Baca tema bulan ini: Retrospektif

Nitisemito: Pahlawan dan Hal yang Tidak Selesai

oleh Gilang Saputro

22 November 2017 Durasi: 8 Menit
Nitisemito: Pahlawan dan Hal yang Tidak Selesai Sang Raja. Iksaka Banu. Kepustakaan Populer Gramedia, 2017. 392 hlm.

Bagaimana seorang tokoh ada di tangan penulis?

Saudara tentu pernah membaca bagaimana Biografi Franklin D. Roosevelt ditulis oleh Frank Burt Freidel. Demi menulis tentang Roosevelt, Freidel konon menghadapi tidak kurang dari 40 ton dokumen sebagai bahan penyusunan. Hasilnya tidak kurang dari enam karya biografis tentang Roosevelt berhasil ia susun. Freidel kemudian diganjar tiga anugerah sebagai sejarawan.

Mempelajari Freide, tidak hanya memahami bagaimana seorang penulis berasyik masyuk mendalami apa dan siapa yang sedang ia tulis. Tetapi lebih dari itu, bagaimana kemudian ia menghidupkan kembali tokoh dan peristiwa dengan segala macam keutamaan yang menyertainya untuk mengabadikan ingatan dalam sejarah. Begitulah pameo itu kemudian menjadi ukuran pada keutamaan penciptaan pengetahuan tentang tokoh. Namun Freidel bukan sastrawan.

Ada banyak cara menulis tentang diri tokoh. Memilih untuk menulis autobiografi atau memoar tentang diri sendiri atau menuliskan orang lain dengan bobot naratif sebagai biografi. Tegangan-tegangan ingatan dan bagaimana ia mesti muncul menjadi dasar pada pemilihan. Bukan tanpa masalah, pada memoar misalnya, penulis konon tetap tidak bisa terhindar dari kehendak untuk memilah dan melebihkan ingatan, atau bahkan menyembunyikan dirinya. Sedangkan pada biografi, persoalan jarak antara penulis dengan tokoh yang tengah ditulis menjadi situasi yang tidak penah selesai dan tidak pernah benar-benar terjalin dengan utuh.

Saudara tentu melihat bagaimana kemudian penulisan biografi dalam lingkup politik adalah alat yang cukup ampuh untuk menjual citra diri. Jangan kaget jika hanya dalam waktu satu bulan menjelang pemilihan: kepala daerah, jenderal tentara, ketua partai, presiden atau menjelang reshufle kabinet yang memunculkan berbagai buku biografi dari orang yang bahkan bisa saja sangat asing dan tidak dikenal sebelumnya.

Sebagaimana memoar, biografi kemudian tidaklah lain merupakan politik terkait identitas. Di sinilah tokoh, sebagaimana pahlawan muncul dalam situasi yang serba bias dan serba penuh dengan kepentingan.

Dalam situasi yang serba penuh dengan kepentingan itulah kemudian sastrawan juga berposisi. Barangkali pilihannya; naif mengangkat seorang tokoh dengan segala macam keutamaannya yang tanpa cela, menempatkan tokoh dalam situasi yang serba manusiawi dengan segala persoalan yang melingkupinya, atau memberikan ruang pada identitas yang sebelumnya tergilas dan dianggap disingkirkan oleh karena dianggap terlarang, atau tidak sejalan dengan kepentingan penguasa dalam penulisan sejarah.

Pada bagian terakhir itu, sejarah sastra Indonesia yang berlandaskan pada narasi tokoh disandarkan. Tentu saja kita perlu menyebutkan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (memoar) dan Bumi Manusia dan tiga karya lain Tetralogi Buru karangan Pramoedya. Bukan tanpa alasan memoar dan novel kemudian menjadi begitu meyakinkan. Dokumen sejarah dalam berbagai bentuk teks, diungkap melalui elemen naratif. Penulisan sejarah sebagaimana halnya penulisan fiksi, merupakan proses yang melibatkan pada seleksi terhadap peristiwa dan ingatan. Dalam situasi yang lebih lentur menjadi faction, di mana batas antara apa yang nyata dan fiksi menjadi sumir. Tentu saja, pada tahap ini kita akan kembali pada perdebatan lampau antara bias fakta dan fiksi dalam penulisan sejarah.

