Baca tema bulan ini: Retrospektif

Jejak Seniman di Pasar Senen

oleh Gunawan Wibisono

28 November 2017 Durasi: 3 Menit
Jejak Seniman di Pasar Senen Buku Keajaiban di Pasar Senen diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Jaya pada 1971.

Yogyakarta pernah melahirkan gerombolan penyair muda bernama Persada Studi Klub (PSK). Mereka menggelandang di seputaran Jalan Malioboro pada dekade akhir 1960-an hingga 1970-an. Meski kini telah mati, jejak-tapaknya telah menyejarah dalam jagat sastra Yogyakarta, bahkan mungkin Indonesia, karena setidaknya PSK telah menelurkan nama-nama, seperti Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, hingga Emha Ainun Najib yang sampai hari ini masih setia mengakrabi sastra.

Tidak jauh berbeda dengan Malioboro, Pasar Senen di Jakarta pula demikian. Kita jangan hanya melihat Pasar Senen sebagai terminal, stasiun atau tempat strategis untuk mengubek-ubek pakaian bekas. Lebih dari itu, Pasar Senen memiliki riwayat penting ihwal ruang publik di jantung metropolitan. Sutradara sekaligus penulis skenario film, Misbach Yusa Biran, mengabadikannya dengan apik lewat buku Keajaiban di Pasar Senen.

Buku ini berisi tujuh belas cerita tentang kenangan-kenangan absurd Biran di Pasar Senen. Keabsurdan ini berkisar tentang para seniman yang hidupnya pontang-panting tak keruan; tentang warung nasi padang, kedai kopi, tukang kue putu, kios buah dingin, hingga pengkolan tempat mangkal oplet era 1950-an. Biran menceritakannya dengan gaya bahasa yang sederhana, bernuansa karikatural, sarat banyolan, sehingga menyenangkan untuk dibaca.

Cerita-cerita yang termaktub dalam buku ini kali pertama tampil di majalah Aneka sekitar tahun 1957-1959. Kemudian pada 1971, kompilasi cerita ini dibukukan oleh penerbit anyar milik penyair Ajip Rosidi kala itu, Pustaka Jaya.

Seniman yang Konyol

Cerita Keajaiban di Pasar Senen membuka tabir pada buku setebal 177 halaman ini. Mengisahkan Asmar, seorang yang katanya seniman. Dengan gaya karikatural, Biran mendeskripsikan Asmar sebagai sosok kurus yang sedang murung. Ia sedang duduk termangu dekat tukang kue putu sembari menahan lapar dan menunggu keajaiban.

Keajaiban yang ditunggu Asmar hanya sederhana: seseorang memberinya sedikit uang untuk makan. Anehnya, ia percaya itu akan terjadi. Seperti sebuah firasat. Dari membaca cerita pertama saja, saya seperti telah menemukan roh buku ini serta korelasi antara seniman, proses berkesenian, lingkungan hingga pendapatan yang dibungkus menjadi formula cerita yang jenaka.

Cerita selanjutnya mengenai Ismet, si pengarang cerita pendek yang cukup beruntung memiliki kekasih. Sebab, kebanyakan gadis-gadis pada saat itu telah paham bahwa biasanya seniman jarang punya uang. Di sini Biran masih usil berkisah seputar seniman dan isi dompetnya yang selalu saja melompong. Biran bersama kawan-kawannya lalu menjebak redaktur majalah agar bisa memberikan uang honorarium sebelum cerpen Ismet dimuat. Biran terlihat sangat lihai mengatur porsi humor dalam tiap cerita.

Neen, maar ikke sering baca anekdot tentang seniman-seniman dari majalah-majalah” (halaman 22).

Suasana tahun 1950-an mengemuka sangat kental pada cerita Nanggap Seniman. Kisahnya soal Mince, noni Belanda yang masih punya hubungan darah dengan Biran. Suatu ketika, ia ingin mengadakan pesta dengan kawan-kawan Belandanya dan mengundang seniman. Tapi anehnya, seniman bagi mereka adalah seperti boneka yang bisa dijadikan objek tertawaan, karena berpenampilan lucu, kumal, dan kere.

