Baca tema bulan ini:

Alkudus: Novel Suci untuk Bulan Suci

oleh Wa Ode Wulan Ratna

16 Juni 2017 Durasi: < 1 Menit
Alkudus: Novel Suci untuk Bulan Suci

Memasuki bulan Ramadhan biasanya banyak orang mengumpulkan bahan bacaan. Buku-buku sebagai teman untuk ngabuburit menjelang berbuka puasa dan juga menjelang libur panjang menjadi pilihan bagi para pecinta buku. Lalu apakah bacaan yang paling pas di bulan suci? Tentu saja kitab suci. Selain itu buku-buku yang memberikan nilai-nilai kebaikan tentu menjadi pilihan utama.

Yang menarik, April (2017) lalu, terbit sebuah novel berbentuk kitab suci. Novel setebal 268 halaman ini ditulis seperti firman-firman dalam kitab suci, ayat per ayat, dan disampaikan kepada seorang Rasul perempuan bernama Erelah. Novel ini berjudul Alkudus. Jika kita menelaah artinya, Alkudus sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti suci, jauh dari kejahatan. Sehingga dapat kita bayangkan novel Alkudus ini mengutamakan ajaran kebaikan bagi pemeluknya, yang –dalam novel kitab suci ini– memang diperuntukkan bagi pemeluk agama Kaib.

Novel ini ditulis oleh Asef Saeful Anwar, seorang dosen muda yang mengajar di sejumlah kampus di Yogyakarta. Sebelumnya, novel Alkudus ini pernah diikutsertakan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2016 lalu dan masuk 25 besar pilihan Dewan Juri pada tahap penjurian pertama. Asef Saeful Anwar sendiri adalah juga seorang penulis yang telah lama berkecimpung di dunia sastra melalui cerpen dan puisinya. Buku kumpulan cerpennya yang pernah terbit berjudul Lamsijan Memutuskan Menjadi Gila (Pusat Studi Kebudayaan UGM, 2014). Kesenangannya pada sastra juga membuat lulusan Pascasarjana Ilmu Sastra UGM ini menerbitkan buku Persada Studi Klub dalam Arena Sastra Indonesia (UGM, Press 2015). Selain itu, ia juga menjadi redaktur cerpen pada situs kibul.in.

Hal yang menarik tentunya pada kesempatan yang suci ini bisa mengobrol langsung dengan penulis novel kitab suci Alkudus. Untuk itu Ruang menyempatkan mewawancarai sang penulis terkait dengan bukunya yang unik. Berikut tuturan Asef Saeful Anwar (ASA) ketika diwawancari Ruang.

 

Apa latar belakang dan landasan ide membuat novel Alkudus?

ASA: Saya merasa zaman sekarang agama lebih sering digaungkan kebenarannya daripada kebaikannya. Banyak yang lupa kalau kebenaran tidak mungkin disampaikan tanpa kebaikan. Saya termasuk orang yang percaya bahwa sesuatu yang benar harus memenuhi tiga hal; niat baik, cara baik, dan hasil baik. Bila salah satunya tidak baik, pasti tidak benar. Maka saya menulis novel ini dengan mengarang sebuah agama fiktif yang lebih banyak menggaungkan nilai-nilai kebaikan.

 

Mengapa novel ini disusun dengan gaya seperti kitab suci?

ASA: Saya ingin mencoba hal yang baru dalam bercerita. Apalagi kitab suci memang mengandung banyak kisah. Jadi, saya pikir, mengapa tidak mencobanya?

 

Bagaimana proses kreatif Mas Asef dalam membuat novel Alkudus?

ASA: Saya mengerjakannya sejak Agustus 2014 hingga selesai September 2016. Tapi tidak setiap hari saya menuliskannya karena harus menyesuaikan dengan kesibukan lainnya dan kendala teknis penulisan novel ini.

Kendala teknis utama adalah saya harus mendalami sosok Tuhan yang tengah berfirman sepanjang menulis. Kalimat-kalimat yang ditulis harus ilahiah, jangan sampai manusiawi. Begitu saya menulis dan saya baca terus terasa manusiawi ya, saya sunting. Tapi ketika tidak bisa disunting ya, terpaksa dihapus. Lalu saya akan membuat kalimat-kalimat baru dengan arah cerita yang sama.

