Baca tema bulan ini: Retrospektif

Pahlawan Menulis Mahfud Ikhwan

oleh Wa Ode Wulan Ratna

29 November 2017 Durasi: 9 Menit
Pahlawan Menulis Mahfud Ikhwan Ayah adalah sosok pahlawan, yang di masa kecilnya memperkenalkannya banyak cerita. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

“Api dilahirkan oleh Api. Kita tak dapat menyalakan obor dengan memasukkannya ke tumpukan abu yang dingin.” 

Kutipan Bibhutibhushan Banerji, Pater Pancali  tersebut merupakan kutipan favorit Mahfud Ikhwan, pemuda kelahiran Lamongan, 7 Mei 1980. Tentu masih segar dalam ingatan kita, ia baru saja meraih penghargaan sebagai penulis prosa terbaik 2017 versi Kusasa Sastra Khatulistiwa atas novelnya yang berjudul Dawuk. Jurnal Ruang pun menghubunginya via surel untuk bisa berbincang-bincang soal karya dan proses kreatifnya tersebut, terutama orang-orang dan karya-karya yang menginspirasinya. Penulis  Ulid (novel), Lari, Gung! Lari! (novel), Kambing dan Hujan (novel), Belajar Mencintai Kambing (novel), Aku dan Fim India Melawan Dunia (kumpulan esai film, 2 jilid) tampak sangat bersemangat ketika dihubungi Jurnal Ruang. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya dari kecil hingga saat ini dan sosok pahlawan yang menguatkannya untuk menulis. Tidak bisa tidak, kenangan akan masa lalunya, dan perjalanan yang pernah dilewatinya membuatnya lebih dikenal sebagai penulis meski mungkin ia tidak pernah mencita-citakannya. Berikut perbincangan Mahfud Ikhwan dengan Jurnal Ruang:

 

Sejak kapan mulai menulis?

Saya baru memulai menulis ketika menjadi mahasiswa Sastra Indonesia di UGM. Itu pun tidak sejak awal. Artinya, bukan karena saya ingin jadi penulis dan kemudian masuk Sastra Indonesia, melainkan sebaliknya, saya masuk Sastra Indonesia baru kemudian berpikir bahwa sebaiknya saya menulis.

Pada kisaran semester dua, saya menjadi bagian dari sebuah kelompok menulis kecil di fakultas. Itu kelompok kecil yang bersemangat, meskipun kalau diingat-ingat ya lucu. Kami membuat nama hebat untuk kelompok menulis itu: Akar Angin. Mungkin karena keberatan nama, umurnya pendek sekali.

Seperti semua orang yang ingin jadi penulis di zaman saya, saya memulai dengan cerita pendek. Mungkin karena saya tak bisa menulis puisi dan belum bisa membayangkan menulis novel, tapi juga karena cerpen tampak memiliki kemungkinan terpublikasi di koran dan mendapatkan honor. Ya, itu faktor penting lahirnya seorang penulis di akhir ‘90an saya kira. Oke, menjadi seperti Seno Gumira atau Jujur Prananto itu keren untuk mahasiswa sastra, tapi generasi kaliren macam kami—para remaja yang memulai masa-masa awal kuliahnya dalam kondisi ekonomi orangtua compang-camping dihajar krisis moneter—jauh lebih mengidealkan tidak kelaparan di akhir bulan. Motivasi yang sedikit agak keren yang bisa saya bagi di periode itu adalah: dengan uang yang mungkin bisa didapat dari menulis cerpen di koran, saya bisa membeli buku-buku kumpulan cerpen Wijaya Putu yang tebal-tebal dan berharga mahal itu.

 

Bisakah ceritakan bagaimana masa kecil Mas dan kapan mulai tertarik pada sastra?

