Baca tema bulan ini: Retrospektif

PURNAMA: Puisi yang Terus Mencari

oleh Wa Ode Wulan Ratna

08 Oktober 2017 Durasi: 12 Menit
PURNAMA: Puisi yang Terus Mencari Puisi adalah perjalanan batin tanpa ujung yang harus ditempuh terus-menerus. (Foto: Adhytia Putra)

"Puisi itu seperti lubang kunci, sederhana.
Tetapi di situ ada berbagai peristiwa."

 

Siang itu Purnama memesan secangkir kopi espresso di kafe Javaro. Ia duduk santai di sebelah jendela kaca. Di atas meja, di samping cangkir putih kopi hitamnya, tergeletak sebuah buku yang sedang dibacanya, Pelaut yang Ternoda karya Yukio Mishima. “Iya, saya lagi suka baca buku ini, ke mana-mana saya bawa,” katanya riang. Pada siang yang terik itu Purnama tampak meneduhkan dengan kemeja birunya. Di lehernya masih terkalungkan name tag, sebuah identitas yang menunjukkan tempat ia bekerja, Bentara Budaya Jakarta. Kantor kami berdekatan, sama-sama di Palmerah sehingga kami janjian untuk bertemu di sebuah kafe di sana.

“Eh, bagaimana kemarin? Terima kasih Kak Wulan sudah membantu.” Saya tersenyum. Beberapa waktu yang lalu ia meminta saya untuk memoderatori sebuah diskusi di Bentara Budaya Muda. Diskusi tersebut bertajuk ‘Terbitan Buku Sastra Indie dari Dulu dan Nanti’ bersama Teddy W. Kusuma dari Post Santa dan Septia WS dari Grasindo. Sayangnya saat itu ia tidak hadir karena sedang tugas di Bentara Budaya Jogja.

“Penerbit kecil sekarang maju. Mereka kecil dan berjejaring bagus. Misalnya seperti penerbit-penerbit yang ada di Jogja. Semangat indie mereka itulah yang perlu dilihat,” ujar Purnama. Kami lalu mengobrol soal diskusi saat itu. Bertumbuhnya penerbitan indie memang membawa gairah bagi literasi saat ini. Saya pun sangat menyambut positif dan tepuk tangan. Memang bacaan dari penerbitan alternatif sangat dibutuhkan dari dulu untuk menghilangkan kejemuan pada buku-buku yang beredar di toko-toko buku besar.

Selain konsep yang berjejaring, penyair muda kelahiran Bali itu juga suka cara mereka mengkhususkan indie sabagai alternatif bacaan sekaligus mengayomi penulis-penulis. Ikatan yang baik itu memberikan energi positif terhadap penerbit maupun penulis. Ia lalu menyebut beberapa penerbit di Jogja sebagai contoh. Adapun event penerbit di Jogja bulan Oktober ini memberi ruang bagi penerbit-penerbit indie yang lain untuk berkumpul. Ia sangat antusias pada acara itu. Tentu saja kami tidak memungkiri bahwa di masa sekarang ini penerbit-penerbit indie berkembang pesat. Bukankah banyak kita temukan buku-buku penting dan bagus yang tidak ada di toko buku besar? Adanya penerbit indie membawa gairah tersendiri bagi literasi di zaman di mana seharusnya buku memang mudah diterbitkan, ditemukan, dan dibaca.

Berawal sebagai volunteer di Bentara Budaya Bali, Ni Made Purnama Sari pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah S2 di Magister Manajemen Pembangunan Sosial Universitas Indonesia pada 2013. Setelah lulus ia dipanggil bergabung di Bentara Budaya Jakarta dan terlibat dalam bidang program. “Sudah hampir setahun saya di sini, dan selain membantu mempersiapkan dan menyelenggarakan berbagai acara, saya juga diminta membantu kawan-kawan komunitas Bentara Muda untuk mengisi program sastra secara rutin di Bentara Budaya Jakarta.” Program yang dipegangnya meliputi banyak hal seperti pameran, diskusi, pertunjukan, dekorasi, teater, sastra, film, dan musik.

