Baca tema bulan ini:

Berayun ke Dunia Terabithia

oleh Teguh Afandi

04 Oktober 2017 Durasi: 5 Menit
Berayun ke Dunia Terabithia Adegan kisah dalam "Bridge to Terabithia" karya Katherine Paterson menjembatani anak-anak menuju pendewasaan.

Kedamaian itu akan dimulai dari ujung pikiran yang kusut, lalu mengalir turun melalui tubuhnya yang pegal dan lelah. (hlm.18)

Ketika diwawancarai siswa-siswa Scholastic, Katherine Paterson menyampaikan bahwa inspirasi awal dalam penulisan Bridge to Terabithia adalah nostalgia persahabatan antara putranya, David Lord Paterson dan Lisa Hill. Katherine ingin membuat Lisa abadi dalam benak David. “Saya menulis Bridge karena sahabat anak saya, Lisa Hill, yang tersambar petir dan meninggal,” ujarnya.

Selain mengungkapkan ide awal penulisan kisah Jesse dan Leslie, Katherine juga menjawab asal muasal nama Terabithia yang begitu ajaib itu. Katherine menyampaikan bahwa nama itu berasal dari kenangan akan bacaan semasa kecil, yakni The Voyage of the Dawn Trader karya C.S. Lewis. Dalam kisah tersebut terdapat sebuah pulau bernama Terebinthia.

Yang juga disinggung dalam buku ini, bahwa Leslie Burke membaca buku Lewis dan menjadikannya sebagai sumber penamaan kerajaan imajiner miliknya dan Jesse. Katherine menambahkan bahwa sumber lain yang menginspirasi adalah pohon terebinth dalam bibel. “Lewis meminjamnya dari Bible dan saya meminjamnya dari Lewis,” simpul Katherine.

Menarik untuk menggarisbawahi dua hal dalam wawancara di atas. Pertama, naskah ini ditulis atas dasar kisah anaknya David dan sahabatnya Lisa. Kedua, kehadiran buku bacaan anak yang memengaruhi Katherine.

Dua hal ini bisa jadi alasan kuat mengapa Bridge to Terabithia menjadi novel anak klasik yang memenangi banyak penghargaan, begitu manis, dan terus menjadi bahan ajar sekolah dasar di Barat. Kemudian dialihwujudkan menjadi film pada 2007—30 tahun setelah novel itu terbit pertama kali pada 1977. Kini diindonesiakan kembali oleh Noura Books dengan sebelumnya pernah diterjemahkan pada 2001 oleh Sapardi Djoko Damono. Kisah Jesse-Leslie begitu indah, natural, dan tak lekang oleh waktu.

Kisah Jesse Oliver Aarons, Jr. dan Leslie Burke berlatar di sebuah kawasan pertanian Lark Creek. Katherine menggambarkan Lark Creek sebagai daerah pinggiran yang tak menjanjikan. Ayah Jesse setiap hari harus pulang-pergi bekerja ke Washington. Ayahnya bisa melupakan rasa lelah karena harus mengemudi jauh ke Washington bolak-balik dan menggali dan mengangkut seharian (hlm. 7). Sedangkan Jesse bertugas memerah sapi—yang diberi nama Nona Bessie—setiap pagi dan petang.

Jesse menjadi satu-satunya anak laki-laki dari lima bersaudara di keluarganya—sebuah fenomena khas masyarakat rural. Dua kakaknya bernama Ellie dan Brenda. Dan dua gadis yang lebih kecil bernama May Belle dan Joyce Ann. Dari semuanya, Jesse paling dekat dengan May Belle. Dan May Belle-lah yang tahu bahwa Jesse diam-diam berlatih lari saban hari, di sela-sela tugasnya berjumpa dengan Nona Bessie. Jesse terobsesi menjadi pelari paling cepat di Sekolah Dasar Lark Creek.

“Dia harus menjadi yang tercepat. Bukan salah satu yang tercepat atau kedua tercepat, tapi yang paling cepat. Yang terbaik.” (hlm. 3)

Selain begitu ambisius menjadi pelari tercepat, Jesse juga menaruh minat pada gambar. Namun, gambar-gambarnya tidak dianggap kecuali oleh Miss Edmunds, guru musik. Tak ada satu pun guru pelajaran biasa yang menyukai gambar Jesse. Setiap kali mereka memergokinya mencorat-coret, mereka akan mulai menasihatinya betapa dia menyia-nyiakan—waktu, kertas, dan bakatnya (hlm. 20).

