Baca tema bulan ini: Retrospektif

Politik Literasi, Buku Sastra, dan Penulis Muda

oleh Muarif

01 Oktober 2017 Durasi: 7 Menit
Politik Literasi, Buku Sastra, dan Penulis Muda Benturan politik literasi antara penerbit dan proses kreatif pengarang . (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

“…, buku ini tidaklah dapat dilepaskan dari ‘Kisah antara Manusia’, kumpulan cerita cerita pendek saya, karena banyak cerita pendek itu merupakan latihan-latihan ke arah lahirnya roman ‘Belenggu’ ini.”

(Pendahuluan Kata dalam Belenggu karya Armijn Pane)

Menjadi penulis dengan menerbitkan buku sastra, untuk saat ini, boleh dikatakan nyaris tanpa perjuangan. Beberapa situs menawarkan jasa penerbitan dengan mudah dan murah. Beragam paket penerbitan berbayar bisa dipilih sesuai dengan permintaan calon penulis. Bahkan beberapa situs itu di antaranya menyediakan jasa penerbitan secara gratis. Tak ayal, penulis-penulis baru bermunculan, dari yang sekadar untuk gengsi agar bisa disebut sastrawan hingga sekadar untuk kepentingan jabatan seorang pegawai negeri. Buku-buku karya mereka pun bermunculan di toko buku online pemilik jasa penerbitan atau dipasarkan sendiri oleh penulisnya melalui media sosial, atau pula sekadar pamer dengan mengirimkannya kepada rekan si penulis. Masalah kualitas jelas tidak menjadi pertimbangan bagi karya sastra instan ini. Sangat miris rasanya membaca komentar penyair D. Zawawi Imron yang mengatakan, “Karya buruk tak berkualitas zaman sekarang gampang dibukukan dengan banyaknya penerbit”.[1]

Apa yang diungkapkan Armijn Pane pada bagian Pendahuluan Kata untuk cetakan ke 4 novel Belenggu yang ditulisnya pada tanggal 16 Maret 1954 [2] menjadi sangat ironis ketika melihat fenomena penerbitan buku-buku sastra instan sebagai jalan pintas kesastrawanan. Saya tidak hendak mengatakan bahwa buku sastra yang diterbitkan secara mandiri melalui penerbit indie memiliki kualitas yang lebih buruk dibanding buku sastra yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Pada era “setiap orang boleh menerbitkan buku”, kita tidak hanya berbicara tentang kegairahan menulis tetapi juga memikirkan mutu karya dan kelangsungan proses kreatif kepengarangan mereka.

Saya “takjub”- mungkin tepatnya, saya merasa aneh- ketika Leyla Imtichana, seorang ibu rumah tangga yang pernah aktif dalam sebuah komunitas kepenulisan, mengisahkan bahwa selama empat tahun, 13 novelnya telah diterbitkan oleh berbagai penerbit label. Dalam waktu satu tahun, Leyla mampu menerbitkan tiga sampai empat novel di beberapa penerbit yang bukan indie.[3]

Luar Biasa! Ucapan ini muncul karena saya tidak bisa memainkan logika di kepala saya. Itulah yang saya rasakan ketika membayangkan proses kreatif Leyla Imtichana dalam melahirkan karya-karyanya. Bila benar seperti itu, bagaimana dengan kualitas karya-karyanya yang dalam waktu singkat dapat ditulisnya? Apakah memiliki standar kesastraan yang baik? Di manakah letak kontemplasi dan seleksi sebuah tulisan sebelum benar-benar menjadi karya sastra yang bermutu? Sementara Armijn Pane harus berjuang melalui latihan-latihan menulis fiksi sebagai kerja kreatif yang bersungguh-sungguh untuk menghasilkan karya monumentalnya, novel Belenggu.

Sikap memilih jalan mudah dan cepat menjadi gaya beberapa penulis muda yang mengambil jalan pintas untuk mencari pengakuan. “Naskah yang kita kirim tidak terlalu lama dalam proses seleksi, selain itu naskah juga pasti diterbitkan. Sementara kalau di penerbit mayor, naskah yang kita kirim harus menunggu pemberitahuan layak terbit atau tidak, dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.”[4] Demikian pernyataan salah seorang anak muda yang ingin diakui menjadi penulis dengan karya yang sudah diterbitkan. Memiliki buku dalam bentuk cetak seakan menjadi legitimasi seseorang disebut penulis atau bukan.

