Baca tema bulan ini:

Banda yang Dijaga Datu-datu

oleh Angga Rulianto

08 Agustus 2017 Durasi: 4 Menit
Banda yang Dijaga Datu-datu Banda dan palanya mulai tersisihkan selepas Indonesia merdeka hingga sekarang. (Foto: LifeLike Pictures)

Beta Pattiradjawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Inilah penggalan puisi "Cerita buat Dien Tamaela" yang dikarang Chairil Anwar pada 1946. Puisi ini secara utuh dibacakan oleh Reza Rahadian di menjelang akhir film dokumenter "Banda the Dark Forgotten Trail" arahan sutradara Jay Subyakto. Lewat suara dan emosinya, Reza sebagai narator mampu menyemayamkan ancaman yang membersil dari larik-larik puisi ini dengan tenang sekaligus seolah siap untuk meledakkan amarahnya kapan saja.

Setelah puisi "Cerita buat Dien Tamaela", Jay dan penulis skenario M. Irfan Ramli ("Cahaya dari Timur: Beta Maluku", "Surat dari Praha", dan "Filosofi Kopi 2: Ben & Jody") kemudian menaruh lagu "Indonesia Raya" yang dinyanyikan anak-anak Banda, serta lantunan laun musik elektronik dan juga suara deburan ombak yang sayup-sayup terdengar di antaranya. Maka bagian akhir film "Banda the Dark Forgotten Trail" ini ibarat deklamasi sebuah sajak tentang ancaman dari pengabaian sejarah.

Film "Banda the Dark Forgotten Trail" memang menuturkan secara kronologis dan komprehensif ihwal krusial Kepulauan Banda di Maluku dan pergolakan masyarakatnya yang kemudian berkontribusi dalam proses pembentukan nusantara menjadi Indonesia. Segalanya bermula dari buah pala yang sarat khasiat tumbuh subur di tanah vulkanis Kepulauan Banda, lalu menjadi komoditas primadona bernilai tinggi di pasar internasional sejak abad ke-5 dan ke-6. Hingga akhirnya, bangsa-bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda) memperebutkan kuasa atas perdagangan pala pada abad ke-16.

Belanda lewat Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) kemudian menjadi pemenangnya. Sejak itu, kuku-kuku kolonialisme Belanda mulai menancap kuat di bumi nusantara. Film "Banda" mengisahkan secara efektif tentang dinamika persaingan antar negara Eropa yang berujung monopoli perdagangan buah pala, aksi kekerasan, dan genosida terhadap masyarakat asli Banda. Dari situ, sejenak terlihat pula gambaran praktik imperialisme negara-negara adidaya kala itu. Praktik yang sebenarnya masih juga terjadi seiring dengan panasnya perkembangan geopolitik di dunia hari ini. Lihatlah apa yang terjadi di Suriah dan Yaman, misalnya.

Di awal abad ke-20, Banda tak kehilangan tajinya. Jay dan M. Irfan Ramli tak luput untuk menceritakan tentang dua founding fathers Indonesia, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, yang dibuang ke Banda sewaktu itu. Di sana, Banda yang dihidupi oleh masyarakat yang plural telah menginspirasi Hatta dan Sjahrir dalam memikirkan tentang identitas Indonesia. Ini tak mengherankan karena kebinekaan dan pluralisme memang sudah mengalir dalam napas masyarakat Banda sejak lama. Di mata Hatta dan Sjahrir, Banda adalah laboratorium hidup pluralisme.

Memasuki masa Indonesia modern di tengah berkuasanya rezim birokratik-militer Orde Baru dan paradigma developmentalism-nya yang sentralistik, Banda dan juga palanya mulai tersisihkan. Di situasi seperti ini, Banda tak ubahnya elemen-eleman tradisional yang harus diabaikan dan tersingkir dalam modernisme. Film "Banda" lalu memaparkan perihal luruhnya pesona komoditas pala dan ekonomi di Banda. Perusahaan-perusahaan yang memperdagangkan pala pun terseok-seok akibat manajemen yang buruk dan korupsi. Kondisi ekonomi ini belum banyak beranjak di Banda hingga sekarang. Kondisi yang juga masih terjadi di wilayah-wilayah Indonesia lainnya.

Penuturan tentang Banda dalam film dokumenter ini kemudian melompat ke tahun 1999. Sebab, itulah titik genting lainnya bagi Banda, terutama daya tahan lapisan masyarakatnya yang sejak lama dianyam dengan kebinekaan dan pluralisme. Menjelang abad ke-20 itu, tanpa disangka-sangka pertumpahan darah kembali terjadi di Kepulauan Banda. Kerusuhan dan pembunuhan yang dipicu sentimen suku dan agama di Ambon, Maluku, ternyata merembet ke Banda. Api pun berkobar.

Salah satu narasumber film "Banda" yang juga penyintas dari peristiwa tersebut, Pongky van den Broeke, mengungkapkan pengalaman tragisnya. "Cari Pongky. Bunuh Pongky. Dia bukan orang Indonesia. Dia orang Belanda. Bunuh dia, cungkil matanya!" ucap Pongky, mengulang teriakan-teriakan keji dari massa yang beringas ketika itu. Pongky sendiri merupakan keturunan ke-13 dari perkenier (pemilik kebun pala) asal Belanda, Peter van den Broeke. Ia memang berhasil selamat, tapi lima anggota keluarganya tewas dibunuh massa.

