Baca tema bulan ini:

Bahaya Laten Herry Sutresna

oleh Raka Ibrahim

15 Mei 2017 Durasi: 7 Menit
Bahaya Laten Herry Sutresna Herry Sutresna (foto: George Mandagie)

“Tambah gendut aja lu, Ka,” sambutnya, menjabat tangan saya erat-erat.

“Lu juga sama,” balas saya. “Bagaimana, nikmat hidup jadi orang kiri?”

Herry Sutresna tertawa terbahak-bahak dan mempersilakan saya berkeliling. Kantor Grimloc Records, label rekaman yang ia dirikan, sedang ditata ulang. Mata saya langsung tertuju pada ratusan CD dan kaset yang menumpuk di ruang tengah, sebagian tercecer dari kardusnya dan bertebaran di lantai. Ucok – begitu ia akrab disapa – menjelaskan bahwa koleksi lama ini hampir musnah dimakan rayap di gudang. Saya tersenyum sendiri ketika ia menghampiri tumpukan CD tersebut, dan mulai menimang-nimang CD Public Enemy seperti anak sendiri.

Pada tahun 1994, ia bersama dua rapper muda lain – Sarkasz (M. Aszy Syamfizie) dan Punish (Adolf ‘Lephe’ Triasmoro) – mendirikan Homicide, salah satu kolektif hip hop paling legendaris di Indonesia. Selama 13 tahun berikutnya, mereka mengguncang scene hip hop lokal dengan musik mereka yang bising, rima yang berbahaya dan sarat referensi, serta keterlibatan mereka dengan gerakan revolusioner pasca-Reformasi.

“Enaknya kita ngobrolin apa?” tanya Ucok, sembari menyeruput kopi.

“Agak klise,” balas saya. “Musik yang berpihak. Gerakan sosial. Kira-kira seperti itu, lah.”

Ucok mengangguk. “Mungkin, apa yang kita anggap klise sebenarnya perlu dibicarakan lebih jauh.” Tuturnya. “Konteks selalu berubah. Apa yang klise bagi gue, mungkin masih baru bagi orang lain. Dan pemahamannya bisa berbeda sama sekali.”

Ia menyulut rokok, lantas terdiam agak lama. “Jadi,” ucapnya, menyeringai. “Sejak kapan lu jadi kapitalis?”

 

"Karena buku sejarah, ditulis dengan darah, dengan anggur dan nanah, dengan khotbah dan sampah;

Maka argumen terlahir dari kerongkongan korban, digorok di pagi buta di lapangan pedesaan."

- Homicide, "Rima Ababil" (2006)

****

Bandung adalah kawah candradimuka yang tepat bagi calon pemberontak. Pada awal dekade 1990-an, scene musik independen di sana tumbuh menjadi arus perlawanan yang solid terhadap dominasi industri musik. “Logika bahwa kita harus kirim demo ke label besar dan tanda tangan kontrak mulai hancur,” kenang Ucok. “Secara politis, di budaya ini sudah terbentuk semangat untuk menandingi sesuatu yang dominan, paling tidak di wilayah produksi dan distribusi.” Pengetahuan tentang cara memproduksi dan mendistribusikan musik secara mandiri mulai menyebar, dan membuka jalan bagi scenester muda Bandung untuk membangun ranah sendiri.

[Pada tahun 90-an, generasi baru rapper muncul di Indonesia. Baca sejarah hip hop lokal di sini.]

Pada saat bersamaan, kelompok belajar independen mulai bermunculan di berbagai kampus. Buku karya Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer, kisah Ucok, tersebar “dari tangan ke tangan, dari fotokopian ke fotokopian,” sama halnya dengan literatur dari scene punk, semisal zine Profane Existence dan Maximum Rock N Roll. Setelah Reformasi, scene musik Bandung kian berkelindan erat dengan gerakan radikal. Tempat berkumpul pegiat musik independen mulai sering menjadi tuan rumah rapat pengorganisiran aksi, dan musisi di scene independen Bandung mulai ikut terlibat dalam aksi massa.

Homicide besar dari semangat zaman ini. Berbekal kosakata dan referensi serupa – Public Enemy, BDP, Rakim, Gangstarr, dan EPMD – tiga MC yang tergabung di kolektif tersebut mulai tampil di panggung-panggung kecil bersama grup hardcore, punk, dan metal Bandung. Mereka merekam demo perdana di tahun 1998, lantas bergabung dengan kolektif Front Anti-Fasis (FAF) yang isinya mayoritas penghuni scene hardcore punk Bandung.