Politik Literasi

Paparan di atas sebenarnya sedikit banyak menggambarkan sebuah benturan yang terjadi dalam politik literasi antara penerbit. Terutama bagi siapa pun yang melihat secara kritis kualitas buku-buku sastra, dengan keinginan beberapa pengarang muda yang sekadar ingin mempublikasikan karya-karyanya dalam bentuk buku. Namun, sesungguhnya politik literasi kaum muda yang menerbitkan karya-karyanya secara mandiri tidak memiliki basis intelektual yang cukup kuat. Hal inilah yang membedakannya dengan pengarang-pengarang Indonesia yang berkarya di luar penerbit Balai Pustaka pada tahun 1900 hingga 1924, seperti RM Tirto Adhi Soerjo, Hadji Moekti, Mas Marco Kartodikromo, Semaoen, dan S. Goenawan. Selain itu juga pengarang-pengarang peranakan Tionghoa dan Indo-Belanda[5] yang menerbitkan karya-karya cerita mereka melalui penerbit lain. Balai Pustaka, sebagai lembaga budaya bentukan pemerintah Hinda Belanda ini, melalui politik literasi yang dianutnya, hadir untuk mengontrol bacaan “liar” yang diterbitkan berbagai penerbit lain. Menurut catatan Hilmar Farid, Balai Pustaka berhasil menyingkirkan karya-karya mereka dari sejarah kesusastraan Indonesia modern hingga tidak dikenal pada masa-masa selanjutnya. Lembaga ini menjalankan fungsinya di tingkat ideologi dengan melakukan kotrol terhadap rakyat pribumi melalui buku-buku sastra yang diterbitkannya.[6]

Dengan karakter yang sama, politik literasi Orde Baru berhasil membungkam buku-buku sastra, juga pentas-pentas seni, yang mengancam keamanan negara (penguasa). Namun, benturan politik literasi terasa lebih keras terjadi antara pengarang-pengarang yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang menyerang buku-buku sastra dari pengarang yang dianggapnya kontra-revolusi. Pada dasawarsa 1970-an pun benturan politik literasi masih terasa ketika orang memperdebatkan kualitas novel-novel populer sebagai karya sastra atau bukan sastra. Pertanyaan yang kini muncul dalam diri saya adalah apakah novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi yang banyak diterbitkan secara mandiri melalui penerbit indie akan bisa diterima kehadirannya dalam setiap perbincangan perkembangan sastra Indonesia sebagaimana novel-novel popular, yang oleh banyak pengamat sastra, telah diakui sebagai warga kesusastraan Indonesia?

Tanpa Pembelaan

Novel, kumpulan cerpen atau puisi, juga drama, sesungguhnya tidak memerlukan pembelaan dari pihak manapun dalam kehadirannya sebagai sebuah buku sastra. Buku sastra yang berkualitas, bahkan menjadi karya yang monumental sekalipun, tidak ditentukan siapa pengarangnya, kritikus, juri sayembara penulisan karya sastra, apalagi institusi penerbitannya. Karya-karya sastra besar seperti novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahabana, Belenggu karya Armijn Pane, Aki karya Idrus, Atheis karya Achdiat Karta Mihardja, atau novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer, juga puisi-puisi Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri atau W.S Rendra, menjadi karya yang berkualitas dan monumental. Hal itu karena karya itu sendiri yang berhasil membawa perubahan dan mengilhami penulis penulis sesudahnya. Novel Saman karya Ayu Utami menjadi karya besar bukan karena dewan juri memutuskan sebagai juara pertama dalam Sayembara Roman yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta. Demikian pula dengan novel pertama Andrea Hirata, Laskar Pelangi, menjadi buku yang paling banyak diburu pembaca. Novel-novel tersebut, sekadar untuk menyebut beberapa contoh, menjadi karya besar karena mutu yang dimilikinya. Di samping adanya momentum yang mengiringi kemunculan karya-karya tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Maman S. Mahayana.

“Karya sastra menggelinding membawa nasibnya, mencari dan menemukan momentumnya sendiri”.[7]

Buku sastra yang kehadirannya telah direkayasa sedemikian rupa oleh pengarangnya, ditulis dengan beratus-ratus halaman, ditopang dengan biaya pencetakan yang tinggi, diterbitkan oleh penerbit paling terkenal. Bahkan sampai diadakan Sayembara Kritik Sastra untuk novel-novel yang telah diterbitkan dengan hadiah puluhan juta rupiah, semuanya tidak memberikan pengaruh apa pun bagi novel itu sendiri sebagai karya sastra yang berkualitas. Demikian pula dengan kebesaran nama pengarangnya, tidak berbanding lurus dengan kualitas karya yang dihasilkannya. Novel Grotta Azzura setebal 556 halaman (terbit pertama kali pada tahun 1970) karya Sutan Takdir Alisyabana ternyata gagal menjadi novel yang memikat pembacanya. Sekalipun ditulis oleh tokoh angkatan 30, novel Grotta Azzura sangat jauh dari buku sastra yang berkualitas. Alur cerita hampir tidak ada, hanya penuh sesak dengan khotbah tentang filsafat, seni budaya, politik, dan cita cita kebudayaan Takdir lewat tokoh fiksi yang dicipatakannya.