Iksaka Banu dan Perspektifnya Terhadap Sejarah

Setelah cerita pendek Mawar di Kanal Macam (2008) dan Semua untuk Hindia (2009) dan kemudian dikompilasi dalam kumpulan cerita Semua untuk Hindia (2014) yang kemudian mendapatkan Anugerah Kusala Sastra 2014 untuk kategori prosa, Iksaka Banu menunjukkan bahwa ia dapat mengambil posisi yang lebih khas dalam penulisan sastra bercorak sejarah. Tiga belas cerita pendek dalam Semua untuk Hindia secara singkat menggambarkan era yang panjang dianggap sebagai cerita-cerita yang berhasil. Dimulai dengan awal kedatangan Belanda dan pencapaian besar VOC di tanah jajahan, hingga sebelum kemerdekaan ( tahun 1940an), kisah-kisah itu memuat ragam perspektif tokoh sebagai kolonial Belanda totok ataupun Indo dalam beragam wajah kolonialisme. Kadang, wajah kolonial muncul dengan kesadaran penuh sebagai bangsa Eropa yang agung. Namun di saat yang sama merasasi kekejian dirinya sendiri sebagai kolonial. Di sisi lain, wajah mereka muncul dalam wajah kolonial yang manis, dengan ikatan yang intim terhadap Hindia.

Tentu banyak soal terkait sejarah dalam beragam kisah yang diceritakan dalam Semua Untuk Hindia. Untuk sekadar menyebutkan seperti Pengasingan Dipenegoro dalam cerita Pollux dan tentang Untung Surapati pada Penunjuk Jalan, peristiwa pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia. Serta sisi paling heroik dari orang-orang Banten yang melakukan pemberontakan ratu adil itu namun di sisi lain juga menunjukkan sisi yang mengerikan dari kekejian dan ketakutan manusia dalam situasi perang.

Selain menarik dan tentu saja meyakinkan, pola naratif pada Semua untuk Hindia juga terasa lekat pada Sang Raja. Hal itu paling tidak terlihat pada dua hal, pertama kedudukan posisi pencerita Filipus Rechterhand, seorang Belanda totok yang bekerja sebagai akuntan bersama Poolman, akuntan senior Belanda totok yang lain untuk Nitisemito Si Pribumi.  Kedua, pada isu-isu yang muncul sebagai respon atas kejadian dan peristiwa yang terjadi di atas tanah jajahan. 

Sudut pandang pencerita semacam apa yang telah dicoba pada Semua untuk Hindia dan berbagai isu peristiwa yang terjadi pada era itu menjadi modal yang cukup untuk memberikan gambaran bahwa sejarah dalam perspektif penjajah bukanlah barang baru di tangan Iksaka Banu. Saudara dapat saja menemukan irisan peristiwa dan konflik tokoh yang sama baik pada Semua untuk Hindia maupun Sang Raja. Sebagai contoh, kegelisahan kejiwaan pada pencerita dalam cerpen Bintang Jatuh dalam melihat pembantaian etnis Tionghoa di Batavia atau kerusuhan besar di Banten sebagai bentuk pemberontakan terhadap Belanda. Pada Sang Raja muncul kembali sebagai kekhawatiran Filipus dan Poolman ketika kenaikan cukai rokok yang dapat secara serius membuat pabrik rokok tutup dan membuat 8000 karyawannya mengamuk dan melakukan pembantaian terhadap Belanda. Atau pada analisa terhadap keributan yang terjadi akibat pergesekan kepentingan antara golongan Belanda, etnis Cina, dan Pribumi.

Pola-pola "aku" yang Belanda diselamatkan oleh pribumi sebagai kondisi yang ironis pada beberapa cerita Semua untuk Hindia juga muncul dalam Sang Raja. Misal ketika peristiwa kedatangan Jepang yang membuat semua orang Belanda ditawan dan dihabisi, Filipus Si Belanda yang beristri Walini perempuan pribumi setelah mengalami pemenjaraan dan perlakuan buruk, nasibnya sepenuhnya tergantung pada perlindungan orang Pribumi. Situasi ironi ini juga tergambar ketika Belanda mengalami kekalahan besar semasa pendudukan Jerman dan justru disumbang oleh orang-orang pribumi di tanah jajahannya, adapun plang yang tertulis 'Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk' masih menggantung di berbagai lokasi.