Saya tumbuh di sebuah desa yang sangat terpencil, di mana buku bacaan bukan bagian yang dianggap penting. Sedikit beruntung bahwa bapak saya (saat itu) adalah seorang guru di sebuah sekolah agama sangat kecil di desa. Untuk ukuran seorang guru desa yang hanya lulusan SD, Bapak punya minat baca yang cukup baik. Tapi jangan bayangkan tentang rak dengan buku yang berderet-deret menempel dinding. Di lemarinya yang kecil, Bapak hanya menyimpan beberapa kitab tuanya yang berhuruf pegon, beberapa buku agama praktis yang di saat tertentu bisa dipakai membuat bahan ceramah tarawih, beberapa majalah tua, dan beberapa buku petunjuk mengajar yang tak terbaca. Cuma, di saat-saat tertentu, dengan kapasitasnya sebagai guru, Bapak kadang membawa pulang beberapa buku cerita sumbangan pemerintah untuk perpustakaan sekolah. Saya ingat, dari buku-buku jenis itulah saya mengenal nama macam Zawawi Imron atau Darto Singo. Tentu saja saya tak tahu—dan tak ada yang memberi tahu—kalau nama-nama itu adalah nama penulis terkenal.

Kenapa saya membaca buku-buku cerita itu, saya tidak tahu. Bapak tidak mendorongnya, sementara Ibu saya cukup lega kalau bacaan mengaji saya cukup lancar. Mungkin karena di saat yang sama, saya sangat menyukai sandiwara radio. Pasti karena faktor ini juga, saya sangat menyukai kisah para Rasul, baik dalam bentuk cerita polosan atau dalam bentuk komik (meskipun yang disebut belakangan ini sangat langka dan sulit didapat).

Minat saya atas sepakbola dan tontonan (nyaris apa pun) saya kira juga berperan untuk meningkatkan minat baca itu. Karena senang dengan sepakbola, saya akan memesan tabloid olahraga atau setidaknya koran Jawa Pos jika Bapak ada keperluan ke kota kecamatan. Kesenangan saya dengan tontonan, sementara itu, membuat saya senang menghapal judul film dan nama-nama artisnya. Saya suka sekali mencermati detil poster dan jadwal bioskop, meskipun baru saat kuliah di Jogja saya benar-benar masuk bioskop. Itu membuat banyak judul film dan nama artis yang saya hapal meskipun tak pernah menontonnya.

Di umur 10 tahun, seorang sepupu yang lebih tua mulai bekerja ikut kapal nelayan di pantura Jawa. Kira-kira dua mingguan sekali ia pulang. Ia membawa hal-hal baru yang asing, tapi stensilan berisi lirik-lirik lagu pop Indonesia dan novel-novel Freddy S. dan Eddy D. Iskandar adalah yang paling saya ingat. Saya mencuri-curi lihat, dan kalau ada kesempatan membacanya. Tapi karena tidak banyak judul yang dibawa sepupu saya, tentu saja novel-novel lucah itu segera tandas.   

Saat SMA, dengan mengecualikan buku-buku sejarah (jenis apa saja), kesenangan saya dengan buku-buku cerita melenyap. Namun, kesukaan saya dengan sepakbola malah menguat. Itu membuat saya jadi pembaca koran yang rakus. Saya juga memulai kebiasaan membeli tabloid olahraga bekas secara kiloan. Saya suka menggunting gambar para pemain sepakbola untuk ditempelkan di lemari pakaian dan di sampul buku-buku IPA yang tampilanya membosankan itu. Yang paling menyenangkan, saya bisa menghabiskan tabloid bekas kiloan itu secara borongan saat liburan panjang. Jika saat itu ada yang meminta saya menyebut dua klub sepakbola dari Norwegia yang paling terkenal, saya mungkin bisa memberinya nama seluruh klub yang bermain di Liga Norwegia.

Mungkin karena banyak baca tabloid olahraga itulah, nilai Penjaskes saya bagus. Dan, ya, tentu saja, Bahasa Indonesia. Tapi apakah dengan begitu saya mulai punya ketertarikan dengan sastra, atau sekadar mengenalnya, saya kira tidak. Saya masih ingat, di kelas 2 SMA, ketika guru Bahasa Indonesia meminta para siswa meminjam novel dari perpustakaan untuk tugas menulis resensi, saya malah membawa kumpulan cerpen dan saya tidak tahu kalau itu dua jenis buku yang berbeda. Ya, di periode yang kurang lebih sama, saya juga punya keinginan mengirim tulisan ke buletin sekolah. Tapi itu tampaknya lebih karena saya iri dengan seorang teman sekelas yang tulisannya tentang pramuka dimuat di edisi terbaru.

