Baca tema bulan ini: Retrospektif

Edwin yang Ingin Tersesat

oleh Angga Rulianto

03 Oktober 2017 Durasi: 9 Menit
Edwin yang Ingin Tersesat Edwin di ruang Lab Laba-Laba. Ia memindahkan poster Charlie Chaplin agar terlihat di kamera. (Foto: Adhytia Putra)

"PKI! PKI! PKI!"

Seorang anak laki-laki berteriak pada Senin malam, 2 Oktober kemarin di bilangan Depok, Jawa Barat. Ibu si anak sontak kaget. Ia langsung menduga sebab-musabab igauan anaknya adalah film "Pengkhianatan G 30 S/PKI". Sebab, sehari sebelumnya, pihak sekolah dasar tempat si anak menuntut ilmu memang memutar film kontroversial tersebut.

Film "Pengkhianatan G 30 S/PKI" bisa melekat kuat di ingatandan jika sial ia pun dapat menyesap diam-diam ke alam mimpi. Edwin juga mengingat pengalaman saat ia menonton film "Pengkhianatan G 30 S/PKI" bersama-sama teman sekolah dasarnya di Surabaya pada akhir dekade 1980-an. Namun, bedanya, ia menganggap kegiatan menonton film itu pada setiap penghujung September sebagai ritual yang asyik.

"Enggak kami tonton. Malah lempar-lemparan kencing he-he-he. Cuma dikasih tahu komunis itu setan, tapi kami juga enggak percaya. Saya enggak pernah termakan dengan kampanye anti-komunis waktu Orde Baru. Penggambaran peristiwa G 30 S/PKI di film itu terlalu enggak nyata. Buat saya itu kayak film horor dan itu film gagal," ungkap Edwin, sutradara film "Babi Buta yang Ingin Terbang" (2008) dan film yang akan segera rilis, "Posesif" (2017).

Akan tetapi, begitu Indonesia memasuki era reformasi pada 1998, mata dan pemikiran Edwin mulai terbuka. Isi republik ini dilihatnya tak lagi hitam-putih. Ia menyadari bahwa ide-ide yang membentuk Indonesia modern bukan hanya berasal dari think tank pendukung rezim Orde Baru. Kemerdekaan negeri ini, kata Edwin, dirintis oleh kalangan anak-anak muda dari agama-agama berbeda dan menganut berbagai ideologi, seperti nasionalisme, sosialisme, komunisme, dan sebagainya.

"Mereka enggak pernah akur, tapi juga saling memberi warna, dan itu khas. Saya sangat tertarik dengan diversity. Sama juga ketika saya keluar dari pagar dan menyadari bahwa film itu bukan cuma Hollywood. Ada juga yang lain sebenarnya, dan makin menarik lah dunia ini," lanjut Edwin.

Siapakah Edwin, yang berani-beraninya menyebut "Pengkhianatan G 30 S/PKI" sebagai film gagal, ini?

Dia adalah sineas Indonesia yang film-filmnya menunjukkan berbagai ciri sinema garda-depan atau avant-garde. Begitu ucap Seno Gumira Ajidarma (wartawan dan penulis yang kini menjadi rektor Institut Kesenian Jakarta, red) pada Rabu malam, 21 Maret lima tahun lalu ketika Edwin memutar perdana film panjang keduanya, "Postcards from the Zoo", untuk publik Indonesia.

Sebulan sebelumnya, film yang dibintangi Ladya Cheryl dan Nicholas Saputra itu berhasil masuk kompetisi utama Berlin International Film Festival (Berlinale)satu dari tiga festival film terbesar dan tertua di dunia, kemudian memenangkan Edward Yang New Talent Award di Asian Film Awards di tahun yang sama. Film ini makin membuat nama Edwin mendunia.

Lana, yang diperankan Ladya Cheryl, dan si Koboi, yang diperankan Nicholas Saputra, dalam Postcards from the Zoo. - Foto: Babibutafilm
Lana (Ladya Cheryl) dan si Koboi (Nicholas Saputra) dalam "Postcards from the Zoo". (Foto: Babibutafilm)

Edwin juga merupakan salah satu anggota masyarakat Indonesia yang masuk kategori double minority: keturunan etnis Tionghoa dan beragama Katolik. "Dipaksa terlahir sebagai Katolik," ujarnya sambil tertawa kecil. 

