Baca tema bulan ini:

Arahmaiani, Sang Seniman Pengembara

oleh Fandy Hutari

03 Agustus 2017 Durasi: 6 Menit
Arahmaiani, Sang Seniman Pengembara Bersama para biksu di Tebet, Arahmaiani merancang proyek panjang menjadi Plateau Tibet (Fotografer: Adhytia Putra).

Seniman Arahmaiani senang bukan kepalang. Ia tak menyangka, salah satu karyanya, “Lingga-Yoni” kembali ke Indonesia. Padahal, ia ingat betul karya itu terpaksa dijual kepada seorang temannya di Thailand, kala ia kehabisan uang.

Apalagi, sang teman suatu hari mengabarkan kalau karyanya itu rusak. Ketika diminta memamerkan Lingga-Yoni di New York, Amerika Serikat, tiga tahun lalu, Yani---sapaan akrab Arahmaiani---terpaksa membuat Lingga-Yoni yang baru.

Lingga-Yoni tersebut kini tersimpan di Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University, Amerika Serikat.

“Karya itu mulai disoroti oleh orang asing. Karya tersebut bicara soal sinkretisme budaya. Filsafat keseimbangan. Asia Society mengatakan, ini hal yang penting dan saya sudah 20 tahun lebih bicara soal hal itu,” kata Yani, ketika ditemui di kediaman adiknya di Bandung, beberapa waktu lalu.

Ia baru saja tiba seminggu di Indonesia, sejak mengajar di Universitas Passau, Jerman, selama musim panas.

Sebagai catatan, Lingga-Yoni merupakan karya Yani berbahan aklirik di atas kanvas, 182 x 140 cm. Karya ini dibuat pada 1994, dan dipamerkan kali pertama di Studio Oncor, Jakarta.

Sayangnya, karya tersebut sempat membuat sejumlah orang berang. Mereka menganggap karya itu melecehkan salah satu agama di Indonesia.

Secara visual, Lingga-Yoni mengombinasikan prinsip dasar aneka keyakinan dan kebudayaan, antara Animisme, Hinduisme, Buddhisme, dan Islam. Tulisan Arab Pegon (Arab Melayu) dikombinasikan dengan simbol suci agama Hindu-Buddha, lingga dan yoni.

Kombinasi tersebut dianggap sesuatu yang salah. Mereka menganggap, simbol suci lingga-yoni hanya sesuatu yang bersifat seksual dan kotor, dan Arab Pegon yang membentuk kalimat “Alam adalah buku” dianggap bagian dari kitab suci.

Karya lain yang dianggap melecehkan berjudul “Etalase”. Wujud Etalase berupa sebuah persegi empat berbahan kayu dan kaca, yang di dalamnya terdapat patung Buddha, album foto, Alquran, botol Coca-Cola, kipas, cermin, kendang, kotak pasir, dan kondom.

Karya ini dianggap melecehkan salah satu agama, karena menyatukan kitab suci dengan kondom. Padahal, karya yang pernah dipamerkan di Brooklyn Museum, Amerika Serikat itu, berusaha mengkritisi sistem ekonomi kapitalisme dan neoliberalisme, yang menjadikan segala aspek dalam kehidupan sebagai komoditas.

“Termasuk aspek yang bersifat nilai-nilai agama, kebudayaan, maupun seksualitas. Ya itu sebab judulnya Etalase, yang biasanya digunakan untuk menawarkan barang-barang jualan,” kata perempuan kelahiran Bandung, 21 Mei 1961 itu.

Penjelasan Yani tak digubris para penentang karyanya. Nyawanya terancam. Ia terpaksa menyingkir. Dari sini, petualangannya dimulai.

Nomad

Karyanya Lingga Yoni sempat membuat marah sejumlah kelompok,
dan mengharuskan Yani menyingkir ke luar negeri
(Fotografer: Adhytia Putra).

“Saya sempat konsultasi ke Mas (WS) Rendra. Semua bilang, sudah kamu lari dulu,” ujar Yani, mengisahkan tindakannya setelah Lingga-Yoni dan Etalase diprotes, dan nyawanya terancam.