Setidaknya sampai usia 17, saya sama sekali belum terpikir untuk menulis, apalagi jadi penulis. Sebab, saya ingin jadi pelukis. Ketika di UMPTN saya mencentang jurusan Sastra Indonesia di pilihan ketiga, itu karena saya berpikir bahwa saya bisa belajar sejarah secara otodidak.

 

Buku apa saja yang menginspirasi Mas untuk menulis?

Ketika mulai menulis (cerpen), seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, saya hanya punya sangat sedikit buku. Sebagian besar buku-buku yang tidak banyak itu berharga murah dan biasanya berhalaman tipis, dan boleh jadi bukan jenis buku yang bagus untuk memulai belajar menulis. Meski begitu, di antara buku-buku tipis dan murah itu, saya sangat menyukai Menggenggam Petir-nya Yanusa Nugroho. Saya rasa, buku kumpulan cerpen kecil dengan sampul putih serupa komik itu mempengaruhi cerpen-cerpen awal saya. Demikian juga cerpen-cerpen Putu Wijaya yang terserak di kumpulan-kumpulan cerpennya yang berjudul pendek-pendek dan bukunya tebal-tebal itu (yang biasanya saya baca di perpustakaan Fakultas Sastra atau saya pinjam dari teman). Saya menyukai, dan sangat meniru (saya kira sampai sekarang) cara Putu menulis dialognya, yang pendek-pendek, beruntun, dan kadang berulang-ulang, sehingga tak lagi jelas siapa yang bicara. Namun, membaca Dilarang Mencintai Bunga-bunga-nya Kuntowijoyo, lalu novel Pasar (yang boleh jadi adalah novel Indonesia yang paling saya sukai), kemudian secara intensif mengkaji kumpulan cerpen Hampir Sebuah Subversi untuk tugas akhir, mengubah cara menulis saya untuk seterusnya.

Saya masih mengingat rasa “lapar” saya saat membaca Lapar-nya Knut Hamsun. Dataran Tortilla, juga beberapa novel Steinbeck lain, membuat saya terkekeh tak henti-henti saat pertama membacanya, dan masih terkekeh ketika membacanya lagi. Saya tak henti memaki—tentu karena ternganga—setiap bersentuhan dengan novel-novel Pram, terutama untuk Arok Dedes dan Arus Balik. Tapi momen “hidayah” itu datang ketika saya, diawali oleh niat iseng dan coba-coba, membawa pulang Pater Pancali, novel Bengali karya Banerji yang diterjemahkan Koesalah Soebagyo Toer, dari perpustakaan. Buku yang tampak tak terlalu berbeda dengan buku-buku spiritual tentang Sai Baba ini membuat saya merasa yakin saya bisa menulis novel.

Jadi, seperti pernah saya katakan di beberapa kesempatan, bagi kepenulisan saya, Koesalah lebih penting dibanding Pram.      

 

Siapa penulis yang sangat Mas kagumi dan mengapa?

Saya menyukai Kuntowijoyo karena kesederhanaannya dalam menulis. Ia menulis karya-karya sastranya dengan cara yang tidak terlalu berbeda dengan cara ia menulis esai-esai sejarahnya, artikel-artikel keislamannya. Dan bahkan dengan cara yang sama pula ia, sebagai seorang dosen, menulis modul dan silabus kuliahnya. Silakan baca Pengantar Ilmu Sejarah dan bandingkan, misalnya, dengan cerpen-cerpennya di Hampir Sebuah Subversi.

Kadang, saking sederhananya, ia cenderung ceroboh atau setidaknya gampangan dalam memilih diksi, tapi saya menyukainya. Dalam salah satu pengantar kumpulan cerpennya, ia menyebut soal metode thick description yang dipakainya untuk menulis cerpen. Metode yang dipinjamnya dari khazanah antropologi ini, menurutnya, digunakannya untuk menyiasati sastra koran yang terbatas ruangnya. Metode ini, menurut saya, menghasilkan cerpen-cerpen yang bernada mendongeng, dengan pembaca sebagai penyimaknya. Maka, entah disengaja atau tidak, metode thick description ini, menurut saya, membuat karya-karya Kunto lebih dekat dengan tradisi lisan kita.