Sebelumnya Purnama bergabung di Komunitas Sahaja di Bali. Komunitas itu berdiri sejak 2007. Sempat juga ia bergabung di Kompas Muda tahun 2009, sebelum kemudian bergabung menjadi relawan di Bentara Budaya Bali. Di komunitas-komunitas itulah pergaulannya berkembang dan ia mulai suka membuat acara-acara budaya. Ia juga pernah sebentar di Indonesiana, sebuah kanal jurnalisme warga dari TEMPO, menjadi kontributor majalah dan penulisan memoar. “Yang jelas, pengalaman berkomunitas sastra sangat berpengaruh bagi fase awal proses kreatif saya. Boleh dikata, dari Komunitas Sahaja-lah, saya bermula,” tutur penyair muda yang buku antologi puisi pertamanya berhasil meraih Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia 2014 silam.

Ni Made Purnama Sari lahir di Klungkung Bali 22 Maret 1989. Ia terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama I Wayan Wartika dan Ibunya, Ni Nyoman Astuti, bekerja sebagai penjahit dan keduanya tidak pernah bersentuhan dengan sastra. Konon ia lahir tepat saat terbitnya bulan purnama sasih kedasa. Dalam perhitungan kalender Bali, sasih kedasa atau bulan kesepuluh, adalah hari yang baik. Banyak sekali upacara ritual yang diselenggarakan, termasuk di Pura Besakih, tempat ibadah Hindu terbesar di Bali. Itu pula yang menginspirasi kedua orangtuanya menamainya Purnama.

Ia anak kedua, perempuan tunggal, yang diapit kakak dan adik laki-laki. Namun lucunya kedua saudara laki-laki lainnya lahir di bulan mati atau dalam kalender Bali disebut Tilem. “Keyakinan orang setempat, itu pertanda keluarga kami akan dikaruniai banyak rezeki,” katanya tersipu.

Di dalam rumahnya tidak ada banyak buku, kecuali ketika belakangan ia mulai suka membaca saat duduk di bangku SMP. Kini, nyaris semua buku yang ada di rumahnya di Denpasar adalah kepunyaannya, “Mungkin ada juga buku milik kawan-kawan yang masih juga belum saya kembalikan,” ia mengingat-ingat sambil tertawa.

Keluarganya juga tidak pernah berlangganan surat kabar. Apalagi majalah untuk anak-anak. Namun, kelihatannya kakak laki-lakinya yang terpaut usia 4 tahun darinya tahu kalau dari SD ia suka membaca. Kakaknya suka sekali meminjamkannya koleksi perpustakaan sekolah untuk dibaca. “Dia membawa buku-buku baru setiap minggu, kebanyakan adalah cerita-cerita rakyat berbagai daerah di Nusantara. Kalau kakak sedang pergi keluar, saya diam-diam masuk ke kamarnya untuk membaca apa saja yang ada di sana.” Ia bersyukur masih bisa membaca. Padahal mereka tinggal di pinggiran kota Denpasar, tempat yang seakan urban, turistik, dan menginternasional, tapi kenyataannya ketika tahun 1990an itu masih sedikit memiliki akses bacaan. Tentu ada rasa sedih juga karena kebanyakan koleksi perpustakaan di sekolah jarang diperbarui dengan buku-buku terbaru.

Purnama mulai menulis puisi sejak SMA. Puisi pertamanya berjudul Sayur Buatan Ibuku ditulisnya dengan spontan. Ia ingat betul, saat itu ibunya menawarkan seporsi sayur namun tidak seperti biasanya ia justru tidak mencicipi. “Saya sedang asyik membaca saat itu, atau mungkin mengerjakan hal lain, sehingga ajakan Ibu itu tidak saya gubris. Kalimat pertama sajak itu pun muncul begitu saja,” kenangnya.

Sayur buatan ibuku
seperti sajak yang pernah kutulis

Aku perlu garam, ibu

kata-kata menghilang
tak mau jadi hujan
tak mau jadi sajak

Demikian bait pertama dalam puisi pertamanya. Beberapa bulan kemudian, ada sebuah lomba cipta puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Institut Pertanian Bogor. Topiknya tentang agrikultur, salah satu jurinya Pak Taufik Ismail. Purnama iseng mengirimkan sajak sayur itu. Namun di luar dugaan sajak itu terpilih sebagai juara pertama. “Sempat agak heran juga, kenapa sajak yang pribadi seperti itu dapat lolos. Yang jelas, usai lomba tersebut, saya seperti mengalami musim semi puisi.” Ia pun kadung menulis puisi dan gencar mengirimkannya ke media, terutama Bali Post. Cukup banyak puisi yang ditulisnya dan dikirimkan kepada Umbu Landu Paranggi yang saat itu masih menjadi redaktur puisi di Bali Post.

