Baca tema bulan ini: Retrospektif

Kecurigaan Pada Politik Literasi

oleh Esha Tegar Putra

03 Desember 2017 Durasi: 7 Menit
Kecurigaan Pada Politik Literasi Kritik para kritikus bagaikan hiasan pada sampul buku. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Untuk tidak terlalu jauh menganalogikan proses penerbitan karya-karya penulis muda sebagai bentuk politik literasi, sebagaimana tulisan Muarif bertajuk Politik Literasi, Buku Sastra, dan Penulis Muda (Jurnal Ruang, 1 Oktober, 2017), saya ingin mengemukakan tiga pertanyaan kepada kritikus sastra tersebut: (1) Bagaimana bisa proses penulisan dan perjuangan penerbitan buku penulis muda mutakhir dapat disandingkan dengan penulis yang menerbitkan karya di luar penerbit Balai Pustaka periode 1900-an hingga 1920-an?; (2) Bagaimana menilai kualitas sebuah karya jika hanya bersandar pada perbandingan proses penerbitan indie (atau self-publishing) dengan penerbit mayor?; (3) Bagaimana pula sebuah buku karya sastra yang dianggap berkualitas tanpa persinggungannya dengan hal-hal di luar karya itu sendiri (kritikus, institusi penerbitan, sayembara kepenulisan, dst—arena kesusastraan)?

Seandainya saja kita dapat rujukan penulis muda dan karya yang dimaksud Muarif, sebagaimana ia dapat memberi rujukan penulis dan karya terbitan di luar Balai Pustaka periode 1900-an hingga 1920-an, tentu kita akan dapat melakukan pembacaan lebih lanjut dan menguji pandangan tersebut. Sebagaimana ia merunut nama-nama penulis muda hari ini yang kehadiran karyanya dianggap tampil secara mengejutkan dan menggembirakan. Seandainya juga kita dapat rujukan jelas, karya dari penerbit indie yang dianggap instan dengan basis intelektual belum teruji itu, tentu kita dapat pula melakukan penelisikan lebih lanjut terhadap penulis-penulis dengan karya-karya dimaksud. Dan persoalan meniadakan persentuhan karya dengan hal-hal di luar karya itu sendiri, barangkali hal ini yang paling tidak dapat berterima oleh saya selaku pembaca tulisan Muarif.

 

Menghubungkan Generasi Berbeda

Saya mencoba mereka-reka dulu bagaimana cara Muarif berupaya mengaitkan antara penulis muda hari ini dengan penulis di luar Balai Pustaka pada tahun 1900 hingga 1924 dan politik literasi. Dalam tulisannya tersebut Muarif mengatakan: “...sesungguhnya politik literasi kaum muda yang menerbitkan karya-karyanya secara mandiri tidak memiliki basis intelektual yang cukup kuat. Hal inilah yang membedakannya dengan pengarang-pengarang Indonesia yang berkarya di luar penerbit Balai Pustaka pada tahun 1900 hingga 1924, seperti RM Tirto Adhi Soerjo, Hadji Moekti, Mas Marco Kartodikromo, Semaoen, dan S. Goenawan.”

Saya menggangap upaya menghubung-hubungkan proses kepenulisan sederet nama yang disebutkan Muarif di atas dengan persoalan “politik literasi” penulis muda hari ini adalah mubazir. Dua generasi berbeda, dengan berbagai keterpisahan, termasuk dalam mempersoalkan bagaimana seharusnya kesastraan itu bekerja dan bagaimana karya sastra memberi daya dorong dalam perubahan masyarakatnya. Mas Marco melalui Student Hidjo (1919) dan Rasa Merdika (1924) atau Semaoen melalui Hikajat Kadiroen (1920) merupakan produk gerakan komunisme internasional di Hindia Belanda pada waktu itu. Melalui muatan ideologis dalam karya sastra, mereka berupaya memberi penyadaran terhadap masyarakat untuk melawan kolonialisme Belanda. Sebagaimana diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa Rasa Merdika merupakan novel yang dimaksud untuk menyebarkan ideologi tertentu, yakni komunisme internasional[1].

