Baca tema bulan ini: Retrospektif

Daur Kekerasan dalam Remaja yang Posesif

oleh Angga Rulianto

29 Oktober 2017 Durasi: 4 Menit
Daur Kekerasan dalam Remaja yang Posesif Putri Marino, si aktris pendatang baru, adu akting dengan Adipati Dolken. Keduanya tampil elok.

Rangga dan Cinta serta Galih dan Ratna, dua karakter pasangan kekasih ikonik di layar lebar Indonesia dalam hampir empat dekade terakhir, memiliki pesaing baru. Mereka adalah Yudhis (Adipati Dolken) dan Lala (Putri Marino). Persis para pendahulunya, Yudhis dan Lala juga masih remaja dan tengah duduk di bangku SMA. Cinta juga masih menjadi gula-gula pemanis hidup sekaligus masalah yang mengikat mereka, seperti lazimnya yang dihadapi para remaja di dunia.

Namun, Yudhis dan Lala dalam film Posesif ditenggelamkan lebih dalam lagi oleh sang sutradara, Edwin (Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcards from the Zoo), ke kolam yang sesak dengan masalah bersifat domestik. Tujuannya agar mereka jadi bisa memahami bahwa masa remaja barulah garis start dari kompleksitas masalah yang bakal dikonfrontir kelak. Masalah yang mungkin terjadi di masa depan memang tidak selalu terang benderang ataupun riang, meski tetap bisa menyelipkan rasa bahagia serta tentu saja harapan.

Tutur visual Edwin sudah menyuratkan hal-hal tersebut sejak awal kisah Posesif produksi Palari Films ini bergulir. Lala telah berlari sewaktu matahari belum bangun dari peraduannya. Hari masih nyaris gelap. Hanya terdengar suara derap kaki. Lala lalu berhenti sejenak dan menengok kanan-kiri, seperti ada yang dicari (atau diharapnya?) di subuh itu.

Yudhis dan Lala diperankan oleh Adipati Dolken dan Putri Marino. (Foto: Palari Films)

Adegan ini langsung mengingatkan saya pada film panjang kedua Edwin [Baca artikel profil Edwin.....], Postcards from the Zoo (2012), yang juga dibuka dengan suasana nyenyat dan temaram, sebelum kemudian dipecahkan oleh suara teriakan Lana memanggil-manggil bapaknya. Terlihatlah bahwa sedari mula, Posesif langsung menggoreskan visual signature Edwin. Yang menarik, baik Lana dan Lala pun sama-sama tengah mencari. Lana jelas mencari sang ayah, lantas siapakah yang dicari Lala?

Sebelum gambaran temaram yang membuka film Posesif hasil tangkapan sinematografer Batara Goempar ini jadi terlanjur bernada pesimistis, adegan langsung beralih ke suasana terang dan cerah. Bunyi peluit melengking. Lala lalu melompat dari ketinggian sepuluh meter ke kolam renang.

Begitulah rutinitas harian Lala sebagai atlet loncat indah. Gen olah raga itu memang mengalir di dalam darah Lala. Dulu, almarhumah ibu Lala juga atlet loncat indah, dan kini Lala tengah menjalani gemblengan ketat dari sang pelatih sekaligus ayahnya (Yayu Unru). Selain tentunya juga bersekolah dan menjalani masa remajanya bersama dua sahabat karibnya, Ega (Gritte Agatha) dan Gino (Chicco Kurniawan).

Kemudian, hadirlah Yudhis, si murid baru yang sehari-hari hanya tinggal bersama ibunya (Cut Mini). Gara-gara satu kenakalan kecil di sekolah, Lala jadi kenal dengan Yudhis. Mereka terpaksa harus saling mengikatkan diri lewat tali sepatu masing-masing dan berjalan seirama memutari lapangan. Seantero sekolah jadi menertawai dan menggoda mereka.

Awal perkenalan Yudhis dan Lala. (Foto: Palari Films)

Tak perlu berlama-lama dalam plot untuk membuat mereka saling jatuh cinta. Tak harus juga ada pedekate yang alot serta konflik dan sikap sok jual mahal ala Rangga-Cinta untuk membuat Yudhis dan Lala saling terpikat hatinya. Kerap kali memang cinta bekerja cepat, tanpa permisi, sehingga terkadang jadi tak terlalu disadari. Terlebih ketika pola dan jejaring komunikasi via media sosial semakin terbuka di zaman sekarang ini.

Itu pulalah yang dialami Lala dan Yudhis. Seperti bunyi penggalan libreto karya Arrigo Boito dalam opera Fallstaff pada 1893, “When I saw you, I fell in love, and you smiled because you know,” mereka pun saling melempar senyum sejak jumpa pertama kali. Akting Adipati Dolken dan Putri Marino berhasil memperlihatkan bahwa ada hubungan emosi di antara mereka, dan hubungan itu terlihat masuk akal sekaligus masuk ke dalam perasaan kita.

