Baca tema bulan ini:

Di Balik "Kawan-kawan Revolusi"

oleh Fandy Hutari

05 Agustus 2017 Durasi: 3 Menit
Di Balik "Kawan-kawan Revolusi" Lukisan ini pernah menjadi sasaran amukan tentara Belanda (Ilustrator: Dwi Sugiyanto).

Kota Yogyakarta kacau-balau saat pasukan Belanda menyergapnya pada Desember 1948. Para pemimpin negara yang masih muda ini ditangkap. Pasukan Belanda yang melancarkan agresi militer II sukses menguasai Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota sementara Republik.

Imbas serangan Belanda, bukan hanya berdampak terhadap penangkapan para tokoh Republik. Secara politis, kedaulatan Indonesia pun terancam.

Dirampas Belanda

Selain itu, lukisan-lukisan revolusi raib. Artikel A. Karim D.P. berjudul “Lukisan-lukisan Dokumentasi Revolusi Hilang” di majalah Pantjawarna edisi Desember 1955 mengisahkan hal itu.

Sebelumnya, Biro Perjuangan di Yogyakarta pimpinan Djokosujono sudah mengumpulkan 62 lukisan dokumentasi revolusi di sebuah rumah di daerah Patangpuluhan, Yogyakarta.

Namun, ketika para pelukis ingin menitipkan lukisan-lukisan itu ke Sultan Yogyakarta, mereka dicegat pasukan Belanda. Seniman-seniman revolusi itu ditangkap, sedangkan lukisan-lukisannya disita.

Menurut Karim, lukisan-lukisan tersebut merupakan karya pelukis yang tergabung dalam kelompok Pelukis Rakjat. Kelompok ini didirikan pada 1946, dengan anggota-anggota pelukis jempolan, seperti Affandi, Hendra, Trubus, dan Sudarso.

Berbeda dari Karim. Menurut Antariksa dalam bukunya Tuan Tanah Kawin Muda; Hubungan Seni Rupa-Lekra, 1950-1965, di Madiun Sindoesoedarsono Sudjojono sudah membentuk kelompok seniman, yakni Seniman Indonesia Muda (SIM).

Lantas, perkumpulan ini pindah ke Yogyakarta. Kemudian dileburkan dengan kelompok Seni Rupa Masyarakat yang sudah dibentuk Affandi.

Saat perang revolusi berkecamuk pada Juli 1947 hingga Desember 1948, mereka menyebar anggota-anggotanya ke front-front terdepan pertempuran, guna melukis suasana peperangan secara langsung.

Dari 62 lukisan, hanya satu yang selamat. Lukisan tersebut adalah karya Sudjojono berjudul “Kawan-kawan Revolusi”. Beruntung, lukisan ini disimpan di Istana, ketika Belanda menyerbu Yogyakarta.

Meski kondisinya agak rusak, karena diinjak-injak pasukan Belanda yang tak senang melihat gambar pejuang-pejuang dengan mata tajam bersiap ke medan perang, menurut  Karim, inilah satu-satunya lukisan dokumentasi revolusi yang selamat dari penyitaan Belanda.

Wajah “Kawan-kawan Revolusi”

“Kawan-kawan Revolusi” menjadi salah satu lukisan koleksi Istana. Lukisan ini termasuk koleksi kesayangan Soekarno.

Jika ada yang bertanya, Soekarno akan bercerita penuh semangat perihal lukisan ini. Semangat Soekarno tersebut, dengan kedua telapak tangan menggenggam di depan lukisan itu, diabadikan oleh fotografer Prancis, Henri Cartier-Bresson.

Menurut Sudjojono sendiri dalam buku autobiografinya Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya, lukisan legendaris tersebut dibuatnya di gedung bioskop “Miss Riboet” dekat Mangkunegaran, Solo. Di sini, para seniman bermarkas.

Sudjojono sendiri melukis “Kawan-kawan Revolusi” untuk menjawab tantangan pelukis dan kritikus seni, Trisno Sumardjo. Ia ingin pembuktian kemampuan teknis melukis realis Sudjojono yang dianggap lambat.