Andaikata Jumpa Pacar Saya, Tolonglah!, dan Lukisan Abstrak dan Batu Cincin boleh dibilang cerita paling kocak sekaligus cerdas dari sekujur buku ini. Bagaimana mungkin seorang tukang cukur rambut ingin beralih profesi menjadi seniman? Tidak tanggung-tanggung, Biran pun dijadikan sebagai kelinci percobaan dari proyek eksperimentasinya sebagai seniman tukang cukur rambut. Hal ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh seniman pada orang-orang di sekitaran Pasar Senen saat itu.

Begitu pula dengan Rebin, si pelukis abstrak yang karyanya diolok-olok oleh pelukis lainnya dengan cara dipasang terbalik saat pameran. Namun, siapa sangka, keajaiban ternyata berpihak kepada Rebin. Lukisan abstraknya yang dipasang terbalik itu justru dianggap bagus oleh pengunjung pameran dan laku dengan harga mahal. Ajaibnya lagi, dari peristiwa itu, Rebin justru pulang kampung dan menjadi tukang batu cincin. Ia pensiun dini dari dunia melukis abstrak. Kecerdasan humor yang dibangun Biran sungguh memikat.

Para seniman di Pasar Senen suka sekali minum kopi. Sampai-sampai ada yang sakit perut karena kebanyakan minum kopi.

Syahdan, dua cerita berjudul Roby Alias Ibnu Saad dan Nandi, Pengabdi Seni Drama dan Nasihat untuk Para Seniman masih mengambil sudut pandang seni dan ekonomi. Roby digambarkan sebagai pecinta seni yang hendak melakukan kerja sama dengan seniman drama di Pasar Senen, Nandi.

Biran kali ini tidak sedang memelas nasib para seniman. Justru sebaliknya, Biran sedang menampilkan dimensi heroik para seniman sembari melontarkan sindiran kepada para pelaku seni sekaligus penguasa kala itu. Mengingat kehidupan sandiwara tahun 1950-an sedang kembang-kempis dan sering direcoki oleh kepentingan lain dengan dalih bencana alam, kegiatan sosial, hingga pembebasan Irian Barat.

“Kita pertunjukkan cerita yang bernilai seni, tapi yang bisa dimengerti oleh penonton kita. Kita bisa mengabdi seni, tapi jangan kita jadi melarat karenanya. Pertunjukan kita ini untuk amal” (halaman 38).

Potret Ruang Publik

Pasar Senen sejatinya memiliki histori sebagai ruang publik yang kaya akan peran, mulai dari ekonomi, sosial, seni, dan budaya. Pada era pra-kemerdekaan sekitar tahun 1930-an, para intelektual muda seperti Adam Malik, Chairul Saleh, Mohammad Hatta, hingga Soekarno sering kongko-kongko di kawasan Pasar Senen. Sementara dari kongsi sastrawan, nama-nama Ajip Rosidi, Wim Umboh, Soekarno M. Noor kerap dijuluki sebagai ‘Seniman Senen’.

Kehadiran buku Keajaiban di Pasar Senen menjadi penuh makna bukan karena sebagai ikhtiar menertawakan diri sendiri semata, tapi juga memperlihatkan salah satu fase ruang publik Pasar Senen. Cerita-cerita sederhana yang dipotret oleh Misbach Yusa Biran pun menjadi catatan penting bahwa Pasar Senen menyimpan rekam jejak tumbuh kembangnya dunia seni Indonesia sejak tahun 1950-an. Rasanya tak berlebihan jika Seno Gumira Ajidarma menilai buku ini sebagai dokumen sosial yang masih akan terus berjasa sebagai sumber pengetahuan di masa-masa mendatang. 

Tak heran juga jika sutradara besar almarhum Usmar Ismail pernah mengusahakan lantai II Gedung Sarinah, Jakarta untuk menjadi semacam ‘Pasar Senen bagi seniman. Bahkan, mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin dulu bermaksud menjadikan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai tempat kumpulnya kembali para seniman Senen.

Upaya-upaya tersebut terjadi pada pasca era 1970-an, ketika para seniman menghilang dari Pasar Senen yang sudah menjelma menjadi kawasan perdagangan dan hiburan. Semua upaya yang muskil terjadi karena memang barangkali keajaiban itu hanya muncul sekali.(*)


 

Keajaiban di Pasar Senen
Misbach Yusa Biran
Kepustakaan Populer Gramedia
2008

Gunawan Wibisono

Gunawan Wibisono. Menulis ulasan dan esai. Karya-karyanya tersebar di media cetak maupun daring. Bermukim di Solo. Saat ini sedang menempuh studi master bidang sosiologi.