[Kimung, eks personil Burgerkill dan Karinding Attack, juga tumbuh dengan semangat perlawanan yang sama di Bandung. Simak wawancara kami dengan dia.]

Perlahan-lahan, pertemuan scene independen Bandung dengan gerakan radikal mulai disorot oleh aparat. “Mereka bahkan pernah menyamar jadi tukang bakso tahu!” kisah Ucok sembari tergelak. “Awalnya kami sudah curiga – dia datang pergi seenaknya, dagangannya diambilin sama anak-anak dia enggak pernah komplain.” Suatu ketika, tukang bakso tahu yang murah hati itu datang ke markas mereka di Cihampelas yang juga distro punk hardcore. “Pas seorang teman nepok buat nanya kabar, ada surat jatuh dari punggungnya, dan kop suratnya dari Kodam. ‘Oh, ternyata lu intel!’ Buat apa coba tukang bakso tahu bawa surat tugas dari Kodam? Akhirnya dia kabur!”

Satu per satu, instrumen gerakan radikal dipreteli. Sementara media mengecap mereka sebagai gerakan amoral dan aparat tak kunjung jemu merongrong para aktivis, gerakan itu sendiri mengalami perpecahan internal. Puncaknya, gerakan mahasiswa radikal berkonflik dengan Partai Rakyat Demokratik, salah satu partai yang menjadi naungan aktivis-aktivis anti Orde Baru. “Kami mulai capek, termasuk saya sendiri,” kenang Ucok. “Kawan-kawan ada yang lari ke narkoba, ada yang keluar dari Bandung, ada yang menyebrang ke gerakan kanan, ada yang berhenti dari gerakan. Banyak yang pergi, dan banyak yang kami tinggalkan.”

Ucok sendiri mengambil langkah yang tak lazim. Pada tahun 2001, ia memutuskan untuk menikah dan berkeluarga.




****

Ada yang bangkit setelah molotov terakhir terlempar di Semanggi, dan FAF mulai memudar. Ucok dan Aszy mulai mengaktifkan lagi Homicide. Pada tahun 2002, setelah delapan tahun terbentuk dan ribuan alasan penundaan, kolektif itu akhirnya merilis EP perdana berjudul Godzkilla Necronometry.

Hanya Homicide yang berani membuka EP dengan rima brengsek macam “jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov/dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov” (Boombox Monger), atau menghabisi fasisme berkedok agama dengan seruan “jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap, maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap” (Puritan). Ketika Sarkasz berdeklarasi di nomor Semiotika Rajatega bahwa hip hop hanya memiliki empat unsur (“dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur!”), Bandung mendadak memiliki duet MC paling berbahaya di ranah hip hop lokal.

Di bawah tanah, kemerosotan gerakan radikal berlanjut pasca Godzkilla. Tamparan paling keras datang pada tahun 2004, ketika aktivis Munir Said Thalib dibunuh di udara dalam perjalanan ke Belanda. Tahun itu pula, Aszy memutuskan untuk menyusul Lephe dan mundur dari Homicide. “Saat itu, ada perasaan kalah yang luar biasa,” kenang Ucok. “Seperti ada utopia yang hilang.” Hampir sendirian, Ucok yang nyaris patah arang merekam EP Barisan Nisan, dan merilisnya pada tahun 2004.


 

“Itu album kami yang paling gelap,” kisah Ucok. Didapuk menjadi MC tunggal, ia mengisi verse EP tersebut dengan rima tentang gerakan yang sekarat, musuh yang menjelma jadi raksasa, dan pemberontakan yang menolak padam. Pada Rima Ababil, ia bernyanyi tentang "menaruh rima di atas hitungan ritme pukulan rotan Brimob." Sementara di nomor Belati Kalam Profan, ia berpegang teguh pada sisa-sisa perlawanan. “Berlindung di balik kosakata stabilitas dan konstitusi, belati para profan,” sembur Ucok. “Di bawah serapahmu kami bersumpah, lebih baik kami mati terlupakan daripada selamanya dikenang orang karena menyerah!

Kegagalan gerakan radikal pasca 1998 memaksa Ucok mengubah perspektifnya. “Kalau fondasinya tidak kuat, perubahan monumental tidak akan jadi apa-apa,” tutur Ucok. “Akhirnya kami bakal dikooptasi, atau kami terpatok pada figur. Warga pun tidak sadar apa yang diperjuangkan dan cuma ikut-ikutan. Sedangkan, kami tidak mau itu. Kami mau ada gerakan sosial yang berkesadaran dan lebih desentralis. Lebih baik kami bikin sel-sel otonom yang banyak dan kuat, ketimbang bikin satu gerakan massa yang besar tapi keropos.”