Periode itu menjadi periode penciptaan puisi yang sangat menyenangkan baginya. Ia ingat benar, walau sajak-sajaknya tidak kunjung ditayangkan, Umbu Landu Paranggi sering meneleponnya sambil bercerita tentang Komunitas Sahaja. “Momen Beliau menelepon itu membekas dalam batin saya, dan kira-kira beberapa minggu kemudian, barulah satu puisi saya dimuatnya di Bali Post, judulnya Dua Tukang Pos; itu merupakan karya yang saya kirimkan berbulan-bulan sebelumnya.” Hal ini tentu saja sangat mengejutkannya, rupanya penyair yang mendapat julukan “Presiden Malioboro” itu seperti sengaja menyimpan dan tidak memuatnya untuk ‘mengingatkan’ Purnama agar lebih tekun lagi menulis. Tidak hanya mengirimkan ke media, ia pun kerap kali mengikuti banyak perlombaan puisi dan menjuarainya hampir di sepanjang tahun itu, 2007.

Setiap kali saya menulis puisi, saya seperti sedang bercakap dengan sosok terdalam diri saya
Setiap kali saya menulis puisi, saya seperti sedang bercakap dengan sosok terdalam diri saya. (Foto: Adhytia Putra)

Sebenarnya sejak remaja ia tidak terlalu tertarik pada puisi sebab menurutnya puisi cenderung sulit dipahami. Ia mengaku kalau nilai pelajaran Bahasa Indonesianya tidak pernah bagus. Jika ada perlombaan membaca puisi ia juga enggan berpartisipasi. Tapi proses latihannya ia ikuti juga. Biasanya beberapa belas atau puluh anak dikirim menjadi peserta. Pengalaman kebersamaan itulah yang melekat dalam kenangan dan memikatnya untuk belajar membaca puisi. Beruntungnya ia bertemu dengan seorang guru, Warih Wisatsana, penyair yang ternyata sudah bertahun-tahun mengajar ekstrakurikuler sastra dan jurnalistik di sekolahnya. Ia masih ingat nasihat dari sang guru di sela waktu latihan sepulang sekolah, menjelang hari pelaksanaan lomba baca puisi.

“Kalian tidak harus jadi penyair atau pengarang jika sekarang latihan lomba baca puisi atau baca cerpen. Cukuplah kalian, semuda ini, mengenal ada keindahan pada puisi, dan pelan-pelan kalian tahu betapa kreativitas itu penting artinya, dalam kehidupan apapun, di manapun, kapanpun. Urusan menjadi penyair, biarlah nanti jadi panggilan masing-masing.”

Pada kenyataannya, banyak sekali alumni dari ekstrakurikuler itu yang kemudian mengikuti jejaknya menjadi penulis atau bergiat dalam dunia seni maupun kreativitas dalam arti luas, sebut saja Frischa Aswarini, Ni Ketut Sudiani, Nyoman Sutarsa, Santiasa Putra.

Kebebasan untuk bertemu dengan puisi secara murni seperti itulah yang justru mendorongnya menjadi penyair. Dari ekstrakurikuler itu ia mulai belajar menulis dan mengisi majalah dinding sekolah. Setelah ia mulai berani mengirim karya ke koran lokal dan nasional, melalui Warih Wisatsana juga akhirnya ia dapat berjumpa dengan penyair Umbu Landu Paranggi serta beberapa penulis lain yang kebetulan singgah di Bali, seperti Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Melani Budianta, bahkan Sitor Situmorang.