Isu-isu perihal minoritas ini kemudian terefleksikan dalam film-film pendek maupun panjang karyanya.

****

Jumat pagi, 15 September 2017. Kendaraan-kendaraan bermotor mulai deras mengaliri kawasan Kemang. Jalanan makin tersendat. Akibatnya Edwin terlambat sekitar lima belas menit dari pukul 9 pagi, jadwal yang sudah kami sepakati.

Dia mengucapkan maaf dengan sopan setiba di Kinosaurus. Inilah ruang alternatif pemutaran film yang kelahirannya juga diinisiatori Edwin bersama Adinda Simandjuntak, Meiske Taurisia, dan Muhammad Zaidy. Letaknya tepat di belakang ak.’sa.ra bookstore.

"Mau kopi? Donat?" Edwin menawari saya dan fotografer Jurnal Ruang, Adhytia Putra.

Dalam kompleks bangunan yang sama dengan Kinosaurus juga berdiri Ruang Seduh, kafe kecil minimalis bernuansa putih yang nyaman. Secangkir espreso, dua donat bertabur meses cokelat, dan dua gelas air mineral lalu datang.

"Airnya bisa refill. Kalau kurang ambil sendiri, ya," ucap Edwin. Lalu ia menyeruput espresonya.

Espreso itu seketika seperti masuk ke dalam kumpulan ingatan saya untuk menemukan keping-keping visual dari film pendek pertama Edwin, "A Very Slow Breakfast" (2002). Dalam satu adegan film itu, salah satu tokoh utamanya menggaruk-garuk rambutnya sampai ketombenya berjatuhan ke dalam cangkir kopi. Suara garukan itu berdentum-dentum. Posisi duduk si tokoh utama pun berada di bawah tangga yang sempit, seperti tengah terepresi oleh kondisi yang tak bisa terelakkan. Kritikus film Eric Sasono menyebut hal-hal tersebut sebagai elemen visual yang mengganggu kenyamanan penonton.

Edwin memang sutradara film Indonesia yang memiliki gaya visual sangat kuat, dan karena itu ia diperhitungkan dalam percaturan sinema dunia. Gaik Cheng Khoo, associate professor di Universitas Nottingham Malaysia, dalam esai Menyoroti Film-film Edwin di buku Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita (2011), menilai bahwa Edwin adalah sutradara yang konsisten membuat film-film pendek bermutu serta menggunakan konsep dan gaya visual yang amat kuat.

Dalam ulasannya tentang "A Very Slow Breakfast", Eric Sasono juga mengatakan bahwa elemen naratif film tersebut berangkat dari premis visual demi premis visual yang Edwin rendengkan. Hal ini lantaran, seperti juga disebut Eric, Edwin adalah sutradara yang lahir dari sebuah generasi audio visual.

Edwin kecil kerap diajak ayahnya yang seorang dokter ke ruang laboratorium dan bermain di sana. - Foto: Adhytia Putra
Edwin kecil kerap diajak ayahnya yang seorang dokter ke ruang laboratorium dan bermain di sana. (Foto: Adhytia Putra)

Edwin lahir pada 24 April 1978 di Surabaya, Jawa Timur. Ia tumbuh menjadi remaja kelas menengah kota besar ketika produksi film Indonesia meredup, namun penetrasi televisi ke dalam ruang-ruang keluarga menguat, sehingga berbagai tayangan video musik gampang membombardir para pemirsanya, terutama anak-anak muda.

Di awal dekade 1990-an itu, MTV memasuki masa kejayaannya, dan pelbagai produk budaya pop dari luar maupun dalam negeri tengah merekah di Indonesia. Film-film Hollywood pun makin bisa dinikmati dengan nyaman di jaringan bioskop multipleks.

