Baca tema bulan ini: Retrospektif

Sejatinya, Nasib Dangdut di Tangan Anak Muda

oleh Michael HB Raditya

02 Oktober 2017 Durasi: 8 Menit
Sejatinya, Nasib Dangdut di Tangan Anak Muda Foto: dok. Buyunk AKTUIL

Dangdut memang tak pernah diam di tempat. Pelbagai kebudayaan yang berkembang dan mempengaruhi budaya Indonesia, seperti unsur budaya Timur Tengah, India, dan Melayu, menjadi elemen kuat yang membentuk cikal bakal Dangdut. Setelahnya, musik pop dan rock yang masuk dari Barat dan pengaruh musik etnis membentuk dan melanggengkan musik Dangdut.

Menariknya, para aktor intelektual yang turut mendorong perkembangan Dangdut dari masa ke masa adalah anak muda. Sejak awal, anak muda telah menjadi ‘motor’ penggerak Dangdut. Mereka tak hanya menjadi pelaku musik Dangdut – baik musisi maupun penyanyi – tetapi juga menjadi barisan penikmat dan penonton yang menggariskan selera pasar. Atas dasar kehadiran anak muda pula, musik Dangdut muncul, berkembang, dan terus hidup bersama masyarakat. Dan niscaya, Dangdut muskil berkembang tanpa peran anak muda.

Muda Sejak Muasal

Silang sengkarutnya budaya Timur Tengah, India, dan Melayu di Indonesia melahirkan musik Dangdut. Keturunan Arab yang tinggal di perkampungan-perkampungan urban seperti Pekojan dan Krukut di Jakarta, Kauman di Surakarta, Yogyakarta, dan Semarang, serta Ampel di Surabaya, berjasa mengembangkan Orkes Gambus. Nasib mujur menyertai mereka – musik Gambus diminati dan menjadi pengiring wajib pesta-pesta perkawinan, khususnya di antara para warga Betawi di Jakarta.

Salah satu pemain Gambus paling termasyhur kala itu adalah Syech Albar – ayah dari vokalis God Bless, Ahmad Albar. Pada tahun 1935, pada usianya yang ke-27 tahun, petikan gambus dan suaranya telah diabadikan dalam piringan hitam (Shahab, 2004:25). Kesuksesan Albar mendorong terbentuknya orkes-orkes Gambus lainnya. Dalam catatan sejarawan Alwi Shahab, saking tingginya pamor musik Gambus pada tahun 1950-an, Radio Republik Indonesia sampai membuat siaran tetap musik Gambus.

Selanjutnya, budaya India yang jadi cikal bakal kuat musik Dangdut berkembang pesat berkat peran industri film. Film musikal dari India silih berganti menghiasi layar perak Indonesia pada tahun 1950-1964 atas izin impor dari Sukarno (2012:64). Kala itu, mengimpor film India memang dinilai lebih murah ketimbang memproduksi film di dalam negeri. Selain itu, India relatif aman dari retorika anti-Barat Sukarno karena mereka dianggap sama-sama Asia, dan terasosiasi dengan budaya Timur Tengah yang Islami (Susanto, 1992:205).

Pada masa ini, terjadi pola mimikri yang menarik. Musisi lokal mulai memainkan ulang lagu-lagu dari film musikal India ini dengan sepersis mungkin – lazimnya disebut ‘persis kaset’. Namun, mereka juga menuliskan ulang atau menerjemahkan lirik lagu tersebut dari bahasa India ke bahasa Indonesia, dengan makna yang seringkali tidak berhubungan dengan teks aslinya. Proses peniruan dan penerjemahan musik India ini kian mempopulerkan musik India, dan menjadi embrio dari Dangdut.

Masa-masa pra-Dangdut ini melahirkan bintang bernama Ellya Agus – kemudian dikenal dengan nama Ellya Khadam. Ia memulai kariernya pada tahun 1950 pada usia 18 tahun, dan bergabung dengan beberapa Orkes Melayu (OM) seperti OM Kelana Ria pimpinan Adi Karso dan Munif Bahasuan, OM Chandralela pimpinan Husein Bawafie, dan lainnya. Pada dekade 1950 dan 1960-an, Ellya menuai popularitas berkat kesuksesan lagu Boneka dari India, dan perannya di film-film Indonesia yang meniru gaya film India. Ketika itu, ia masih berusia di bawah 30 tahun.