Baginya penyair yang telah menelurkan dua buku puisi Bali – Borneo (Halaman Moeka, 2014) dan Kawitan (GPU, 2016), proses penciptaan sebuah puisi adalah misteri yang tidak bisa dijelaskan atau dibandingkan. Secara teknis tentu bermula dari pengamatan dan penghayatan, tertuang dalam sketsa kata, kemudian disunting sampai puisi itu jadi. Tapi, belakangan ia seperti menyadari bahwa semakin diselami ternyata puisi semakin sulit dimengerti. “Saya punya keyakinan kalau puisi yang baik bukan melulu tentang diksi puitik, kepiawaian melakukan interteks, atau elaborasi ekspresi maupun tematik yang baru, sangat penting bagi puisi untuk bicara tentang hidup manusia seutuhnya.”

Puisi haruslah bicara tentang alam batin, kepiluan, keindahan, kehampaan, juga rasa mendalam yang tidak bisa diwakili oleh seni-seni yang lain. “Proses untuk mencari itu yang amat sulit saya lakukan, sehingga sering juga saya bepergian ke banyak tempat hanya untuk mendengarkan dan menyerap kisah berbagai orang,” tutur penyuka karya-karya Sitor Situmorang, Iwan Simatupang, dan Chairil Anwar ini. Ia sendiri mengakui puisinya justru tercipta ketika ia berjalan-jalan dengan angkutan umum, atau duduk di warung ketika rehat dalam perjalanan. Melakukan perjalanan dengan angkutan umum ke rute-rute yang belum dijelajahinya telah menjadi kebiasaanya di akhir pekan jika tidak ada agenda. Jika membaca buku puisi Kawitan, tampak jelaslah puisi-puisi itu berbicara tetang tempat-tempat yang pernah disinggahinya, dengan bahasa yang lembut dan penuh kontemplasi.

Bagi Purnama, puisi adalah perjalanan batin tanpa ujung. Puisi harus ditempuh terus-menerus seiring pencarian atas makna diri dan kehidupan itu sendiri. Meski ia sendiri merasakan pencarian itu tidak akan pernah berakhir. “Setiap kali saya menulis puisi, saya seperti sedang bercakap dengan sosok terdalam diri saya, sehingga di beberapa situasi mencipta puisi dapat menjadi semacam katarsis. Ya, pelepasan untuk segala rupa perasaan, penghayatan, dan pengalaman.” Sebagai orang yang menyukai puisi, saya senang cara Purnama mendalami makna puisi bagi dirinya. Jangankan puisi berjudul Aku dan Jiwaku, dalam buku Kawitan, yang memperlihatkan dialog dalam dirinya. Bahkan puisi Sayur Buatan Ibuku, puisi pertamanya, adalah sebuah dialog muda yang mulai mempertanyakan makna puisi: Lalu adakah kecap di meja, ibu?/Sayur ini hambar/seperti sajak yang pernah kutulis//

Penyair muda yang pernah memenangkan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 lalu ini juga menceritakan proses lahirnya buku puisi Kawitan, manuskrip puisinya yang dinobatkan sebagai pemenang kedua kala itu. Kawitan sendiri memang puisi seri tentang penjalanannya di beberapa tempat dan merupakan dokumentasi puisi-puisi yang ditulis sejak 2008. Sebagian sudah dimuat di beberapa surat kabar atau diikutkan dalam antologi puisi bersama. Dalam bahasa Bali, Kawitan artinya muasal, semacam titik keberangkatan. Ada kepercayaan bahwa kelak orang yang pergi akan kembali ke tempat yang sama juga, ke kawitan-nya, “... dan sejauh ini saya masih dalam tahap menjelajah untuk jauh dari "rumah asal" itu, masih mencari. Dan proses mencari itulah yang ingin saya ungkap dalam setiap puisi di buku itu.”

Saya masih dalam tahap menjelajah untuk jauh dari rumah asal itu, masih mencari. (Foto: Adhytia Putra)
Saya masih dalam tahap menjelajah untuk jauh dari "rumah asal" itu, masih mencari. (Foto: Adhytia Putra)

Kini Purnama juga tengah mempersiapkan buku puisi berikutnya. Ia bercerita buku tersebut akan berkisah tentang orang-orang yang ditemuinya, lengkapnya tentang sosok. Terutama ia ingin sekali melanjutkan seri Sitor Situmorang yang pernah ia buat. “Kalau Triyanto kan tentang Kartosoewirjo berdasarkan pada riset sehingga karyanya terperinci dan mendalam. Kalau saya gak. Lebih kepada personal aja, kalau bisa.” Ia menginginkan karya ini berbeda. Biasanya kalau penyair menulis puisi diperuntukan kepada siapa, tidak demikian halnya dengan karya yang akan dibuatnya.

