waktu yang panjang dan portable player, saya pasti akan membawa pulang beberapa tumpuk plat yang ada di sini.”

Rupanya Acum belum berjodoh dengan kota Malang. Ia pulang jam 8 malam, dan berangkat ke Ibukota keesokan harinya. Beberapa waktu kemudian, Acum memberikan nomor Mas Fatah pada rekan sejawatnya yang juga menggilai piringan hitam. Pada hari Senin, kawannya masuk kantor dengan senyum lebar dan dompet yang jauh lebih ringan.

 

----

Seperti pemburu ulung, atau pasien yang obsesif, Acum telah mengoleksi piringan hitam selama lebih dari 10 tahun. Hobi yang kemudian berkembang menjadi panggilan ini ia riwayatkan dalam #GilaVinyl: Seluk Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam, buku yang baru ia terbitkan melalui penerbit BIP. Dengan telaten, Acum menuliskan perjalanannya melalui gang-gang sempit berbagai kota di Indonesia demi mencari piringan hitam, sekaligus mencatat tempat-tempat tersembunyi yang menyimpan harta karun tersebut.

Ketika muda, Acum sendiri tak kenal piringan hitam. Koleksi CD dan kaset yang ia kumpulkan dengan hati-hati saat kuliah berantakan karena alasan klasik: dipinjam teman, lantas ‘lupa dikembalikan.’ Baru ketika ia bekerja, Acum mengintip piringan hitam ber-format shellac warisan Paman istrinya, dan bertemu David Tarigan – seorang produser, penggila musik, dan kolektor musik kelas kakap yang mengenalkan Acum pada piringan hitam.

Tak lama kemudian, Acum memberi piringan hitam pertamanya: album self-titled dari grup folk The Byrds. Lambat laun, ia menjadi langganan berbagai pasar loak yang menjajakan piringan hitam.

Sulit menerangkan apa hal yang menarik dari piringan hitam pada penikmat musik awam – persis karena dewasa ini, sudah ada begitu banyak pilihan medium untuk menikmati musik. Namun, di era digital yang serba maya dan tergesa-gesa, piringan hitam menjadi cara alternatif untuk menikmati musik dengan lebih tenang, nyata, dan hangat. “Apa bedanya, asyiknya, enaknya mendengar musik lewat vinyl ketimbang format lainnya?” tulis Acum (hal. 29) “Kerepotannya!”

“Kerepotan itu berawal dari menyiapkan record player atau turntable, menyalakan amplifier, memilih vinyl apa yang akan diputar [...] lalu mengelap vinyl-nya terlebih dahulu, dan akhirnya saya menikmati musik yang mengalun langsung di depan player-nya.” Bagi Acum, ritual ini membuatnya merasa lebih terhubung dan menghargai musik yang akan ia dengarkan. “Musik yang keluar, lagu demi lagu, rangkaian melodinya akan memaksa saya untuk melihat kemasan albumnya, membaca liner notes-nya, siapa penulis lagunya, produsernya, tahun berapa dibuat. Atau, lebih jauh lagi, kapan persisnya saya membeli album ini, apakah ini hadiah? Kalau hadiah dari siapa, dan bagaimana ceritanya?”

Para penggila vinyl tak hanya merasa lebih ‘dekat’ dengan musik yang mereka dengarkan. Mereka pun mengembangkan jejaring yang erat dengan sesama kolektor, dan terutama dengan para pedagang yang menyuplai piringan hitam lawas. Pengaruh dari jejaring pertemanan ini diriwayatkan dengan baik oleh Acum. Pada era-era awal ia mengoleksi musik lama, informasi mengenai tersedianya stok dan koleksi piringan hitam yang diperjualbelikan bisa dibilang menyebar dari mulut ke mulut.

Hanya kolektor tertentu yang tahu pedagang mana yang perlu didatangi untuk mendapatkan piringan hitam di Jalan Surabaya yang legendaris, misalnya. Lapak-lapak informal ini pun tak seramai sekarang, dan masih banyak piringan hitam legendaris yang dapat dibeli dengan harga miring. Bagi Acum, yang saat itu masih lajang dan mulai bekerja, era-era awal mengoleksi piringan hitam terasa seperti mendekati surga.

