Baca tema bulan ini:

Fiksi Klasik dan Gambaran Medis Masa Lalu

oleh Busyra

02 Agustus 2017 Durasi: 4 Menit
Fiksi Klasik dan Gambaran Medis Masa Lalu Ilustrasi: Dwi Sugiyanto

Kemajuan teknologi informasi membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah. Segala kebutuhan manusia bisa terpenuhi hanya dengan menggerakkan jari, termasuk kebutuhan akan kesehatan. Sayangnya, kemudahan ini tak lantas membuat kita bijaksana dalam menggunakan dan menyebarkan informasi. Sering terjadi, seseorang ‘mengobati’ dirinya sendiri dengan berbekal informasi dari mesin pencarian, bahkan dengan mengkonfrontasi hasil pemeriksaan langsung oleh dokter, yang bertahun-tahun bergelut dengan ilmu medis. Belum lagi gerakan-gerakan antivaksin, antiobat kimia, bahkan antidokter yang kebanyakan justru dimotori oleh orang yang tak punya latar belakang medis. Data sepotong-sepotong, ditambah logika salah kaprah, dibumbui teori-teori konspirasi, dan dikemas dalam propaganda menarik, merusak tatanan kesehatan masyarakat yang sudah dibangun oleh para ilmuwan sejak berabad-abad lampau.

Salah satu penemuan medis yang sempat mengubah dunia tetapi kini dianggap sepele adalah antibiotik. Dulu, infeksi adalah penyakit mengerikan dan mematikan yang asal-usulnya misterius. Penyebab infeksi mulai diidentifikasi dan dipublikasikan oleh Louis Pasteur pada 1870-an, hampir bersamaan dengan Robert Koch yang bisa mengidentifikasi bakteri dengan lebih spesifik, dengan puncak penemuannya adalah identifikasi bakteri penyebab infeksi tuberkulosis pada 1882. Meski demikian, obat antibakteri atau antibiotik sendiri baru dikembangkan lebih dari 50 tahun setelahnya, yang memberi harapan baru bagi umat manusia kala itu. Sekarang ini, antibiotik cukup mudah didapatkan, murah, dan banyak jenisnya. Meski tak jarang disalahgunakan, antibiotik masih efektif menangani kebanyakan penyakit infeksi, asalkan tidak terlambat dan tidak ada resistensi kuman.

Sejarah mengenai besarnya jasa ilmuwan bagi harapan dan kualitas hidup manusia mungkin tak sulit ditemukan berbekal kata kunci di mesin pencarian, sebagai data dan fakta yang akan menambah wawasan. Namun, manusia di masa lampau ternyata juga mewariskan wawasan ini beserta emosi dan kengerian yang dibawanya melalui berbagai media; lukisan, monumen, karya fiksi. Di antara berbagai media tersebut, karya yang paling mudah menjangkau masyarakat di seluruh dunia hingga melewati masa adalah buku. Buku bisa diperbanyak, dicetak ulang, dipindahtangankan dengan mudah, tanpa mengubah esensi di dalamnya. Karena itulah fiksi klasik, yang terbit puluhan atau ratusan tahun lalu, yang sudah melewati ujian waktu dan masih bisa kita baca hingga saat ini bisa menjadi saksi sejarah mengenai masyarakat pada masanya.

Berbicara mengenai penyakit infeksi, ternyata tak sedikit fiksi klasik yang menggambarkan bagaimana salah satu karakternya berjuang di ambang kematian, mengharapkan keajaiban, bahkan para dokter yang memeriksa tak bisa memberi harapan lebih baik, karena penyakit yang saat ini sudah bisa kita lawan. Dalam buku Little Women karya Louisa May Alcott, misalnya, pada bab ke-17 diceritakan bagaimana Beth menjadi saksi atas kematian bayi tetangganya akibat scarlet fever. Saat itu, Beth begitu ketakutan, begitupun kakak-kakaknya, yang dengan sigap memutuskan untuk mengeluarkan si bungsu Amy dari rumah agar tak tertular—padahal gejalanya sendiri belum muncul pada Beth. Scarlet fever diawali dengan gejala radang tenggorokan, disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus, khususnya Grup A yang bisa menghasilkan enzim dan toksin yang akan menyebabkan ruam pada kulit. Saat ini, kelas antibiotik yang paling umum pun sudah cukup untuk mengobati infeksi ini, tetapi pada 1830-an, saat buku ini ditulis, penyakit ini diharapkan sembuh hanya dengan mengandalkan kekebalan tubuh sang penderitanya sendiri. Bagi yang sudah membaca Little Women, pasti merasakan bagaimana kepasrahan keluarga March dalam menanti masa kritis Beth terlewati. Hanya mengandalkan obat-obatan apa adanya, sisanya mengharapkan keajaiban. Beth dapat sembuh, tetapi sayangnya kesembuhannya diikuti gejala sisa yang menyebabkannya digambarkan lemah dan sakit-sakitan.