“Misalnya saya ingin menulis tentang sosok Marco, saya tulis tentang dia tanpa menyebut namanya. Orang akan berpikir ini siapa. Itu sengaja, tantangan juga supaya orang gak langsung masuk pada tokoh itu.” Hal itu ingin ia lakukan karena ia mau pembaca tidak berasosiasi terhadap sosok yang ditulisnya. Sebab menurutnya ketika orang mengetahui siapa sosok dalam puisi tersebut orang dapat berhenti menikmati puisinya. “Kadang-kadang makna itu sudah berbayang begitu jelas dibanding dengan teks yang kita hadirkan. Niat saya itu sebenarnya mencoba memaknai kembali interteks sebelumnya. Seperti Nirwan Dewanto yang melakukan ulang-alik interteks antara kisah pewayangan dan mitologi dalam karyanya terkini, Buku Merah. Ketika membaca buku ini, pembaca bisa saja mendapatkan interpretasi berlapis, di mana teks karnya Nirwan terbayangi oleh kisahan besar mitologi tersebut."

Ia juga mencontohkan pada karya Bumi Manusia Pram yang menulis tentang Tirto Adhi Soerdjo. “Pram mencoba menisbikan identitas Tirto dalam Minke. Itu berat juga kan ya, dibayang-bayangi oleh seberapa besar buku yang akan dia tulis. Itu proses yang berat. Tapi hebatnya Pram, orang dibawa untuk menikmati Bumi Manusia dulu melihat sejarah bukan untuk mengetahui sosok Tirto dalam Minke. Pembaca akan dilihatkan kepada sisi pribadi Minke bukan sosok Tirto.”

Sering Purnama merasakan ketidakpuasan terhadap puisi-puisinya terdahulu dan malah malu pernah menuliskannya. Namun ia menganggap itu suatu hal yang sangat positif sebab pertanda ada kecenderungan dirinya untuk terus mencari. Bahkan hal inilah yang juga membuatnya kritis memandang puisi-puisi dari penyair lainnya yang beberapa di antaranya menurut hematnya mencoba mengelak dari mannerism.

Mannerism itu artinya kecenderungan ingin mengulangi tanpa sadar karena apa yang dianggapnya sukses adalah pencapaiannya tertinggi."

"Dia tetap berkarya namun seperti takut tidak berhasil. Itu cukup berbahaya. Karena secara pribadi orang itu tumbuh, dia gak berhenti. Ketika pribadinya tumbuh, yang lain-lainnya tumbuh, seleranya juga berubah, maka tulisannya juga berubah,” terang gadis berkulit sawo matang yang kerap diundang ke berbagai acara sastra. Tidak hanya untuk membaca puisi, tetapi juga berdiskusi dan bahkan sesekali menguratori.

Mannerism itu sebenarnya penyakit yang hampir dialami setiap penulis.” Ia kemudian memberi contoh beberapa karya seperti karya-karya Ayu Utami dan Eka Kurniawan yang menurutnya terus berubah memperlihatkan bahwa mereka terus mencari. Konsekuensinya memang orang akan membanding-bandingkan dengan karya terdahulu dan menilai karya kini kurang bagus. “Tapi saya pikir gak apa-apa. Karena menurut saya, menulis ini hidup bukan dari pendapat orang. Jadi kritik dan puji biasa aja. Yang penting kesadaran untuk terus mencari dan menghindari mannerism.”