Begitu juga dengan Hikajat Kadiroen-nya Semaoen yang menyinggung pentingnya organisasi (komunis), kaum buruh dan rakyat bisa kuat dan berkuasa apabila mereka rukun dan “berkumpul-kumpul”, dan termasuk persoalan bahwa perkumpulan (Partai Komunis) berusaha mengajarkan fakam internasionalisme dan “cinta dengan segala manusia” agar “kaum kamunisten dari lain negeri membantu masuknya PK buat memuliakan rakyat Hindia”[2]. Bagaimana bisa menghubungkan persoalan ini dengan model penerbitan penulis muda hari ini yang dengan nyata sangat berbeda pandangan mengenai karya sastra dan sangat jauh sekali perbedaaan konteks sosial-politiknya?

Ada baikya agar gambaran perbedaan kondisi penulisan, model penerbitan, dan kodisi kepengarangan dua generasi tersebut tampak, mari kita lirik kembali proses Semaoen menulis Hikajat Kadiroen. Sebagaimana tertulis di pembukaan pengisahannya: “Di waktoe jang bertanda tangan dibawah ini dalam tahoen 1919 masoek pendjara karena presdelict, maka dalam 4 boelan di boei itu saja soedah mengarang tjerita dalam boekoe ini. Dalam tahoen 1920 saja robah sedikit saperloenja, jaitoe sesoedahnja tjerita ini masoek sebagai fuilleton dalam Sinar Hindia. Pada Soedara Ngadino jang membantoe saja dalam hal memperbaiki kalimatja maka dengan ini saja mengatoerkan terima kasih! Moega-moegalah tjerita yang saja toelis dengan aer mata kesengsara-an dalam pendjara itoe bisa djadi senangnja orang banjak, jaitoe semoea pembatja dan rajat (Semaoen)”.

Nah, setelah menginap-renungkan kutipan di atas, sembari membayangkan bagaimana kondisi Semaoen ketika menulis Hikajat Kadiroen, saya ingin berhenti membicarakan hubungan-hubungan dua generasi tersebut yang dipaksakan oleh Muarif—termasuk ketika melanjutkan ke konteks pelarangan buku di masa Orde Baru, dst.

Kemandirian Sebuah Karya

Mari beralih pada bagaimana Muarif memandang karya sebagai produk mandiri yang dengan segala kecemerlangan muatannya karya tersebut harus berdiri sendiri tanpa bantuan hal-hal lain di luar karya. Karena menurut Muarif, karya tersebut dengan sendirinya akan memperlihatkan kecemerlangannya. Saya kira Muarif hendak menyitir The Death of the Author-nya Barthes tapi tidak melihat bagaimana kondisi pengarangan hari ini di Indonesia, di mana pengarangan dituntut untuk tidak hanya berkaitan dengan produksi karya, melainkan distribusi ke khalayak pembaca—meskipun sebagian penulis enggan. Pada tataran ini Muarif hendak berupaya menghilangkan pula pandangan ketidak-berfungsian kritikus, sebuah karya tidak musti melewati kritikus hingga sampai ke tangan pembaca, sebuah karya tidak musti melewati kritikus jika karya tersebut secara isi dan bentuk sudah baik. Karya akan menemui pembaca dengan sendirinya? Bagaimana pula dengan agenda-agenda sayembara karya (sebelum diterbitkan atau sesudah diterbitkan) dan hubungannya dengan karya?