Pada saat bersamaan, Orkes Melayu di Indonesia tak lagi memainkan lagu-lagu Melayu asli seperti Makan Sirih Berjauh Malam atau lagu Melayu Deli seperti Pulau Puteri (Lohanda, 1991:140). Orkes lokal ini mulai bersinggungan dengan musik Gambus dan India yang kian populer pada masa itu. Komposer seperti A. Kadir dan Husein Bawafie mulai memimpin Orkes yang memainkan campuran antara musik Melayu dengan nada-nada Hindustan. Kala itu, muncul pula Orkes Melayu dengan gaya Gambus kental – O.M Sinar Kemala dengan biduan-nya, A. Rafiq.

Jangan pikir bahwa A. Rafiq adalah biduan Melayu-Gambus yang kuno dan bergaya kaku. Memulai rekaman pada dekade 1960-an ketika ia masih berusia 18-19 tahun, Rafiq hijrah ke Jakarta pada tahun 1969 dan menjadi bintang radio, film dan televisi sebelum menginjak usia kepala tiga. Gayanya necis, parasnya tampan nan rupawan, suaranya khas, dan busana yang ia kenakan terinspirasi oleh pahlawan rock and roll, Elvis Presley.

Saat itu, seorang musisi muda bernama Oma Irama turut muncul bersamaan dengan membawakan lagu Melayu, juga India. Oma, Ellya, dan A. Rafiq adalah tiga dari sekian banyak nama yang diakui sebagai aktor penting dalam pembentukan Dangdut. Namun, sejarah kemunculan mereka menunjukkan bahwa sejak awal, Dangdut memang dirancang sebagai bentuk adaptasi dan – dalam kasus-kasus tertentu – pembangkangan terhadap bentuk kebudayaan lama. Bagi kalangan tua, musik Dangdut yang mengadaptasi dan mengobrak-abrik tatanan musik India, Melayu, dan Gambus dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi musik India, Melayu, dan Gambus ‘asli’. Terbukti, saat itu masih banyak Orkes Gambus yang setia dengan gayanya, dan masih banyak Orkes yang membawakan lagu India dengan gaya ‘persis kaset’.

Perlu waktu sebelum pembaharuan musikalitas oleh angkatan pertama dangdut bisa betul-betul berkembang. Dan tak bisa dipungkiri, pergeseran sebuah rezim dan dewasanya angkatan baru anak muda turut berpengaruh pada perubahan ini.

Membentuk dan Melanggengkan Dangdut

Ketika ia baru berkuasa, Suharto mengambil satu keputusan penting yang membuka jalan bagi musik Barat di Indonesia: ia mencabut larangan terhadap musik rock. Pada saat bersamaan, pemerintahnya menandatangani UU Penanaman Modal Asing, dan Indonesia kebanjiran investasi dari luar negeri. Imbas dari keterbukaan baru ini adalah melejitnya musik rock, dan berkembangnya budaya remaja.

Salah satu pedangdut yang memanfaatkan semangat baru ini adalah Oma Irama. Tercatat, ia mulai bernyanyi di Orkes Melayu Chandraleka pada tahun 1969, ketika usianya masih 23 tahun. Dua tahun kemudian, ia mengejawantahkan ide sangar yang telah lama mengendap di pikirannya: menggabungkan musik Dangdut yang masih mentah ini dengan semangat dan instrumentasi musik rock[i]. Dengan grupnya, OM Soneta, campuran antara proto-Dangdut dengan rock ini meroketkan nama Oma Irama.

Kehadiran Oma Irama juga dipermasalahkan oleh pelaku dan penikmat rock. Majalah AKTUIL, misalnya, menyindir Oma dengan menyebut musiknya “monoton”. Musisi Benny Soebardja bahkan terang-terangan berujar bahwa Dangdut adalah “musik tahi anjing”. Namun, Oma cukup mental dalam menghadapi sikap dingin, cibiran, dan cemooh atas dirinya. Perlahan-lahan, ia menjadi juara dalam persaingan popularitas kala itu, dan didapuk sebagai sang Raja Dangdut.