Selain itu ia juga melihat dalam puisi-puisi saat ini ada kecenderungan orang berlomba-lomba mengejar kebaruan. Banyak penyair ketika melakukan eksplorasi bahasa seolah-olah lepas dari lirisme maka dia akan diterima. “Menurut saya yang harus dicari di dalam puisi itu adalah kontemplasinya. Pengalaman pribadi kita misalnya, itu meliputi kedalaman, kebaruan boleh tapi mungkin kedalaman. Di mana puisi itu ada lapis bawah. Di buka ada lapis lagi maknanya, di buka lagi ada lapisannya lagi seolah-olah gak habis-habisnya.” Banyak juga saat ini puisi yang diprosakan, entah karena si penulis ketularan berprosa karena dia juga menulis prosa sejak awal atau memang mencari kebaruan. “Banyak sekali kecenderungan penyair kita seperti itu sekarang. Fasial Oddang juga menulis puisi yang diprosakan. Nirwan di Buku Merah dia bilang itu prosa berbentuk puisi. Sah-sah saja sebenarnya.”

Meskipun bagi Purnama menulis prosa juga menulis puisi tanpa terpengaruh atau sekadar mencari gaya baru itu tantangan. Ia sendiri juga menulis prosa, Kalamata (KPG, 2016) adalah novel pertamanya. Ia pun tengah mempersiapkan novel keduanya. Tidak terlalu jauh seperti novel pertamanya, kisah biografis tokoh sepuh yang pernah ditemuinya. Hanya saja latarnya berbeda.

Sangat menarik mengobrol dengan Purnama, gadis santun yang bersahaja ini begitu terbuka dan panjang lebar membahas puisi. Penyair muda penuh talenta yang pernah mendapatkan beasiswa penelitian dari Frans Seda Foundation dan Universitas Indonesia untuk melakukan riset sosial budaya bekerjasama dengan Universitas Tilburg, Belanda, juga pernah diundang dalam Emerging Writers Festival 2015 di Melbourne ini benar-benar menunjukkan kecintaan dan perhatiannya pada puisi. Banyak orang ia lihat dalam menciptakan puisi hanya menulis saja tanpa memikirkan bagaimana ruh puisi itu merasuk ke dalam penghayatan terdalam dalam dirinya.

“Puisi itu juga terjadi karena sebuah peristiwa. Peristiwa orang menyeberang jalan saja itu bisa jadi puisi. Menurut saya puisi itu seperti lubang kunci. Kita melihat dari lubang kunci. Sederhana tetapi di situ ada berbagai peristiwa.” Banyak puisi saat ini ia perhatikan memberikan peristiwa yang biasa saja. Bahkan tidak ada peristiwa puitiknya. Ia tidak menyangkal kalau ia terlalu mengacu pada Chairil Anwar. Puisi-puisi Chairil Anwar sangat dasyat dan mampu menunjukkan peristiwa puitik baginya. “Puisi-puisi Chairil jelas, yang setiap kata punya nadi. Di mana dia bisa bilang cemara berderai, selesai. Tidak perlu ada kata hujan semalaman, gerimis di jendela,” katanya tersenyum simpul.

Terus mencari adalah suatu upaya untuk menghindari mannerism. (Foto: Adhytia Putra)
Terus mencari adalah suatu upaya untuk menghindari mannerism. (Foto: Adhytia Putra)

Adapun buku-buku lain yang disukainya belakangan ini adalah puisi-puisi Sitor Situmorang dan Subagio Sastrowardoyo. Rasa terasing manusia sangat terasa dalam karya mereka. Juga proses ulang-alik waktu yang kedua penyair itu lakukan, antara kenangan dan pengharapan, memoar ingatan atas orang-orang dan peristiwa, terasa asyik ia nikmati. Lain dari itu, buku-buku antropologis perihal kehidupan suku-suku pedalaman Nusantara juga disukainya berhubung ketika kuliah S1 ia berada di Jurusan Antropologi Universitas Udayana.

Banyak sekali penyair yang punya talenta saat ini, menyebut beberapa nama penyair yang disukainya Hasan Aspahani, Raedu Basha, Kim Al-Ghozali, Nissa Rengganis, Kiki Sulistyo, Bernando J. Sujibto, Hasta Indriyana. Menurutnya setiap puisi mereka khas dengan nuansa memori dan pengalamannya sendiri.

“Hasan dengan buku puisi terbarunya Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering larik-larik puisinya sangat terjaga. Raedu Basha dan Bernando J. Sujibto, keduanya berangkat dari budaya santri, biasanya menggali memori religius dan kultur Islami. Demikian juga dengan Kim dan Kiki yang membaurkan antara kenyataan sehari-hari dengan ide-ide atau imajinasi yang apik. Adapun Nissa dan Hasta, puisinya mempunyai suara sajak yang rileks tapi mencoba tetap mempertahankan makna kontemplatifnya tersendiri,” demikian penilaiannya.

