Baca tema bulan ini: Retrospektif

Tanda bagi Tanya: Dari Cinta Hingga Kefanaan

oleh Wayan Sunarta

11 Oktober 2017 Durasi: 5 Menit
Tanda bagi Tanya: Dari Cinta Hingga Kefanaan Narasi dibangun dengan kelincahan imajinasi mendedahkan aneka rupa persoalan.

Sebuah puisi yang bagus jauh dari nada menggurui. Puisi yang bagus adalah puisi yang membiarkan pembaca menggali renungan-renungan yang ada di dalam sebuah puisi.

 

Penyair-penyair muda kini semakin banyak bermunculan. Puisi-puisi mereka menghiasi halaman-halaman sastra di media cetak maupun online. Bahkan banyak pula di antara mereka yang telah menerbitkan buku kumpulan puisi atau memenangkan berbagai lomba penulisan puisi. Hal ini bisa menjadi salah satu tolak ukur bahwa puisi semakin dicintai generasi muda.

Secara teknik dan tematik, karya para penyair muda ini tidak kalah dengan para penyair pendahulunya. Beragam persoalan tematik mencuat dari karya-karya mereka, tidak melulu soal gundah gulana diri sendiri atau cinta picisan. Renungan perihal kehidupan sosial, ketidakadilan, kemanusiaan, hingga kefanaan dan kematian turut mewarnai puisi-puisi mereka.

Untuk menyebut beberapa contoh, karya para penyair muda tersebut bisa dinikmati dalam buku Api Kata (Basabasi, 2017) karya Kim Al Ghozali, Badrul Mustafa (Nuansa Cendekia, 2017) karya Heru Joni Putra, Bekal Kunjungan (Gambang, 2017) karya Nermi Silaban, Hikayat Anak-anak Pendosa (Gambang, 2017) karya Muhammad de Putra. Bahkan, karya penyair cilik Abinaya Ghina Jamela yang terkumpul dalam buku Resep Membuat Jagat Raya (Kabarita, 2017) turut membuat banyak penikmat sastra terpukau dan tercenung. Di satu sisi produktivitas para penyair muda layak diberi jempol. Namun di sisi lain diperlukan daya tahan yang kuat dalam menghadapi tempaan proses kreatif untuk melahirkan puisi-puisi yang bernas dan berkilau.

Salah satu penyair muda yang tengah naik daun adalah Frischa Aswarini yang lahir di Denpasar, 17 Oktober 1991. Di bawah bimbingan penyair Warih Wisatsana, dia belajar menulis di Komunitas Sahaja bersama penyair Ni Made Purnamasari, Ketut Sudiani, Wayan Idayati, Putu Rastiti, dll. Alumnus Jurusan Sejarah Universitas Udayana ini menyiarkan puisi-puisinya di Bali Post, Kompas, Tempo, Pikiran Rakyat, Indopos, Le Banian dan media lainnya. Sejumlah karyanya diterjemahkan ke bahasa Perancis dan Inggris, serta dibukukan dalam antologi puisi: Couleur Femme (Forum Jakarta-Paris, Alliance Francaise de Denpasar, 2010), Happiness, The Delight-Tree 2 (United Nations SRC Society of Writers, 2016).

Frischa pernah diundang dalam program penulisan puisi Mastera (Majlis Sastera Asia Tenggara), Banten (2012), sebagai pembicara di Ubud Writers and Readers Festival (2013) dan Bali Beza, Kuala Lumpur (2012) yang dirangkai dengan pembacaan puisi di The Arts House, Singapura. Salah satu penulis ide cerita untuk sekuel film yang diangkat juga dari novel karya Dee Lestari Filosofi Kopi (Visinema, 2017) ini turut menyusun biografi perupa Made Wianta bertajuk Waktu Tuhan (2008). Dia juga berkesempatan mengikuti kegiatan kepemudaan Canada World Youth (Kemenpora RI, 2014-2015).

Di bulan Oktober ini, buku kumpulan puisi perdana Frischa yang berjudul “Tanda bagi Tanya” diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Tentu tidak banyak penyair muda seberuntung Frischa yang buku puisinya diterbitkan oleh penerbit mayor. Sekarang ini, di tengah menjamurnya penerbitan indie, banyak penyair muda menerbitkan bukunya secara mandiri dan bahkan menjualnya sendiri dengan berbagai cara. Namun, buku-buku yang diterbitkan penerbit indie tidak kalah pamor bila diadu dengan buku-buku terbitan penerbit mayor.

Tanda bagi Tanya merangkum 33 puisi dengan tema beraneka ragam, mulai dari persoalan cinta, kehidupan, kemanusiaan, kenangan masa kanak, hingga renungan perihal kematian. Puisi-puisi Frischa cenderung naratif. Dia memiliki kemampuan merangkai diksi dengan irama dan ritme yang terjaga. Metafora-metafora tak terduga seringkali juga menyembul dari puisi-puisinya yang sebagian besar bernada lembut tersebut.

