Baca tema bulan ini:

Kekuatan Sejati Perempuan dalam Sihir Perempuan

oleh Eve Shi

16 Mei 2017 Durasi: < 1 Menit
Kekuatan Sejati Perempuan dalam Sihir Perempuan

 

"Kami dulu percaya bahwa pencapaian terbesar gadis remaja adalah gaun mewah berlimpah."


Sebelas cerpen diuntai dalam Sihir Perempuan, kumpulan cerpen karya penulis dan akademisi Intan Paramaditha. Kumpulan cerpen ini masuk dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award (sekarang bernama Kusala Sastra Khatulistiwa) pada 2005 silam dan diterbitkan ulang pada April 2017. Masing-masing cerpen terpusat pada, meski tidak selalu dituturkan oleh perempuan, tokoh perempuan.

Representasi perempuan melalui para tokoh ini mempertanyakan dan kerap membalikkan asumsi umum tentang perempuan, termasuk yang gencar disuguhkan media. Narator dalam Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari adalah kakak tiri dalam dongeng terkenal, tentang gadis yang dipersunting pangeran berkat sepatunya. Cerpen ini dengan lugas menggugat ide bahwa gadis miskin pasti baik hati dan menderita akibat keluarga tiri yang jahat; dan sebagai ikutannya, menggugat kecenderungan menggiring konsumen cerita untuk berpihak pada paras cantik.

 "Perempuan yang terobsesi kecantikan maupun yang tidak percaya diri hingga bunuh diri sama saja buruknya." (Cerpen Sang Ratu, hal. 143)

Pada cerpen lain, Sang Ratu, kekaguman pada kecantikan kembali disinggung. Narator menemui dua kisah tentang perempuan dan kecantikan, dengan akhir yang saling berlawanan. Pertanyaan yang muncul: apakah kecantikan sebegitu krusial bagi perempuan hingga wajib menjadi tujuan utama? Ataukah banyaknya cerita yang mengusung tema kecantikan sebenarnya semata-mata mencerminkan pola pikir si pembuat cerita, tanpa menyertakan perspektif perempuan? Dalam cerpen ini, kecantikan mengalihkan perhatian laki-laki dari kekuatan lain perempuan yang lebih fatal.

Kumpulan cerpen ini juga mengungkit peran tradisional perempuan sebagai istri dan ibu. Andai pun perempuan menjalani kedua peran itu, mereka tetap punya kuasa mendefinisikannya menurut tafsiran sendiri. Misalnya, setia itu bonus, bukan syarat mutlak. Narator Mobil Jenazah tidak peduli suaminya berselingkuh asal keluarga mereka tampak sempurna, sebab, "Tidak ada penghargaan untuk mereka yang gagal." (hal. 42)

Pada cerpen Mak Ipah dan Bunga-Bunga, seorang ibu menanggung cap gila dari masyarakat. Gambaran ini selaras dengan citra atau terkadang, tuntutan, bahwa ibu rela berbuat apa saja demi anaknya. Cakupan apa saja, di samping menuruti definisi si ibu sendiri, juga selaras dengan suasana kelam kumpulan cerpen. "Ia telah mengambil bungaku dan kini bunga yang mengisap hidupnya." (hal. 74)

Tema ketiga, yang lebih mirip leitmotif (tema yang berulang), dalam kumpulan cerpen ini adalah warna merah. Asosiasinya dengan darah, serta merah dan darah sebagai simbol kehidupan, dilisankan dalam sejumlah cerpen sebut saja cerpen Vampir, Pintu Merah, dan Darah.

"Merah berhawa panas. Merah kadang menggumpal lengket dan tersangkut seperti permen karet. Merah menuntut pengakuan, peng-aku-an, tak bisa menunda, tak bisa luruh di saluran pembuangan." (Cerpen Vampir, hal. 17)

Tema ini paling menonjol pada cerpen Darah. Sejak kecil, narator diberi tahu bahwa darah menstruasi itu kotor, yang justru mengasah rasa terpukaunya pada darah tersebut. Alasan dibalik rasa terpukau itu dia dapatkan saat berjumpa momok masa kecilnya yang berkata, "Karena darah adalah hidup. Sesederhana itu." (hal. 132)

Secara umum, kesebelas cerpen dalam Sihir Perempuan mendefinisikan ulang asumsi umum yang dikaitkan dengan perempuan. Definisi ulang ini berdasarkan beragam kekuatan perempuan, serta cara perempuan memanfaatkan kekuatan tersebut. Kemampuan definisi ulang ini juga dimiliki perempuan berupa benda mati (lihat cerpen Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah). Pencapaian terbesar perempuan bisa sesederhana menyadari kekuatannya, hingga secara harfiah mengisap kehidupan lain seperti dalam cerpen Vampir dan Mak Ipah.
Namun karena kumpulan cerpen ini bergenre horor, pencapaian tersebut kerap berkesan magis. Walau dibandingkan kesan itu, yang lebih menonjol adalah penegasan bahwa sihir seorang perempuan bersifat mangkus, yaitu kepiawaian membentuk ulang label-label yang disematkan pada dirinya. []

*Eve Shi adalah seorang penulis bergenre horor yang saat ini menetap di Bogor. Novel-novelnya antara lain Aku Tahu Kamu Hantu, Lost, Unforgiven, Sparkle, dan The Bond. Beberapa cerpennya dimuat di Flesh: A Southeast Asian Urban Anthology dan Asian monsters.


Sihir Perempuan
Intan Paramaditha
25 April 2017
Gramedia Pustaka Utama