Namun ketika Leslie Burke pindah dan menempati rumah keluarga Perkin, di seberang rumah Jesse, semua berubah. Kepindahan Leslie Burke dari kota ini juga mengejutkan Jesse. Bagaimana mungkin orang kota mau pindah ke daerah pinggiran nan sepi begini? Pertetanggaan ini yang kemudian membuat Jesse mendapatkan kawan sekaligus ‘lawan’ dalam berlari. Apalagi ketika Leslie berhasil mengalahkan Jesse—hal yang mengakrabkan mereka.

Persahabatan Jesse dan Leslie sungguh menggemaskan. Mereka bertindak sebagaimana asal-muasal sebuah ikatan. Jesse kesal lantaran dikalahkan Leslie. Berlari tidak lagi menyenangkan. Dan semua itu karena Leslie (hlm. 52). Setiap kali di bus sekolah, alih-alih menyilakan Leslie duduk, Jesse lebih memilih mendekap May Belle.

Jesse lambat laun tertarik pada Leslie lantaran karangan tentang hobi milik Leslie. Leslie menulis scuba diving, hobi yang tidak lazim untuk seorang gadis. Kedekatan ini ditandai dengan Jesse dan Leslie bekerja sama untuk memberi pelajaran kepada Janice Avery—siswi di Sekolah Lark Creek yang kerap mengusili Jesse. Hingga kemudian....

“Leslie dan aku harus melakukan sesuatu berdua hari ini.” (hlm. 67)

Sebuah tanda bahwa Jesse telah menganggap Leslie sebagai kawan baik hingga dapat saling berbagi rahasia.
 

Negeri Terabithia

Salah satu episode menarik dalam serial kartun Spongebob Squarepant ialah ketika Spongebob dan Patrick bermain di dalam kardus. Mereka begitu asyik, muncul aneka suara, bahkan sesekali terdengar suara seolah sedang perang. Squidward yang penasaran membuka kardus itu, dan mendapati tidak ada apa-apa—kosong. Ya, dua sahabat jenaka itu sedang bermain-main dengan imajinasi. Fantasi. Dan fantasi anak-anak adalah fantasi yang naif sekaligus tanpa batas.

Tak jauh berbeda dengan karib Spongebob-Patrick, Jesse dan Leslie memainkan imajinasi yang luar biasa. Sekaligus yang menjadi kekuatan buku ini. Mereka bermain di lahan kosong di belakang rumah Perkin. Mereka berjalan menuju lahan kosong hingga bertemu sungai kering yang menjadi pemisah lahan pertanian dan hutan. Ada sebuah pohon apel liar di tepian sungai. Di pohon itu ada sebuah tali yang sepertinya telah lama tergantung dan terlupakan (hlm. 69).

Dari tali itulah mereka akan menuju sebuah negari rekaan yang mereka namai Terabithia. “Tempat amat rahasia yang tidak akan kita ceritakan kepada siapa pun di dunia ini,” ujar Leslie kepada Jesse.

Ini bukan tempat biasa. Bahkan penguasa Terabithia hanya mendatanginya saat merasa amat merana atau amat bahagia. Kita harus menjaga kesakralan Terabithia. (hlm. 84)

Di negeri inilah, Jesse dan Leslie membangun kerajaan imajinasinya. Mereka menjadi penguasa yang mempertahankan dari gempuran raksasa. Kerajaan ini dijaga oleh penjaga bernama Pangeran Terrien, anjing hadiah ulang tahun Leslie.

Jesse dan Leslie harus berdua. Mereka adalah penguasa Terabithia. Seperti Spongebob-Patrick membangun kerajaan imajinasi dalam kotak kardus, Jesse-Leslie menghidupkan Terabithia. Maka tidak ayal bila  Jesse mencoba pergi ke Terabithia sendirian tapi tidak menyenangkan. Perlu Leslie untuk bisa merasakan keajaibannya (hlm.118).
 

Kematian di Benak Anak-Anak

Sebagai bacaan anak-anak, novel ini memang menyuguhkan sebuah lanskap yang digemari mereka. Persahabatan-sekolah-fantasi.  Jesse yang gemar lari dan hal-hal seni, persahabatan dengan Leslie, hingga dunia rekaan yang mereka ciptakan sekaligus rahasiakan dari orang-orang dewasa, semuanya cukup membuat dada pembaca hangat oleh buncahan kegembiraan.

Namun, mengapa Katherine justru menyelipkan adegan yang bikin kegembiraan berangsur menjadi kelabu?