 

Cinta dan Kefanaan

Sebuah puisi yang bagus jauh dari nada menggurui. Puisi yang bagus adalah puisi yang membiarkan pembaca menggali renungan-renungan yang ada di dalam sebuah puisi. Tentu saja sesuai penafsiran dan pemahaman si pembaca terhadap puisi yang disuguhkan sang penyairnya.

Persoalan cinta dengan berbagai pernak-perniknya adalah tema yang paling digemari banyak penyair. Ada adagium yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menulis puisi bila sedang jatuh cinta atau patah hati. Namun, menulis puisi bertema cinta mengandung tantangan tersendiri agar puisi tidak jatuh menjadi kenes, lebay, picisan. Dan Frischa cenderung mampu mengatasi hal itu.

Puisi-puisi cinta yang ditulis Frischa mengandung kekuatan renungan yang berkelindan dengan berbagai persoalan di luar cinta itu sendiri.

Dan renungan-renungan itu tentu bisa memperkaya ruang batin pembaca. Persoalan cinta seringkali mengandung kegamangan. Ketika mencintai seseorang, maka perpisahan adalah sesuatu yang mencemaskan. Keraguan akan keabadian cinta mengusik batin, seperti terungkap dalam puisi berjudul “Pijar”: akankah kita abadi, cintaku / dalam merdu nyanyian / dan cahaya cemerlang (hal.66).

Atau pada bait lainnya dalam puisi “Pijar” tampak keraguan dan harapan saling berhadapan: akankah kecupmu kekal selalu / dan lewat bibir itu / terdengar mesra segala nama benda / sebelum tersapu musim / dan ihwal yang tak terduga (hal.66). Namun, dalam kegamangan menghadapi cinta, sang aku lirik tidak ingin sepenuhnya kehilangan cinta: aku tahu / dan dalam keremangan ini / kukecup pijarmu (hal. 67).

Lamunan atau angan-angan akan cinta suci seringkali mengusik batin sang pecinta. Dalam puisi berjudul “11-16” aku lirik berangan-angan mendapatkan cinta sejati. Namun ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan: Namun kutahu / tak ada siratan namaku / dalam sajak itu / pun dalam garis rompi hangatmu / dan pada bening sungai / tumpahlah cinta suci/ yang tak sungguh terjadi (hal. 69).

Pada “Puisi Oktober”, persoalan kepedihan cinta kembali mencuat dan semakin menemukan muaranya: Bacalah setiap peta / maka kau akan bertanya / di mana cinta suci pernah berumah / selain dalam diam / sekawanan burung pengelana. Luka sang aku lirik makin menganga karena cinta yang getir: Sebab sekarang ini / aku sudah tak ingin / mengecup petang dirimu / yang bimbang (hal 73-34).

Buku ini juga merangkum beberapa puisi bertema perjalanan. Frischa pernah berkesempatan mengunjungi sejumlah tempat di dalam dan luar negeri. Meski dia menulis tentang suatu tempat di luar negeri, ingatannya pada kampung halaman dan leluhur tak pernah lekang. Hal itu misalnya terlihat pada bait: di balik lembah Grizzly / terbit bintang utara/penanda arah di gelap raya / rasi purba dan angkasa / serupa langit di kampung halaman / memukau leluhur berabad silam / kisah abadi penjelajah lautan (Malam di Lembah, hal.8).

Puisi-puisi Frischa yang bertema perjalanan cenderung melukiskan suasana tempat yang disinggahinya. Citraan-citraan yang dibangunnya cukup jernih. Ketakjuban pada salju, sengat dingin, pohon atau hewan eksotis, bangunan tua, dan sebagainya. Namun dalam puisi-puisi yang penuh kisah itu selalu terbersit renungan perihal kehidupan dengan berbagai persoalannya. Misalnya, bisa kita baca pada puisi “Malam di Lembah”, “Hutan Belakang Rumah”, “Oktober di Laberge”, “Kembali ke Laberge”, “Di Katyn”.

Tidak hanya perihal cinta, renungan tentang maut, kematian, kefanaan cukup mengusik batin Frischa untuk dituangkan menjadi puisi. Misalnya, dalam puisi “Sabun Terbaik”, persoalan sabun mandi bisa berkembang ke ingatan masa kanak dan juga renungan kematian. Perhatikan bait ini:  Oh, Ibu kurindu dekap handukmu /  setelah sengat dingin air / sesudah sengit umur bergulir / entah tangan mana / bakal mengusapku / pada mandi yang nanti / pada sepi yang terakhir (hal. 79).

Ketika menunggu di sebuah ruang tunggu pun, lintasan renungan perihal kefanaan mampu mengusik batin sang penyair, misalnya tampak pada bait ini: tak mampu kuramu /semua bayang itu / antara hidup dan maut / saling bersitatap di ruang tunggu / sama-sama menanti / apa yang kelak terjadi (Di Ruang Tunggu, hal.83).