Bila pengarang sekelas Sutan Takdir Alisyabana, yang tidak lain merupakan tokoh sastra Angkatan 30, pernah gagal menulis buku sastra yang berkualitas, bagaimana dengan buku buku sastra yang ditulis pengarang-pengarang muda? Sayangnya, buku-buku sastra yang diterbitkan beberapa penulis muda dewasa ini terjebak (walaupun tidak semuanya) pada politik literasi yang dianut para penggiat gerakan buku indie. Sebagaimana yang terungkap dari wawancara dengan penggiat gerakan buku indie, Irwan Firmansyah, politik literasi gerakan ini adalah menolak hegemoni penerbit sebagai industri kapitalisme dengan cara membangun kreativitas, sikap independen, dan otonom. Menurut Firmansyah, indie atau mayor sama saja, hanya pengelolaannya yang berbeda. Bila penulis indie makin produktif, dibutuhkan ruang dan manajemen yang lebih rapi. Bagi kalangan penggiat buku indie, penerbitan buku sastra secara mandiri bukanlah batu loncatan tetapi “cara lain” mempublikasikan dan mendistribusikan buku.[8]

Jelasnya, wacana yang diperjuangkan penulis-penulis muda hanyalah penyebarluasan buku- buku sastra karya mereka. Kreativitas diartikan hanya sebatas “mencari berbagai cara” untuk menerbitkan buku sastra sebanyak-banyaknya dan bagaimana mendistribusikan buku-buku sastra kepada pembaca. Apa yang terjadi kemudian adalah inflasi buku sastra yang miskin kualitas.

Terus Berproses  

Dalam sepuluh tahun terakhir ini kita melihat beberapa penulis muda yang terus berproses untuk menjadi penulis yang kian matang. Mereka tampak tidak tergiur memainkan politik literasi yang menolak hegemoni tertentu sebagai basis perjuangan karya-karya sastranya. Pada buku-buku sastra bergenre novel dan cerita pendek, kita menemukan jejak-jejaknya pada pengarang muda yang terus berproses. Benny Arnas, misalnya, yang tidak hanya sangat produktif menulis karya-karya prosanya, ia juga telah menunjukkan kualitas dalam pemilihan tema-tema “kampung halaman” sebagai ciri khasnya. Benny banyak menghasilkan beberapa buku sastra yang mengusung unsur lokal dari daerah tempatnya dilahirkan dan tumbuh besar. Benny mengeksploitasi secara cerdas lokalitas dengan kritik sosial budaya Lubuk Linggau.

Buku-buku sastra Benny Arnas bisa kita telusuri jejak proses kreativitasnya dalam Cinta Tak Pernah Tua (Kumpulan cerpen, 2014 terbitan PT Gramedia Pustaka Utama), Bulan Celurit Api (Kumpulan cerpen, Penerbit Koekoesan. 2010), Jatuh dari Cinta (Terbitan Grafindo, 2011), Bersetia: Cinta yang Kembali Takkan Seperti Semula (Novel, Penerbit Mizan Publishing, 2014), Tanjung Luka (Novel. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2015). Yang belum lama ini terbit kumpulan cerpen Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Ibu (Terbit 2017) dan sebuah novel yang oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2016 ditetapkan sebagai pemenang unggulan, Curriculum Vitae: Seratus Enam urusan, Sembilan Puluh Perumpamaan, Sebelas Tokoh, Sepasang Kegembiraan (Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2017).

Dari medan puisi, patut dicatat buku-buku puisi karya Adimas Immanuel. Penyair muda yang lahir di Solo, tanggal 8 Juli 1991 ini, sudah menghasilkan beberapa kumpulan puisinya. Empat Cangkir Kenangan (Serba Indie, 2012), Pelesir Mimpi (Kata Bergerak, 2013), Di Hadapan Rahasia (GPU, 2016), dan kumpulan puisi Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali (Selut Press, 2016). Di hadapan puisi-puisi Adimas Immanuel, saya seperti memasuki selubung rahasia yang tidak hanya sulit untuk dipecahkan. Namun saya juga melihat adanya kesederhanaan berpikir dengan gaya ungkap bahasa penyair yang telah matang.

