Baca tema bulan ini:

J.S. Khairen: Berkaryalah

oleh Hestia Istiviani

11 Oktober 2017 Durasi: 4 Menit
J.S. Khairen: Berkaryalah Bagi J.S. Khairen, berkarya akan membentuk karakter anak muda. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Menjadi seorang yang berkarya akan memengaruhi bagaimana karakternya, bagaimana sudut pandangnya, dan hal-hal lain yang personal. Namun, sering kali kata “berkarya” diidentikkan dengan menjadi artist—seniman. Salah seorang penulis muda berbakat, Jombang Santani Khairen, ikut urun pendapat. Baginya, anak muda yang berkarya tidak selalu melakukan semuanya sendiri. Dia juga menekankan bahwa berkarya tidak bisa sembarangan. Harus ada kemauan untuk berguru dan tetap memiliki keinginan untuk belajar sehingga apa yang dihasilkan bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk sekelilingnya.

Halo Jombang! Seberapa besar anak muda yang berkarya membantu mereka untuk membentuk karakter mereka?

Berpengaruh pastinya. Mereka yang berkarya ada kecenderungan mirip-mirip entrepreneur. Energi yang mendorong dia itu tidak hanya to-do-list. Dia harus menciptakan lingkungan dan sistem sendiri. Yang berkarya di start up, misalnya. Namun bukan berarti mereka yang bekerja di perusahaan itu jelek. Mereka meneruskan sistem yang sudah sangat stabil.  Mungkin tekanannya sama dengan yang tidak berkarya. Tapi perlu diingat, prinsip dasarnya sendiri sudah beda.

Tahu akun Twitter @DirjenPajak? Tidak hanya adminnya saja, ada tim komunikasi kreatif di belakangnya. Itu salah satu contoh bahwa mereka mengubah sistem secara perlahan. Yang seperti itu juga bisa dibilang berkarya.

Jika berkarya lewat tulisan, seberapa besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakternya?

Ada yang bilang kalau menulis itu membuat bahagia. Menguraikan isi pikiran. Menguraikan kegelisahan. Ada yang bilang menulis itu bagaimana ada sesuatu yang tidak bisa ia sampaikan dengan indra yang lain maka disampaikanlah dengan tulisan. Coba berkaca dari aku. Mau tidak mau, aku harus mengekspansi kapabilitas menulis. Meski sudah melakukannya sedari kecil, tetap belum cukup. Perlu belajar banyak hal, bertemu beragam orang, dan belajar budaya Indonesia.

Belajar juga bagaimana caranya mengolah imajinasi. Seringkali ada ujaran negatif bahwa berkarya ketika mood-nya terbentuk. Kalau ingin menjadi profesional kita harus menyusun cara berpikir kita bahwa berkarya tidak bisa mengandalkan mood. Jadi, tentu saja, berkarya itu membentuk kepribadian. You choose your own way.

Kalau seperti itu, apakah berkarya melalui menulis itu akan membentuk pola pikir yang positif?

Penilaian positif dan negatif tidak bisa dibilang mutlak. Tapi yang jelas, menulis akan memperluas cakrawala. Mempertajam empati. Menulis menuntut kita untuk memahami emosi seseorang. Bang Riri Riza bilang, “Kamu tidak boleh memposisikan diri lebih rendah ataupun lebih tinggi dari tokoh yang kamu tulis”. Jadi, kalau misal tokoh yang ditulis adalah seorang pemabuk, ya kamu setara dengan dia dan tidak boleh membuat dia lebih rendah dari kita sebagai penulisnya.

Berarti dengan kata lain, orang yang menulis akan mampu menghargai yang ada di sekitarnya?

Ya. Lingkungan dan pemahaman orang di sekitarnya tentang kebenaran, tentang kesalahan, tentang kebaikan, tentang kejahatan. Malah tidak jarang kita bertemu orang yang membuat kita bergumam, “oh dia pasti punya background story mengapa dia seperti itu.” Justru dengan menjadi penulis, kita jadi tidak sembarang menilai. Itu yang membedakan antara penulis dengan pemberi opini. Pemberi opini memaparkan data dan fakta. Sastrawan tidak bisa seperti itu.

Lantas, bagaimana pandanganmu terhadap anak muda di Indonesia jika dikaitkan dengan berkarya?

Kalau lihat statistik, Indonesia mendapat bonus demografi. Maka, jadi anak muda itu di mana pun jangan mentok. Misalnya ketika aku singgah di Padang. Yang ada di pikiran anak kreatif Padang yakni bagaimana bisa melanjutkan hidup dengan berkarya. Malah sudah berpikir bagaimana caranya menembus (pasar) nasional.