Namun, harta karun sesungguhnya kadang tak tersedia di rak-rak toko loak paling kawakan di Jl. Surabaya sekalipun. Para kolektor seperti Acum, David Tarigan dan Samson Pho banyak mendapatkan piringan hitam langka dari koleksi pribadi. Mereka menyambangi rumah kolektor yang ingin menjual sebagian koleksi lamanya, atau keturunan kolektor yang ingin menjual piringan hitam warisan keluarganya. Koneksi pribadi inilah yang membawa Acum memasuki lingkaran Keraton di Yogyakarta, misalnya, ketika ia membeli album Papaja Mangga Pisang Djambu dari koleksi seorang anggota Keraton. Koneksi ini pula yang kemudian mengenalkannya pada Mas Fatah, sang kolektor misterius dari Malang yang menyimpan segudang penuh piringan hitam klasik di rumahnya.

Sensasi inilah yang dicari oleh para penggila vinyl. Mereka tak hanya terpaku pada ritual obsesif mendengarkan dan merawat piringan hitam. Para penggila vinyl memiliki jejaring kuat yang membawa mereka ke gudang, teras, dan ruang tamu berbagai rumah untuk mencari harta karun di antara koleksi piringan hitam yang telah berdebu. Fakta bahwa tak semua orang diundang untuk turut menggali koleksi piringan hitam tersebut, serta kecilnya lingkaran kolektor piringan hitam, membuat para penggila vinyl merasa seperti bagian dari klub kecil nan eksklusif yang berkeliling Indonesia mencari benda-benda bersejarah.

“Jika para peng-#gilavinyl bertemu,” tulis Acum (hal. 17) “mereka akan seperti kumpulan lima orang yang berbicara tentang catur, sementara olahraga yang populer saat itu adalah sepakbola. Mereka akan sangat detail berbicara mengapa album The Beatles yang dirilis di India lebih sophisticated ketimbang membicarakan tren siapa presiden Indonesia saat ini. Bukan snob, atau aneh, mereka hanya membicarakan sesuatu yang beda.”

 

----

Pada tahun 2011, Record Store Day diselenggarakan untuk pertama kalinya di Indonesia. Perhelatan tahunan tersebut adalah hari raya bagi para pecinta rekaman fisik. Piringan hitam, medium yang telah lama dianggap punah, turut hadir dan dirayakan.

Sejak pertengahan tahun 2000-an, ketika Acum pertama mengoleksi piringan hitam, jejaring kecil penggila vinyl di berbagai kota Indonesia kian terhubung. Dipersatukan oleh kecintaan pada piringan hitam, dan dipersenjatai oleh nomor telepon kolektor rumahan serta pedagang loak langganan, mereka bertukar referensi dan berlipat ganda. Perlahan-lahan, generasi muda pecinta musik yang hadir setelah angkatan Acum menemukan piringan hitam, dan turut jatuh cinta.

Dalam skala yang jauh lebih besar, permintaan untuk piringan hitam meroket tajam di berbagai belahan dunia, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Diselenggarakannya Record Store Day pertama di Amerika Serikat di tahun 2008 membuat para pecinta musik melirik kembali piringan hitam. Seperti dilansir majalah Fortune, penjualan piringan hitam pada tahun 2015 melonjak 32% dan menghasilkan 432 juta dollar – angka tertinggi sejak tahun 1988. Angka ini bahkan lebih tinggi ketimbang pendapatan dari layanan daring seperti YouTube, Spotify, dan Vevo, yang hanya menghasilkan 385 juta dollar.

Piringan hitam dinilai memiliki keunikan tersendiri yang tak dimiliki oleh medium fisik digital seperti CD, atau layanan maya seperti streaming. Meski musik digital terdengar lebih ‘bersih’, suara yang dihasilkan piringan hitam dinilai lebih hangat dan nyata. Vincent Rompies (hal. 149), misalnya, berujar bahwa mendengarkan piringan hitam membuatnya “...berasa di studio rekaman, ada artisnya nyanyi, lagi main gitar. (Rasanya) real banget!”

