Baca tema bulan ini: Retrospektif

Kaum Muda, Makhluk Tepian Zaman

oleh Andi Achdian

12 Oktober 2017 Durasi: 4 Menit
Kaum Muda, Makhluk Tepian Zaman Anak muda kerap digadang-gadang sebagai simbol perubahan (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Anak muda adalah makhluk tepian zaman. Mereka tumbuh besar di dalam era sejarah yang akan segera ditinggalkan. Namun, tak sepenuhnya menguasai zaman baru untuk tumbuh berkembang sebagai makhluk dewasa hingga ajal menjemput.

Surat dari pejuang emansipasi, RA Kartini, kepada sahabat penanya Estela H. Zeehandelaar pada 25 Mei 1899 memberi ilustrasi tadi.

“Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru”, tulis Kartini.

Namun Kartini segera menyadari, gelora semangat zaman baru itu belum sepenuhnya memberikan ruang bagi kebebasan yang ingin diraihnya sebagai perempuan terpelajar di Hindia Belanda awal abad ke-20.

“Masa itu pasti datang, saya tahu, tetapi baru tiga, empat keturunan sesudah kami,” tulis Kartini dalam buku terjemahan Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini; Renungan tentang dan untuk Bangsanya.

Tragis. Hingga kematiannya di usia 25 tahun, Kartini tetap belum menghirup “zaman baru” yang mengisi era kehidupan kaum muda saat itu. 

***

Layaknya kisah Kartini, setiap masyarakat di zamannya, sudah pasti memiliki kisah masing-masing tentang konflik generasi di dalam kehidupannya. Hal itu juga meliputi beragam konstruksi tentang posisi kaum muda dan peran sejarah mereka.

Popularitas konsepsi generasi milenial bagi mereka yang lahir pada dekade 1980-an, memberikan petunjuk bahwa ide tentang kaum muda dan peran sejarah mereka bukan sekadar konsep unik dalam pengalaman Indonesia.

Ia merupakan jargon global di bawah budaya kapitalisme mutakhir abad ke-21, yang memberi kesan ruang gerak tak terbatas generasi tersebut.

Dalam kenyataan, segala sesuatu akhirnya ditentukan oleh seberapa tebal dompet dalam saku generasi tersebut. Secara sosial dan dalam hitungan statistik, hanya sedikit yang bisa menikmati gambaran ideal konsepsi generasi milenial.

Sebagian besar, terutama mereka yang terpuruk dan tinggal jauh dari pusat kemajuan, tetap dipaksa segera mencari siasat bertarung di pasar tenaga kerja, mengisi lapisan mayoritas kaum pekerja dengan pendapatan yang hanya cukup menyambung nyawa sehari-hari.

Angka-angka adalah kenyataan dingin yang menyakitkan. Mereka yang merasa menjadi bagian dari generasi milenial boleh bermimpi sebagai pembawa obor perubahan baru yang menciptakan sejarah masyarakat mereka.

Namun, catatan sejarah menunjukkan, perubahan sejarah bukan sekadar perbedaan generasional seperti yang kerap muncul dalam media massa. Terdapat kenyataan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar persoalan perbedaan generasional tersebut.

Sejak periode kehidupan Kartini hingga sekarang, persoalan yang dihadapi sama saja. Kaum muda dituntut segera memasuki kehidupan dewasa dengan tingkat persaingan dan beban yang semakin hari semakin berat. 

Orang-orang muda zaman sekarang mungkin tidak lagi bisa bermimpi memiliki rumah luas dengan kebun dan taman, seperti generasi terdahulu mereka. Sebagai ganti, mereka dibiasakan untuk menerima kenyataan untuk tinggal di dalam ruang seluas 36 meter persegi sebagai kelaziman hidup masa kini.

Sedikit gambaran tentang ruang gerak mondial dengan kemudahan transportasi modern, dan perangkat gawai mutakhir menjadi bumbu penyedap, yang memberi kesan kehidupan mereka jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Namun semua sekadar bumbu penyedap saja.

***

Mahasiswa Sorbonne dan poster-poster perlawanan.
(Foto: Arsip Spaarnestad melalui http://www.gahetna.nl).

Pada Mei 1968, sejumlah mahasiswa Universitas Sorbonne di Paris turun ke jalanan  menyerukan legalitè, libertè, dan sexualitè--plesetan Revolusi Prancis pada 1789-1799--dan menggulirkan pemogokan umum di Prancis. Kepustakaan ilmu sosial dan politik dekade 1970-an dan 1980-an, segera dipenuhi dengan gambaran dan analisis tentang konflik generasional dalam proses perubahan sejarah.

Aksi kaum muda di Universitas Sorbone dianggap sebuah titik baru perubahan, yang menandai sebuah revolusi sosial di negara-negara industri maju yang berada dalam penghujung siklus kemakmuran pasca Perang Dunia II di Eropa.