Para fanatikus bahasa Indonesia mungkin akan menyebut karya-karya Kunto sangat tercemar struktur dan kosa-kata bahasa Jawa. Tapi bagi saya, itu membuat sastra Indonesia jadi lebih membumi, lebih mudah dipahami, dan yang terpenting lebih terasa dekat dengan masyarakatnya.

 

Siapa yang Mas anggap pahlawan yang menginspirasi untuk berkarya? Bisakah ceritakan pengalaman saat bersamanya?

Saya ingin menyebut Maradona dan Rhoma Irama, tapi sepertinya tidak cocok bagi tujuan pertanyaan ini. Lagipula, saya tentu saja tak punya pengalaman bersama dengan dua nama itu. Baiklah, meski terdengar klise, saya akan menyebut bapak saya.

Ia mungkin bukan teman mengobrol yang Anda idamkan, tapi ia pencerita yang tangguh. Dan jika Anda pendengar yang sabar, Anda akan mendapatkan yang terbaik darinya. Darinyalah saya mendapatkan kisah 25 Nabi dan Rasul secara lisan, nyaris semua episode dongeng kancil, dan beberapa anekdot kecil tentang orang-orang sakti.

Kata orang, ia dulu sempat jadi biduan orkes kampung kami. Saya tidak yakin, meski suaranya cukup baik saat tanpa sadar menirukan vokal A. Kadir dan di waktu kecil saya tahu ia menyimpan buku kecil berisi lirik-lirik lagu Melayu, dan sebuah harmonika. Ia memang suka musik, dan mengklaim tahu banyak tentangnya. Ia memuja OM Sinar Kemala dan tahu tentang sejarah berdirinya,  kejayaannya, dan perpecahannya, dan grup-grup orkes apa saja serta musisi dan penyanyi mana saja yang lahir darinya. Ia bilang pernah menonton konser Rita Sugiarto saat biduanita itu masih remaja. Ia bercerita, untuk mendapatkan Titiek Sandora, Muchsin Alatas mesti berkelahi dulu dengan Mus Mulyadi.

Ia bisa membuat papan-papan bergambar lambang Golkar dengan cat semprot sama baiknya dengan saat ia menulis papan nama masjid dengan cat kayu. Ia membuat gasing atau layang-layang sama halusnya dengan saat membuat ulegan sambal atau sendok sayur atau centong nasi. Ia mahir bikin keranjang, suka diminta tetangga atau famili untuk membuatkan gagang cangkul, sekaligus seorang tukang cukur amatiran. Pintu-pintu di rumah, beberapa meja-kursi-dipan, dan rak untuk buku-buku saya saat ini, ia buat sendiri. Ia bisa melakukan nyaris apa pun. Ia hanya tidak bisa melakukannya dengan cepat.

Ketika saya sedang mengembangkan tokoh bapak, atau lelaki dewasa, saya biasanya tak bisa melepaskan diri dari sosoknya. Di saat-saat yang dibutuhkan, kisah-kisah kecil yang pernah saya dengar darinya, bisa saja nyelonong ke cerita-cerita saya.

Saya menulis Dawuk secara manual, dengan buku tulis dan pulpen. Itu karena saya meniatkan menulis novel yang pendek.(Mahfud Ikhwan)

Bagaimana proses kreatif novel Dawuk?

Setelah menonton Machete (Robert Rodriguez, 2010), saya membuat review yang menggebu dan berpanjang-panjang tentang film itu, dan menyatakan di akhir tulisan—tentu dengan nada bercanda—bahwa saya akan menyiapkan sebuah novel tentang seorang residivis Madura yang memimpin sebuah pemberontakan para pendatang haram di Selat Malaka. Tentu saja itu sangat Machete. Namun, sampai bertahun-tahun kemudian, ide itu tetap masih berupa candaan untuk diri sendiri. Saya baru agak menyeriusi ide tentang Mat Dalil ini di akhir 2014, ketika saya sedikit mendapat kepastian bahwa novel kedua saya, Kambing dan Hujan, akan terbit.