Perihal karya teman-teman muda yang saat ini marak berkarya, ia senang melihat pencarian ekspresi dan estetik yang mereka lakukan. “Riuh dan bergairah. Asyik sekali,” serunya gembira. Satu sama lain punya warnanya sendiri yang menarik untuk dicermati. Misalnya, puisi dari teman-teman komunitas NTT, Kupang, elok dibaca karena mencerminkan ragam ucap yang mewakili kebudayaan mereka yang sangat lekat dengan dunia sehari-hari. Sebagaimana juga komunitas di NTB yang mengeksplorasi kultur agraris dan memori masyarakat yang luput dicermati oleh mereka yang tinggal di dunia urban. “Bagi saya, mereka tidak terbebani oleh konsep sastra lokal atau semacamnya, sebab budaya telah menyatu dengan memori alam dan religi yang mereka hayati setiap hari dan dituangkan ke lewat pengalaman yang mempribadi pada puisi,” tutur gadis yang puisi-puisinya telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Prancis ini dengan mimik serius.

Seringkali Purnama merasa kelokalan dalam sastra sering menjadi sekadar eksotisme luput yang berbicara tentang kenyataan hidup manusia di tempat tersebut. “Ini juga yang saya kira terjadi di Bali, di mana kultur seperti menjadi simbol. Bukannya gimana ya, tapi entah mengapa kebanyakan orang sampai kini masih bicara tentang patriarki atau interteks naskah tradisi, seakan hutang-piutang seorang pramusaji dari Flores yang bergaji kecil di mutiara pariwisata Pantai Kuta tidak hadir dalam alam sastrawi kini. Atau pengemudi taksi dipukuli pemuda lantaran menaikkan penumpang di kawasan turistik tertentu. Atau masih banyak cerita lainnya lagi. Wah, saya kok tiba-tiba jadi kangen karya-karya Gerson Poyk, Di Bawah Matahari Bali,” keluhnya yang juga menyebut karya Hamsad Rangkuti dan buku Agus Vrisaba, yang pernah diterbitkan Kompas, sebagai karya-karya yang ia kangeni. Menurutnya mereka benar-benar bicara tentang kisah-kisah manusia, terasa realis sekaligus menyentuh, tanpa pretensi untuk berindah secara berlebihan.

Namun demikian ia terus mengikuti perkembangan puisi. Di media sosial, ia mengikuti sebuah grup yang setiap akhir pekan mengunggah kliping halaman puisi berbagai surat kabar, baik lokal maupun nasional. Dari sana ia membaca banyak sekali nama-nama penyair muda yang senang sekali menulis puisi. Terlepas dari kualitas, kecintaan mereka dalam mendalami puisi dan rajin mengirimnya ke beragam koran perlu diapresiasi. “Saya termasuk yang tumbuh dari pengalaman mengirim karya ke surat kabar, jadi masih terbayang juga rasa bahagia ketika puisi dimuat walau hanya sebuah saja di selembar halaman Koran,” kenangnya sambil tersenyum lebar.

Ia belum tahu sampai kapan akan menjelajah ke berbagai tempat untuk terus menciptakan puisi. Sekiranya ia akan kembali ke rumah ia berharap masih bisa menyaksikan kota-kota lain di mana saja. Ia sangat bergembira karena di tahun 2016 menerima program Sastrawan Berkarya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ke Nunukan, Kalimantan Utara. Kini ia dikirim bertugas oleh Bentara Budaya ke Yogyakarta selama hampir dua bulan untuk mempelajari seni budaya seluas-luasnya. Bulan November 2017 mendatang, ia mendapatkan beasiswa residensi penulis ke Australia.

Ia berharap perjalanannya masih sangat panjang sebagaimana puisi yang tak pernah selesai, terus mencari. (*)

Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna. Editor Sastra di Jurnal Ruang. Seorang penulis, editor lepas dan pengajar lepas. Buku kumpulan cerpennya pernah mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2008.