Sudjojono menjawab tuntas tantangan Trisno.

“Setiap kepala dibuat kurang dari 30 menit. Di lukisan ini saya buat potret teman-teman di satu gedung besar itu: ada sastrawan, ada pelukis, ada seorang komandan pasukan, dan satu prajurit biasa,” katanya dalam buku tersebut.

Terkait gaya realis Sudjojono, menurut Ajip Rosidi dalam bukunya Pelukis S. Sudjojono, setelah kemerdekaan, sikap Sudjojono menimbulkan kontroversi di kalangan pelukis Indonesia.

Sudjojono menyatakan, seni lukis Indonesia harus merupakan seni lukis dengan gaya realisme. Menurut Sudjojono, seni lukis Indonesia baru harus bisa diterima rakyat banyak.

Sebelumnya, menurut Ajip, Sudjojono cenderung menganut ekspresionisme. Kesadaran akan gaya realis itu juga didapat Sudjojono usai melihat hasil lukisan muridnya, Trubus, yang menurut dia ukuran mutunya sangat tinggi.

Terlepas dari gaya lukisan Sudjojono, di dalam lukisan “Kawan-kawan Revolusi”, ada 19 wajah yang keras dan menantang dalam lukisannya itu. Satu wajah, sentral lukisan, adalah sosok yang menginspirasi Sudjojono.

Sosok bertopi pet ala laskar gerilya itu bernama Bung Dullah--bukan Dullah pelukis. Bung Dullah adalah sosok pejuang yang menghancurkan empat tank milik Belanda dengan mengikatkan sejumlah bom di pinggangnya.

Sosok Bung Dullah pernah dikisahkan oleh Soekarno kepada tim sepak bola Lokomotif dari Uni Soviet, kala salah satu tim kuat dunia itu bertandang ke Indonesia.

Soekarno menjelaskan kisah perjuangan Bung Dullah kepada ketua rombongan bernama Bubukin. Setelah mendengar kisah heroik itu, Bubukin lantas mengajak seluruh koleganya. Mereka lalu berdiri di hadapan lukisan itu, dan mengheningkan cipta untuk Bung Dullah.

Selebihnya, wajah-wajah tersebut, di antaranya Basuki Resobowo, Soerono, Trisno Sumardjo, Mayor Sugiri, Oesman Effendi, Kartono Yudhokusumo, dan anak laki-lakinya sendiri Tedjabayu.

Saat Biro Perjuangan di Yogyakarta mengadakan pameran lukisan karya-karya Seniman Indonesia Muda pada 25 Mei 1947, Bung Karno terpikat. Ia lantas membeli dan memboyongnya ke Istana.

Pada Agustus 2016, sebanyak 28 lukisan koleksi Istana Negara dari para maestro lukis dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Salah satu yang menarik perhatian masyarakat tentu saja lukisan “Kawan-kawan Revolusi”.

“Kawan-kawan Revolusi” bisa dikatakan sebuah karya dokumentasi masa revolusi yang penting. Karya legendaris ini menjadi saksi guratan emosional bapak seni rupa Indonesia modern.

Bukti totalitas kepada perjuangan bangsa, dari pelukis yang terkenal dengan ungkapan “seni adalah jiwa ketok (jiwa yang tampak)”.

Merdeka, Bung! (*)


Referensi
Buku
Antariksa. 2005. Tuan Tanah Kawin Muda, Hubungan Seni Rupa-Lekra 1950-1965. Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti.
Rosidi, Ajip. 1982. Pelukis S. Sudjojono. Jakarta: Pustaka Jaya.
S. Sudjojono. 2017. Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya. Jakarta: KPG dan S. Sudjojono Center.
Sp, Soedarso. 2000. Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern. Jakarta: Studio Delapan Puluh.

Majalah
D.P, A. Karim. “Lukisan-lukisan Dokumentasi Revolusi Hilang” dalam Pantjawarna edisi Desember 1955.

Fandy Hutari

Fandy Hutari. Editor Sejarah di Jurnal Ruang. Penulis, periset, dan pengarsip sejarah hiburan. Berminat pada kajian sejarah sandiwara dan film Indonesia.