Baca tema bulan ini:

Bumbu Film Pendek Ala Lulu Ratna

oleh Angga Rulianto

16 Juni 2017 Durasi: < 1 Menit
Bumbu Film Pendek Ala Lulu Ratna

Bola bekel. Seperti itulah diri Lulu Ratna. Energinya meloncat-loncat. Gerakannya bisa ke sana ke mari. Namun, sejauh-jauhnya bola bekel yang satu ini melompat, kini jatuhnya selalu di area film. Padahal, Lulu lebih dulu mengasah dirinya di dunia pertunjukan musik. Ia adalah wujud sempurna dari frasa gaul anak nongkrong tahun 1990-an.

Berbagai kampus ia sambangi demi pertunjukan musik. Tak terkecuali Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Cikini yang berjarak nyaris 22 kilometer dari kampusnya di jurusan antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sebab, Lulu sempat berangan-angan jadi promotor musik. Walhasil, ia memiliki jaringan luas di kancah permusikan kala itu.

Dan setelah Soeharto mundur dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998, para mahasiswa lalu merayakannya. Tiga hari kemudian Lulu menjadi koordinator lapangan pertunjukan musik reformasi bertajuk Bongkar di Taman Ismail Marzuki. Konser selama tiga hari itu menampilkan sejumlah band tenar, antara lain Gigi dan Slank.

"Saat itu kayak Woodstock. Becek, penuh orang, panggung pendek, lo bisa sentuh Kaka Slank pas lagi nyanyi. Nyaris enggak ada batas. Lebur semua. Itu kayaknya pencapaian terbesar. Waktu itu gue mikir, 'Udah deh di musik, mau coba di film'," kisah perempuan yang pernah menjadi manajer operasional band Slank dan Pulau Biru Production pada 1997 itu.

Bermula dari sering nongkrong di IKJ, Lulu juga jadi banyak mengenal para pembuat film dan seniman. Sampai-sampai, suatu hari pada 1998 Garin Nugroho terheran-heran pada Lulu yang eksis di mana-mana. "Kamu tuh sebenarnya siapa sih, kata Mas Garin waktu itu?" Lulu tertawa saat menceritakan momen tersebut.

Lulu kemudian menjadi salah satu saksi dan penggerak lokomotif kebangkitan perfilman Indonesia, khususnya film pendek, pada akhir dekade 1990-an. Di masa itu, ia berpindah-pindah dari satu pekerjaan atau aktivitas yang terkait film ke lainnya. Ia pernah jadi periset di Salto Productions dan terlibat dalam acara pemutaran film Jerman yang diadakan Goethe-Institut Jakarta.

Lulu juga ikut mendirikan Konfiden (yayasan yang fokus pada pengembangan, penyebarluasan pengetahuan dan pemanfaatan media audio-visual). Berbekal pengalaman jadi penyelenggara acara musik, ia lalu dipercaya untuk jadi manajer Jakarta International Film Festival (JiFFest) yang perdana pada 1999 sembari ikut menghelat Festival Film Video Independen Indonesia (FFVII).

Selama 18 tahun terakhir, banyak festival film di dalam dan luar negeri yang pernah merasakan luapan energi Lulu, baik sebagai manajer, film programmer maupun juri. Sebut saja Festival Film Indonesia, Festival Film Dokumenter Asia Tenggara Chopshots, Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, Europe on Screen, New York Underground Film Festival, TropFest South East Asia, hingga Festival Film Internasional Youth New Wave di Sri Lanka.

Bikin Boemboe

"Gue orangnya terlalu kayak bola bekel banget," ucap Lulu sembari terkekeh saat bercerita tentang keluarnya ia dari Konfiden pada 2002.

Suara dan tawa Lulu terdengar nyaring dalam ruang rapat yang berdinding kaca di kantor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tempat kami menemuinya. Apalagi, kantor DKJ masih lenggang pada Jumat pagi dua pekan lalu. Menyadari keras suaranya, Lulu buru-buru menutup pintu ruang rapat.

Konfiden sendiri punya peran penting di awal menggeliatnya perfilman Indonesia pasca reformasi seiring dengan munculnya teknologi digital dalam pembuatan film. Kala itu, ajang FFVII yang digelar Konfiden turut memicu anak-anak muda dari berbagai kota untuk bikin film pendek pakai kamera genggam. Setelah lebih dari tiga dekade negara ikut campur secara ketat dalam proses pembuatan film, demokratisasi film mulai menggelora.

