Baca tema bulan ini: Retrospektif

Hijrah dengan Rajah

oleh Abduraafi Andrian

30 November 2017 Durasi: 3 Menit
Hijrah dengan Rajah Karya terbaru Fahd Pahdepie tentang seorang bertato dan usaha hijrahnya yang tak mudah. Ikuti kisah Bang Tato.

“Bahwa setiap orang baik punya masa lalu dan setiap pendosa punya masa depan. Karenanya, semua orang berhak atas kesempatan kedua dalam hidupnya.” (hlm. 36)

Hijrah Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya dari Mekah membawa kabar gembira bagi penduduk Madinah. Mereka disambut baik. Selain untuk meninggalkan tekanan dan siksaan kaum Quraisy, hijrah Rasulullah saw. dan para muhajir juga dilakukan untuk melindungi penyebaran agama Islam dengan leluasa.

Hijrah memiliki tiga makna yaitu meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Secara etimologis, hijrah berarti meninggalkan keburukan menuju kebaikan. Hijrah juga berarti meninggalkan desakan dari pihak lain yang membuat diri terancam.

Lalan Maulana harus hijrah. Ia menyebut desakan itu datang gara-gara pocong. Sepulangnya melakukan hal buruk—"Sesuatu yang dosa banget," ujarnya—tiba-tiba ia dirubung kegelapan pekat. Tiada cahaya sama sekali. Gambaran berada di dalam kubur tercipta di benaknya. Lalan telentang kaku bersama pocong. Balutan kain kafan putih menjajarinya. Bulu romanya berdiri. Lalan menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat ketakutan.

Citra tersebut dan kematian sang kakek membuat Lalan bertekad untuk hijrah. Ia meninggalkan masa lalunya yang suram dan menyatakan insaf. Ia kemudian menikahi anak ustaz yang sudah memiliki satu putra. Takdir membawanya bertemu dengan Fahd Pahdepie—penulis yang mengangkat kisahnya.
 

Menerobos Stigma Tato

Lalan hanyalah orang biasa. Pembedanya, ia berhijrah dengan tato melekat di sekujur tubuhnya. Leher hingga pergelangan kakinya terbalut rajah. Niat baiknya malah disambut cemoohan dari orang-orang bahkan ustaz. Ia dicegah masuk masjid. “Percuma kamu salat karena kalaupun kamu salat, nggak akan diterima sama Allah lanaran badan kamu penuh tato,” ujar seorang ustaz yang ditemuinya. Hingga ia bertemu Ustaz Fiqih, orang pertama yang membolehkannya salat.

Tato telah mengalami pergeseran makna. Tato adalah lambang kekuasaan bagi masyarakat adat. Penduduk suku Dayak menganggap tato sebagai jimat dan penghargaan. Tato juga mencirikan kekuasaan dan kekuatan. Seiring zaman, tato diidentikkan dengan kekerasan. Pada masa Orde Baru, mereka yang memiliki tato dianggap sebagai bagian dari pelaku kejahatan dan harus ditumpas.

Lalan tetap salat dan terus memperbaiki diri. Ia berusaha cari kerja. Sayangnya, ia kesulitan mendapatkannya karena tato yang melekat di tubuhnya. Hingga waktu mempertemukan Lalan dengan Fahd saat mengajukan proposal usaha kuliner.

Melihat Lalan, Fahd teringat sopir keluarganya, Mang Ileung. Sang ayah mempekerjakan seorang mantan preman yang penuh tato di lengannya. Banyak orang-orang sekitarnya yang mempertanyakan kenapa. Ayahnya yang sering ceramah ke mana-mana itu menjelaskan bahwa ia ingin memberikan kesempatan kepada Mang Ileung.

“Boleh jadi dulu Mang Ileung punya masa kelam. Tetapi, saat ingin memperbaiki semuanya, dia sudah tiba pada masa baru yang perlu dihargai—meski kenyataannya dia memang tak bisa mengubah semuanya, termasuk tato di lengannya,” ujar sang ayah. Hal itu jugalah yang dilakukan Fahd kepada Lalan.
 

Hijrah yang Tak Mudah

Perjalanan hijrah Lalan sempat berada pada masa ketika semua yang bertentangan dengan kebenaran adalah salah dan dianggap musuh. Identifikasi ekstrem ini terpengaruh oleh masa lalunya yang penuh sejarah kekerasan panjang. Saat bertemu dengan fase hidup yang baru, ia menggunakan justifikasi agama sebagai pegangan.

Ditambah kelompok tertentu yang memanfaatkan “kepindahan”-nya dengan doktrin yang salah kaprah, Lalan semakin terhanyut. Kelompok semacam itu melabeli kelompoknya sebagai “si benar” dan kelompok lain sebagai “si salah”.

Lalan pernah sampai pada titik ia mengepos sesuatu yang  di media sosialnya. "Kalau sampai meletus kerusuhan kayak 98, yang bakal gue bakar pertama kali adalah toko-toko para penjajah itu!" Entah siapa yang dimaksud dengan “toko-toko para penjajah”.

Hijrah Lalan tak mudah. Ia dihadapkan pada pekerjaan yang susah ia dapat dan bagaimana kelompok tertentu memanfaatkannya. Walaupun tak dijabarkan bagaimana keluar dari kelompok itu, Lalan tetap membuktikan bahwa ia bisa melewatinya. Bahwa kesulitan-kesulitan itu merupakan proses menuju hijrahnya. Ia menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
 

Cerita sebagai Kontra-Narasi

Label “Novel” pada sampul belakang memberikan anggapan bahwa buku ini adalah kisah nyata yang dibalut fiksi. Sayangnya, gaya cerita yang disajikan adalah menggunakan penulis sebagai pencerita. Bahwa Fahd yang menceritakan kisah Lalan dan apa yang terjadi setelah bertemu dengannya.

Terlepas dari itu, buku ini menambah lagi koleksi karya populer Islami tanah air. Genre ini semakin marak seiring suksesnya karya-karya Habiburrahman El Shirazy dan Asma Nadia. Hadirnya kisah-kisah dengan tema mendasar seputar kultur dan agama memberikan dampak yang positif dalam berkeseharian.

Selain itu, cerita berperan sebagai kontra-narasi terhadap gagasan radikalisme dan ekstremisme. Kelompok radikal seperti yang memengaruhi Lalan menggunakan media untuk membangun narasi berpengaruh di tengah publik. Hal itu bertujuan agar banyak orang tertarik dengan gagasan mereka. Cerita yang dipublikasikan berisi nilai-nilai kebajikan dapat menjadi perisai untuk mengikis gagasan yang diberikan kelompok radikal tersebut.

Seperti apa yang dilakukan Fahd dengan kisah hidup Lalan alias Bang Tato ini.

Abduraafi Andrian

Abduraafi Andrian. Editor Fiksi Populer di Jurnal Ruang. Pencandu buku dan pegiat komunitas. Jeda kegiatannya diisi dengan menuliskan pengalaman membaca melalui ulasan di blog bukunya.