Yani lantas lari ke Bali. Namun, sebelum sampai di Bali, ia kecelakaan di dekat Solo. Ia kemudian tinggal di Solo selama enam bulan.

Pada 1994, takdir lalu membawanya ke Australia, setelah menerima sebuah undangan ke Negeri Kanguru itu. Karier internasional Yani pun dimulai. Yani kemudian banyak menerima undangan, untuk pameran, menjadi pembicara, atau mengajar.

Ia kerap hidup berpindah-pindah, dari satu negara ke negara lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Jepang, Belanda, Jerman, Tiongkok, Hong Kong, dan sebagainya.

Pada 1983 hingga 1985, Yani belajar di Paddington Art School, Sydney, Australia. Pada 1991 hingga 1992, ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Academie voor Beeldende Kunst, Enschede, Belanda.

Tak hanya di Indonesia, karya-karya Yani pernah dipamerkan di berbagai negara, di antaranya pameran di Sydney Textille Museum, Australia bertajuk “Fibre Art and Design” (1984); “From Pieces to Become One-Homage to Joseph Beuys” (1992) di Enschede, Belanda; dan “Offerings from A to Z” (1996) di Chiang Mai, Thailand.

Yani pernah pula terlibat dalam ajang pameran seni rupa Biennale internasional, dan menampilkan performance art di Asia Pacific Triennale, Australia (1996); Havanna, Kuba (1997); Sao Paolo, Brasil (2002); Gwangju, Korea (2002); dan Venice, Italia (2003).

Terakhir, pada awal Juli 2017, Yani menampilkan performance bersama murid-muridnya di Passau, Jerman. Ia bersama komunitas Kota Passau juga menampilkan performance yang menentang pembangunan tembok dan penebangan pohon di pinggir sungai Inn.

Yang cukup fenomenal dan membuatnya terancam kembali tentu saja ketika ia melakukan performance bertajuk “Breaking Words” di sebuah festival internasional di Malaysia pada 2006.

Yani, yang sebelumnya diundang untuk mengajar seniman-seniman muda oleh sebuah organisasi perempuan itu, meminta penonton menuliskan yang dianggap mereka penting di piring-piring yang dibagikan.

Yani sendiri menulis kata “allah” pada salah satu piring. Piring itu kemudian dikumpulkan di atas meja makan.

“Terus ada tembok, dilemparkan saja. Pecah semua. Termasuk piring tulisan ‘allah’ itu,” kata Yani tergelak.

Hal ini memicu kemarahan. Ia dicari polisi moral. Festival itu dihentikan. Demi keselamatan dan keamanannya, Yani pun menyeberang ke Singapura.

Tiongkok merupakan salah satu negara yang memiliki kesan mendalam bagi Yani. Di sana, ia diundang untuk mengajar di sekolah seni di Guangzhou.

“Nah itu juga lucu, kenapa bisa masuk Tiongkok dan ngajar di sana. Setelah saya bergerak di dunia internasional kan ketemu teman dari mana-mana. Termasuk dari Tiongkok. Terus dia bilang, ‘Yani seni kamu itu kritis banget sangat dibutuhkan di Tiongkok. Kamu kan orang asing. Kamu bisa ngajar, kalau yang diajarkanr itu hal terlarang, kamu cuma akan dideportasi,” kata Yani yang mengaku terpengaruh oleh penulis-penulis Indonesia, macam Pramoedya Ananta Toer, YB Mangunwijaya, Umar Kayam, Sindhunata, Chairil Anwar, dan Rendra ini.

Di Tiongkok, Yani menjadi sangat terkenal. Selama dua tahun, ia kerap diundang dari satu institusi ke institusi lainnya.

“Karena yang saya ajarkan, seniman-seniman Tiongkok yang jadi dosen banyak yang nggak berani.”

Tiongkok juga merupakan pintu masuk Yani menuju Tibet.

Plateau Tibet

Di Tibet, Yani dan masyarakat di sana membangun sistem pertanian organik,
menanam pohon, dan membuat bank yak.
(Fotografer: Adhytia Putra).