Dari pengisahan sejarah Banda secara kronologis dalam dokumenter ini, kentaralah upaya pembuat film untuk menerangkan anasir-anasir penting dan relasi temporalnya dalam struktur sosio-kultural masyarakat Banda dari beratus-ratus tahun lalu hingga sekarang. Selain itu, dari apa yang terjadi di Banda sekaligus apa yang membentuknya, tampak pula bahwa identitas (res, etnis, hingga agama) sebagai salah satu anasir tersebut bersifat cair, lentur, dan tidak bersifat monolitik, tapi di sisi lain juga mudah dimanipulasi untuk menjadi dasar aksi kekerasan.

Pada titik ini, sebagai cerminan, sejarah dan perjalanan Banda jadi relevan dengan masa kini. Sebab, bukankah soal membengkokkan identitas seperti ini masih (terus) terjadi di Indonesia, yang sekarang kerap berbalut kerja-kerja politik identitas?

Anasir-anasir yang coba dipaparkan Jay dan Irfan lewat penjelasan dari para narasumbernya (sejarawan, pemerhati budaya, petani, hingga warga biasa) ini kemudian jadi mencolok, karena dijukstaposisikan dengan gambar-gambar subam nan elok Banda hasil tangkapan mata penata sinematografi Ipung Rachmat Syaiful dan tiga fotografer handal yang ikut mengoperasikan kamera, yakni Oscar Motuloh, Davy Linggar, serta sang sutradara sendiri, Jay Subyakto. Dengan mata-mata di balik kamera yang sudah punya ciri khas tersendiri, Jay agaknya meyakini bahwa untuk cara membuatnya sinergis adalah suntingan cepat (fast editing) dengan jump cuts yang dipakai secara dominan dalam film ini.

Berkat fast editing dan jukstaposisi ini, visual film "Banda" ini menjadi mewah, dinamis, dan mampu membuat penonton terjaga ketika mencerna kisahnya lantaran benak mereka harus terus memproduksi realitas secara mandiri tentang peristiwa-peristiwa bersejarah di Banda. Toh gaya penyutingan seperti ini secara naratif memang tidak berniat untuk mengarahkan penonton. Dengan kata lain, ada pengistimewaan gambar dalam film "Banda" serta menyisipkan gagasan anti-realisme.

Namun, di sisi lain penyuntingan seperti ini pada beberapa sekuens terkadang jadi memperkeruh proses pembentukan realitas dalam benak penonton. Terutama pada adegan maupun sekuens yang tampil nyaris tanpa suara natural, melainkan disesaki dengan musik elektronik yang amat menghentak dari Indra Perkasa Lie. Untung saja penyuntingan seperti ini tidak kita selalu temui di sepanjang film. Ada kalanya narasi film ini bersandar sepenuhnya dan mempercayakan pada kekuatan verbal supaya penonton bisa menghela napas. Lihatlah, misal, ketika Pongky van den Broeke bercerita tentang peristiwa yang merenggut nyawa keluarganya. Siapa yang tidak termangu menyimak kisah kelamnya itu?

Terlepas dari strategi visualnya, "Banda the Dark Forgotten Trail" sebagai film dokumenter sesungguhnya tidak menawarkan kebaruan dalam hal naratif, terlebih karena kontennya adalah sejarah tentang wilayah beserta segala hal yang terjadi di dalamnya. Kita kerap menemui narasi seperti ini dalam banyak tayangan dokumenter di berbagai stasiun televisi. Tapi, film "Banda" menjadi suguhan yang berbeda dan unggul berkat pengisahan sejarahnya yang komprehensif dan visualnya yang mewah.

Apabila disandingkan dengan film-film dokumenter yang sudah lebih dulu diputar di jaringan bioskop komersial, sebut saja “Student Movement in Indonesia” (2002), “The Jak” (2007), “Pertaruhan” (2008), “The Conductors” (2008), “Setelah 15 Tahun” (2013), “Jalanan” (2014), hingga “Yang Ketu7uh” (2014), maka film "Banda" yang diproduseri Sheila Timothy ("Pintu Terlarang", "Modus Anomali", dan "Tabula Rasa)" ini tentu lebih unggul ditengok dari skala produksi. Dan dari sederet film-film tersebut, hanya “Banda” yang narasinya menyoal wilayah.

Barangkali film "Banda the Dark Forgotten Trail” beruntung, sebab Banda sebagai wilayah memang memiliki kekayaan cerita yang sarat emosi dan kegetiran akibat limpahan hasil buminya (pala). Apalagi Banda juga istimewa karena pernah menjadi lokus penting dalam sejarah pembentukan bangsa ini. Alhasil, para pembuat film ini dapat leluasa mengeksplorasi Banda demi menyuguhkannya kepada kita, masyarakat Indonesia yang masih kerap lupa dan mengabaikan sejarah bangsanya.

Sampai-sampai film ini ditutup dengan pernyataan bernada kredo "Melupakan masa lalu adalah sama dengan mematikan masa depan bangsa ini" serta penegasan posisi krusial Banda dan pala yang tak ada duanya dalam sejarah pembentukan Indonesia. Seperti yang disuarakan Chairil Anwar lewat "Cerita buat Dien Tamaela" dalam film ini.

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
(*)

Angga Rulianto

Angga Rulianto. Editor Film di Jurnal Ruang. Sejak jadi jurnalis pada 2006, ia banyak meliput film. Tulisan-tulisannya terbit di filmindonesia.or.id, Pikiran Rakyat, Cinema Poetica, dan Muvila.