Momentum politik baru ini membuat EP mereka berikutnya, Illshurekshun, terdengar lebih optimis dan berapi-api. "Di saat dinding keterasingan hasrat menjadi kota terlarang,” nyanyi mereka di Klandestin. “Kami tak meminta Valhalla, kami jadikan surga kalian rampasan perang!" Namun, kesadaran baru itu datang seiring dengan habisnya energi Ucok di Homicide. Mereka membubarkan diri, lantas melepas EP tersebut pada tahun 2008.

****

Percakapan kami dipotong oleh telepon penting yang harus diangkat Ucok. Selagi ia berceloteh di ponsel, saya memeriksa buku yang tergeletak di meja teras tempat kami berjumpa. Ia baru selesai membaca Hikayat Tirai Besi, karya filsuf anarkis Alexander Berkman yang baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saat saya tiba, ia sedang iseng menjajal kumpulan esai Reading Capital, yang ditulis Louis Althusser dan kawan-kawan.

Suka tidak suka, telah tiba saatnya untuk membahas perkara klise yang saya bawa dari Jakarta: bagaimana musik bisa berperan dalam perubahan sosial? Pertanyaan mengawang yang, pikir saya, akan dibantai habis-habisan oleh mulut nyinyir Ucok.

Ia menutup telpon dan meminta saya mengulangi pertanyaan. Setelah saya selesai berbicara, Ucok mengangguk dan lanjut bercerita. “Dulu, ada yang pernah bilang ke saya, ‘Kalau kamu memang mau bikin musik yang menyentuh rakyat, kamu harus bikin lirik yang bisa dicerna oleh tukang becak!’”

Saya tersenyum. “Lalu?”

“Saya tidak sepakat. Kalau mau mendekati warga, jangan bikin lagu. Terlibat saja langsung!” balas Ucok. “Saya tidak percaya musik bisa berbicara banyak di gerakan sosial. Kalau lu mau bikin gerakan sosial, terlibatlah. Turun dan organisir bersama masyarakat. Di luar itu, enggak ada hal lain. Para petani itu tidak akan tergerak untuk mereklaim lahan hanya karena mereka mendengar lagu lu.”

[Di Papua, Arnold Ap memberdayakan masyarakat lewat seni tradisional, sebelum ia dibunuh. Baca kisahnya di sini.]

Scene musik, tuturnya, harus mencari cara yang lebih inovatif untuk mendorong perubahan sosial. “Persoalan kebebasan berekspresi dan ‘melawan industri’ itu sudah selesai,” tuturnya. “Teknologi sudah membunuh mereka. Semua orang bisa bikin musik di kamar masing-masing tanpa embel-embel perlawanan. Sekarang, bagaimana caranya supaya pemberdayaan seperti itu menyebar keluar dari kota dan orang-orang yang memiliki privilege? Dalam wilayah ekonomi politik, bagaimana caranya musik bisa memberdayakan masyarakat?”

“Bagaimana caranya kawan-kawan yang tadinya enggak punya alat produksi, kemudian jadi punya alat produksi baru bernama musik?” ujar Ucok. “Kita bisa terlibat di titik penggusuran, misalnya, dan bikin sesuatu secara swadaya dengan warga. Lalu, musik itu sendiri bisa menjadi alternatif untuk menghidupi mereka.”

“Misalkan ada label yang dikelola secara swadaya oleh warga di titik penggusuran,” ucap saya, mengandaikan. “Dan mereka mampu berdiri sendiri. Terlepas dari seperti apa musik yang mereka mainkan, mereka politis?”

Ucok mengangguk. “Bukan produk artistiknya yang jadi masalah. Yang politis justru ekosistemnya, konteksnya. Walau pergulatan politis seperti itu pasti tercermin dalam musiknya.”

Dalam waktu dekat, ia dan kawan-kawan di scene musik lokal berencana mengembangkan ruang kota di salah satu kampung kota di Bandung. Banyak pegiat scene lokal tinggal atau berasal dari daerah tersebut, dan hubungan scene musik independen dengan warga di sana telah terjalin erat. “Ada lapangan basket yang bisa kita pakai di sana,” kisah Ucok. “Kami terpikir untuk bikin tempat permanen di mana warga bisa berjualan, dan teman-teman di scene musik bisa bikin acara,” lanjutnya. “Ruang itu penting. Kami berkali-kali kalah hanya karena tak punya ruang.”