Selain itu, elemen ritualistik dan nostalgia yang digambarkan oleh Acum mendorong ketertarikan publik pada vinyl. Menggenggam piringan hitam, melihat sampulnya yang besar, merawat dan memasangnya secara hati-hati. Kerepotan-kerepotan kecil itu membuat musik – yang tadinya terkesan remeh dan terlalu mudah dicampakkan – kembali terasa spesial dan penting.

Namun, vinyl boom ini juga dikritik habis-habisan oleh berbagai pengamat industri musik. Alasannya sederhana: infrastruktur untuk memproduksi piringan hitam sendiri sama sekali tidak siap untuk mengimbangi permintaan konsumen. Seperti dilansir oleh Thump, saat ini hanya ada 50 pressing plant atau pabrik yang dapat memproduksi piringan hitam di seluruh dunia. Pabrik-pabrik ini memproduksi piringan hitam dengan mesin tua yang sangat mahal, dengan suku cadang yang tak diproduksi lagi. Beberapa pressing plant bahkan merakit mesin pressing sendiri dengan bantuan tukang-tukang spesialis, yang tentu memakan biaya dan waktu tambahan.

Lebih jauh lagi, kebangkitan kembali piringan hitam telah menarik perhatian label-label besar di industri musik. Seperti dilaporkan oleh Factmag, label-label besar tersebut sengaja menaruh uang muka besar-besaran agar pesanan mereka diproduksi lebih dahulu, dengan skala masif yang belum tentu dapat ditanggung oleh mesin-mesin pressing tua. Imbas dari praktik ini tak hanya dirasakan oleh infrastruktur produksi piringan hitam yang kewalahan mengimbangi pesanan. Para label musik independen – yang tetap merilis album dalam format piringan hitam sejak format tersebut belum nge-tren – terpaksa menunggu berbulan-bulan, bahkan nyaris setahun, agar album mereka selesai dicetak. Masa tunggu panjang ini jelas fatal bagi label-label kecil yang tidak beroperasi dengan dana berlimpah.

Meski kebangkitan piringan hitam menjadi buah simalakama bagi industri musik luar negeri, Indonesia belum menyaksikan kebangkitan piringan hitam dalam skala serupa. “Vinyl culture di sini memang baru mulai dibangun,” tutur Samson Pho, seorang penggila vinyl dan pengelola Laidbackblues Record Store di Pasar Santa. “Demand untuk vinyl belum bisa dibilang kenceng, tapi memang nambah sejak vinyl mulai terkenal di tahun 2012.”

Bagi Samson, vinyl boom di Indonesia – kalaupun tepat disebut boom – belum sampai pada titik di mana ia akan membebani infrastruktur produksi piringan hitam. “Kita masih dalam taraf aman,” tuturnya. “Label lokal masih selektif banget untuk cetak vinyl, karena biayanya lumayan. Rata-rata cuma bikin 300-500 keping, sementara pabrik di sana biasa terima order ribuan keping per judul.” Entah karena biaya atau alasan praktis, mengoleksi vinyl belum jadi hobi yang dipraktikkan masyarakat luas. Meski lanskap yang mereka hadapi jelas berubah dari 10 tahun lalu, hingga kini para penggila vinyl masih berjejaring dalam ‘klub’ yang intim, hangat, dan eksklusif.

[Kami mengobrol dengan Samson Pho tentang menemukan kembali musik Indonesia melalui berburu vinyl. Baca di sini.]

 

----

Terlepas dari risiko kebangkitan piringan hitam di dunia, munculnya jejaring penggila vinyl berujung pada inisiatif yang positif. Keinginan para penggila vinyl untuk bernostalgia dan menggali musik luar negeri lama lambat laun beralih menjadi keinginan untuk menggali musik Indonesia lama.

Namun, kondisi dari warisan budaya lokal itu seringkali mengkhawatirkan. Banyak musik Indonesia lama entah tercecer di berbagai arsip, terbengkalai di koleksi pribadi, atau diborong kolektor luar negeri. “Di Jalan Surabaya ada banyak piringan hitam koleksi RRI (Radio Republik Indonesia),” tutur David Tarigan. “Sebagai orang yang sering ke sana, saya sering lihat. Tapi saya enggak tahu kenapa bisa ada di situ.”