Saat ini, kejadian scarlet fever memang jarang, tetapi infeksi Streptococcus sendiri masih cukup sering. Manifestasinya tidak seberat saat dulu, terlebih di masyarakat yang akses ke pelayanan kesehatannya mudah, dengan pengobatan yang tepat waktu, angka kematian sudah berhasil ditekan. Meski demikian, gejala sisa seperti yang dialami Beth masih cukup sering ditemukan, kebanyakan karena pengobatan yang terlambat atau tidak tepat. Dari gejalanya, saya menduga Beth mengalami penyakit jantung rematik, gejala sisa yang umum pada infeksi ini.

Penyakit infeksi lain yang kerap diangkat pada fiksi klasik adalah kolera. Pada 1826-1837, penyakit ini pernah menyebabkan wabah yang mengerikan di hampir seluruh dunia. Kengerian yang ditimbulkan saat itu bisa kita tengok dalam buku The Secret Garden karya Frances Hodgson Burnett, yang pertama kali diterbitkan pada 1911. Di awal kisah digambarkan kepanikan yang terjadi di rumah keluarga Lennox di India akibat wabah kolera, yang hanya menyisakan beberapa orang saja yang masih hidup, termasuk Mary Lennox yang tiba-tiba menjadi yatim piatu.

Hal serupa juga diangkat dalam novel karya William Somerset Maugham yang diterbitkan pertama kali pada akhir 1924, The Painted Veil. Oleh karena penulisnya kebetulan berlatar belakang medis, gambaran lebih spesifik tentang kolera dijelaskan di sini. Antara lain faktor risiko penularannya, yaitu melalui sayuran, buah, serta air minum yang tidak dimasak. Pada buku ini, karakter Walter Fane sebagai ahli bakteri yang nekat menerima tugas di daerah wabah, digambarkan sebagai tindakan heroik yang hampir sulit dibedakan dengan tindakan bunuh diri, akibat tipisnya harapan di sana. Tanpa adanya obat yang terbukti bisa membunuh bakteri kolera, penanganan yang diberikan semata-mata hanyalah meringankan penderitaan. Pada akhirnya, wabah itu berhenti bukan karena ditemukan obat bagi penderitanya, melainkan karena sudah tak ada lagi yang terjangkiti, dan dilakukannya tindakan pencegahan.

Penemuan antibiotik memang tidak benar-benar bisa menghilangkan kejadian penyakit tersebut sama sekali, atau istilahnya eradikasi, sebagaimana vaksinasi berhasil membebaskan dunia dari penyakit cacar, atau Indonesia bebas polio pada 1995. Namun, perkembangan antibiotik berhasil meningkatkan harapan hidup dan kesembuhan dari penyakit-penyakit tersebut, serta menurunkan kecacatan akibat gejala sisa setelah infeksi. Apalagi ditambah dengan vaksinasi bakteri tertentu, yang meski tak sepenuhnya melindungi dari infeksi bakteri tersebut, dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi yang berat, sehingga lebih mudah diobati.

Rasanya tak adil jika usaha para ilmuwan dan peneliti dalam mengembangkan teknologi medis dibanding-bandingkan dengan informasi yang datangnya dari ilmu perkiraan dan logika serampangan. Masih sering kita dengar argumentasi bahwa orang zaman dahulu lebih sehat dan kuat, padahal jika benar-benar mempelajari sejarah dengan teliti, kesehatan dan kekuatan tersebut terjadi melalui seleksi alam yang berat. Dengan melihat angka kematian dan usia harapan hidup dari tahun ke tahun, sudah cukup menjadi bukti betapa tren penyakit yang bergeser dan populasi lanjut usia yang semakin banyak adalah buah dari upaya pengembangan medis. Namun, seperti sudah disinggung di awal, terkadang kita membutuhkan emosi dan rasa tertentu yang tidak bisa dicatat oleh sejarah. Dibutuhkan rasa yang hanya bisa dibawa oleh karya seni.

Jadi, jika ada yang menyangkal adanya jasa para ilmuwan dan peneliti di bidang medis, mungkin membaca fiksi klasik bisa sedikit memberi gambaran, betapa harusnya kita bersyukur hidup di masa ini, saat tuberkulosis dan kolera bukan menjadi sebuah vonis kematian. (*)



Referensi:

Dobson, Mary. 2013. The Story of Medicine: From Bloodletting to Biotechnology. New York: Quercus.

Handa, Sajeev. 2017. Cholera. Medscape. Diakses dari: www.emedicine.medscape.com/article/962643-overview

Sotoodian, Bahman. 2017. Scarlet Fever. Medscape. Diakses dari: www.emedicine.medscape.com/article/1053253-overview

Busyra

Busyra. Seorang dokter dan narablog buku, penikmat buku klasik dan buku anak.