Ayah Edwin adalah seorang dokter spesialis patologi klinik. Sementara ibunya lulusan studi arsitektur. Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, Edwin kecil kerap menghabiskan waktu bermainnya di laboratorium rumah sakit tempat ayahnya berkerja. Ia ikut mengintip berbagai unsur yang diambil dari tubuh pasien lewat mikroskop.

"Ikut lihat cek urine atau feses. Kalau dilihat, bagus-bagus gambarnya, warna-warni. Ada pola-polanya karena memang dikasih cairan kimia untuk memisahkan unsur-unsur tertentunya. Padahal itu feses," ucap Edwin sembari tertawa kecil.

Cerita masa kecil tersebut memastikan adanya bakat pada diri Edwin: kemampuan sepasang mata yang lihai nan jeli untuk menangkap keindahan tersembunyi dalam benda-benda mati maupun hidup. Matanya bak lensa yang tajam sekaligus dapat mengoyak makna dan meredefinisikan ulang narasi maupun estetika gambar yang sudah mapan dalam sinema.

Kita bisa menemukan kepiawaian Edwin tersebut dalam film pendeknya, "Dajang Soembi, Perempoean jang Dikawini Andjing" (2004), yang memperbarui legenda Sangkuriang dengan menaikkan tensi seksual antara tokoh Dayang Sumbi dan Sangkuriang untuk menggambarkan hasrat scopophilia dan inses. Di film yang diputar di International Film Festival Rotterdam 2005 ini, Edwin juga menyajikan overexposed shots (gambar dengan cahaya tajam).

Sedangkan "Kara, Anak Sebatang Pohon" sukses menjadikan Edwin sebagai sutradara film Indonesia pertama yang masuk ke program Director's Fortnight di Festival Film Cannes 2005. Film ini dinilai Eric Sasono sebagai kritik terhadap struktur sosial yang lebih besar, yakni masa lalu kelam bangsa, kapitalisme transnasional, maupun kuasa media yang ekspansif (dalam Khoo, 2010).

Edwin juga mengeksplorasi erotisme dalam "A Very Boring Conversation" (2006) dan "Hullahoop Soundings" (2008). Menurut Gaik Cheng Khoo, dua film ini memaksimalkan pemakaian latar yang intim, kekuatan akting sang aktris, kamera yang konsisten menatap si tokoh perempuan, musik, hingga pengaturan tempo yang tepat. Malahan, lanjut Khoo, Edwin menerapkan gaya realisme magis dan teknik kamera 360 derajat dalam "Hullahoop Soundings"film yang dibuat untuk International Film Festival Rotterdam sebagai tribute kepada Joel dan Ethan Coen.

Adapun dalam "Trip to the Wound" (2007) yang masuk kompetisi Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand, dan "Roller Coaster" (2010) sebagai bagian dari omnibus "Belkibolang", Edwin mengetengahkan dinamika seksual pada hubungan antar tokohnya.

Ladya Cheryl dalam film pendek Trip to the Wound. - Foto: Proyek Payung
Ladya Cheryl dalam film pendek "Trip to the Wound". (Foto: Proyek Payung)

Yang berbeda, perihal seksual dalam "Trip to the Wound" dikaitkan dengan trauma sosial yang dialami oleh para perempuan korban pemerkosaan dari etnis Tionghoa ketika kerusuhan Mei 1998. Sedangkan dalam "Roller Coaster", Edwin bukan hanya bermain-main dengan relasi seksual, tapi juga menguji seksualitas dalam ikatan persahabatan (atau sebaliknya) antara tokoh laki-laki dan perempuannya.

Persoalan identitas, diskriminasi terhadap masyarakat minoritas (etnis Tionghoa), trauma, hingga tindakan kekerasan seksual oleh militer dan negara juga diuraikan Edwin dalam film "Babi Buta yang Ingin Terbang". Dalam analisanya, Khoo mengatakan bahwa barangkali hal gaib yang paling mencolok dalam film ini adalah kemampuan untuk memperlihatkan perasaan tidak enak hidup dengan trauma sebagai minoritas yang tertindas melalui representasi sinematik dan gamblang.