Bersama buku-buku sastra mereka, tampil pula secara mengejutkan dan menggembirakan karya-karya Faisal Oddang, Dea Anugrah, Mario F. Lawi, dan tentu saja sastrawan muda pemenang I Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015, Norman Erikson Pasaribu. Yang menarik dari proses kreatif Norman sebagai sastrawan adalah pengakuannya yang jujur untuk membaca dan mempelajari buku-buku sastra sastrawan muda seusianya lainnya, “Saya sering terkesan dengan penulis-penulis seumuran saya, banyak yang sangat menarik, baik dalam hal apa yang mereka tulis maupun cara mereka menuliskannya… .” [9]

Sebelum karya-karya mereka bermunculan, telah hadir buku-buku sastra yang memperlihatkan kerja kreatif yang sungguh-sunguh. Kita bisa menyebut nama Dewi Kharisma Michelia, Okky Madasari, serta Eka Kurniawan. Dengan proses kreatifnya masing-masing, karya-karya mereka, khususnya pada novel-novel Eka Kurniawan, kesusastraan Indonesia menemukan kembali wajah barunya setelah novel Saman karya Ayu Utami. Bahkan, menurut saya, sangatlah layak bila Benedict Anderson memberikan penilaiannya atas novel-novel Eka Kurniawan, “Menyenangkan bahwa setelah setengah abad berlalu, Pramoedya Ananta Toer telah menemukan pengggantinya”. [10]

Pada buku-buku sastra karya Dewi Kharisma Michelia, Okky Madasari, Eka Kurniawan, Faisal Oddang, Dea Anugrah, Mario F. Lawi, Norman Erikson Pasaribu, Benny Arnas, Dimas Immanuel, juga beberapa sastrawan muda lainnya yang tidak sempat tercatat dalam tulisan, saya menyimpan mimpi besar bersama pembaca sastra Indonesia, bahwa buku sastra Indonesia yang berkualitas akan lahir dari sebuah kelangsungan proses kreatif yang tidak pernah berhenti. Saya teringat, penyair Sapardi Djoko Damono tiga puluh lima tahun yang lalu, pernah menulis: “… kegairahan menulis lahir dari tradisi menulis, oleh karena itu sastrawan membutuhkan buku-buku untuk bisa mengembangkan kegairahan menciptakan buku. Kebutuhan untuk belajar ini hanya bisa terlepaskan kalau tersedia buku-buku yang baik, yang biasanya adalah tulisan para master”.[11] Saya percaya dan itu ada pada kelangsungan proses kreatif penulis-penulis muda tanpa politik literasi yang dangkal. (*)


Catatan

[1]   Basha, Raidi. “D. zawawi Imron Menimbang Kualitas Buku sastra”. Dalam http://pocer.co. Diakses tanggal 25 September 2017.

[2]   Pane, Armijn. 1995. Belenggu. Jakarta: Dian Rakyat.

[3]  Imtichana, Leyla. “Menerbitkan Buku Secara Indie, Salahkah?”. Dalam www.leylahana.com. Diakses tanggal 25 September 2017.

[4]  Amal. “Penerbit Indie Jadi Pilihan Penulis Pemula”. Dalam http://harian.analisadaily.com. Diakses tanggal 25 September 2017.

[5]   Lihat ulasan lengkap Sumarjo, Jakob. 2004. Kesusastraan Melayu Rendah Masa Awal. Yogyakarta: Dalang Press.

[6]  Farid, Hilmar. 1991. Kolonialisme dan Budaya: Balai Poestaka di Hindia Belanda. Dalam Jurnal Prisma

[7]  Mahayana, Maman S. “Momentum Sastra Monumental”. Dalam http://sastra-indonesia.com/. Diakses tanggal 25 September 2017.

[8]  Sebuah wawancara dengan Irwan Bajang. “Irwan Bajang: Gerakan Buku Indonesia”. Dalam http://radiobuku.com. Diakses tanggal 25 September 2017.

[9]  Mujiarsi, Is. “Norman Erikson dan Puisi yang Mengharukan”. Dalam Detikhot. Diakses 29 September 2017.

[10]“Eka Kurniawan: Menjadi The Next Pram adalah Hal Biasa”. Wawancara. Dalam http://beritagar.id. Diakses 29 September 2017.

[11] Damono, Sapardi Djoko. 1982. Kesusastraan Indonesia Modern, Beberapa Catatan. Jakarta: Gramedia.

Muarif

Muarif, penulis kritik sastra. Beberapa tulisan kritiknya meraih penghargaan. Salah satunya ia meraih juara ketiga dalam Sayembara Penulisan Kritik Sastra DKJ 2017 lalu.