“Di sana banyak orang-orang bule, orang Jepang pada ngumpulin,” kenang Vincent Rompies (hal. 151). Ia ingat betul percakapan dengan seorang pedagang piringan hitam lama bernama Udin. “’Gue bukan apa-apa, Cent,” tiru Vincent. “’Gue kalau plat Indonesia lebih prefer untuk jual ke orang Indonesia. Kalau gue jual ke orang Jepang, mereka akan bawa itu ke sana, sayang kita-nya dong.’” Praktik serupa pun pernah dikritik oleh Henk Madrotter, kolektor musik asal Belanda yang kini tinggal di Bandung. “Album-album ini jadi barang milik kolektor pribadi yang tak pernah memainkannya lagi,” keluhnya. “Indonesia seperti kehilangan warisan budayanya.”

 

[Seperti apa upaya menyelamatkan arsip musik Indonesia lama? Baca kisahnya di sini.]

 

Praktik-praktik yang mereka temukan dari kegiatan berburu vinyl ini memantik kesadaran mereka akan sejarah. Musik Indonesia lawas tak seharusnya diboyong kolektor ke luar negeri, muncul secara misterius di toko loak, atau membusuk di gudang cucu seorang kolektor yang tak peduli. Pengarsipan musik lokal dan penulisan yang lebih komprehensif tentang musik lokal harus diwujudkan agar warisan budaya tersebut tak lagi tercecer, rusak, apalagi hilang.

Kolektor seperti David Tarigan dan Samson Pho – beserta rekan kolektor lain – akhirnya memulai inisiatif bernama Irama Nusantara. Dengan bantuan kolektor dan pedagang, Irama mengarsipkan dan mendigitalisasi musik Indonesia lama dari berbagai era, lantas mengunggahnya di situs mereka. Demam piringan hitam seperti berjalan seiringan dengan munculnya generasi baru musisi, kolektor, dan jurnalis musik muda yang memiliki apresiasi lebih terhadap sejarah musik Indonesia.

Piringan hitam tak hanya mentok dirayakan sebagai format yang romantis, atau sebagai satu lagi cara untuk berhura-hura dan menyandang status sosial. Walau tentu tanggungjawab ini tak mesti diemban oleh semua kolektor, demam piringan hitam memberi kita peluang untuk mengembangkan kesadaran sejarah di generasi baru penikmat musik Indonesia. Sekaligus, memantik munculnya diskursus yang lebih tajam dalam ranah pengarsipan, penulisan sejarah, dan apresiasi musik kita.

 

#GilaVinyl: Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam
Wahyu ‘Acum’ Nugroho
Bhuana Ilmu Populer
2017

 


Referensi

Acum, Wahyu. “#GilaVinyl: Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam”. Bhuana Ilmu Populer. 2017.
Morris, Chris. “Vinyl Record Sales Are At A 28-Year High”. Fortune Magazine. 2016.
Gibson, Megan. “Here's Why Music Lovers Are Turning to Vinyl and Dropping Digital”. TIME. 2015.
Garber, David. “Why the So-Called "Vinyl Boom" May Be Bad News For Electronic Music”. Thump.vice.com. 2016.
Flanagan, Andrew. “Why the Vinyl Boom Is Actually a Drought”. Vulture. 2015.
Herrmann, Thaddeus. “Pressed to the edge: Why vinyl hype is destroying the record”. FACT. 2015.
Hogan, Marc. “Have We Reached Peak Vinyl?” Stereogum. 2015.
Anindita, Febrina. “Apresiasi Musik Analog bersama Lian”. Whiteboard Journal. 2016.

Raka Ibrahim

Raka Ibrahim, Editor Musik di Jurnal Ruang. Tulisannya telah dimuat di berbagai antologi, zine, & publikasi independen seperti Jakartabeat dan Pindai. Mendirikan webzine Disorder Zine pada tahun 2013.