FFVII juga ikut melahirkan sejumlah pembuat film yang kini menghidupi industri film Indonesia sekaligus mencetak prestasi. Di antaranya ada Ifa Isfansyah (sutradara "Garuda di Dadaku", "9 Summers 10 Autumns", dan "Sang Penari") dan Eddie Cahyono (sutradara "Cewek Saweran" dan "Siti").

Namun, Lulu kemudian menilai jangkauan kerja Konfiden terlalu luas. "Dari hulu ke hilir. Jadi, daripada gue mengacaukan Konfiden, gue cabut saja dan buat Boemboe yang sesuai visi gue," jelas perempuan yang pernah mendapat hibah untuk ikuti Manajemen Budaya Asian Cultural Council di New York selama empat bulan di Amerika Serikat pada 2003-2004 ini.

Lulu membentuk Boemboe bersama Amin Shabana dan Leili Huzaibah. Tetapi seiring waktu, anggota ketiga Boemboe selalu berganti. Leili yang pindah ke New York lalu diganti Yosef Indra. Terakhir, Ray Nayoan masuk menggantikan Yosef.

Konsep Boemboe yang dibentuk 2003 ini berkebalikan dari komunitas. "Kami organisasi kecil dan memaksimalkan network yang ada. Kami distribusiin film pendek dan juga buatin program. Itu sebabnya Boemboe cepat dikenal di dua tahun pertama. Karena kecil itu maka bergeraknya jadi lebih mudah," lanjutnya.

Satu torehan penting dari kiprah Boemboe sebagai organisasi nirlaba yang fokus pada promosi dan distribusi film pendek Indonesia adalah Boemboe Forum. Ajang yang selalu dihelat setiap tahun sejak 2004 ini bertujuan mempertemukan pembuat film pendek dengan penonton, berdiskusi, serta menciptakan jejaring kerja, termasuk dengan peneliti film dan festival film.

Tak sedikit sineas sekarang yang film-film pendeknya dulu pernah dibedah di forum ini, seperti Eddie Cahyono (sutradara "Siti"), Billy Christian (sutradara "Tuyul: Part 1" dan "Rumah Malaikat"), hingga Tumpal Tampubolon (penulis skenario "Tabula Rasa", "Rocket Rain", dan "Wiro Sableng 212").

Adapun nama Boemboe dipilih karena makna kata bumbu bisa dianalogikan dengan film pendek. Bumbu memiliki banyak rasa, dan begitu pula film-film pendek Indonesia. Lulu yakin, keragaman itulah yang menjadi kelebihan film pendek Indonesia. Jika dulu keragamannya dalam hal bentuk, sekarang lebih ke isinya.

"Karena sekarang film pendek makin banyak dan mudah ditemui dengan berbagai ceritanya, jadi yang menarik what's behind it. Semakin banyak layer dan multidisiplin jadi semakin menarik. Misalnya film pendek 'Mengejar Dangdut' karya Gisela Levy dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Dia yang membuat lirik lagu. Padahal dia bukan musisi dan enggak dengerin dangdut. Tapi lirik lagunya itu benar-benar bisa nempel di kepala," beber Lulu.

Sejarah yang Putus

Dengan geliat aktifnya di ranah film pendek, nama Lulu Ratna hingga kini menempel erat dengan Boemboe dan film pendek. Ia kadung dianggap sebagai salah seorang yang mengurusi film pendek Indonesia oleh para mahasiswa. Ia menilai ada sejarah yang terputus di sini.

"Dulu Konfiden setiap bulan adakan pemutaran dan diskusi ke kampus-kampus. Waktu itu kita merasa sudah hebat banget. Tapi sebenarnya Mas Gotot Prakosa sudah melakukan hal yang sama pada tahun 1970-an dengan sinema ngamen. Jadi kita hanya mengulang, tapi kita enggak tahu," ungkapnya.

Menurutnya, sejarah yang terputus ini adalah warisan dari problem industri film Indonesia di mana para pelakunya di dalamnya terkotak-kotak. Namun, situasi itu tak terjadi dalam ranah film pendek atau independen, karena orang-orangnya di dalamnya mementingkan sikap kebersamaan. Masalahnya, lanjut Lulu, tidak ada pembuat film yang khusus dan konsisten bikin film pendek saja.