Emosi tersebut makin kentara, kuat, tapi juga malangnya mulai merusak. Senyum yang tadinya selalu tertoreh di wajah Lala maupun Yudhis setiap kali mereka bertemu perlahan hilang, lalu digantikan dengan raut cemas, khawatir, dan takut. Sebab posesif mulai merasuki, bukan cuma Yudhis, tapi juga ternyata ke seluruh karakternya, meski dengan kadar dan aksi-reaksi yang berbeda-beda. Ada amarah yang terpaksa harus ditekan, tapi sesekali ada pula emosi yang menghentak dan mengejutkan.

Lala dan Yudhis serta karakter lainnya pada akhirnya bukan saja alami konflik internal, tapi juga personal (persahabatan, keluarga, dan kekasih). Skenario Posesif yang ditulis Gina S Noer (Hari Untuk Amanda, Ayat-Ayat Cinta, Habibie & Ainun, Rudy Habibie) memang memfokuskan diri di situ dan tak hendak menarik kaitan dengan realitas sosial. Risikonya, Posesif seperti mengulangi apa yang acap terlihat dari kebanyakan film Indonesia, yakni melepaskan diri masyarakatnya.

Akan tetapi, kelemahan itu bisa dimaafkan lantaran Posesif hendak mengutarakan hal yang tak kalah krusial, yakni soal daur kekerasan yang terjadi dalam level paling privat. Dan karena itulah, kekerasan seperti ini jadi amat berbahaya.

Sebab, bukankah keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah masyarakat? Apa jadinya jika benih kekerasan yang abusif sudah tersemai sejak dalam keluarga, lalu kelak tumbuh besar dan akhirnya menyebar di masyarakat? Bagaimana jika bahaya kekerasan beserta siklusnya ini sebenarnya telah disadari oleh para remaja seperti Lala dan Yudhis, namun tidak banyak yang mereka bisa perbuat karena keterbatasan diri sebagai remaja?

Apalagi, kondisi keluarga Lala dan Yudhis sudah tidak ideal. Mereka sama-sama hanya memiliki orang tua tunggal (single parent), sehingga ada kerinduan akan sosok ayah atau ibu untuk melengkapi hari-hari remaja mereka yang pelik. Selain juga mereka tampak berada dalam tekanan dari relasinya dengan keluarga masing-masing.

Kisah coming of age Posesif ini ditulis Gina S. Noer dan Edwin. (Foto: Palari Films)

Edwin memperlihatkan adanya tekanan dari keluarga ini lagi-lagi lewat visual signature-nya dalam sejumlah adegan yang semuanya menempatkan Lala di area sempit di bawah tangga rumahnya. Kala itu, ia tengah menyantap di meja makan sembari berdialog dengan sang ayah maupun mendengarkan ucapan Yudhis. Lala di dua adegan itu menjadi subjek yang pasif dan seolah terepresi. Visual ini mengingatkan saya pada film pendek pertama Edwin, A Very Slow Breakfast (2002), yang juga menampilkan tokoh utamanya duduk terhimpit tangga rumahnya.

Akibat tekanan dari berbagai kondisi internal maupun personal tersebut, tak mengherankan apabila Lala dan Yudhis terlihat labil. Lebih dari itu, Lala kemudian juga tampak apologetis dan permisif; sementara Yudhis yang abusif tapi juga ingin berlaku protektif. Sifat dan emosi ini sebenarnya adalah buah-buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Dan kerja menghantarkan segala sifat dan emosi ini dilakukan dengan elok oleh aktor-aktris Posesif. Tak hanya Putri Marino dan Adipati Dolken, tapi juga Yayu Unru dan Cut Mini.

Dengan berbagai catatan tersebut, Posesif boleh jadi merupakan film drama remaja Indonesia paling kuat dan padu dalam lima belas tahun terakhir. Kedalaman kisah coming of age yang disuguhkan Gina [Baca artikel profil Gina.....] dan Edwin juga telah menaruh standar baru bagi pembuat film lainnya yang kelak ingin membuat film dengan genre serupa.(*)


 

Posesif
Produser : Muhammad Zaidy, Meiske Taurisia
Sutradara : Edwin
Penulis Cerita & Skenario : Gina S Noer
Pemeran : Putri Marino, Adipati Dolken, Gritte Agatha, Chicco Kurniawan, Yayu Unru, Cut Mini
Produksi : Palari Films
Tanggal edar : 26 October 2017

Angga Rulianto

Angga Rulianto. Editor Film di Jurnal Ruang. Sejak jadi jurnalis pada 2006, ia banyak meliput film. Tulisan-tulisannya terbit di filmindonesia.or.id, Pikiran Rakyat, Cinema Poetica, dan Muvila.