Kehadiran Oma Irama memunculkan musisi-musisi generasi baru yang turut mengubah wajah Dangdut. Salah satunya adalah Elvy Sukaesih. Mengawali karier sebagai penyanyi lagu jiplakan India di usia 13 tahun (Weintraub, 2012:140), Elvy dijuluki sang Ratu Dangdut ketika usianya baru 19 tahun. Tak hanya Elvy, Camelia Malik pun turut mencuri perhatian. Memulai karier pada pertengahan dekade 1970-an dengan OM Tarantula, ia dikenal karena memasukkan unsur musik Sunda dan goyang jaipongan ke dalam penampilannya.

Ketiga nama baru ini mengusung gagasan yang berbeda. Camelia mengusung Dangdut yang kental dengan pengaruh Jaipong, Elvy yang serba bisa memberi sentuhan modern pada Dangdut dengan menyentuh musik pop, dan Oma Irama mengguncang panggung Dangdut dengan penampilan grup Soneta yang sarat distorsi, terkoreogafi dengan apik, dan banyak meminjam melodi musik rock serta blues. Meski mereka menemui cibiran dari pihak luar, angkatan kedua ini relatif akur dengan satu sama lain dan juga dengan pendahulunya. Pada tahun 1970-an, Oma Irama bahkan beberapa kali merilis album duet dengan Ellya Khadam. Dua angkatan ini ‘berdamai’ karena mereka sama-sama memegang kesadaran bahwa mereka tengah membangun Dangdut secara kolektif.

Pada masa setelahnya, biduanita seperti Ikke Nurjanah, Cici Paramida, dan Iis Dahlia melanggengkan Dangdut yang dibentuk oleh angkatan Oma Irama. Mereka menjadi agen dalam merawat rezim Dangdut yang sopan, santun, dan moralis. Sedangkan perdamaian tersebut mulai retak pada pertengahan tahun 1990-an, ketika mereka ditantang oleh arus baru dari pinggir Jawa: Koplo.

Kelahiran Koplo

Pada tahun 2003, seorang penyanyi asal Pasuruan, Jawa Timur bernama Inul Daratista menghebohkan Indonesia dengan ‘goyang nge-Bor’-nya yang khas. Meski ia jelas bukan pelopor Dangdut Koplo – menurut pelaku Orkes Melayu seperti pimpinan OM Sonata dan OM Mawar Jaya, Koplo berkembang di Jawa sejak tahun 1996 – Inul adalah penyanyi yang mengenalkan Koplo ke audiens yang lebih luas.

Pada tahun 2003 di Grand Final acara kontes KDI, grup Trio Macan dari Jombang, Jawa Timur, muncul dengan gaya goyangan yang khas. Pasca kemunculan Inul dan Trio Macan, penyanyi-penyanyi Koplo lain muncul dengan goyangan dan karakter vokal masing-masing yang khas. Mulai dari Annisa Bahar dengan goyang patah-patah, Uut Permatasari dengan goyang ngecor, hingga Dewi Persik yang hadir dengan goyang gergaji.

Nyaris tanpa terkecuali, biduanita-biduanita ini merintis karier di kota-kota kecil Jawa dan bermain di hajatan-hajatan lokal, sebelum meledak di panggung nasional. Ambil contoh Inul – ia mengawali karier sejak usia 15 tahun untuk kelompok Nabavenas (Faruk & Salam, 2003:271), sebelum ‘dilamar’ beberapa OM lokal di Jawa Timur untuk menjadi penyanyi. Menurut pengakuan Edy dari OM Sonata, sejak tahun 1999 Inul telah ditanggap untuk bernyanyi bersama beberapa OM lokal di Jombang.

Maka, ketika Inul dan biduanita Koplo seangkatannya muncul, penikmat Dangdut seantero Indonesia terperangah. Meski Koplo populer di daerah, mereka jelas tidak masuk radar generasi Rhoma Irama dan kawan-kawan yang telah mapan.

