Baca tema bulan ini: Retrospektif

Binatang Jalang dan Popularisasi Sejarah

oleh Abduraafi Andrian

17 November 2017 Durasi: 9 Menit
Binatang Jalang dan Popularisasi Sejarah Sergius Sutanto menuliskan kembali kisah hidup Chairil Anwar. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Sergius Sutanto baru saja menerbitkan Chairil Anwar: Ini Kali Tak Ada yang Mencari Cinta. Kisah hidup tokoh sejarah yang difiksikan sudah jadi spesialisasi pengarang penyuka kopi ini. Kami berbincang seputar karya terbaru Mas Sergi, novel sejarah karangannya, dan kegemarannya dalam menulis. Ia juga menjabarkan dua buku yang mengusik perhatiannya sampai ia tak bosan membacanya berulang-ulang.

Apa yang bikin Mas Sergi menulis novel tentang Chairil Anwar?

Nama Chairil Anwar sudah melegenda dalam blantika kesusastraan tanah air hingga luar negeri. Dia terkenal karena sajak-sajaknya yang memberontak, heroik, sekaligus romantik. Gaya hidupnya yang unik dan bohemian juga tak pernah habis untuk dibicarakan.

Namun dari buku-buku yang sudah banyak diterbitkan, saya lihat pemahaman pada sang tokoh masih sepenggal-sepenggal. Belum ada yang menuliskannya secara tuntas dan detail sebagai biografi utuh yang menggambarkan perjalanan hidupnya dari kecil hingga wafat menjelang usia 27 tahun.

Dari situlah, terbit keinginan saya untuk coba meramunya menjadi sebuah novel utuh. Sekaligus menjawab pertanyaan mendasar yang selama ini sudah akrab di telinga masyarakat: binatang jalang. Apa pasal hingga Chairil membaptis dirinya sebagai “binatang jalang”.

Beruntung sekali saya mendapat banyak referensi dan itu melahirkan keberanian tersendiri buat saya. Terutama buku skenario Aku karya Sjuman Djaya, Sebuah Pertemuan karya Arief Budiman, dan buku yang belum lama ini ditulis oleh sahabat saya, Hasan Aspahani, berjudul Chairil: Sebuah Biografi.

Berapa lama merampungkan buku ini?

Kira-kira satu setengah tahun. Enam bulan untuk riset pustaka dan interviu dengan Ibu Evawani Alissa, putri kandung Chairil Anwar. Berlanjut enam bulan penulisan dan tiga bulan berikutnya persiapan untuk penerbitan.

Bagaimana hingga buku ini berjodoh dengan Penerbit Mizan?

Di sela-sela pengerjaan buku tersebut, saya coba menawarkan wacana itu kepada Mizan. Gayung bersambut. Mizan tertarik untuk menerbitkan. Ya, akhirnya saya berikan hak itu padanya. Waktu itu saya berdiskusi dengan Mbak Esti Budihabsari, yang sudah saya kenal saat mengerjakan novel Hatta: Aku Datang karena Sejarah dulu.

Kenapa mengambil bait dalam puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" untuk dijadikan judul buku ini?

Soal judul cukup alot juga. Sudah banyak pilihan yang saya nominasikan. Judul awal sekali adalah Chairil: Revolusi, Cinta dan Sebuah Skandal. Lalu berganti menjadi Cintaku Jauh di Pulau. Tapi lantaran itu sama dengan judul puisi yang dibawakan dalam film dokumenter Banda yang dibuat Jay Subiyakto, akhirnya saya coba ganti dengan Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi.

Saya suka judul terakhir itu. Tapi setelah berdiskusi dengan penerbit dan Ibu Evawani, judul itu dirasa sedikit “kasar” hingga dicarilah judul lain. Mbak Esti memberikan beberapa usulan, salah satunya Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta. Saya kepincut dengan judul itu dan saya pikir cukup romantis dan punya nilai jual.

Alasan mengambil judul dari syair sajak Chairil, tak lain ingin menebalkan kalau novel ini adalah kisah hidup beliau. Anggap saja sebagai “a tribute”. Judul Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta juga secara simbolis menyiratkan persoalan mendasar dari kehidupan Chairil: cinta yang gagal.

Bagaimana membagi porsi antara kisah nyata Chairil dan fiksi yang dibuat oleh Mas Sergi sendiri?

Yang membedakan novel biografi dengan novel-novel fiksi pada umumnya adalah fakta dan data sejarah yang menjadi pijakan bercerita. Pada garis besarnya, struktur dibangun oleh kronologis waktu dan data diri sang tokoh, yang sumbernya digali dari berbagai acuan. Sementara fiksi sebagai bunga-bunganya merupakan pengembangan adegan agar data-data itu tetap bisa dinikmati sebagai sebuah adegan yang mengalir.

Jika diklasifikasikan menjadi porsi, ya berimbanglah. Enam puluh persen data dan kebenaran sejarah. Empat puluh persen fiksi. Tapi fiksi di sini jangan diartikan tafsiran yang bebas mengawang-awang. Tetap harus berlandas pada karakter dan kejadian yang sebenarnya. Seperti adegan pertengkaran Chairil dengan istrinya, Hapsah. Tak ada data seperti apa hebohnya pertengkaran mereka dan bagaimana dialog-dialognya. Nah, di sinilah fiksi berperan untuk mengembangkannya.

Yang menarik tentang Chairil Anwar adalah ia tetap mengotot dengan profesinya sebagai penulis sekalipun tahu honor yang didapatnya tidak bisa menyejahterakan dirinya dan keluarganya. Ia pun seringkali meminjam uang kepada teman-temannya. Apa yang Mas Sergi lihat dari sikapnya itu?

Dalam hal ini, saya memang melihat satu kelemahan seorang Chairil Anwar. Chairil cenderung hanyut dengan keinginannya sendiri tanpa mengindahkan lingkungan sekeliling serta tanggung-jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Itu saya tuangkan dalam dialog-dialog pertengkaran mereka ketika Hapsah menuding syair-syair Chairil adalah setan yang telah membuatnya lupa diri dan lupa keluarga.

Begitu juga saat dia tak mampu berhemat dan gemar menghabiskan honorariumnya hanya dalam hitungan hari. Akhirnya, ketika bokek, dia harus mengemis ke sana kemari. Affandi, H.B. Jassin, dan beberapa teman dekatnya beranggapan, sebenarnya Chairil mampu hidup berkecukupan sekiranya dia bisa disiplin dan mengatur keuangannya dengan baik.

Chairil bersalah, menurut saya. Berkesenian boleh saja membentuk seseorang menjadi pribadi yang unik. Namun tidak berarti dia harus lari dari tanggung jawabnya sebagai manusia yang bekerja. Terlebih bila statusnya seorang suami dan kepala rumah tangga. Banyak seniman, sastrawan, dan penulis yang berkibar di masa itu. Tapi pada beberapa hal, mereka pun tetap memiliki keteraturan hidup dengan ekonomi yang tertib meski tidak besar. Sebut saja Sutan Takdir Alisjahbana, Rosihan Anwar, Idrus, Mochtar Lubis, dan sahabat Chairil sendiri, Asrul Sani.

Chairil terjebak oleh permainan hati dan pikirannya sendiri. Dan kondisi itu semakin parah pada tahun-tahun terakhirnya setelah perceraian dengan Hapsah. Kala hidupnya menumpang dari satu tempat ke tempat lain. Jangankan makan, untuk mengobati penyakitnya pun Chairil tak berdaya.

Melalui Ini Kali Tidak Ada yang Mencari Cinta, Mas Sergi mengaku ingin memperlihatkan sisi kemanusiaan Chairil. Kenapa melakukan hal itu?

Aspek kemanusiaan selalu menarik buat saya, apa pun angle-nya. Dari dua novel saya sebelumnya tentang Bung Hatta dan Romo Mangun, saya pun lebih menajamkan sisi kemanusiaan di samping ketokohannya. Menurut saya, aspek yang jarang dikuliti khalayak dari seorang tokoh adalah hal-hal sepele dan sederhana yang justru jadi daya tarik. Karena menurut saya, kemanusiaan adalah hal mendasar yang membentuk pemikiran seorang tokoh.

Selain itu, aspek kemanusiaan memiliki jangkauan lebih luas untuk ditafsirkan dan dimainkan menjadi adegan-adegan dramatis sarat konflik.

Chairil Anwar tidak hanya menuliskan sajak-sajak perjuangan yang menggebu-gebu namun juga puitis nan romantis. Bagaimana Mas Sergi melihat sajak-sajak Si Binatang Jalang?

Sajak-sajak Chairil lahir dari perenungan yang dalam. Seperti yang diakuinya sendiri, itu tidak tercipta dalam tempo singkat. Seringkali baris-baris yang ditulisnya harus diendapkan selama beberapa hari, dicoret sana-sini, dan kemudian ditulis ulang. Chairil baru akan “mengeluarkan” tulisannya manakala dia merasa klop dengan isi hatinya. Tak heran jika sajak-sajak itu tampak kuat dan memilik “roh” hidup. Bukti ini terlihat pada lembaran-lembaran kertas sajaknya yang penuh coretan.

Hal mencolok lainnya, Chairil seperti tak pernah mau dipusingkan dengan segala aturan dalam menulis, satu hal yang sebenarnya sangat dijunjung tinggi oleh para pujangga pada masa itu. Dia mendobrak semua aturan. Baginya, menulis adalah meneriakkan segala isi hati dan pikiran. Tak peduli kata-kata yang dilahirkan disukai orang atau tidak. Tak peduli kata-kata itu kasar atau santun.

Saya menilai sajak-sajak Chairil adalah sajak-sajak yang memerdekakan diri baik itu dari persoalan asmara, kehidupan, maupun kegeramannya pada kolonial Belanda dan Jepang. Dan untuk soal ini, Chairil tampil cukup gagah sebagai pendobrak tatanan bahasa Indonesia yang saat itu masih didominasi oleh kosakata yang cenderung berindah-indah lazimnya syair Pujangga Baru.

Kisah cinta Chairil Anwar juga terlihat cukup tragis. Ia menyukai banyak wanita namun pada akhirnya kekeraskepalaannya sebagai penulis dengan honor tidak menentu malah membawanya dalam keterpurukan. Bagaimana komentar Mas Sergi tentang kisah cinta Chairil?

Chairil sangat hormat dengan perempuan. Kecintaan dan kedekatan dengan sang ibu dan neneknya cukup erat. Meninggalnya sang nenek pada 1941 adalah pukulan terberat bagi Chairil hingga melahirkan sajak berjudul Nisan. Itulah sajak pertamanya saat baru hijrah ke Batavia yang membawanya berkenalan lebih akrab dengan kritikus sastra H.B. Jassin.

Tak heran jika akhirnya Chairil tumbuh jadi pribadi yang sangat memuja perempuan. Ada banyak nama tercatat pernah mengisi relung hati Chairil, di antaranya: Karinah Moordjono, Dien Tamaela, Ida Nasution, Sri Arjati, Sumirat, Tuti Artic, Gadis Rasyid. Meski tak semuanya dibalut kisah asmara, beberapa di antaranya justru membuat Chairil mabuk kepayang. Namun cintanya seperti ditakdirkan selalu bertepuk sebelah tangan. Sampai akhirnya dia berjumpa dengan perempuan yang dinikahinya di Karawang, Hapsah Wiriaredja. Itu juga hanya bertahan sekitar dua tahun.

Rivai Apin, sahabat dekatnya, sering berseloroh kalau Chairil tak punya tipe perempuan yang disukai. Siapa saja digemarinya tanpa pilih-pilih. Tapi Chairil selalu membela diri untuk hal ini. Dia mengatakan kalau semua perempuan menyukainya bukan karena fisik dan penampilannya, tapi karena jiwa mudanya yang selalu meluap-luap.

Satu temuan yang saya dapat. Kecintaan Chairil pada perempuan yang menggebu-gebu sesungguhnya dipicu oleh rasa marah dan dendam pada ayah kandungnya yang telah menceraikan ibunya. Impati ini akhirnya tumbuh dan membesar. Tak terkecuali kepada perempuan tuna susila yang biasa disatroninya di gorong-gorong Pasar Senen. Chairil memuja mereka bukan sekadar sebagai pemuas nafsu belaka, tapi juga menghargai keperempuanan mereka.

Tapi dari keseluruhan hidup Chairil, saya menebak, Chairil seakan tahu konsekuensi pilihan hidupnya. Ahasveros, pengembara asal Persia abad 4 SM yang terlunta-lunta karena dilamun pikirannya sendiri, begitu merasuk di benaknya. Acap kali Chairil menyamakan kisah hidupnya dengan si Ahasveros itu. Dan memang benar adanya. Dia terpuruk, terjungkal ke titik nol menjelang wafatnya.

Hal itu termaktub dalam sajak Tak Sepadan: … Beginilah nanti jadinya / Kau kawin, beranak dan berbahagia / Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dari keseluruhan kisah hidup Chairil Anwar yang dituliskan, bagian mana favorit Mas Sergi?

Ada beberapa bagian favorit di novel ini. Seperti masa-masa pengungsian Chairil ke Karawang pada akhir 1945. Ini tantangan tersendiri karena nyaris tak ada data atau buku yang mengupas babak kehidupan Chairil di Karawang ini. Pada saat itulah Chairil berjumpa dengan Hapsah dan akhirnya menikah. Saat terjadi tragedi pembunuhan besar-besaran di perbatasan Karawang-Bekasi pada akhir 1947, saya coba membawa Chairil pergi ke lokasi kejadian. Ini terinspirasi dari scene dalam skenario Aku. Di situ, saya ekplorasi habis-habisan kesedihan Chairil, hal yang selama ini tak pernah terjadi pada Chairil.

Jika selama ini dia tampil sebagai sosok individualistis dan sibuk dengan dirinya sendiri, pada bagian itu Chairil harus berhadapan dengan kejadian yang mengusik rasa kemanusiaannya. Babak yang saya buat untuk melihat kadar religius seorang Chairil.

Menurut saya, Chairil tidak religius, tapi humanis. Dia begitu merasuk saat membuat sajak Di Mesjid tapi juga berhasil menerjemahkan penderitaan Kristus di sajak Isa yang dipersembahkannya kepada pemeluk Kristiani.

Saya sengaja peras habis-habisan babak hidup Chairil di Karawang untuk mendapatkan alasan Chairil menuliskan sajak yang cukup monumental: Karawang-Bekasi. Meski akhirnya publik harus terenyak. Sajak itu ternyata saduran dari sajak penyair kenamaan Amerika Serikat, Archibald MacLeish, berjudul The Young Dead Soldiers.

Bagian favorit lainnya adalah detik-detik menjelang wafatnya. Kesendirian Chairil menghadapi kematian di kamar pengap, saya buat sedemikian gelap. Namun dalam keringkihannya, dia terus marah dan berusaha melawan penyakitnya. Ini pun satu babak yang menurut saya tak banyak diketahui khalayak.

Juga adegan pencurian buku yang saya buat sedikit jenaka hingga pembaca akhirnya coba memaklumi dan memaafkan Chairil. Tak lain untuk memenuhi rasa hausnya pada bacaan-bacaan berkualitas dari penulis-penulis dunia idolanya.

Mas Sergi telah membuat novel berdasarkan sejarah tokoh, dari Bung Hatta, Romo Mangun, sampai Chairil Anwar. Apakah ini spesialisasi Mas Sergi sebagai penulis?

Ya, saya memang tertarik dengan penulisan novel biografi tokoh. Tokoh-tokoh yang menurut saya kental dengan nilai kemanusiaannya. Ke depannya, saya berkeinginan menekuni ini dan menjadikan spesialisasi.

Suatu hari (semoga!), saya bisa membuat lokakarya penulisan novel biografi, untuk membagi pengalaman kepada siapa pun yang tertarik melakukan hal serupa. Saya ingin menularkan kesenangan menulis novel genre ini kepada banyak orang.

Apa asyiknya menulis novel berdasarkan sejarah?

Sangat asyik dan menarik. Sejarah seperti membawa kita bertamasya ke suatu masa yang tidak pernah kita alami.

Saya sangat menikmati proses riset dan kreatifnya. Hunting ke sana kemari mencari bahan-bahan dan juga wawancara dengan banyak narasumber. Keluar masuk perpustakaan dan berburu artikel dan bacaan-bacaan lawas pun memberi kenikmatan tersendiri. Kegiatan ini bak seorang peneliti. (Ketika duduk di bangku SMA dulu, beberapa kali saya memenangkan lomba penelitian ilmiah remaja LIPI-TVRI. Ini seperti mengulang masa lalu.)

Satu lagi, bau buku-buku tua di perpustakaan itu sangat seksi dan sensasional!

Kenikmatan lain menulis novel sejarah adalah bisa berimajinasi bebas, meramu konflik pada tiap adegan, meski tetap dalam koridor data dan fakta.

Kesulitan apa yang dihadapi selama menulis?

Tantangan pertama, tentu saja saat pencarian data. Terlebih bila data-data itu harus dilengkapi dengan mewawancarai ahli waris dan narasumber terkait. Ini butuh waktu yang cukup lama dan kesabaran ekstra.

Tantangan berikutnya, menentukan sudut pandang penceritaan. Ini, konflik pertama yang selalu saya temui dan bisa berbulan-bulan untuk memutuskannya. Apakah saya ingin memakai sudut pandang orang pertama, kedua, atau ketiga. Sering kali, saat saya sudah menemukan pola penceritaan, saya mulai merasa tak nyaman dengan pilihan itu. Akhirnya saya rombak lagi dari awal. Tapi biasanya persoalan ini terselesaikan saat saya mulai mengendapkan berminggu-minggu dan membanding-bandingkan sendiri, pola mana yang lebih pas untuk tulisan itu.

Adakah penulis novel sejarah lain yang Mas Sergi sukai atau mungkin menjadi inspirasi menulis Mas Sergi?

Saya tidak membatasi pada bacaan novel sejarah saja. Saya coba membaca banyak buku dari genre lain. Yang saya kagumi dan diam-diam terus saya pelajari adalah gaya penceritaan, penciptaan karakter dan konflik, serta bagaimana mengatur tempo hingga tiba di epilog dari para penulis senior.

Saya sangat memuji Khaled Hosseini, Dan Brown, serta Paulo Coelho dalam bertutur. Kalimat-kalimat disampaikan secara efektif, bahkan nyaris tak ada yang mubazir. Cerita yang mereka bangun selalu mengalir lancar dengan logika yang tersusun rapi. Saya juga kagum oleh kemampuan Susanna Tamaro, penulis wanita Italia, menuangkan perasaan ke dalam tulisan yang berirama. Begitu halus, indah, dan menyentuh.

Untuk penulis tanah air, saya sangat menyukai gaya bercerita Ahmad Tohari, Ramadhan K.H., Nh. Dini, dan penulis muda Okky Madasari.

Pernahkah mendapatkan kritik tajam atas novel yang sudah ditulis? Seperti koreksi data/fakta atau pertidaksetujuan dari pihak tertentu dalam cerita?

Mungkin tepatnya, saran perbaikan. Biasanya saran dan kritik itu datang dari keluarga atau ahli waris tokoh yang saya buat. Sebelum naskah saya serahkan ke penerbit, pasti saya kirim dulu kepada keluarga untuk dibaca dan dipelajari. Nah, dari sinilah biasanya koreksian didapat.

Keberatan atau pertidaksetujuan ahli waris pada beberapa aspek adalah sesuatu yang lumrah dan harus saya dengarkan juga karena novel biografi meski berbalut fiksi tetap harus melihat kebenaran karakter sang tokoh.

Apakah melalui novel sejarah ini adalah bentuk memopulerkan tokoh sejarah dengan lebih kontemporer?

Ya, kira-kira demikian. Saya pikir, sudah saatnya pelajaran sejarah di sekolah diperkenalkan dengan lebih menarik dan entertaining, bukan sekadar hafalan data-data tahun dan kejadian.

Banyak temuan sejarah selama saya riset dan menulis yang ternyata perlu diluruskan kembali. Dan novel sejarah, menurut saya, bisa punya andil untuk mulai menuliskan kembali hitam-putih sejarah itu sendiri tanpa keberpihakan.

Apa yang mendorong Mas Sergi untuk menulis?

Jika mau jujur, pemantik besar saya untuk berani menulis novel adalah profesi saya sebagai sutradara. Kegemaran saya menonton film terutama film-film bergenre drama membuat saya belajar banyak juga bagaimana membangun struktur cerita dan pengadegan dengan logika yang benar.

Maka, tanpa saya sadari, novel-novel saya memang memiliki sudut pandang sebuah film. Mulai dari prolog, karakter hingga sudut penceritaan. Saya sering menyebutkan novel saya adalah film yang dituliskan.

Buku apa yang mengubah hidup Mas Sergi?

Dua buku yang tak pernah bosan saya baca berulang-ulang adalah: The Kite Runner karya Khaled Hosseini dan Life of Pi karangan penulis Kanada, Yann Martel. Kedua buku ini sangat mengusik perhatian saya. Saya melihat bagaimana persoalan-persoalan serius kok bisa dituturkan dengan lincah, ringan, sederhana tanpa kehilangan bobotnya. Dari situ saya terinspirasi untuk bisa mengangkat persoalan sejarah yang cenderung kaku dan baku menjadi renyah.

Buku lama yang juga menginspirasi saya adalah Ibunda karya Maxim Gorki dan Burung-Burung Manyar-nya Romo Mangun. Konten budaya dalam Burung-Burung Manyar kental sekali tapi asyik untuk dicerna karena ditulis dengan gaya yang kontemporer. Saya takjub sekali dengan proses penulisan roman itu yang membutuhkan waktu hampir delapan tahun. Betapa seorang Mangun memperlihatkan totalitas yang bukan sekadar mencipta barang sekejap.

Satu lagi, Catatan Pinggir karya Pak Goenawan Mohammad adalah buku yang membuka wawasan saya tentang kritik sosial yang disampaikan dengan cara yang indah. Betapa orang bisa nyalang tanpa terlihat garang. Simbolis yang dimainkan Pak Goenawan, saya pikir, sesuatu yang selalu menarik untuk diikuti.

Ada saran bagi pembaca perihal kepahlawanan?

“Pahlawan” di era revolusi adalah mereka yang berjuang untuk kedaulatan negeri. Tapi pahlawan di era sekarang adalah mereka yang berani memerdekaan pikirannya untuk keluar dari sekat-sekat perbedaan dan bertemu dengan orang-orang lain untuk pembaruan yang lebih baik.

Kata “Pahlawan” ini juga harus diartikan secara benar. Bukan melulu mereka yang tampil dengan segudang prestasi dan pengabdian. Pahlawan pun bisa datang dari orang-orang biasa, mereka yang namanya tak pernah tersentu media dan pemberitaan. Chairil Anwar pun beranggapan, mereka yang terpinggirkan sesungguhnya adalah pahlawan dengan cara mereka sendiri.

Abduraafi Andrian

Abduraafi Andrian. Editor Fiksi Populer di Jurnal Ruang. Pencandu buku dan pegiat komunitas. Jeda kegiatannya diisi dengan menuliskan pengalaman membaca melalui ulasan di blog bukunya.