Kadang jenuh juga dengan gaya bahasa ini, dan saya khawatir terasa seperti ceramah. Tapi mau tidak mau saya harus meneruskannya. Maka, saya pelajari gaya tutur dalam sejumlah kitab suci dari Quran, Alkitab, Dhammapada, dan sejumlah sutra. Sementara untuk mengembangkan ide tentang agama baru saya bacai sejumlah tulisan dari komunitas Lia Eden, sesuatu yang diakui kitab suci oleh Sri Hartati dengan sebutan Alkitab Na’sum, dan juga buku dari komunitas Gafatar.

Kedua, soal alur cerita. Bila ini kitab suci betulan mungkin tidak masalah bila ada alur cerita monoton, para pemeluknya pasti akan dapat menerimanya dengan baik. Tapi, ini novel, pembaca pasti jengah bila mendapati cerita yang gitu-gitu aja. Bayangkan kamu membaca cerita 10 nabi dengan alur yang sama: satu nabi datang untuk mengingatkan suatu kaum. Mereka yang ingkar kena azab sedangkan mereka yang insaf terselamatkan. Terus keturunan kaum yang insaf itu menjadi ingkar dan didatangkan kembali seorang nabi dengan akhir yang sama. Demikian, berulang-ulang, cuma ada variasi dalam bentuk pelanggaran dan jenis mukjizat sang nabi. Apa itu tidak membosankan? Bukan berarti saya tidak suka dengan cerita agama Samawi, itu sebuah kebenaran, dan memang karakter manusia berikut sejarahnya  sering diwarnai perulangan.

Jadi, kalau pada yang pertama saya harus menyesuaikan gaya bahasa yang ilahiah, pada yang kedua saya mempertimbangkan siapa yang membaca: pembaca dalam bayangan saya adalah para pemeluk agama Kaib atau orang di luar agama tersebut. Bukan pembaca umum. Sehingga saya mengharapkan orang membaca novel ini seperti seorang muslim membaca Alkitab atau seorang hindu membaca Quran.

 

Mengapa Mas Asef memakai perempuan (Erelah) sebagai Rasul dalam ajaran agama Kaib?

Biar unik aja, sekaligus pengen memunculkan permenungan bagaimana jadinya bila seorang nabi itu perempuan, apakah akan ada perbedaan nilai dan hal-hal yang diajarkan dalam sebuah agama. Misalnya, ini misal lho ya, ajaran tentang bagaimana memandang dan mengurus tubuh, pasti berbeda bila nabinya perempuan. Tidak mungkin akan ada ajaran meneladani untuk memelihara dan mencukur kumis, tapi kemungkinan akan ada tata cara yang baik dan berpahala dalam menyisir dan menggelung rambut. Mungkin juga bisa dibandingkan dengan ajaran Lia Eden dan Sri Hartati, yang mengklaim diri mereka sebagai nabi.

 

Apakah novel ini suatu bentuk kritik terhadap kitab suci yang diduga lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan? Sebagaimana dijelaskan laki-laki akan lebih banyak di neraka?

ASA: Wah, saya tidak ingin menduga sejauh itu, apalagi mengkritiknya. Saya hanya menyuguhkan tawaran pemikiran yang baru. Soalnya selama ini perempuan masih saja dianggap sebagai penggoda iman, bukan? Saya sering enek juga pada rumus godaan: harta, takhta, wanita. Ini kan cuma karena bunyi rima akhir, tapi malah banyak dipegangteguhi sebagai dalil yang diyakini berulang kali terbukti, seolah tak ada perempuan yang gagal menjalani kehidupan gara-gara digoda. Catat, di-go-da-, siapa yang aktif? Bukan tergoda–laki-laki. Duh, semoga para lelaki tidak merutuki saya. Hahaha

 

Alkudus juga menceritakan nabi rasul yang memiliki kemiripin dalam agama (Islam) beberapa dapat dilihat dari anagram penamaan pada tokoh-tokohnya juga cerita yang sama seperti Dama dan Waha yang mengingatkan kita pada Adam dan Hawa. Bahkan Kaib sendiri merupakan anagram dari Baik. Apakah Mas Asef berangkat dari pengetahuan melalui Alquran?