Hujan tidak berhenti turun di Lake Creek. Pagi hingga petang. Jesse terjebak. Tidak bisa ke mana-mana. Miss Edmunds mendadak mengajak Jesse ke National Gallery, di Washington. Miss Edmunds mengajaknya melihat patung Abraham Lincoln, Gedung Putih, hingga Gadung Parlemen. Dan diakhiri dengan traktiran makan siang di kantin. Jesse mabuk akan warna dan bentuk kemegahan (hlm.183).

Hari yang sangat mungkin sebagai hari paling membahagiakan itu mendadak menjadi hari paling sedih. Sesampainya di rumah, Jesse harus mengetahui kabar kematian Leslie. Sebuah adegan pemungkas yang benar-benar membuat mata hangat.

Biasanya dalam cerita untuk bacaan anak-anak, kita akan disuguhkan akhir yang ‘bahagia selama-lamanya’. Ada lompatan ketika Katherine membuat pemungkas cerita yang mengharu-biru. Leslie meninggal akibat terjatuh dari tali saat hendak menuju Terabithia. Kala itu, permukaan air sungai sedang meluap akibat hujan tanpa henti.

Ini merupakan bagian dari mimpi yang mengerikan. (hlm.193)

Kalau dalam bahasa Katherine, “children need not only the happily-ever-after of fairy tales, but also 'proper endings' in which "hope is a yearning, rooted in reality.” Mereka juga perlu kenyataan bahwa hidup tak selamanya bahagia—tak selamanya melulu tertawa. Ada sakit, ada luka, ada tangis, ada juga kematian.

Bila menengok dongeng-dongeng untuk anak-anak kita, kebanyakan memang masih berakhir bahagia. Namun, corak senada dengan Bridge to Terabithia sejatinya pernah dilakukan oleh Clara Ng dalam bukunya berjudul Bagai Bumi Berhenti Berputar, yang mengenalkan disabilitas-sakit-kematian kepada anak-anak.

Kematian bukan hal yang aneh bagi orang dewasa, namun bagi anak-anak—termasuk Jesse—konsep kematian begitu asing. Apakah Leslie tidak kembali? Di mana Leslie tinggal? Konsep-konsep demikian yang mungkin perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana dan logika anak-anak atau, dikutip dari Katherine, dengan sebuah cerita yang apik.

Bagaimanapun, sejak belia, pengenalan tentang akhir hidup ada mati itu diperlukan. Ada kalanya akhir sebuah persahabatan bukan keabadian, melainkan perpisahan. Tentu selain mengedepankan arti kesetiakawanan, semangat meraih cita-cita, dan cinta-bakti kepada keluarga seperti yang Jesse dan Leslie tunjukkan.

Katherine termasuk penulis yang tidak begitu suka bila ditanya soal ‘pesan’ dari cerita fiksinya. Katanya pesan dalam fiksi adalah racun. Mengambil atau tidak mengambil pesan adalah hak pembaca. ”You tell story and then the reader gets to decide what he/she will learn from your story. And if they don't want to learn anything from it, that's their choice.”

Namun, bila diminta menarik poin penting dalam cerita ini ialah sebagai yang telah paham akan konsep kematian, kita harus siap ketika hal menyeramkan seperti kematian Leslie ditanyakan oleh mereka yang masih belia.

Hal lain yang mungkin kita rindukan bahwa menjadi anak-anak itu penting. Jujur, polos, sekaligus penuh keceriaan. Apakah dewasa menghalangi kita memiliki fantasi dan persahabatan sejati? Apakah pemahaman logika orang dewasa membuat kita selalu menghakimi secara hitam-putih saja? Tidak bolehkan kita sedikit melucu, melompatkan imajinasi, atau seperti Jesse-Leslie yang akrab tanpa memandang perbedaan dari mana mereka berasal?

Di akhir tulisan ini, mari kita jawab pertanyaan, kapan kita mengeset ulang pikiran sebagaimana anak-anak berpikir? Bukan kekanak-kanakan, tetapi lebih bebas tanpa terus-terusan menebalkan perbedaan. Kapan? (*)



Referensi:

“Katherine Paterson Interview Transcript” dalam scholastic.com. Diakses dari www.scholastic.com/teachers/articles/teaching-content/katherine-paterson-interview-transcript

Bazelon, Emily. 2007. “Sudden Death” dalam slate.com. 26 Februari 2007. Diakses dari http://www.slate.com/articles/life/family/2007/02/sudden_death.html

NPR Staff. 2014. “Author Of 'Bridge To Terabithia': Messages Are Poison To Fiction Listen” dalam npr.org. 7 Desember 2014. Diakses dari http://www.npr.org/2014/12/07/368020910/author-of-bridge-to-terabithia-messages-are-poison-to-fiction

Teguh Afandi

Teguh Afandi. Penggiat @KlubBaca.