Muarif merujuk beberapa nama penulis, termasuk Ayu Utami lewat karyanya Saman, yang menurutnya besar bukan karena karya tersebut sebagai pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 1998—mari kita kenang kembali tulisan Mulyo Santoyo berjudul “Andai Saman Tak Lahir Lewat Sayembara” (Republika, 19 April 1998). Tidak dapat dipungkiri Ayu Utami melalui Saman merupakan generasi yang lahir melalui sayembara. Bahkan beberapa karya penulis generasi sesudahnya segera dikenal luas dalam waktu relatif cepat karena sayembara. Saman, sebagaimana ditulis Ibnu Wahyudi[3], menjadi perbincangan bukan karena hanya faktor jati dirinya sebagai sebuah novel, melainkan juga karena efek publisitas yang menyertainya. Jumlah pemberitaan dan pembahasan mengenai Saman, selang beberapa waktu penerbitan novel tersebut, dapat dikatakan tidak biasa dari pemberitaan karya-karya sastra penulis sebelumnya[4].

Dorongan-dorongan kritikus dalam mengelaborasi teks dalam novel tersebut dari waktu ke waktu juga tidak dapat dipungkiri turut membuat Saman menjadi ‘karya besar’ (istilah Muarif). Tidak usah kita merunut sudah berapa kritikus dan akademisi membahas novel tersebut dari sejak novel tersebut terbit hingga kini. Berpegang pada sampul belakang terbitan pertama novel Saman dapat kita lihat deretan nama kritikus dan sastrawan cum kritikus lewat endorsment mereka mengiringi kehadiran novel tersebut. Setidaknya enam nama, yakni Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, Faruk HT, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, dan Pramoedya Ananta Toer hadir di sampul belakang Saman terbitan awal. Veven Sp Wardhana dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa endorsment di sampul belakang novel tersebut sepertinya benar-benar diniatkan untuk kemasan novel[5].

Beberapa nama di belakang sampul Saman merupakan para juri sayembara menulis novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta menyampaikan komentar lebih ”pribadi”, sementara beberapa lainnya tak ada kait-mengait dengan sayembara tersebut. Veven Sp Wardhana bahkan mengindikasikan dalam tulisannya bahwa pola endorment novel Saman-lah yang kemudian hari diteruskan oleh penerbit buku sastra lain, bahkan umumnya buku kini, menggunakan endorsement yang sejak awal diperuntukkan khusus untuk sampul buku.

Saman merupakan pendorong untuk para penulis di kemudian hari turut memamerkan kutipan singkat pembacaan dari para sastrawan dan kritikus (atau kini selebritis, tokoh publik, dst.) untuk kepentingan penjualan.

Saman adalah salah satu contoh bagaimana kritikus turut memberi andil dalam keberlangsungan distribusi karya.

Di sisi lain, kita dapat melirik juga misalnya kontribusi Dami N. Toda sebagai kritikus sastra pada zaman Orde Baru dalam mengukuhkan karya sastra sekaligus statusnya sebagai kritikus sastra. Dami dianggap sebagai salah seorang kritikus, melalui kritik sastra terapan, dengan metode ilmiah taraf pertama yang berambisi menentukan kanon sastra. Salah satu sastrawan yang disebut Muarif, yakni Sutardji Calzoum Bachri, selain melalui kredo puisinya turut dibesarkan melalui pengkajian serius dari Dami N. Toda[6]--dibesarkan lagi dengan penampilannya dalam pembacakan puisi.

Di bagian lain, kritik menampakkan wajahnya yang lain. Kita dapat melihat bagaimana Goenawan Mohammad dan Sapardi Djoko Damono sebagai dua orang sahabat saling berinteraksi lewat kritik sastra. Bahkan secara intim lewat surat mempersoalkan proses kreatif dan saling membicarakan karya mereka. Surat Sapardi kepada Goenawan, menurut Hasan Aspahani, mengungkap satu fakta lain yang amat menarik menyoal proses kepenulisan Sapardi, di mana tahun-tahun tersebut (1967-1968), Sapardi mengakui sulit sekali baginya menulis sajak: “Akhir-akhir ini sulit sekali bagi saya untuk secara mengalir menulis puisi. Ada keletihan jiwa yang aneh. Dan pemberontakan yang gagal itu hampir saja memengaruhi saya untuk menjadi seorang neo-lekrais,” tulis Sapardi. Masa-masa letih itu berhasil dilewati Sapardi melalui kumpulan sajak Duka-Mu Abadi, sajak-sajak liris monumental yang kemudian hari dipuji Goenawan dalam sebuah artikel[7].