ASA: Itu hanya satu dua nama, lainnya tidak. Selebihnya nama-nama saya pilih tidak selalu dengan anagram apalagi alusi dengan tokoh dalam agama tertentu. Saya cukup mengacak-acak kata atau nama benda apa yang ketika mengetik novel itu terlihat oleh mata saya, misalnya nama Labek, itu dari kabel charger netbook yang saya lihat waktu ngetik, haha…. Yang jelas saya harus membuat nama yang asing. Hanya nama Erelah yang saya pilih setelah merujuk beberapa nama dalam berbagai bahasa. Jadi nama-nama itu tidak berangkat dari Alquran.

 

Selain kitab suci berbagai agama dan referensi terkait, novel-novel apa saja yang Mas Asef baca yang menjadi inspirasi dalam menulis novel Alkudus?

ASA: The Fifth Mountain-nya Paulo Coelho karena novel itu diambil dari salah satu episode Alkitab. Cuma itu saja.

 

Buku Apa yang Mas Asef sukai sampai saat ini dan sangat memengaruhi?

ASA: Mmm..., sulit juga, ya. Soalnya suka belum tentu memengaruhi, ya. Mungkin memengaruhi tapi saya tidak sadar juga bisa. Untuk Alkudus, pengaruh Alhikam lumayan besar kayaknya karena beberapa teman yang baca Alkudus bilang begitu.

 

Bisakah Mas Asef ceritakan sedikit karya Syekh Ibnu Atha’illah ini, kitab Al-Hikam yang diperuntukkan bagi para pejalan (salik) yang kemudian memberi pengaruh cukup besar bagi lahirnya Alkudus?

ASA: Untuk lahirnya tidak bisa dikatakan karya itu berpengaruh besar ke Alkudus. Tapi mungkin sejumlah kalimat mutiara yang ada di sana turut memengaruhi saya ketika membuat dalil untuk ajaran agama Kaib dalam Alkudus. Jadi mungkin pada tataran bagaimana ajaran disampaikan, sementara dari segi isi pembaca yang bisa menyimpulkan.

 

Jenis buku apa saja yang Mas Asef sukai? Dan apakah ada buku yang menarik perhatian saat ini?

ASA: Saya suka cerita-cerita sufi, yang mengandung hikmah, dan semacamnya. Kisah dari beberapa biksu, seperti Ajahn Brahm dan Master Sheng-yen, cerita pengalaman kerja dari Bunda Teresa dan komunitasnya, juga kisah-kisah keajaiban yang dikumpulkan Squire Rushnell dan Louise Duart.

Untuk sekarang saya cenderung suka pada buku-buku yang menawarkan kebaruan tafsir, terhadap kenyataan atau hipogram yang tengah diacunya. Selain itu, saya juga suka pada buku-buku yang menawarkan kesegaran dalam gaya dan teknik menulis. Kalau ada buku yang menawarkan keduanya pasti langsung saya buru.

 

Kalau untuk buku-buku Indonesia sendiri?

ASA: Akhirnya ditanyakan juga hehe.... Pram, Seno, Jujur Pranoto, Eka Kurniawan, untuk prosa. Untuk puisi Chairil, Subagyo, Linus. Iman Budhi Santosa, Joko Pinurbo. Kalau yang muda prosa ada Eko Triono, Ramayda Akmal, Rio Johan, Risda Nur Widia, dan Dea Anugrah. Untuk puisi yang muda saya suka Mario F. Lawi dan Indrian Koto.

 

Apakah berpuisi juga menjadi gaya Mas Asef dalam menulis novel tersebut, melihat sangat piawai dalam bertutur (berfirman)?

ASA: Waduh, memang terasa puitis, ya? Kalau dibaca lebih jeli, dan mungkin bisa kita sepakati bersama, ini gaya “terjemahan kitab suci”, sebab strukurnya tidak bahasa Indonesia baku, makanya mungkin mirip puisi yang memang ungrammatical.

 

Mas Asef tidak takut menuai polemik atau disebut "menyelewengkan" kitab suci berkaitan dengan fiksi yang Mas Asef tulis, terutama untuk saat ini yang sedang marak isu-isu agama?

ASA: Tidak. Novel ini tidak menyebut satu pun dalil, ayat, atau nama nabi dari agama apa pun. Di novel ini saya sedang menulis sebuah agama, pasti ada tentang ajaran-ajaran, misalnya tentang sunat, puasa, dan hal-hal sekitar ibadat, tapi itu berbeda dengan apa yang selama ini ada.

