Baca tema bulan ini: Retrospektif

Vabyo: Menulis, Mengingatkan

oleh Abduraafi Andrian

27 November 2017 Durasi: 4 Menit
Vabyo: Menulis, Mengingatkan Ilustrasi: Yulia Saraswati

"Kisah nyata seorang penulis yang menjadi TKI." Itulah slogan Kedai 1001 Mimpi, buku yang menanjakkan karier kepenulisan Valiant Budi. Melalui buku itu, ia bercerita tentang pengalamannya tinggal di Dammam, Arab Saudi. Sebagai pegawai kedai kopi dan melayani beragam jenis orang, ia mengalami hal-hal tak terduga bak negeri dongeng.

Vabyo, begitu kerap ia dipanggil, menerbitkan Forgotten Colors pada Agustus lalu. Kami berkesempatan berbincang dengan Vabyo tentang karya terbarunya sebagai terapi melawan penyakit strok, kenangannya selama tinggal di Arab Saudi, dan bacaan favoritnya. Vabyo juga memberikan bocoran perihal proyek bukunya ke depannya.

Halo Vabyo! Apa kabar? Melalui tagar #VBrecoverydiary di media sosial, Vabyo menceritakan kisah diri dengan strok yang menjangkitimu. Postingan mana yang paling berarti buatmu?

Halo juga Raafi. Kabar alhamdulillah, masih ingat diri! Postingan pertama, tentang strok yang memberikan saya banyak mimpi buruk, tapi menunjukkan orang-orang berhati baik kepada saya.

Dengan membuka diri, saya juga jadi terhubung dengan para penyintas strok di berbagai belahan bumi. Kami berdiskusi dengan keanehan-keanehan yang ada di kepala kami. Keanehan yang hanya dapat dipahami bila mengalami sendiri. Dengan berbagi, kami diam-diam saling menguatkan.

Ketika sakit, Vabyo masih bisa berkarya melalui Forgotten Colors. Menulis sebagai terapi, bagaimana mungkin?

Mungkin saja. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan otak saya. Kenapa saat itu banyak kenangan hilang. Saat memori mulai terhubung, saya kembali belajar menulis, mencoba satu hari satu halaman.

Diawali dengan menulis keresahan. Atau sekedar menulis angka-angka hasil pemeriksaan tensimeter. Lambat laun, tulisan menjadi sarana penyembuhan. Saat sedang lupa, tulisan kembali mengingatkan siapa saya—apa yang telah terjadi dengan saya.

Pada bagian akhir Forgotten Colors, Arka—tokoh utama yang menderita strok—menulis surat kepada ayahnya. Kalimat terakhirnya berbunyi, "Aku ingin mati dalam perjuangan, bukan pengkhianatan." Apa yang ingin kamu sampaikan melalui tokoh Arka?

Saya seringkali terlena dengan hal-hal dangkal, membela sesuatu yang ternyata hanya kesia-siaan belaka. Kesadaran ini bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah sesuatu atau seseorang yang sedang kita cintai ini memang layak kita perjuangkan?

Dulu saya sering berseloroh ingin menghilangkan kenangan buruk, Tuhan 'mengabulkan' hal itu lewat serangan strok. Saya jadi belajar untuk lebih menerima kenangan buruk, yang berimbas menghargai kenangan baik.

Bisa ceritakan tentang proyek bertajuk Reimagining Forgotten Colors?

Reimagining Forgotten Colors adalah kolaborasi saya dan pembaca Forgotten Colors. Pembaca buku punya interpretasi masing-masing terhadap buku yang dibacanya. Wajah Arka di benak saya akan beda dengan wajah Arka di benakmu, kan.

Itu yang ingin saya rayakan di pameran ini, kekayaan imajinasi. Jadi dalam Reimagining Forgotten Colors, teman-teman bisa melihat Forgotten Colors dalam dunia berbeda.

Vabyo sudah menceritakan pengalaman tinggal di Arab Saudi dalam dua buku, Kedai 1001 Mimpi dan Kedai 1002 Mimpi. Bila diminta menggambarkan Arab Saudi dalam satu kata, kata apa itu?

Kejutan. Sebagai jemaah (umroh) dan sebagai TKI, kejutannya beda-beda. Andai diberi kesempatan, saya ingin datang lagi ke Arab Saudi sebagai majikan, sebagai sudut pandang baru.

Awalnya, Vabyo berniat untuk menulis buku traveling ke negara-negara Timur Tengah namun berakhir dengan "ngendon" jadi pekerja di Dammam, Arab Saudi. Kenapa tetap memutuskan untuk pergi? Ingin cari tahu lebih jauh tentang TKI di Arab Saudi?