Berikut dialog Poolman dan Filipus:

Dalam soal pendudukan Belanda oleh Jerman ini tampaknya para Bumiputra tulus bersimpati pada kita." ... "Coba baca koran hari ini. Jumlah penggalangan dana sukarela dari berbagai daerah Hindia mencapai f. 572.000 termasuk sumbangan dari Mangkoenagara dan Susuhunan Pakoeboewana XI, masing-masing sejumlah f. 15.000." "... sementara di depan pintu kolam renang dan beberapa taman kota, papan bertuliskan 'Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk' masih tetap terpancang," sahutku. "Tidak heran di Volksraad mereka berulang kali minta kejelasan hari depan yang lebih bermartabat. ("Sangkur dan Sepatu Larsa", hlm. 274)

Tokoh Belanda totok seperti Filip tapi mengambil posisi keberpihakan pada pribumi tentu tidak lagi terlalu asing bagi pembaca Pramoedya. Namun  yang menjadi menarik adalah selain posisinya yang justru menjadi pekerja orang pribumi, dalam cerita memberikan gambaran yang lebih berjarak terhadap keberadaan seorang tokoh Nitisemito, alih-alih memberikan puja-puji yang berlebihan.

Melihat kecenderungan kesamaan atau pengulangan pola penceritaan semisal dalam persoalan perspektif dan penekanan terhadap peristiwa-peristiwa sejarah, tentu tidak bisa dengan singkat disimpulkan bahwa Iksaka Banu tidak memberikan gambaran kemajuan semisal pada soal teknik. Atau simpulan pada lain hal, seperti tokoh Nitisemito hanya dipinjam untuk memberikan gambaran terkait sisi lain pribumi pengusaha yang ternyata dapat menjadi tuan atas bangsa Belanda sebagai penjajah. Tentu saja ini perlu menjadi salah satu posisi pembacaan yang penting atas Sang Raja.

Peminjaman sosok itu pula yang kemudian memberikan gambaran terkait orang-orang yang mengambil sisi aman dalam pergerakan yang penuh resiko namun memberikan sumbangan lain dalam kerja dagang, dalam arti yang tidak sepenuhnya kapitalistik.

Kerja dagang, sebagaimana Pramoedya tekankan pula pada tiap karyanya, adalah bentuk kedaulatan dan upaya manusia yang merdeka.

Di sanalah kemudian yang menjadi cikal bakal semangat pribumi yang berdaulat dan memiliki kehendak untuk tidak bergantung, seperti kemudian yang menjadi inti dari kemunculan Sarekat Dagang Islam.

Dalam tahap ini kiranya perspektif Iksaka Banu dalam mendudukan sejarah dapat dilihat dalam empat rumusan. Pertama, Kolonialisme bagaimanapun sama sekali tidak berwajah tunggal. Kedua, kehadiran narasi orang-orang di luar dari tokoh utama penceritaan untuk kemudian menceritakan pengalaman dirinya sebagai kesaksian merupakan bagian yang tidak kalah penting dalam memberikan suara atas suatu peristiwa. Ketiga, betapa pun sejarah merupakan rangkaian kejadian yang satu sama lain saling terkait dan berpengaruh besar dalam mendefiniskan identitas kebangsaan, dan keempat, relasi antara penjajah dan terjajah tidak selalu dikotomis.

Ragam Wajah Kolonialisme dan Gambaran Mengenai Nitisemito

Menggunakan alur mundur, novel Sang Raja diawali dengan cerita prosesi pemakaman Nitisemito melalui sudut pandang pencerita tokoh wartawan bernama Bardiman yang tertarik untuk menuliskan Riwayat Nitisemito Si Raja Kretek. Sebagaimana untuk selanjutnya, Nitisemito dengan segala macam keutamaannya tidak muncul sebagai tokoh utama dalam perspektif naratif, entah diposisikan sebagai narator, maupun sebagai pusat penceritaan. Gambaran mengenai Nitisemito lebih muncul sebagaimana ia dibicarakan sebagai tuturan yang tidak bisa dikatakan mendalam. Namun lebih sebagai sisipan pada paparan kisah hidup pribadi yang dituturkan bergantian hingga akhir cerita secara tertib oleh dua tokoh pencerita, Filipus Rechterhand dan Wirosoeseno.

"Aku bukan orang Jawa," Filipus menahan senyum. "Aku orang Belanda totok yang pada suatu hari di masa mudaku membantu seorang pria Jawa mwmbuat boneka opas bodoh mengayuh sepeda sambil merokok." ("Panggilan Darah", 294)

Tuturan kedua tokoh ini alih-alih menceritakan secara heroik tokoh nan agung Nitisemito justru memberikan peluang untuk menceritakan diri si pencerita. Fillipus, Belanda totok mewakili dua wajah kolonialisme: sebagai Eropa dan sebagai seorang yang atas kesadarannya sendiri memilih untuk bersimpati dan beristri dengan seorang pribumi Walini. Di sisi lain, Wirosoeseno mewakili pandangan pribumi terdidik yang justru menolak untuk menjadi pejabat dan lebih memilih untuk menjadi pekerja di Bal Tiga. Tentu saja, tidak sulit untuk mencari kutipan berharga dalam Sang Raja terkait persoalan identitas ini.

Melalui kedua pencerita ini pula, perjalanan pengeloaan NV Nitisemito dengan berbagai kendala yang dihadapinya dikisahkan. Dimulai dari persoalan pengelolaan dan bisnis perusahaan yang setelah kukuh memperjuangkan keberlangsungan usahanya hingga harus menemui kenyataan kehancuran bertahap; kemunculan pesaing, kenaikan harga cengkeh, cukai, tekanan standar perusahaan dari penguasa, resesi ekonomi, desas-desus gosip perilaku Nitisemito dengan Karmain dan persoalan keluarga, hingga perseteruan Akoean dan Karmain dalam menjaga keberlangsungan pabrik. Kisah mengenai NV Nitisemito itu dibalut dalam situasi persilangan zaman dalam sejarah seperti persoalan-persoalan kolonialisme, identitas hingga gerakan organisasi kemerdekaan yang konon juga terkait dengan Nitisemito sebagai orang pribumi terkaya pada saat itu.

"Pemerintah sudah sejak lama memasang mata kepadanya... Seorang bumiputra yang bisa mempekerjakan 8000 pegawai tentu akan dianggap punya pengaruh cukup besar. Apalagi ia dekat dengan beberapa organisasi daerah. Sarikat Islam, Mohamadijah. Semua tingkah laku Nitisemito tidak akan luput dari incaran PID atau veldpolitie". Sekali saja ia melawan hukum, tamatlah riwayat pabrik itu." (hlm. 159)

"Di ruangan itu aku melihat sendiri bagaimana Nitisemito... atasanku di pabrik ini... ternyata masih harus duduk di lantai. Beruluk sembah kepada para hakim Belanda. Sementara Aku, orang yang ikut bekerja di kantornya, boleh duduk di kursi saksi. Hal-hal semacam ini kadang membuatku berpikir, apakah Timur dan Barat selamanya harus berjarak?" (hlm. 160)

Pada Filipus, gambaran mengenai keutamaan Nitisemito, sebagaimana telah disinggung pada bagian awal ulasan ini, muncul lebih sebagai dua wajah kolonialisme. Sebagaimana Belanda, Filipus tidak dapat terlepas dalam posisinya sebagai pihak yang lebih memiliki derajat dalam situasi kolonial. Namun di saat yang sama perubahan kesadaran dan kedekatannya dengan orang-orang pribumi dan pandangannya yang bersimpati mewujud sebagai wajah kolonial yang penuh etis. Di sisi lain, pandangan-pandangan khas kolonialisme meskipun tampaknya ironi, muncul lebih kuat pada Poolman, kepala Akuntan yang juga bekerja untuk Nitisemito yang barangkali hanya oleh karena motif ekonomi, untuk kemudian mau mengambil peran dalam perusahaan besar yang dimiliki pribumi. Pandangan-pandangan Poolman, masih terlampau berpikir sebagaimana orang kulit putih berposisi di atas tanah jajahan.