Renungan kematian juga muncul dalam puisi bertema perjalanan yang ditulis Frischa. Dalam puisi berjudul “Di Katyn”, renungan kematian tampak jelas dalam bait ini: Apa yang tersisa dari ingatan / menjelang datangnya kematian? / Kenangan klasik di waktu kanak, / masa gemilang saat dewasa /atau ribuan ruh rakyat / yang hendak kau akrabi kini? (hal. 27-28).

Masa kanak seringkali menjadi ilham yang mengalir deras ke dalam puisi. Hal itu juga tampak dalam beberapa puisi Frischa, misalnya “Sekolah Hari Pertama”, “Taman Minggu”, “Sabun Terbaik”. Salah satu puisi yang saya suka dalam buku ini adalah puisi yang berjudul “Taman Minggu”. Dalam puisi mengharukan ini kenangan masa kanak berkelindan dengan renungan kefanaan berpadu imajinasi yang polos. Masa lalu berhadapan dengan masa kini sembari menatap masa depan yang tak pasti. Berikut saya tampilkan secara utuh puisi ini:

 

Taman Minggu

 

 

badut di taman itu

dulu kutunggu tiap minggu

dekat tempat perosotan

atau teduh bawah pohonan

 

pernah kulihat perempuan

di balik badut biru

apa orang yang sama

dengan badut ungu?

 

dulu ada yang serupa kelinci

terkadang katak biru peragu,

kartun merah muda

yang terlupa namanya

 

ia mainkan bola dan tongkat ajaib

tapi tersihir mantra sendiri

terbuai di angin taman

hanyut dalam riang anak-anak

 

di kantungnya yang misteri

mungkin ada gula-gula,

juga sembarang benda dan janji

dipungutnya di bawah kursi

dari sisa semalam

yang diabaikan orang

 

minggu ini aku kembali

namun tak ada badut lagi

mungkin kelak pun

tak ada taman ini

 

siapa lagi bakal menghibur

bocah kikuk dalam diriku

siapa akan menari

mengejar balon yang lepas

dari mimpi

 

di dekat tempat perosotan

di bawah guguran pohonan

yang paling jenaka

adalah sepi

 

Secara keseluruhan puisi-puisi dalam buku Tanda bagi Tanya cenderung bernada lembut dengan teknik naratif yang matang. Narasi-narasi yang dibangun didukung kelincahan imajinasi, berkelindan dari bait ke bait mendedahkan aneka rupa persoalan yang menjadi perhatian penyairnya. Selain itu, di tangan Frischa, hal-hal sepele bisa menjelma puisi yang indah dan sarat renungan—saya kira kekuatan puisi-puisi Frischa bersemayam di wilayah ini, misalnya bisa dibaca pada puisi “Jeruk dari Tiongkok”, “Hangus Rotiku”, dan beberapa puisi lainnya.

 

Pengaruh

Pengaruh memengaruhi adalah suatu yang wajar dalam dunia sastra. Namun, selain menulis puisi sebaik-baiknya, tantangan penyair muda adalah berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang atau pengaruh penyair pendahulunya. Penyair muda harus berusaha menemukan ciri khas, karakter, gaya ucap, atau sosok dirinya di dalam puisi-puisi yang ditulisnya. Dan, itu tentu saja tidak mudah, seperti yang diungkapkan Frischa dalam puisi “Asmayatra”:

……..

Aku telah jatuh hati

pada sajak banyak penyair

dan membiarkannya

jadi pakaian penghangat

yang belum sempat kutanggalkan

 

Tetapi aku tak tahu

dengan baju apa harus kutemui

puisi paling murni dalam diri

……..

(hal. 88)

Puisi “Asmayatra” mengandung pengakuan yang jujur perihal proses kreatif kepenyairan Frischa. Memang, menemukan gaya ucap yang khas diri sendiri di dalam puisi tidaklah mudah. Mungkin karena pergaulan kreatif yang intens di Komunitas Sahaja, maka dapat dimaklumi bila beberapa puisi Frischa dalam buku Tanda bagi Tanya (GPU, 2017) memiliki kedekatan gaya ucap dengan puisi-puisi Ni Made Purnamasari dalam buku Kawitan (GPU, 2016) atau puisi-puisi Warih Wisatsana dalam buku Ikan Terbang Tak Berkawan (Buku Kompas, 2003). Kedekatan tersebut tampak, misalnya, dalam penggunaan diksi-diksi tertentu untuk menganyam metafora atau membangun narasi-narasi puisi. Pembaca bisa mencari dan membandingkan sendiri kedekatan gaya ucap beberapa puisi pada ketiga buku tersebut.

Namun, lepas dari semuanya itu, Tanda bagi Tanya layak diapresiasi. Sebagai penikmat puisi, saya berharap Frischa tidak berhenti sampai di sini, namun terus menerus berusaha mencari dan menemukan gaya ucapnya sendiri dalam puisi yang ditulisnya. Akhir kata, semoga kehadiran buku ini mampu memotivasi anak-anak muda lainnya untuk menekuni puisi secara lebih serius. (*)

Wayan Sunarta

Wayan Sunarta. Penyair dari Bali yang juga menulis cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa.