Baca tema bulan ini:

KOSTUM: Komik Sebagai Medium untuk Melawan Konten SARA

oleh Haryadhi

14 Juni 2017 Durasi: < 1 Menit
KOSTUM: Komik Sebagai Medium untuk Melawan Konten SARA

Sikap diskriminasi antar Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) bukanlah fenomena baru di Indonesia. Sebutan-sebutan pengganti nama yang bernada rasis sudah sering kita jumpai sejak kecil dan remaja. di lingkungan pertemanan di sekolah maupun perumahan, beberapa orang lebih akrab dipanggil dengan sebutan 'Jawa', 'Ambon', 'Batak', 'Padang', 'Ncek' cuma karena mereka berasal dari suku tertentu.

Berbagai stereotip pun sudah sering kita dengar dalam celetukan-celetukan. “Ah, pelit lo, dasar Padang!” “Ah, lamban lo, dasar Jawa!” Bahkan sampai ada yang disebut ‘Teroris' cuma karena ia adalah keturunan dari Timur Tengah. Uniknya, mereka kelihatannya bisa bertahan dengan panggilan itu selama bertahun-tahun. Mungkin dimaklumi sebagai harga yang harus dibayar demi sebuah pertemanan.

Sikap merendahkan agama lain pun sudah terjadi sejak lama. Sesuai pengalaman pribadi saya di sebuah kelas semasa SD di sekolah Islami, salah satu guru kami bisa dengan mudahnya mencoba melawak dengan mempermainkan Tuhan Agama lain. Murid-murid satu kelas pun bisa tertawa terbahak-bahak, kecuali saya. Mungkin karena saya memiliki saudara dekat yang berbeda agama.

Semasa semester awal di bangku kuliah, saat mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Dosen kami sempat memberikan sebuah tugas kepada para mahasiswanya untuk menonton VCD ceramah Irene Handono, yang katanya adalah seorang mantan biarawati yang telah memeluk Agama Islam. Ternyata isi ceramahnya penuh dengan hal-hal yang merendahkan Agama Nasrani, dan kami diwajibkan untuk memberi ulasan tentang isi video tersebut.

Hal-hal di atas mungkin dianggap sepele. Sebutan-sebutan diskriminatif berdasarkan suku mungkin dianggap sebutan keakraban. Merendahkan agama lain dalam ranah pendidikan mungkin dimaklumi karena ruang lingkupnya tertutup. Tapi, nyatanya, hal-hal itu telah berhasil menanamkan kebencian yang tertahankan, menunggu kesempatan tepat agar dapat terlampiaskan.

Apa yang terjadi ketika kesempatan itu benar-benar datang? Terjadilah malapetaka seperti kerusuhan Mei 1998 sebagai ajang pelampiasan kekerasan kepada warga keturunan Tionghoa. Atau konflik Poso sebagai ajang perang berdarah bertahun-tahun antar umat Islam dan Kristen.

Mungkin sekarang segala malapetaka itu sedang diredam. Tapi segala kebencian yang tertahankan malah semakin jelas kelihatan. Perubahan drastis tentang cara orang menuangkan isi pikiran menjadi penyebabnya. Dahulu, orang-orang menuangkan isi pikirannya ke dalam buku diari. Jika punya rasa benci, ia tuliskan dalam lembaran-lembaran kertas di buku tersebut untuk kemudian ditutup erat. Tak mau ketahuan, tak boleh dibaca siapapun. Beberapa buku diari bahkan dilengkapi gembok kecil, menegaskan larangan isi pikiran seseorang untuk dibaca bebas.

Berbeda jauh dengan dengan kondisi sekarang. Gagasan buku diari telah usang. Berkat jejaring sosial, manusia di seluruh dunia merubah caranya berkomunikasi dan berekspresi. Isi hati dan pikiran yang dulunya sebisa mungkin disembunyikan, kini seakan harus secepatnya dipublikasikan. Tak perlu pertimbangan matang, tak perlu pikiran akan dampaknya yang panjang.