Kalau kita lihat, ada orang yang orientasinya yang penting happy. Lalu, orientasinya uang. Kemudian, memperluas networking. Apa pun orientasinya, itu semua keputusan masing-masing. Bagaimana kalau yang kita impikan bukanlah sesuatu dari sepuluh atau lima belas tahun terakhir, tetapi satu atau dua dekade ke depan. Walaupun belum punya satu mimpi yang saklek, cari dulu irisan-irisannya yang, katakanlah, ketika umur tiga puluh nanti kita bisa kembangkan jadi sesuatu yang hebat. Pun pada aku sebagai penulis.

Jadi sebaiknya anak-anak muda berkarya yang seperti apa?

Ya, kita bisa saja berbicara klise tentang itu. Tapi mari konkretkan. Berkaryalah dengan hati dan kesungguhan. Mengapa tidak berorientasi untuk membuat budaya Indonesia jadi go international, misalnya. Memang, ketika kamu harus memilih berkarya produktif, kamu akan mengalami kesulitan. Tapi itu bagus. Kamu akan belajar. Seperti kata Jack Ma, sebelum usia tiga puluh tahun, belajar saja dulu. Nanti ketika sudah berusia tiga puluh, bermain-mainlah lagi lebih serius.

Dari kutipan Jack Ma tadi, apakah anak muda perlu untuk berguru kepada orang lain supaya dia bisa berkarya?

Ya, harus. Kita tetap harus belajar kepada senior untuk mengambil sudut pandang bijaknya. Tetapi, bukan berarti kita sekonyong-konyong belajar asal ikut saja. Tidak bisa seperti itu. Harus tahu apa yang mau dipelajari dari orang tersebut. Kita juga tidak bisa merasa “kita anak muda, kita yang hebat”. Kita masih butuh belajar. Karena kalau tidak ada mereka, jembatan peradaban akan hilang.

Kalau menurut Jombang sendiri, seberapa besar pengaruh berguru terhadap tulisan-tulisan yang diciptakan?

Aku belajar menulis, tidak hanya menulis saja, dengan banyak sosok. Prof. Rhenald Kasali salah satunya meskipun beliau bukan novelis. Yang aku dapatkan adalah profesionalismenya, sisi humanisnya, caranya membangun relasi. Dengan Bang Riri Riza, aku belajar bagaimana caranya memperkuat karakter dan keindahan tata bahasa. Mendapatkan sepotong-sepotong, jadilah satu mangkuk. Ditambah satu mangkuk lagi maka menjadi karakter kita. Kalau ditanya seberapa berpengaruh, tentu sangat berpengaruh. Aku juga berguru kepada A. FuadiRaditya Dika, hingga script writer. Dari situ, aku olah “sumber daya abstraksi” untuk dikembangkan kemudian.

Jombang merasakan adanya perubahan semenjak berguru?

Tentu. Aku dulu sendirian dateng ke penerbit. Belum tahu dunia penerbitan. Bagiku bukan masalah. Dengan keberanian sebesar itu, dengan sudut pandang yang seperti itu dan berguru kepada orang-orang tadi, gaya penulisan aku akhirnya cukup mempengaruhi strategi ke depannya.

Kalau tadi bicara soal sosok yang mempengaruhi karir kepenulisan, bagaimana dengan buku bacaan?

The Count of Monte Cristo (Alexender Dumas). Karena detailnya bagus, tidak membosankan. Penjabaran konfliknya menurutku “wah”. Lalu ada Lonceng Cinta di Sekolah Guru yang merupakan karya bapakku sendiri, Khairul Jasmi. Bahkan di buku yang terbaru, Rinduku Sederas Hujan Sore Itu, ada gaya penulisan yang ala beliau. Ada juga buku-bukunya Andrea Hirata, Tere Liye, dan A Fuadi. Kalau yang internasional, salah satunya A Game of Thrones (George R.R. Martin). Oh, ada juga The Black Tattoo (Sam Enthoven), sebuah judul yang membukakan mata bahwa ternyata tulisan dan imajinasi boleh liar. (*)

Hestia Istiviani

Hestia Istiviani. Lulusan Ilmu Informasi dan Perpustaakan UNAIR yang juga tergabung komunitas Blogger Buku Indonesia. Hingga kini, ia masih berharap L’Arc~en~Ciel menggelar konser lagi di Indonesia.