Adapun penggambaran Nitisemito berdasarkan pandangan Wirosoeseno adalah sebagai berikut:

Bukan hal aneh pula melihat orang kulit putih mencak-mencak memberi perintah di toko atau kantor yang dipimpinnya. Tetapi baru kali ini aku menyaksikan salah seorang dari mereka sebagai karyawan biasa di pabrik besar milik seorang bumiputra. Di kemudian hari, secara pribadi aku mengenang saat itu sebagai suatu kebanggaan. Bangga bahwa sekali dalam hidup, di masa kolonial, aku pernah bekerja di pabrik milik seorang pribumi yang dihormati oleh banyak orang termasuk warga Belanda. ("Sebuah Kerajaan di Kudus", hlm. 93)

Aku terharu. Beliau tokoh besar, dan memang sangat sulit ditemui orang luar. Beberapa koran bahkan menulis dengan sinis bahwa menemui Gubernur Jenderal jauh lebih mudah dibandingkan menemui Pak Niti. Tetapi aku bersaksi, bahwa beliau sangat dekat dengan para karyawan. Bahkan cukup hafal lebih dari 30 orang nama karyawannya. ("Pernikahan dan Penangkapan", hlm. 205)

Nitisemito tidaklah lain adalah tokoh besar yang memberi gambaran penting sebagai 'Pahlawan Pribumi' yang mampu berkehendak dan merdeka, menjadi sumber penghidupan atas rakyat yang tidak lagi bergantung pada belas kasih penjajah, dan bahkan menjadi penguasa atas orang-orang kulit putih.

Di saat yang sama Wirosoeseno tidak menampik bahwa Filipus adalah salah satu tempat utama dalam mengambil berbagai pengetahuan dari apa yang tidak dipahaminya. Persahabatan Filipus dan Wirososeno adalah situasi yang janggal namun tidak mustahil dalam relasi ideal sebagai yang dibayangkan--yang seharusnya terjadi antara kulit putih dan pribumi.

 

Pahlawan dan Hal yang Tidak Selesai

Akhir kisah ditutup dengan alur mundur pada pertemuan Filipus dan Wirosoeseno. Dalam situasi yang romantik setelah serangkaian kejadian paling menentukan dalam sejarah republik tepat di suatu tempat yang sama seperti mereka memulai menapaki karir di NV Nitisemito, namun tetap menyisakan situasi yang sarat akan jarak. Pemahaman mereka terhadap Nitisemito serasa tidak pernah utuh meskipun segenap kisah yang mereka alami dan ketahui tentang Nitisemito sudah diceritakan kepada Wartawan Bardiman. Hal-hal yang menjadi soal seperti hubungan antara Nitisemito dengan pergerakan (Soekarno dan Sarekat Islam) adalah hal-hal yang barangkali tidak pernah benar-benar juga terungkap dalam sejarah. Sebagaimana Filipus dan Wirososeno, di sanalah penulisan sejarah terkait tokoh tidak akan benar-benar selesai untuk dapat dipahami oleh pengarang alih-alih menyebutnya sebagai kelemahan pengisahan.

Pengisahan yang serba bias dan tidak cukup tentu saja terkait dengan apa yang telah disinggung pada pengantar dalam tulisan ini. Oleh karena itulah, pengoleksian material dan data otentik bagaimanapun perlu diuji. Sebagaimana proyek sejarah, pengetahuan terhadap tokoh, belum lagi jika ia dihadapkan pada perspektif naratif pengarang, akan mendatangkan hal yang sarat tegangan. Pengarang tentu tidak dapat dilarang untuk menghadirkan perspektif pencerita, jadi masalah apabila kemudian perspektif pencerita menjadi lebih dominan daripada tokoh itu sendiri. Jika kemudian biografi itu ditampilkan sebagai novel, saya tentu yakin pengarang tahu bahwa sastra bukanlah alat untuk mengelak, sebagaimana seorang sejarawan yang tidak dapat mengelak untuk tekun dalam memahami arsip dan menuliskan tokoh dalam sejarah. (*)

Gilang Saputro

Gilang Saputro. Lahir di Bogor 1987. Seorang pembaca buku dan pengulas buku.