Kalaupun saya ada kritik, itu bukan ditujukan pada ajarannya, tapi pada bagaimana pengamalannya. Misalnya, tentang puasa, saya mengkritik orang-orang yang puasa tapi jumlah makannya sama atau bahkan lebih dibandingkan saat dia tidak puasa, lalu apa gunanya ia berpuasa?

 

Alkudus sendiri membawa atmosfer religius yang berbeda. Berkaitan dengan keberagaman novel-novel masa kini, bagaimana Mas Asef memandang sastra-sastra yang mengusung religiusitas?

ASA: Banyak ya, sekarang novel yang mengangkat permasalahan religiusitas sampai saya tidak bisa mengikutinya. Saya tidak bisa berpendapat terlalu banyak. Tapi saya rindu karya-karya seperti milik Kuntowijoyo, baik cerpen maupun novelnya. Beliau dengan baik menarasikan persoalan religiusitas tanpa belibet dengan ajaran-ajaran agama yang verbal. Rumusannya tentang sastra profetik patut dibaca bagi siapa pun yang mau menulis karya sastra bertema religiusitas. Dan tentu, jangan lupakan pula pandangan Mangunwijaya tentang religiusitas dalam sastra. Betapa dekatnya sastra dengan religiustitas.

 

Bagaimana menurut Mas Asef perihal kebebasan imajinasi, berpikir (ideologi), bersuara  (berpendapat), kreativitas dalam sastra? Apakah memiliki batasan tertentu?

ASA: Tak ada batasan untuk imajinasi, ideologi, dan pendapat. Batasannya justru ada pada kata “sastra” itu sendiri. Sastra itu harus gini, sastra ya yang begitu, ukurannya harus begini, unsur-unsurnya seperti ini, tujuannya mestinya untuk anu, dan seterusnya, dan lain-lain. Masing-masing orang punya pandangan, dan pandangan itu yang akan membentuk bagaimana sastra yang dituliskannya. Jadi, kebebasan imajinasi, ideologi, dan pendapat itu harus sesuai dengan batasan sastra yang diyakininya.   

 

Kemudian, apakah ada karya baru yang Mas Asef persiapkan dalam waktu dekat?

ASA: Saya tengah mempersiapkan sebuah kumpulan cerpen dangdut. Isinya cerpen-cerpen yang terinspirasi dari sejumlah lagu dangdut. Menulis cerpen dari lagu dangdut ini sebenarnya dulu saya gunakan sebagai pelemasan setelah menulis Alkudus, yang ditulis dengan gaya bahasa yang ketat itu. Dengan menulis cerpen dangdut saya terbebaskan menggunakan gaya bahasa yang lebih luwes dan bebas menaruh sejumlah lelucon yang saya inginkan.

Setelah dua cerpen saya terpublikasikan di laman basabasi.co ternyata banyak yang suka, bahkan ada yang berani memesan untuk dibuatkan cerpen dengan lagu dangdut yang mereka sukai. Tentu tidak semua yang dipesan pembaca akan saya wujudkan sebab proses menulisnya saya harus "masuk" dulu ke lagunya untuk mencari tahu kemungkinan alurnya. Agar ceritanya tidak sekadar menjadi saduran atau parafrase lirik, tapi harus membuat cerita yang baru tanpa meninggalkan kaitannya dengan lirik dangdutnya.

Harapan saya pelemasan ini berhasil. Jadi setelah menulis kumcer dangdut, saya sudah bisa kembali ke cerita dalam Alkudus. Di awal sudah ada isyarat kalau akan ada satu kitab yang ditulis oleh Bakijah, yaitu Sabda Suci Erelah. Itu novel yang isinya sabda semua berikut cerita dan cara bagaimana sabda itu dituturkan. Jadi masih berkelanjutan, satu novel kitab suci (Alkudus), firman Tuhan untuk Erelah, dan satu lagi novel sabda dari Rasul Erelah.

 

Terakhir, apa pesan Mas Asef bagi pembaca novel Alkudus ini?

ASA:  Kuatkan iman Anda sebelum membacanya, jangan sampai Alkudus yang justru menguatkan keimanan Anda. [*]

 


Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna. Editor Sastra di Jurnal Ruang. Seorang penulis, editor lepas dan pengajar lepas. Buku kumpulan cerpennya pernah mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2008.