Dangdut Koplo tak pernah disenangi oleh ‘rezim’ Dangdut Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, dan kawan-kawannya. Ketidaksukaan Rhoma pada goyang ngebor Inul – yang ia tuduh vulgar – bahkan sempat jadi prahara tersendiri. Meski Koplo memiliki audiens yang loyal, ‘angkatan lama’ Dangdut tak pernah benar-benar menerima kehadirannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Inul ditolak oleh organisasi yang didirikan oleh Rhoma, yakni PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia). Bahkan ketika Rhoma tampil di Pasuruan, kampung halaman Inul, nama Inul tidak masuk dalam line up penampil yang diundang. (Faruk dan Salam, 2003:281)

Inul memang beda. Ia agen perlawanan yang merekam semangat anak muda dan konteks Jawa Timur, dan mengejawantahkan semua itu dengan gaya musik Dangdut yang beda sendiri. Goyangannya distimulasi oleh kendang Koplo yang relatif cepat dan dinamis. Inul dengan polos tampil di panggung nasional selaiknya ia dulu tampil di panggung-panggung hajatan. Dalam hal ini, ia tak hanya melawan dengan tubuh dan goyangan – melainkan juga dengan tawaran musik yang sama sekali berbeda dengan dangdut generasi sebelumnya.

Koplo Yang Terus Mencari

Di televisi nasional, baik Dangdut ataupun Koplo mulai mengalami pengenduran di tahun 2009-an. Kendati demikian, hal tersebut tidak terjadi di tempat asalnya, Jawa Timur. Dengan prosesi ‘oplosan’, perubahan terus berlanjut. Di Jawa Timur, Koplo mengalami percampuran dengan idiom etnik, seperti OM Sonata dari Jombang dengan unsur etnis bambu — laiknya calung — , OM Sagita dan OM Lagista dari Nganjuk dengan Jatilan Dangdut, atau Koplo campur reggae laiknya Sodiq di OM Monata.

Penyanyi baru seperti Via Vallen hadir di kancah Dangdut, dan menempuh jalur yang sama – dari daerah ke panggung nasional. Sejak tahun 2012, Via Vallen mulai digemari secara luas di Jawa Timur. Ia menjadi biduanita untuk OM Sera, OM Monata, New Pallapa, dan OM lainnya. Pada tahun 2016, Via mendapat penghargaan sebagai Penyanyi Dangdut Paling Nge-Top di SCTV Music Awards. Tak seperti biduanita pada lazimnya, ia naik panggung dengan gaya busana modern yang banyak terinspirasi fashion Korea.

Langkah Via Vallen yang mencampurkan sensibilitas Dangdut, konteks lokal dari Dangdut Koplo, dengan gaya busana modern ini turut dilakukan oleh biduanita seperti Nella Kharisma[ii], Ratna Antika[iii], dan Deviana Safara[iv]. Dengan penampilan mereka yang lebih kasual dan busana yang mengikuti tren, generasi muda penampil Dangdut ini mengubah citra Koplo menjadi musik yang lebih mengikuti tren, muda, dan kekinian[v].

Tidak hanya di Jawa Timur, grup NDX AKA dari Imogiri memberikan warna khas pada perkembangan musik Dangdut. Grup yang digawangi oleh Nanda (22 tahun) dan PJR (23 tahun) ini membuat terobosan dengan mencampurkan hip hop dan rap berbahasa Jawa dengan musik Dangdut. Lagu-lagu ciptaannya seperti Ditinggal Rabi, Kimcil Kepolen, Kelingan Mantan, Bojoku Ketikung, Move On, dan Tewas Tertimbun Masa Lalu mengubah lanskap musik Dangdut. Menariknya, kini pelbagai Orkes Melayu yang lebih senior sekalipun memasukkan lagu-lagu NDX pada setiap penampilan mereka.

Selalu Kekinian Berkat Anak Muda

Dangdut itu kontemporer. Pasalnya, Dangdut selalu mencerminkan kebaruan yang ada di eranya. Dalam perkembangan Dangdut, anak muda memiliki posisi tawar yang tidak hanya nyeleneh dan penting. Mereka, sebagai agen perubahan dalam Dangdut, terus berkaca dari keadaan sekitar mereka. Angkatan muda Dangdut ini tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk secara organik dari lingkungan sekitar. Dapat dikatakan bahwa perkembangan yang terjadi pada Dangdut dari masa ke masa adalah cermin dari zamannya. Perubahan demi perubahan yang terjadi pada musikalitas, format, hingga citra yang dibangun terus dirancang berdasarkan konteks masyarakat.