Berkat kekuatan film "Babi Buta yang Ingin Terbang" ini, FIPRESCI International Critics' Prize 2009 lalu dianugerahkan kepadanya. Edwin juga berhasil masuk ke dalam daftar 100 sutradara film paling menjanjikan di dunia dalam buku Take 100 - The Future of Film: 100 New Directors terbitan Phaidon pada 2010. Di daftar ini, nama Edwin bersanding dengan sineas-sineas ternama di dunia, seperti Yuhang Ho, Cristian Mungiu, Steve McQueen, Bong Joon-ho, Carlos Reygadas, hingga Zack Snyder.

****

"Film 'Babi Buta yang Ingin Terbang' tentang perasaan teralienasi sebagai minoritas Cina di Indonesia, atau lebih kecil lagi di Surabaya. Saya membuat film itu untuk mengingat apa yang saya pernah rasakan dan hal paling dasar dari menjadi diri saya sebagai keturunan Cina yang enggak tahu apa-apa tentang kultur Cina di Indonesia," aku Edwin.

Entah apa alasannya, orang tua Edwin memang memutuskan untuk memisahkan diri dari kultur Tionghoa dan keluarga besarnya. Imlek pun tidak pernah mereka rayakan. Sebab-musababnya tidak pernah dibahas. Bahkan Edwin sampai tidak hapal nama paman dan tantenya.

Mereka pun tinggal di lingkungan tentara Angkatan Laut di bilangan Kenjeran. Tidak ada warga keturunan Tionghoa di antara tetangganya. Akan tetapi, Edwin tak dilarang bergaul dengan orang-orang keturunan Tionghoa oleh ayah ibunya. Sejak TK hingga SMA, ia sendiri masuk ke sekolah Katolik yang kebanyakan muridnya datang dari keluarga Tionghoa.

"Walaupun jadi agak ignorant terhadap masalah diskriminasi, tapi sebenarnya ada baiknya mereka memutuskan lepas dari budaya Tionghoa. Mereka jadi mempercayai ide bahwa seharusnya kita bisa sama dengan warga lainnya," ungkapnya.

Edwin mengaku, perasaan direpresi dan didiskriminasi sebagai warga keturunan Tionghoa didapatkannya sejak ia masih di sekolah dasar. Dirisak menjadi hal wajarnya baginya. Ia perlahan jadi memahami bahwa manusia bisa dikotak-kotakkan dengan berbagai kondisi yang diciptakan penguasa untuk membuat rasa takut.

Maka dari itu, Edwin terus berwaspada. Terlebih pasca dua masa panas: pemilihan presiden (pilpres) 2014 dan pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta pada Februari dan April tahun ini. Suhu panas akibat perpolitikan ini dirasa Edwin belum mendingin sepenuhnya.

"Kelihatannya saja diverse, tapi potensi konfliknya ada. Yang tadinya saya pikir kondisi 1998 sudah parah-parahnya, sekarang ternyata masih begitu. Ini kondisi paling mengkhawatirkan di negara ini. Apalagi kondisi di luar Indonesia juga begitu juga. Penyakit ini memang bersama harus kita pikirkan," jelas Edwin.

Dalam Babi Buta yang Ingin Terbang, Cahyono kerap dirisak sejak kecil dan Linda tak bisa berbuat apa-apa. - Foto: Babibutafilm
Dalam Babi Buta yang Ingin Terbang, Cahyono kerap dirisak sejak kecil dan Linda tak bisa berbuat apa-apa. (Foto: Babibutafilm)

Diskriminasi dan kekerasan terhadap warga keturunan Tionghoa mulai meletup pasca peristiwa 30 September 1965. Sebelumnya, ada relasi yang baik antara struktur politik Indonesia dengan warga keturunan Tionghoa, terutama semasa Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Namun peristiwa 30 September 1965 kemudian ikut menjadikan warga keturunan Tionghoa sebagai sasaran kecurigaan.