Tapi Dawuk baru benar-benar saya kerjakan di pertengahan 2015. Saya nyaris setiap hari selama beberapa bulan nongkrong di Warung Kopi Blandongan, di daerah Sorowajan, tak jauh dari kampus UIN Sunan Kalijaga. Saya menulis Dawuk secara manual, dengan buku tulis dan pulpen. Itu karena saya meniatkan menulis novel yang pendek, yang bisa selesai ditulis dalam buku tulis seharga Rp14000, dan dikerjakan dalam waktu yang lebih singkat. Dan saya bertekad untuk menyelesaikan secara keseluruhan penulisan novel itu di buku tulis, baru setelah itu saya ketik di komputer. Pada akhirnya memang tidak benar-benar bisa seperti itu, tapi setidaknya mendekati. Dilihat dari bentuk final dan durasi pengerjaannya, Dawuk adalah novel yang pendek dan dikerjakan dalam waktu yang tak berlarut-larut.

Di sisi lain, mengerjakan Dawuk dengan tulis tangan membuat saya bisa lebih merasakan nuansa ‘80-an yang ingin saya reka ulang. Yang lebih penting, dan ini adalah tujuan penting saya secara teknis, menulis dengan tangan membuat saya bisa mendekatkan teknik naratif Dawuk dengan tradisi lisan yang hidup di masyarakat kita, yang masih bisa kita jumpai hidup di warung-warung kopi di seluruh Indonesia. Tokoh Warto Kemplung saya kopi-paste dari warung-warung kopi pinggir jalan di desa-desa di Pantura Jawa ke buku nyaris mentah-mentah.

 

Mengapa mengambil latar sosial pedesaan dalam novel tersebut?

Saya menulis apa yang saya tahu, saya pahami, dan saya kuasai. Sebagai orang desa, dan tampaknya masih akan seperti itu, menulis dengan latar pedesaan membuat saya mengurangi separuh kesulitan yang dialami banyak penulis fiksi, yaitu soal membangun latar (entah tempat atau sosial). Lagipula, fiksi kita saya rasa terlalu bercita-rasa urban—jika bukan tempatnya, ya cara berpikir tokoh-tokohnya, atau malah kadang sekadar nama tokoh-tokohnya. Saya ingin menawarkan sedikit variasi. Saya mau di fiksi kita ada pekerjaan macam petani bengkuang, pembakar gamping, pencuri kayu, mandor hutan, dst. Saya mau ada nama-nama tokoh macam Mif, Mahfud, Dul, Mat, Yati, Siti, Inayatun, yang tidak asing jika didengar orang Gresik atau Pamekasan.

Ini boleh dibaca sebagai semacam idealisme, tapi tak masalah juga kalau sekadar dianggap sebagai cara mencari ceruk pasar.    

 

Apa yang Mas pikirkan ketika novel Dawuk masuk nominasi dan dinobatkan sebagai pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017?

Saya menerbitkan Dawuk di penerbit kecil dengan oplah yang kecil, dengan catatan pemasaran yang tak terlalu dibanggakan oleh pemiliknya. Dan, saya sendiri adalah penulis dari buku-buku dengan rekor penjualan yang menyedihkan. Jadi, masuk nominasi sebuah ajang penghargaan, dalam hal ini Kusala Sastra Khatulistiwa, adalah hal yang bagus. Itu akan baik bagi buku tersebut. Jika setelah nominasi dan penobatan itu review yang memadai dan pembahasan yang lebih bernas belum juga didapat, setidaknya Dawuk jadi lebih banyak disebut orang. Orang-orang punya kesempatan lebih mendengar tentangnya dibanding sebelumnya. Kesempatan keterbacaannya jadi lebih terbuka—setidaknya saya harap begitu.

Yang tak kalah penting, dengan memenangi penghargaan macam Kusala, orang-orang di kampung saya di Lamongan jadi sedikit lebih tahu apa yang saya lakukan di Jogja. Jadi, saya tak perlu membuat penjelasan yang berpanjang-panjang lagi jika mereka mendapati saya liburan terlalu lama di kampung.