Perihal di atas hanyalah beberapa contoh kasus dari banyak lagi contoh lain bagaimana hubungan sebuah kritik, analisa, ulasan—termasuk sayembara—terhadap keberlangsungan karya dan efek terhadap keberlanjutan proses menulis selanjutnya. Kritik maupun sayembara tidak dapat semata-mata dipautkan pada legitimasi terhadap karya. Pada bagian ini, saya tidak hendak melanjutkan dengan bagaimana pula pola H.B. Jassin, melalui intensitasnya membahas dan memperkenalkan karya sastra, hingga pada suatu masa pandangannya terhadap sebuah karya dapat dianggap legitimasi bagi seseorang untuk menjadi sastrawan.

Kecurigaan Tak Bertuan

Saya masuk pada kecuriagan-kecurigaan Muarif. Kecurigaan tentang proses penerbitan penulis muda pada penerbit indie dihubungkan dengan politik literasi yang agaknya memang cuma kecemasan berlebihan. Contoh karya penulis muda dan penerbit yang dimaksud tidak hadir. Sementara contoh penulis dengan intensitas kekaryaan yang baik dan matang secara proses dalam pandangan Muarif dihadirkan. Hal tersebut membuat kita tidak dapat mengurai lebih lanjut persoalan kecemasannya. Kita tidak dapat membayangkan indie dalam tulisan Muarif tersebut pola penerbitan yang bagaimana (?).

Hal-hal terkait dengan kemandirian karya atau dimaksud untuk menunjukkan karya berkualitas akan hadir sendiri tanpa pembelaan. Turut dimuntahkan kembali ketika Muarif merunut nama-nama penulis muda yang dianggap berproses untuk menjadi penulis yang kian matang, penulis yang tidak tergiur politik literasi, penulis yang menolak hegemoni tertentu sebagai basis perjuangan karya. Toh, tetap saja embel-embel “penulis tersebut memenangkan sayembara, penulis pilihan ini dan itu” turut mengiringi Muarif dalam menuliskan nama-nama.

Pembicaraan yang luput dari pembahasan Muarif barangkali soal arena kesusastraan di Indonesia dari pola penerbitan hingga distribusi karya yang tidak berlangsung seperti dibayangkan—tidak selalu lempang membahagiakan. Banyak penulis memilih untuk menerbitkan karya sendiri bukan karena karyanya tidak dapat bersaing dalam proses seleksi penerbit mayor. Sebaliknya banyak faktor yang membuat penulis mendapat posisi ekslusif tanpa melewati seleksi pembacaan terhadap karya secara ketat dalam proses penerbitan mayor; rekomendasi misalnya. Tentu tidak sedikit juga penulis menerbitkan karya secara mandiri untuk sekadar menguji bagaimana peneriman publik ketika karyanya disebar secara mandiri pula. Tidak sepenuhnya pula hal tersebut dapat diartikan sebagai politik literasi, pencitraan semata, atau hasrat berlebihan untuk menjadi seorang sastrawan.