"Di sini film pendek dianggap sebagai batu loncatan. Kayak di Hollywood. Which is fine, karena itu kelebihan film pendek. Jadi dia akan terus ada pemain baru," lanjut perempuan kelahiran 1972 ini.

Problem ini bisa diatasi dengan adanya internet. Namun, repotnya generasi milenial sebagai penerus terlalu terpapar banyak hal sehingga jadi kerap bingung dan tak bisa fokus. Kata Lulu, "Mereka berpikir sudah tahu banyak dengan hanya baca artikel atau dengan follow akun social media orang lain. Tapi mereka enggak tahu apa yang ada di baliknya."

Solusi lainnya adalah menciptakan lingkungan perfilman yang ajeg lewat festival film pendek. Sirkuit festival ini berfungsi penting bukan cuma untuk menguji dan mengasah kemampuan pembuat film, tetapi juga untuk kemudian menjadi perekam jejak perjalanan kreativitas dan estetika mereka. Dengan demikian, festival film dapat memperlihatkan tentang pentingnya sebuah proses untuk menjadi pembuat film profesional.

"Masalahnya sekarang orang ingin serba instan. Mereka enggak tahu semua itu butuh proses yang panjang. Proses tersebut penting untuk di-share. Ini sebabnya ada orang kayak gue, Dimas (Jayasrana), Bowo (Leksono), yang cukup gila untuk hanya mengerjakan itu saja. Karena kita tahu bahwa kita mungkin bisa jadi saksi dari perjalanan penting seseorang. Environment itu harus diciptakan," jelas Lulu.

Untuk menciptakan lingkungan ini harus ada dukungan dana yang ajeg. Jika tidak ada, pertumbuhannya akan mandeg. Inilah yang terjadi pada festival-festival film pendek di Indonesia, seperti FFVII, Festival Film Pendek Konfiden, Festival Film Solo, hingga yang paling mutakhir XXI Short Film Festival—yang digelar oleh jaringan bioskop terbesar di Indonesia, Cinema 21. Dan bagaikan angka keramat, semua festival tersebut hanya berusia empat tahun.

"Memang film pendek itu bukan sesuatu yang bisa komersial. XXI Short Film Festival gue rasa sama, karena awalnya mereka berpikir festival ini investasi untuk melahirkan filmmaker yang mungkin akan buat film untuk industri. Di sini kondisinya fragile. Kalau melihat festival film pendek yang sudah puluhan tahun di Eropa bisa berlangsung karena di-support sama pemerintah," ujar Sekretaris Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini.

Dukungan pemerintah dibutuhkan karena menciptakan lingkungan melalui festival film adalah investasi jangka panjang dan buahnya tidak bisa cepat dipetik. Menurut Lulu, pemerintah sendiri sekarang mulai sadar untuk membuat ekosistem dan lingkungan perfilman, tetapi dihadang oleh masih banyaknya pekerjaan rumah yang harus dibenahi terlebih dulu, antara lain pengarsipan, sekolah film, festival film, dan sebagainya.

Maka dari itu, Lulu dan anggota komite film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) lainnya kini berinisiatif untuk membantu menciptakan ekosistem ini. Kepada Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta, DKJ sudah menyodorkan usulan untuk membuat Festival Film Pendek Jakarta.

"Kami sudah usulkan juga Jakarta Film Funding, seperti yang dilakukan pemerintah Jogja. Cuma kan kalau di Jogja kelebihannya ada JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) dan FFD, jadi mereka ada tempat untuk bisa muarakan film-film hasil funding itu. Di sini kan enggak ada. Makanya harus buat lingkaran, kerja terus-menerus, dan itu susah," kata Lulu.

Saat mengatakan itu, senyum tetap mengembang di wajahnya, menyiratkan optimisme.

 

Catatan: Artikel ini telah mengalami revisi karena kesalahan pada bagian yang menyebut Edwin (sutradara "Babi Buta yang Ingin Terbang", "Postcards from the Zoo", dan "Posesif") pernah ikuti Boemboe Forum. Sebenarnya, Edwin mengikuti ajang Boemboe Dapur Night.

Angga Rulianto

Angga Rulianto. Editor Film di Jurnal Ruang. Sejak jadi jurnalis pada 2006, ia banyak meliput film. Tulisan-tulisannya terbit di filmindonesia.or.id, Pikiran Rakyat, Cinema Poetica, dan Muvila.