Pada 2010, Tibet porak-poranda, karena hentakan gempa bumi. Yani menjejak di desa Lab, dengan maksud memberikan bantuan untuk para korban sebulan setelah prahara itu. Di sana, selain melihat bangunan yang hancur, ia menyaksikan alam yang rusak karena sampah.

Ia kemudian berbincang dengan sejumlah Lama (pimpinan spiritual) dan biksu. Meski berhati-hati dengan otoritas pemerintah Tiongkok, strategi pendekatan Yani disambut baik oleh para biksu dan masyarakat Tibet.

Yani pun melihat, keadaan alam Tibet yang indah bisa menjadi potensi wisata lingkungan yang menarik. Proyek pertama Yani adalah manajemen sampah.

“Empat tahun pertama perjuangannya setengah mati, karena kita tidak boleh menerima bantuan dukungan dari luar. Jadi bener-bener saya sama orang Tibet. Saya sendirian,” kata Yani.

Awalnya, di sebuah biara di sana, yang ikut program ini hanya 500 biksu. Seiring waktu, ada 1.300 biksu yang turun mengerjakan proyek ini.

Rupanya ide wisata lingkungan disetujui otoritas Tiongkok. Bangunan yang direkonstruksi setelah gempa pun dikembalikan lagi ke bangunan-bangunan tradisional.

“Kita mau menjaga budaya dan alam di sana,” kata seniman dan penulis yang terpengaruh oleh karya-karya Noam Chomsky, Joseph Stiglitz, Naomi Klein, Herbert Marcuse, Jean Baudrillard, Ken Wilber, Rosa Luxemburg, Nietzsche, Hannah Arendt, dan E.F. Schumacher.

Proyek selanjutnya adalah menanam pohon. Ada kisah menarik ketika terpantik ide ini. Cerita yang sudah didengar Yani sejak ia datang kali pertama ke biara itu.

“Jadi di biara itu, sekitar 100 tahun lalu ada seorang Lama yang pertama kali memiliki ide menanam pohon. Dan Lama itu memang bilang, ini yang akan dilakukan di masa yang akan datang,” katanya

Pohon yang pertama ditanam di sana dibikinkan kuil. Disebut Mother Tree Temple.

Yani memikirkan keberlangsungan alam secara global, jika Tibet kekurangan pohon. Menurutnya, Plateau Tibet (dataran tinggi Tibet) sangat penting menjaga keharmonisan alam di bumi ini.

“Dan itu salah satu alasan mendasar saya kerja di sana. Karena Plateau Tibet itu, selain disebut kutub ketiga, itu daerah es yang paling luas sebenarnya di bumi ini,” katanya.

Yani menuturkan, Plateau Tibet disebut tower air Asia. Sebab, sungai-sungai besar di Asia, seperti Sungai Yangtze, Mekong, Kuning, Brahmaputra, Gangga, Indus, dan  Salween berasal dari sana.

Saat ini, kondisinya terancam kekeringan akibat pemanasan global. Salah satu caranya, menanam banyak pohon sebagai medium penyimpan air yang alami. Selain menghidupkan kembali budaya peternakan nomad.

“Kalau kita nggak melakukan apa-apa di sana, menurut ramalan para ahli tahun 2030 air akan kering dan habis,” ujar Yani yang juga terkesan dengan buku-buku, seperti Anne Karenina karya Leo Tolstoy, Le Miserables karya Victor Hugo, 1984 karya George Orwell, Brave New World karya Aldous Huxley, serta The Temple of the Golden Pavillion dan The Way of the Samurai karya Yukio Mishima.

Buku-buku yang sudah dibacanya sejak lama itu, jelas berpengaruh besar terhadap pemikiran Yani.

Beruntung, kerja Yani akhirnya didukung pemerintah Tiongkok, karena jika tak berbuat apa-apa akan terjadi malapetaka di seluruh Asia. Termasuk Tiongkok. Perjuangan Yani dan para biksu akhirnya dilihat pemerintah Tiongkok di tahun keempat.

Hingga tahun keempat, mereka berhasil menanam sekitar 230.000 pohon. Ada 14 desa yang sudah bergabung.