Saya memberikan contoh terdekat dengan saya, dua penyair muda dari Sumatera Barat. Pertama, Deddy Arsya yang kini tinggal di pinggang gunung Singgalang sana. Kedua, Heru Joni Putra yang kini memilih tampil di arena Jakarta karena kepentingan studinya dan hal-lainnya. Intensitas kekaryaan dua penyair (mereka juga menulis cerpen dan kritik sastra) ini boleh dibilang jauh mendahului penyair Adimas Immanuel yang disebutkan Muarif dalam tulisannya. Deddy Arsya seperti pernah saya bahas suatu ketika melakukan pembacaan terhadap puisinya dalam rentang tahun 2005 hingga 2013, banyak sudah pola perubahan puitik yang dilakukan Deddy Arsya. Suatu kali ia membuat puisi seperti gumam traumatik masa-lalu, seakan memasuki ruang mimpi buruk. Setiap baris gumam tersebut dibingkai seluruhnya melalui tanda petik. Tanda petik yang seharusnya memberi penanda ucapan, kutipan, kata, atau frasa, dalam puisi Deddy Arsya dibikin lain. Bangunan kalimat dalam tanda petik masing-masing berdiri sendiri sekaligus padu dalam kesatuan puisi. Bangunan yang boleh jadi berupaya untuk saling mengakuisisi bangunan lain di dalam tanda petik lain.

Sementara itu Heru Joni Putra lewat buku puisi pertamanya Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa (BM, BM, BM) setidaknya memperlihatkan bentuk berbeda. Ia hadir di antara ketegasan dan keraguan pola perpuisi lirik. Ia menegasi sikap sekaligus meragukannya. Ia “menghampang” tradisi lirik sekaligus “melepaskannya”. Kita dapat melihat bagaimana pengisahan tokoh Badrul Mustafa tentang tubuhnya yang tetap dihuni oleh haru-biru. Pada satu ketika ia juga menjadi tokoh yang tegas dengan sebilah pedang seolah bisa menebas apa saja, bahkan menebas kepalanya sendiri. Badrul Mustafa cukup beruntung ketika menjadi simpul untuk keseluruhan buku puisi BM, BM, BM, dan Heru Joni Putra turut terbantu untuk menentukan sikap dan wilayah perpuisiannya.

Tapi di balik pencarian-pencarian puitik dua penyair muda yang saya sebut, adakah kita tahu bagaimana proses penerbitan dan distribusi karya mereka hingga sampai menjadi buku ke tangan pembaca? Deddy Arsya lebih memilih menerbitkan buku puisi pertamanya berjudul Odong-Odong Fort de Kock pada penerbit Kabarita (2013) di Padang sana. Buku ini mencapai daftar singkat Khatulistiwa Literary Award (sekarang Kusala Sastra Khatulistiwa) dan mendapat penghargaan Buku Puisi Pilihan Tempo. Meskipun dengan intensitas penyiaran puisinya di koran-koran terbitan Jakarta sebenarnya ia dapat membuat Odong-Odong Fort de Kock dipertimbangkan untuk diterbitkan pada penerbit mayor. Baru tahun 2017 Deddy Arsya menerbitkan buku puisi berjudul Penyair Revolusioner di penerbit Grasindo.

Begitu juga dengan Heru Joni Putra memilih berhati-hati mengumpulkan puisi yang disiarkannya sepanjang 10 tahun berproses untuk disatukan dalam buku BM, BM, BM (2017)—buku ini belakangan menjadi nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa ke-17. Ia memilah puisi yang dirasa tidak layak untuk digabungkan dalam BM, BM, BM, mengedit kembali puisi-puisi yang sebenarnya sudah pernah disiarkan agar padu secara tematik, tentu dengan sagala risiko pembacaan nantinya. Heru tentu jauh hari bisa pula menerbitkan puisinya dari Sumatera Barat sana, tapi tidak dilakukannya. Ia baru belakangan menerbitkan buku atas kerjasama Studio Hanafi dengan salah satu penerbit di Bandung setelah beragam proses ia jalani.