Siklus krisis kapitalisme global yang mencapai puncak pada pertengahan 1975 telah dirasakan sejak awal di kalangan muda yang berbaris menuju ketidakpastian sebagai “cadangan tenaga kerja baru”---yang harus puas dengan upah lebih rendah dan prospek kehidupan masa depan yang belum pasti.

Gejolak itu mendapat gaungnya di negara-negara maju lain, seperti Amerika Serikat, yang terkenal dengan istilah Revolusi Bunga dalam gelombang gerakan hak-hak sipil.

Kisah tersebut, dan kepustakaan tentang tema itu yang berkembang kemudian, menguatkan bayang-bayang mitos tentang keutamaan kaum muda dalam perubahan sejarah.

Di Tiongkok, kita mengenal sosok “Garda Merah” yang membuat kalang kabut rezim komunis di negeri tersebut. Kim Il Sung menggelorakan semangat Juche yang menempatkan kaum muda sebagai garda depan dan pemimpin perubahan masyarakat.

Di Indonesia, gambaran itu dibangun dengan menempatkan kaum muda dalam momen sakral Sumpah Pemuda 1928, yang menegaskan tekad membentuk bangsa, bahasa, dan tanah air yang satu (Foulcher, 2000).

Seorang pengamat tentang Indonesia, Benedict Anderson, bahkan mengabadikan kiprah para pemuda dalam bukunya tentang pengalaman revolusi Indonesia pada masa pendudukan Jepang hingga terbentuknya republik (Anderson, 1972).

Terjemahan Indonesia buku tersebut menampilkan judul Revoloesi Pemoeda, yang seolah ingin menegaskan bahwa revolusi Indonesia adalah karya utama para pemuda.

Anderson sendiri menegaskan kiprah tersebut sebagai suatu fenomena khas sejarah Indonesia yang berbeda dengan konsepsi gurunya, George McTurnan Kahin. Kahin menggambarkan revolusi Indonesia dalam alur menyerupai pengalaman revolusi Prancis, dengan kepeloporan kelas menengah terdidik di Indonesia. 

Bagaimanapun, kiprah pemuda dalam sejarah Indonesia lebih banyak tampil dalam mitos yang dibangun atas dasar kepentingan negara baru, mengukuhkan proses nation-building, dibanding kenyataan sejarah yang sesungguhnya (Anderson, 1988).

Kaum muda dan gelora semangat perubahan yang lekat dengan sosok mereka pada akhirnya tidak lebih menjadi sekadar alat yang digunakan sesaat, untuk kemudian ditinggalkan setelah tujuan-tujuan para pemimpin---yang sudah tidak lagi muda---tercapai.

***

Dalam keseluruhan cerita itu, kaum muda seringkali ditempatkan dalam poros utama pergerakan zaman. Mereka menjadi pasukan yang bergerak di garis depan, menghidupi elan perubahan zaman.

Antropolog Robert R. Jay dalam kajiannya tentang masyarakat perdesaan Jawa, menyebutkan secara eksplisit bagaimana konsepsi pemuda di dalam masyarakat Jawa memiliki kaitan langsung dengan peran mereka sebagai garda perubahan dan memberikan lisensi melakukan tindakan kekerasan di luar batasan normal kehidupan masyarakat (Jay, 1960). 

Bagaimanapun, orang-orang muda itu pada akhirnya akan menjadi tua juga. Cepat atau lambat mereka dibuat terkejut dengan arus perubahan yang dapat mereka rasakan, tetapi tidak dapat mereka pahami mengapa dan bagaimana hal itu terjadi.  

Melihat catatan sejarah terkait keberadaan kaum muda dalam masyarakat, pada akhirnya satu pokok penting yang layak untuk digarisbawahi. Meski serangkaian kisah di atas menyampaikan bahwa kaum muda menjadi energi utama gerak perubahan zaman, bagaimanapun catatan sejarah dunia belum menunjukkan keberadaan revolusi kaum muda.

Belum pernah ada sebuah sejarah yang menghadirkan “kediktatoran pemuda”, yang menentukan arah perubahan sosial, politik, budaya, dan ekonomi suatu masyarakat. Hal ini memang paradoks konsepsi politik dan budaya yang menempatkan ketegangan antargenerasi sebagai titik tolak analisis (*)


Referensi

Anderson, Benedict. 1972. Java in a time of  revolution; Occupation and resistance, 1944-1946. Cornell University Press: Ithaca.

________. 1988. Benedict. Revoloesi Pemoeda; Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa, 1944-1946. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.

Foulcher, Keith. 2000. Sumpah Pemuda; Makna dan Proses Penciptaan atas Simbol Kebangsaan Indonesia. Komunitas Bambu: Jakarta.

Jay, Robert R. 1969. Javanese Villagers: Social Relations in Rural Modjokuto. MIT Press: Cambridge.  

Sutrisno, Sulastin. 1979. Surat-Surat Kartini; Renungan tentang dan untuk Bangsanya. Penerbit Djambatan: Jakarta.

Andi Achdian

Andi Achdian. Sejarawan dan Managing Editor Jurnal Sejarah di Masyarakat Sejarawan Indonesia.

Artikel Terkait