Saat pemerintah Tiongkok sudah mendukung, masyarakat lalu beramai-ramai menanam pohon. Mereka tak perlu khawatir dan takut lagi. Pada 2016, jumlahnya sudah lebih dari 1 miliar.

Proyek berikutnya, Yani ingin di sana ada sebuah sistem pertanian organik. Hal ini bukan tanpa alasan. Banyaknya makanan yang masuk ke Tibet, ternyata kurang sehat dan sudah kaladuarsa.

Di Tibet, dengan makanan yang tak sehat, mereka terjangkit penyakit seperti kanker dan banyak yang mati muda. “Nah dengan gerakan ini paling nggak mereka sekarang sudah memproduksi lagi makanan mereka. Dan alami, sehat.”

Hasil dari pertanian yang digarap secara kolektif itu dijual ke komunitas. Terakhir, Yani memberikan ide bank yak. Yak merupakan lembu berbulu lebat yang hidup di Tibet dan wilayah sekitar Himalaya.

Inisiatif ini diambil, karena Yani melihat banyak nomad (pengembara) yang dipaksa hidup dengan pola modern. Mereka disuruh kerja di pabrik dan kota. Padahal, spirit orang-orang Tibet sejak dahulu adalah nomad. Akibat proyek itu, banyak orang Tibet yang depresi karena tak bisa adaptasi ke pola hidup modern.

Dengan adanya bank yak yang dikerjakan secara kolektif, mereka mendapatkan susu, yoghurt, dan keju yang baik. Orang-orang Tibet yang miskin diberi yak, dan dipersilakan hidup sebagai nomad lagi.

“Ide saya dari awal, Tibet maupun Tiongkok harus bekerja sama menyelematkan (Plateau) ini. Dan kepentingan ini untuk semuanya. Sekarang, teman-teman saya biksu di biara itu sudah dinobatkan sebagai perintis gerakan lingkungan hidup di Tibet,” ujar Yani

Waktu Yani di Indonesia sangat sedikit. Beberapa waktu lagi, ia akan terbang kembali di Universitas Passau, Jerman, untuk mengajar seni dengan pendekatan transdisiplin di Fakultas Filsafat.

Ia diundang sebagai pembicara di sebuah konferensi di Universitas Cornell, Amerika Serikat, juga untuk meriset dan membaca banyak buku menyoal kebudayaan Indonesia.

Di sana, ia banyak menemukan buku-buku kuno dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, Tibet, India, Jepang, dan Mesir kuno.

Menyoal tujuannya berkarya, Yani mengatakan, selain mengekspresikan kegelisahan, Yani juga ingin mengajak sekeliling  (komunitas) untuk terlibat dan merespons. Dalam hal ini, ada interaksi antara individu dan masyarakat di sekelilingnya.

“Karena individu maupun komunitas saya percaya memiliki hak untuk menjadi diri sendiri dalam keterhubungan antara satu dan lainnya,” kata Yani, yang juga seorang aktivis ini.

Menanggapi karyanya yang kerap mendapat kontroversi di sini, namun memperoleh apresiasi di Barat, Yani menyinggung, apa yang dilihat di luar juga penting untuk disampaikan di sini.

Menurutnya, bisa saja orang mengatakan dengan perspektif berbeda. Justru, kita harus melihat ini karya seni, bukan hal yang dilihat hanya satu makna dan kaku. Sebuah karya seni bisa dilihat dari berbagai sisi dan pemaknaan.

Di tengah kesibukannya, ada hal yang ingin diabadikan Yani. Hampir seluruh perjalanan hidup berkeseniannya diwarnai pengembaraan, petualangan, dan tantangan.

“Sekarang saya sedang menulis novel tentang pengalaman saya,” tutup seniman nominator Joseph Balestier Award untuk Kebebasan Seni Art Stage Singapore, awal tahun ini (*)

Fandy Hutari

Fandy Hutari. Editor Sejarah di Jurnal Ruang. Penulis, periset, dan pengarsip sejarah hiburan. Berminat pada kajian sejarah sandiwara dan film Indonesia.