Sebab ada tuduhan yang menyebut pemerintah Republik Rakyat Cina mengintervensi pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dampaknya mengerikan. Warga Indonesia keturunan Tionghoa pun diasosiasikan dengan PKI. Mereka ikut jadi target buruan militer dan kelompok-kelompok masyarakat kala itu. Sejak itu, diskriminasi terhadap mereka dalam berbagai segi kehidupan terus berlangsung hingga rezim Orde Baru tumbang.

Merasakan tumbuh besar di masa Orde Baru, sebagaimana juga anak-anak remaja saat itu, Edwin tidak menjadi kritis apalagi memedulikan politik. Ia menerima saja kondisi yang ada. Pemikiran kritis memang tengah dimatikan negara. Namun, setelah reformasi meletus pada 1998, segalanya berubah.

"Saya beruntung mengalami transisi itu. Di umur yang juga pas untuk bisa mencernanya. Tapi sekarang mungkin anak-anak muda yang lahir di tahun 2000-an seharusnya memiliki perasaan yang sama dengan saya ketika umur 18 tahun di tahun 1998. Karena kondisi sekarang ini enggak kalah seramnya," ujar Edwin.

****

"Nanti kalau kamu sudah besar kamu mau jadi apa?"
"Apa aja deh, asal bukan Cina."

Potongan dialog antara Linda (Clairine Baharrizki) dengan Cahyono (Darren Baharrizki) ini berasal dari film "Babi Buta yang Ingin Terbang" (atau yang judul internasionalnya: "Blind Pig Who Wants to Fly"). Dialog ini amat tajam dalam menyuarakan kritik, uneg-uneg, dan keresahan Edwin. Ini tak mengherankan. Soalnya, Edwin memang hanya membuat film tentang sesuatu yang dimengerti dan memiliki kaitan personal dengan dirinya.

"Semua film saya sangat personal. Buat saya, merekam zaman dari point of view dan ingatan saya itu penting sekali. Keterlibatan personal itu selalu ada, dan harus dipelihara. Ketika berkarya, saya melihat dunia, dan itu menginspirasi saya untuk berbuat sesuatu yang kemudian saya kasih ke dunia lagi. Lalu mereka merespon, dan itu saya lihat lagi. Siklusnya begitu, berputar terus," beber Edwin.

"Film 'Posesif' juga personal?" tanya saya.

Edwin lekas menjawab, "Oh iya. 'Posesif' juga."

“Posesif adalah film terbaru arahan Edwin yang diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy di bawah bendera rumah produksi Palari Films. Cerita dan skenarionya ditulis oleh Gina S Noer [Baca artikel Potret Gina S Noer....], yang sebelumnya melahirkan skenario film-film populer, seperti "Perempuan Berkalung Sorban" (2009), "Hari Untuk Amanda" (2010), "Habibie & Ainun" (2012), hingga "{rudy habibie}" (2016).

Menengok poster "Posesif" yang sudah terpampang di lobi bioskopkarena filmnya akan beredar pada 26 Oktober 2017, kita bisa melihat dua pemeran utamanya, yakni Adipati Dolken dan Putri Marino dengan seragam putih abu-abu. Film ini memang berlatar masa SMA dan menargetkan penonton remaja. Namun, yang mencuri perhatian adalah bunyi tagline film tersebut yang menyiratkan ancaman: Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya.

Film ini memiliki tagline: Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya. Foto: Palari Films
Film ini memiliki tagline, "Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya." (Foto: Palari Films)

"Film 'Posesif' mewakili keresahan saya. Kalau ada ketakutan dan keinginan untuk memiliki yang berlebihan, lalu jadi abusive, hubungan pacaran itu sudah toksik. Saya rasa apa yang terjadi di masyarakat kita memengaruhi anak-anak ini. Demikian juga sebaliknya, kalau yang mereka pelajari dari masyarakat adalah tentang ketidakpercayaan, ketakutan, dan menjadi posesif, ya mengerikan ke depannya. Apalagi, kalau hubungan ini jadi sangat bersifat patriarki," papar Edwin.

Kondisi patriarki di masyarakat ini kemudian juga menginspirasi Edwin untuk mengadaptasi novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karangan Eka Kurniawan menjadi film panjang. Sebab, menurut Edwin, novel tersebut membicarakan sistem dan kultur patriarki yang sangat kuat di berbagai lini, mulai dari keluarga, agama, hingga negara.