Di era internet dan jejaring sosial, banyak orang kini lantang mengekspresikan kebencian SARA. Sebutan 'Cina', 'Non-Pribumi' 'Kafir', 'Onta' bahkan sampai ajakan 'Mari kita buat tragedi 98 terjadi lagi' tumpah ruwah di linimasa maupun kolom komentar. Fenomena yang lahir sejak persinggungan politik kampanye Pilpres 2014 lalu ini semakin membengkak parah sampai Pilkada DKI 2017.

Segala fenomena ini melahirkan banyak pertanyaan di benak saya. Mengapa banyak orang merasa benar untuk meneriakkan kebencian terhadap SARA? Mengapa masih ada klasifikasi ‘Pribumi’ dan ‘Non-Pribumi’? Mengapa menurut mereka merendahkan suku lain itu benar, dengan alasan sedang membela sukunya? Mengapa menurut mereka merendahkan agama lain itu benar, dengan alasan sedang membela agamanya?

Mengapa semua itu bisa dibenarkan oleh alasan "Kami cuma mengingatkan sesama pemeluk Agama kami," seakan apa yang mereka tulis secara terbuka di dunia maya itu tidak dapat dibaca oleh pemeluk agama lain yang dapat tersinggung dan tersakiti?

Hal-hal ini merangsang saya untuk melempar pertanyaan-pertanyaan itu ke publik dalam medium komik. Melalui komik, saya berharap masyarakat dapat bersama-sama mencerna apa yang sedang terjadi di negeri ini. Di tahun 2009, saya menciptakan brand KOSTUM (komik strip untuk umum) untuk mewujudkan itu.

KOSTUM dengan berbagai komik stripnya menentang segala bentuk penindasan dan diskriminasi, serta menghimbau untuk mengedepankan toleransi dan sikap saling menghormati perbedaan. Di masa krisis toleransi dan sarat diskriminasi SARA seperti sekarang ini, saya rasa keberadaan KOSTUM justru semakin relevan.

Konten kritis dalam KOSTUM menyinggung berbagai pihak dan dinilai kontroversial. Berbagai tuduhan menyerangnya dari segala sisi. Oleh kubu anti-Ahok, KOSTUM sering dicap sebagai komik pesanan para Ahoker. Oleh kubu pendukung Ahok, KOSTUM disebut sebagai komik pesanan para koruptor.

KOSTUM juga kerap disebut sebagai komik yang menyudutkan Islam. Padahal tak sedikit juga pembaca komik KOSTUM yang beragama Islam dan mendukung pesan-pesan yang disampaikan di komik KOSTUM.

Semua resiko yang harus saya tanggung itu pun mengundang banyak pertanyaan yang tertuju kepada saya. "Kok berani banget, sih? Emangnya nggak takut?"

Saya sendiri memilih menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan penggalan kata mutiara dari mendiang Carrie Fisher, "Stay afraid but do it anyway".

Nyatanya, di tengah banyaknya cercaan terhadap KOSTUM, apresiasi terhadap KOSTUM pun tak jarang berdatangan. Banyak yang menuliskan dukungan di kolom komentar, pesan pribadi, maupun menyampaikan secara langsung saat bertemu. Mungkin KOSTUM mewakili aspirasi terpendam mereka, dan ini adalah hal positif bagi saya.

Bagi saya, KOSTUM adalah penyeimbang konten rasis dan intoleran yang sudah semakin marak berseliweran di jejaring sosial. KOSTUM adalah kontribusi saya dalam menerapkan nilai kebhinekaan untuk menghargai perbedaan dan menghormati manusia terlepas dari identitas suku, budaya, dan keimanannya.

Sejak kecil, Pelajaran agama di sekolah memang mewajarkan sikap untuk menganggap agama lain itu salah. Tapi jangan lupa bahwa kita pun dibekali mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang menuntut kita untuk menjunjung tinggi toleransi. Itulah yang kita butuhkan agar bisa hidup harmonis di tengah keberagaman suku, budaya dan agama yang menjadikan bangsa Indonesia ini bangsa yang kaya.