 

Buku-buku apa saja yang Mas baca saat akan menulis novel Dawuk? Apakah Mas terinspirasi dari karya lain?

Sejak awal saya meniatkan membuat novel pendek dengan alur cepat, kalau bisa triller. Saya mencoba mencari rasa triller ini dengan membaca karya-karya Stephen King, Frankenstein-nya Mary Shelley, Dr Jekyll & Mr Hyde-nya Stevenson, meskipun saya tak ingat apakah saya menyelesaikan buku-buku itu atau tidak. Saya membaca ulang beberapa seri Wiro Sableng untuk memberi sentuhan citarasa stensilan dan kesan jadul ‘80annya.

Meskipun mengacu pada sosok Machete yang dimainkan Danny Trejo di film, karakter Dawuk yang ancur-ancuran saya rasa juga berhutang kepada Pascual Duarte dari Keluarga Pascual Duarte-nya Camilo Jose Cela, salah satu novel favorit saya. Seorang paman yang mengoleksi seri Wiro Sableng di Dawuk saya cuil dari sedikit karakter Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta-nya Sepulveda, yang belakangan saya kapitalisasi untuk menawarkan naskah Dawuk ke penerbit yang kebetulan menerbitkan terjemahan Sepulveda—dan berhasil, hehe....

Saya tidak asing dengan renik-renik soal hutan jati Jawa, tapi saya merasa perlu membaca beberapa kajian tentang masyarakat pinggir hutan dan sejarah hutan Jawa. Untuk menyebut beberapa, saya baca Hutan Kaya Rakyat Melarat-nya Nancy Peluso, bersamaan dengan Perlawanan di Simpang Jalan dari Hery Santoso, juga kajian sejarah hutan Keresidenan Rembang dari Dr. Warto, Desa Hutan dalam Perubahan.

Mungkin agak kurang relevan untuk pertanyaan ini namun mesti saya sebut adalah film-film Vishal Bhardwaj, sutradara Bollywood yang paling saya ikuti karya-karyanya. Karakter-karakter gelap di filmnya, yang diadaptasinya dari tragedi-tragedi Shakespeare, bisa dengan mudah ditemukan pada beberapa tokoh di Dawuk.      

 

Banyak yang mengatakan membaca novel Dawuk terutama, mengingatkan kita akan karya-karya Kutowijoyo. Bagaimana pendapat Mas?

Saya rasa Modric atau Isco akan bangga jika dibandingkan dengan Zidane, bukan begitu bola mania?

Saya belajar menulis dengan buku-buku Kunto terbuka di depan saya, jadi, ya... sedikit berat, tapi tak apalah. Lagipula, itu lebih baik, karena penulis yang dibandingkan dengan Kunto tidak banyak, atau malah mungkin tidak ada. Saya ada di kerumunan kecil, dan itu tak terlalu buruk. Bandingkan jika dibandingkan dengan Seno, misalnya.

 

Proses apa yang paling membedakan penulisan novel Dawuk dengan Ulid dan Kambing dan Hujan?

Dawuk lebih berkesan main-main dibanding novel-novel saya sebelumnya. Saya lebih ingin bersenang-senang saat menulis Dawuk, dan memang itulah yang saya alami. Ulid, yang ditulis tak kurang dari enam tahun, sangat menghantui. Itu berat, sangat berat, untuk saya yang setiap hari mesti masuk kantor dari jam tujuh pagi hingga jam lima sore. Kambing dan Hujan lebih panjang lagi pengerjaannya, meskipun tak seintens Ulid. Selama bertahun-tahun saya bahkan berpikir kisah Mif dan Fauzia itu tak akan pernah jadi. Dawuk jauh lebih ringan. Seperti Warto Kemplung yang bercerita untuk mendapatkan rokok dan kopi, dan sedikit perhatian, saya rasa tujuan saya menulis Dawuk tak jauh-jauh amat dari hal macam itu.

 

Bagi Mas sendiri hal penting apa yang hendak Mas sampaikan dalam novel Dawuk?

Kita adalah bangsa yang menyimpan amarah. Dan sebagian besar amarah itu tak terjelaskan, tak memiliki cukup alasan dan sasaran. Mungkin karena hal-hal yang tak selesai di masa lalu, boleh jadi.