“Saya pikir, pemberdayaan ekonomi politik semacam itu yang justru mengubah keadaan,” tuturnya. “Kalau sekadar soal musik sebagai produk artistik yang menghipnotis massa dan meruntuhkan tirani, saya rasa itu cuma dongeng.”

"Aku katakan sebuah sabda rajah batu kepada lidah-lidah api;

Bahwa ada adalah tiada dan kekosongan itu bernyawa;

Bahwa ketidakberujungan semesta adalah kehampaan bernyala;

Bagi mereka yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka."

- Homicide, "Siti Jenar Cypher Drive" (2008)

 

****

Setelah percakapan kami usai, Ucok pamit sebentar untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Sekitar satu jam kemudian, ia baru bergabung lagi dengan kami di beranda Grimloc. “Anak gue lumayan suka baca buku,” kisahnya, bangga. “Gue ada kesepakatan dengan dia. Jadi, kalau dia mau beli buku baru, dia harus tulis ulasan buku yang belum dia baca dulu, lalu didiskusikan dengan gue.”

“Lo sudah kasih buku-buku yang radikal?” tanya saya.

“Wah, pelan-pelan itu!” balasnya, tergelak. “Tapi kemarin dia sudah mulai nanya-nanya soal Pramoedya. Ya sudah, gue kasih yang gampang-gampang dulu. Gadis Pantai, misalnya. Baru nanti gue cekokin Tetralogi Buru.”

Saya tidak pulang dari Bandung dengan tangan kosong. Ucok menghibahkan satu kopi zine Uprock’83 yang ia terbitkan sendiri, dan buku kumpulan esainya, Setelah Boombox Usai Menyalak. Dirilis oleh Elevation Books, buku itu baru saja dicetak ulang untuk kali ketiga. “Ternyata, ada juga yang mau baca, ya?” selorohnya. Seperti lirik Ucok di Homicide dan Bars Of Death (proyek terbarunya), esai di buku itu sarat dengan referensi bacaan dan musik yang penuh kejutan – mulai dari obituari bagi Adam Yauch, pembangkangan sipil, menggunakan Marx dan Nietzsche untuk mendedah Company Flow, hingga surat cinta yang panjang bagi Godspeed You! Black Emperor.

Ada satu esai yang masih menghantui hingga kini. Di esai Bapa, Ucok menulis dengan sangat personal tentang Ayahnya – seorang eks-loyalis Soekarno yang pernah bergabung dalam organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Tumbuh dewasa di bawah kuasa Orde Baru, Ucok menulis tentang sore-sore girang di mana Ayahnya mengenalkan sang anak pada Black Sabbath, The Beatles, hingga Koes Plus.

“[Ibu] selalu mengingatkan Bapak untuk tidak terlalu banyak mendidik anaknya dengan perspektif politik yang ia yakini,” tulis Ucok. “Namun, Bapa tetaplah Bapa. Tanpa banyak menasehati dan berkata-kata, ia memberikan perspektif tentang kehidupan di luar sana yang tak baik-baik saja [...] Membawa saya ke tempat-tempat di mana langit tak berpihak dan pojokan-pojokan yang nampak ogah disinggahi malaikat.” Nasihat tanpa kata ini ia pegang erat-erat pada tahun 1999, saat Ucok dan kawan-kawannya menghindari desingan peluru aparat di pelataran Semanggi.

Sore itu, setelah anaknya aman di rumah, Ucok tetap berniat mampir ke diskusi tentang pembangunan kota yang berkelanjutan di kantor LBH Bandung. Seperti Bapa di esai tersebut, perlawanan bisa dinyatakan dengan cara yang lebih terselubung. Berbulan-bulan setelah pertemuan kami, saya tertegun saat menyadari bahwa Ababil bukan saja judul salah satu lagu Homicide dengan lirik paling beringas (Rima Ababil), namun juga nama anak bungsunya. Saya pun teringat lagi, bahwa nomor Barisan Nisan yang menyindir kapitalisme habis-habisan itu ia akhiri dengan sumpah seorang Ayah kepada anaknya – “Zahraku, Mentariku.”

Kami bertukar lelucon nyinyir dan berjabat tangan erat-erat, sebelum berpisah menjelang Maghrib. Setibanya saya di pintu gerbang, Ucok mendadak berdeklamasi: “Hidup perjuangan kelas... menengah!”

Satir, untungnya. (*)

Raka Ibrahim

Raka Ibrahim, Editor Musik di Jurnal Ruang. Tulisannya telah dimuat di berbagai antologi, zine, & publikasi independen seperti Jakartabeat dan Pindai. Mendirikan webzine Disorder Zine pada tahun 2013.