Saat itu jiwa masih sangat menggebu-gebu. Begitu lulus kuliah, ingin kabur dari rumah; ingin menulis buku yang (saat itu) tidak pasaran.

Saat wawancara kerja, mereka sudah tahu kalau saya penulis. Mereka mengizinkan niat saya yang ingin  jalan-jalan ke negeri timur tengah itu. Jadi ya saya nekad pergi sebagai TKI, yang kemudian sesampainya di sana baru menyadari banyak hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan dan kontrak.

Tapi tidak menyesal, saya jadi banyak belajar.

Kedai 1001 Mimpi menceritakan kisah pahlawan devisa di Arab Saudi. Apa pandanganmu terhadap TKI secara umum?

Pekerja multitalenta bermental baja. Saya berharap semoga semua TKI yang dikirimkan sudah dibekali mental dan pengetahuan yang memadai, dari segi etika dan hukum.

Setelah lebih dari enam tahun Kedai 1001 Mimpi diterbitkan, apa masih ada yang "mengganggu" Vabyo terkait TKI dan Arab Saudi?

Masih ada, sih. Biasanya dari mereka yang baru tahu keberadaan buku ini—tanpa mau membaca utuh. Tapi kini saya sudah tidak mengizinkan diri untuk terganggu mereka. Dulu saya meluangkan waktu untuk membalas pesan-pesan kebencian.

Tapi kemudian saya menyadari, kebanyakan dari mereka hanya senang berbuat onar di media sosial, seperti butuh pelampiasan emosi akan hidup mereka yang tidak menyenangkan. Jadi, silahkeun sibuk sendiri saja.

Ada keinginan untuk cetak ulang Kedai 1001 Mimpi dan Kedai 1002 Mimpi? Sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya.

Keinginan itu ada. Jadi, saat ini saya sedang bekerja sama dengan seorang translator untuk menerjemahkan Kedai 1001 Mimpi ke dalam bahasa Inggris. Saya tidak punya target kalau buku ini akan terbit kapan, bisa 2018 atau 2020.

Saat ini pembaca bisa dengan mudah baca buku Kedai 1001 Mimpi dalam wujud e-book di gadget masing-masing.

Vabyo menyebut-nyebut The Da Vinci Code dalam Kedai 1001 Mimpi. Adakah buku lain yang Vabyo baca selama di Dammam?

Tidak banyak yang saya ingat; yang sering dibaca saat itu adalah buku-buku tentang kopi, buku panduan barista, dan berbagai artikel hukum tenaga kerja Arab Saudi. Saat itu lagi sibuk cari celah kabur, sih!

Sejak kapan tinggal di Ubud, Bali? Bisa ceritakan kepindahanmu ke sana?

Sejak 2014. Awalnya kabur karena di Bandung banyak teror mengganggu itu. Niatnya cuma tinggal 2 minggu, perpanjang jadi 2 bulan, tau-tau sekarang sudah 3 tahun 3 bulan.

Siapa tokoh panutan Vabyo?

Ibu. Lagi susah pun, beliau tetap bantu orang. Kalau putus asa dan berkeinginan melenyapkan diri, saya ingat-ingat perjuangan Ibu menghidupi kami.

Kalau bacaan yang amat memengaruhi hidup Vabyo, adakah?

Tintin, komik Hergé ini cikal bakal kenapa saya tergila-gila dengan negeri timur tengah. Lalu, Lima Sekawan karya Enid Blyton menghidupkan arwah detektif dalam jiwa bocah saya.

Satu lagi, Majalah Bobo. Karya tulis pertama saya dimuat di Majalah Bobo, tahun 1989, pengalaman main petak umpet yang dicurangi perut sendiri.

Karya tulis pertama Valiant Budi.
Karya tulis pertama Valiant Budi (dok. Twitter @weky)

Sebagai seorang penulis, apa hal yang masih belum Vabyo capai?

Ingin menciptakan bahasa baru—dilengkapi aturan yang mudah dimengerti.

Apa arti perjuangan bagi Vabyo?

Berarti memperpanjang hidup dan sebisa mungkin tidak (terlalu) menyusahkan orang lain. Kalau kita meninggal, sudah pasti merepotkan orang lain, kan. Sebisa mungkin hidup jangan terlalu bikin ribet. Semoga bisa!

Abduraafi Andrian

Abduraafi Andrian. Editor Fiksi Populer di Jurnal Ruang. Pencandu buku dan pegiat komunitas. Jeda kegiatannya diisi dengan menuliskan pengalaman membaca melalui ulasan di blog bukunya.