Dawuk adalah gambaran paling komplit tentang anomi, mulai dari fisik, perilakunya, hingga sejarah keluarganya. Ia buruk rupa, buruk perangai, dan asing. Dan karena itulah, sosok macam Dawuk menjadi kalangan yang paling rentan jadi sasaran. Jika tak sesempurna Dawuk untuk dijadikan sasaran kemarahan, maka si anomi akan disempurnakan dengan prasangka. Jika tak ada, maka ia diupayakan ada. Maka, pada akhirnya, tak penting benar apakah sosok Dawuk itu benar-benar buruk rupa, benar-benar kejam, dan benar-benar seasing itu, toh ia sudah dibayangkan sekomplit itu oleh kesadaran kolektif dari masyarakat yang menyasarnya.

Kemarahan dan prasangka tak punya agama. Dalam banyak kasus, agama boleh jadi malah menguatkannya. Sebab, dengan agama, kemarahan dan prasangka itu mendapat pembenarannya. Dan oleh karena itu, seperti bisa ditemukan di Dawuk, orang paling beragama di antara kita boleh jadi adalah orang yang paling buruk perangainya.

Hal lain yang ingin saya sampaikan adalah soal buruh migran. Buruh migran tak semata berkait dengan soal ekonomi, soal devisa. Fenomena migrasi berangkat dari dan punya implikasi sosial-budaya yang kompleks, sangat kompleks. Dan jangan dikira, masalah di tanah rantau hanya diderita oleh perempuan. Ya, perempuan adalah kalangan yang paling rentan terhadap penindasan dan kekerasan, tapi begitu juga jenis kelamin lain. Dan kasus-kasus kekerasan di kalangan buruh migran tidak semata berangkat dari relasi yang jomplang antara majikan dan buruh, tapi juga antarburuh. Mereka adalah “semut-semut yang berlomba-lomba berebut gula”, begitu kata seorang penulis Malaysia.

 

Bagaimana pendapat Mas terhadap perkebangan buku sastra saat ini (yang Mas ketahui)?

Soal membeludaknya penulis, saya punya sedikit catatan. Dalam banyak kesempatan, saya merasakan kegairahan dan minat terhadap sastra memang sedang tinggi. Semua orang sekarang rasa-rasanya menulis dengan intensi sastra dan ingin menjadi sastrawan, meskipun kadang terlihat itu tidak dibarengi dengan proses bersastra dan menjadi sastrawan yang mencukupi, katakanlah macam kecakapan teknis yang baik, bacaan yang mencukupi, dst. Tak apa, itu tidak buruk, meskipun mesti saya ingatkan bahwa ketika semua orang jadi dokter bukan berarti semua orang menjadi sehat. Saya tak keberatan semua orang menulis dan semua orang ingin jadi sastrawan, sebagaimana sekarang semua orang jadi komentator politik dan fotografer. Yang tidak saya inginkan adalah: kita membuang gawang agar semua orang bisa mencetak gol. Itu tidak menarik.

Mungkin karena kegairahan yang membesar itu, saya melihat ada fenomena fandom dalam sastra kita. Apakah itu perlu dikhawatirkan? Saya kira tak usah. Tapi menurut hemat saya, di antara kerumunan para fan itu, sebaiknya tetap ada kritikus yang bekerja di kesunyiannya. Ya, saya rasa sastra kita mengalami kelangkaan kritikus lebih dari sebelum-sebelumnya. Di waktu-waktu belakangan, buku-buku kritik sastra yang patut diperhitungkan tampaknya hanya muncul dari Katrin Bandel—bisa dikoreksi kalau saya salah. Resensi buku penting, tapi resensi tak pernah sama dengan kritik, dan peresensi bukanlah kritikus sastra.

 

Terakhir, buku apa yang Mas persiapkan selanjutnya?

Saya sedang memikirkan menerbitkan satu-dua buku sepakbola menjelang Piala Dunia 2018. (*)

 

Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna. Editor Sastra di Jurnal Ruang. Seorang penulis, editor lepas dan pengajar lepas. Buku kumpulan cerpennya pernah mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2008.