Agaknya, tidak ada intensitas politik literasi macam yang dicemaskan Muarif ketika kita melirik pola penerbitan karya-karya penulis muda yang benar-benar berjibaku dalam dunia kesusastraan (berhubung Muarif tidak memberikan sampel penulis muda yang ia maksud). Meskipun dapat kita lihat dua penyair yang saya contohkan di atas tetap memampangkan sampul buku mereka di laman media sosial milik mereka. Barangkali hal tersebut merupakan salah satu cara menghidangkan karya ke hadapan banyak pembaca atau salah satu model promosi agar pembeli mendapat informasi cara mendapatkan buku mereka—berhubung sebagian karya dimaksud tidak dijual di toko-toko buku besar.

Kita juga bisa melirik beberapa contoh lain, di mana penulis-penulis muda, ketika menerbitkan sebuah buku meski dengan pembiayaan sendiri tidak hanya dalam rangka mencari legitimasi sebagai sastrawan. Tidak sedikit juga penulis mapan memilih untuk menerbitkan karyanya secara mandiri bukan karena karyanya tidak dapat bersaing di penerbit mayor. Melainkan karena dengan menerbitkan secara mandiri, mereka dapat mengatur proses distribusi sendiri, dengan harapan bahwa keuntungan dari penjualannya lebih besar dari sistem royalti.

Pembacaan mengambang dan klaim tidak berdasar dari Muarif memang membuat kita susah menganalisa persoalan posisi penulis muda dalam penerbitan hari ini. Tidak adanya contoh karya yang dianggap instan tersebut tidak berimbang dengan penghadiran contoh karya-karya yang dianggap bermutu dalam perspektif Muarif. Satu hal terpenting menurut saya, Muarif mungkin dapat melakukan pembacaan ulang terhadap bagaimana posisi penulis muda dalam arena kesusastran di berbagai daerah di Indonesia dan akses mereka terhadap jaringan penerbitan.

Jangan-jangan ketakutan Muarif soal politik literasi tersebut malah tidak cocok dibicarakan untuk konteks penulis muda. Bayangkan persoalan lain, misalnya mengenai 200-an judul buku puisi terbit di tahun 2017 yang diikutkan pada ajang buku puisi di tahun 2017. Hampir sebagian besar buku tersebut tidak dapat diakses secara luas, dan barangkali penerbitannya hanya dikhususkan untuk lomba tersebut. Inilah fenomena surplus karya yang seharusnya menjadi perhatian penelitian Muarif ketimbang mencurigai penulis-penulis muda dengan memautkan embel-embel politik literasi dalam proses penerbitan karya mereka. (*)


Catatan Akhir

[1] Lihat Sapardi Djoko Damono, “Politik Ideologi dan Sastra Hibrida”, Jakarta: Pustaka Firdaus (1999), hlm. 74.

[2] Ibid. (hlm. 76)

[3] Lihat tulisan Ibnu Wahydi, “Wanita Pengarang di Indonesia Kini: Sebuah Dominasi Semu?” Jurnal Susastra, Vol 1 (2), 2005 (hlm. 1—23)

[4] Lihat tulisan Ibnu Wahyudi, “Kritik Sastra di Media Massa Indonesia,” kertas kerja dalam Seminar Kritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur, 24—26 Spetember 2001.

[5] Veven Sp Wardhana, “Kritik Sastra Sampul Belakang”, Kompas, 23 Januari 2013.

[6] Lihat Hamzah Muhammad, “Ambisi Kritikus Mencari yang Baru: Sekilas tentang Dami N. Toda”, kertas kerja dalam Seminar Politik Kritik Sastra di Indonesia, 24—25 November 2015, PKKH UGM.

[7] Baca tulisan Hasan Aspahani, “Surat Sapardi dari Madiun untuk Goenawan Mohamad” (2016): https://narakata.com/2016/10/06/surat-sapardi-dari-madiun-untuk-goenawan-mohamad/

Esha Tegar Putra

Esha Tegar Putra, seorang penyair asal Padang. Ia turut menggagas Padang Literary Biennale 2014 pada September 2014. Buku puisinya yang terbaru berjudul "Sarinah".