Tentu, tak jarang perubahan ini tidak hanya bersandingan, namun juga berkontestasi. Kasus Rhoma Irama dan Inul Daratista, misalnya, dapat kita lihat sebagai pertentangan antara kaum literati yang lebih mapan dan konservatif dengan kaum intellegentsia yang muda dan haus akan kebaruan.[vi] Rezim Dangdut yang ditegakkan oleh Rhoma dkk, bertentangan dengan kaum yang lebih terbuka dan memberikan tawaran baru pada sebuah tradisi – Dangdut Koplo, yang terbentuk organik di Jawa Timur.

Namun, hal ini tidak abadi. Pada awal kariernya, Oma Irama pernah menjadi pemuda dengan cita-cita progresif yang ‘mengancam’ kelompok lainnya. Oma pernah menjadi kaum intellegentsia, yang terbuka dan berpandangan ke depan. Dan begitupun kelak, ketika generasi penerus menciptakan perubahan mereka, rezim Inul dan Koplo akan menjadi kaum literati yang bersikeras mempertahankan ide-ide kolot tentang Koplo. Agaknya, hal ini akan terus berulang dengan sendirinya.

Mungkin, ada benarnya juga apa yang pernah dinyanyikan Oma Irama pada lagu Darah Muda. “Darah muda, darahnya para remaja / Yang selalu merasa gagah / Tak pernah mau mengalah / masa muda, masa yang berapi-api / Yang maunya menang sendiri”. Ya, begitulah anak muda! (*)

 


Catatan Kaki

[i] Lihat Frederick, 1982:109.

[ii] Nella Kharisma, biduanita asal Kediri yang berusia 23 tahun pada tahun ini, kini menjadi biduanita terlaris di Jawa Timur. Nella turut bernyanyi bersama OM Monata, OM New Pallapa, OM Sonata, OM Scorpio, OM New Kendedes, ssOM Lagista, dan sebagainya. Selain suara Nella Kharisma yang lembut dan enak didengar, Nella lebih kerap menggunakan pakaian yang fashionable dan kasual ala K-Pop di atas panggung, daripada pakaian glamour laiknya biduanita beberapa dekade sebelumnya.

[iii] Biduanita kelahiran 1989 yang berasal dari Malang, Ratna Antika tidak kalah laris dari Nella. Ratna setidaknya tercatat menyanyi pada beberapa orkes melayu, seperti OM Monat Band, New Pallapa, OM Sera, OM RGS, OM Nirwana, OM Sonata, dan sebagainya. Ratna yang genap berusia 28 tahun ini pun turut menggunakan busana yang lebih kasual.

[iv] Deviana Safara adalah biduanita asal Jombang yang tengah naik daun di Jawa Timur. Safara kerap menyanyi untuk OM. Monata, OM RGS, dan OM lokal Jombang dan sekitar.

[v] Hal ini pun turut diakui oleh salah seorang biduanita dari Jombang, Arsika Yunata yang menyatakan tidak malu menjadi biduanita dangdut koplo karena citra musik tersebut yang telah berubah lebih ‘baik.’

[vi] Bagi antropolog, Clifford Geertz, terdapat dua macam cendekiawan, orang pintar, atau jenis masyarakat, yakni: (1) kaum literati; dan (2) para inteligensia. ‘Kaum literati’ merepresentasikan ‘The Great Tradition’ dan berperan penting pada masa ‘urbanisasi pertama.’ Sikapnya lebih konservatif, tertutup, inklusif, dan berorientasi ke masa lalu. Sementara yang kedua, ‘kaum inteligensia’ yang lahir dari masa ‘urbanisasi kedua,’ sikapnya progresif, terbuka, demokratis, dan berpandangan ke depan. Robert Redfield dan Milton Singer menyimpulkan, ‘kaum literati’ yang lahir dari pertumbuhan kota, yang secara budaya “predominantly orthogenic...look at a future that will repeat the past,” sedangkan ‘para inteligensia’ yang lahir dari budaya kota yang “predominantly orthogenic...see the future as different from the past” (Redfield & Singer, 1969: 222 via Murgiyanto, 2015:240-241).

 

Michael HB Raditya

Bekerja sebagai editor Jurnal Kajian Seni UGM, Yogyakarta. Aktif di komunitas dan lembaga penelitian seperti REPERTOAR, LARAS–Studies of Music in Society, dan SENREPITA.