"Sekarang progres 'Dendam' lagi penulisan skenario, baru draf tiga, mau keempat. Menulisnya sama Eka, cuma sekarang distop dulu karena ngurusin 'Posesif'," kata Edwin.

****

Selain motivasi personal, Edwin juga membuat film juga untuk memberi penghormatan terhadap sinema. Inilah dunia yang baru diketahuinya setahun sebelum ia lulus dari program diploma jurusan Desain Grafis Universitas Kristen Petra Surabaya, lalu mengubah jalan hidupnya.

Suatu hari pada 1998, Edwin tak sengaja menonton tayangan wawancara Garin Nugroho di sebuah stasiun televisi. Garin saat itu menceritakan sedikit tentang almamaternya: Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Edwin langsung jatuh cinta. Esoknya ia membeli tiket kereta api dan berangkat ke Jakarta untuk melihat kampus IKJ. Namun baru pada 1999, ia berkuliah di IKJ. Di kampus inilah film-film dari sinema dunia menemui dan bercengkerama dengan Edwin layaknya kawan lama yang datang bercerita.

"Saya jadi tahu ada bentuk film yang lain selain film Hollywood," ucapnya.

Akan tetapi, Edwin kemudian meninggalkan kuliah strata satunya pada 2004. Padahal, ia masih memiliki kesempatan waktu kuliah satu tahun lagi. Pangkal masalahnya, film pendek tugas akhirnya, "Kara, Anak Sebatang Pohon", yang sudah jadi dinilai pihak kampus tidak memenuhi syarat administrasi untuk mengikuti sidang ujian. Edwin kecewa. Ia lalu menulis surat pengunduran diri. Toh, ia bersyukur bisa menempuh lima tahun kuliah di IKJ. Ada kontribusi penting dari kampus itu terhadap dirinya.

"Buat orang-orang seperti saya yang enggak punya pengalaman atau eksposur terhadap seni, saya dipertemukan dengan orang-orang yang sama-sama punya feeling, insting, dan passion terhadap sinema dan seni. Orang-orang yang sama-sama tersesat tapi dikumpulkan untuk bertukar pikiran. Itu penting sekali, dan itu enggak saya rasakan setelah keluar dari IKJ," ungkap Edwin.

Di IKJ, Edwin bertemu dengan orang-orang yang punya passion sama dengannya. Foto: Adhytia Putra
Di IKJ, Edwin bertemu dengan orang-orang yang punya passion sama dengannya. (Foto: Adhytia Putra)

Penghormatan Edwin terhadap sinema ini sudah teridentifikasi oleh Gaik Cheng Khoo lewat film "Babi Buta yang Ingin Terbang". Dalam satu adegannya, Linda melempari lampu neon jalan dengan batu. Khoo melihat, lampu-lampu itu adalah penghormatan Edwin kepada bentuk, medium, serta sejarah film dan sinema, yang di masa awal kelahirannya kerap dipenuhi eksperimen visual.

Penghormatan seseorang terhadap sesuatu bisa terjadi jika sesuatu tersebut mempunyai dampak besar kepada dirinya. Dan, Edwin sendiri mengaku memang membutuhkan film. Karena dengan membuat film, ia bisa merasakan lagi sensasi-sensasi baru sekaligus mengajak penonton mengalami hal serupa. Rupa sensasi itu bermacam-macam. Salah satu yang utama adalah perasaan tersesat ketika menonton film.

"Film yang berhasil itu kalau bisa bikin kita tersesat sampai kita sudah enggak ingat lagi siapa kita sebenarnya," ujar Edwin.

Ia lalu menandaskan espresonya.(*)

Angga Rulianto

Angga Rulianto. Editor Film di Jurnal Ruang. Sejak jadi jurnalis pada 2006, ia banyak meliput film. Tulisan-tulisannya terbit di filmindonesia.or.id, Pikiran Rakyat, Cinema Poetica, dan Muvila.