Baca tema bulan ini: Retrospektif

TwinWar: Perang Saudara Kembar

oleh Daniel Dian Teguh Santosa

06 Desember 2017 Durasi: 3 Menit
TwinWar: Perang Saudara Kembar Juara pertama Gramedia Writing Project tahun ini menampilkan konsep cerita yang lebih maskulin. Simak ulasannya.

Ketika logo novel teenlit berubah dari sosok gadis remaja yang sedang membaca buku menjadi lebih netral secara gender—permainan tipografi menampilkan emotikon senyum—ada beberapa persepsi yang ikut tergeser. Logo yang baru ini seakan-akan ingin menunjukkan bahwa novel remaja sebenarnya bukan hanya monopoli gadis remaja.

Remaja laki-laki pun berhak membaca novel remaja tanpa perlu mengkhawatirkan bahwa novel remaja membuat mereka kurang maskulin dan bukan hal yang keren. Konsep maskulinitas semacam inilah yang ingin Gramedia dobrak melalui logo teenlit yang baru ini. 
 

Kembar Tak Berarti Akur

Seakan-akan ingin membuktikan poin mereka, novel pertama berlogo teenlit baru ini bukanlah tipikal novel teenlit yang biasanya ada di benak kebanyakan orang: lembut, feminin, dan romantis. TwinWar, karya Mahfudz Dwipatra yang menjadi juara pertama dalam kontes Gramedia Writing Project ini, dari awal justru malah menampilkan konsep cerita yang lebih “gahar” dan maskulin.

Novel ini menceritakan sepasang kembar identik bernama Gara dan Hisa yang memiliki sifat bertolak belakang. Gara lebih cerdas secara akademis, sementara Hisa jago olahraga dan berhasil memenangi banyak kejuaraan. Keduanya tidak pernah berhenti bersaing sampai akhirnya Gara berpacaran. Orangtua mereka melarang mereka berpacaran selama SMA dan jika sampai ada yang ketahuan melanggar, hukuman yang mereka dapatkan bisa sangat berat.

Hisa yang mendapatkan foto pacar Gara memeras saudara kembarnya agar dia dapat memenangi perseteruan antarsaudara ini, dengan meminta Gara menggantikan dirinya dalam mengikuti tryout. Gara yang kesal juga terus membalas dendam kepada saudaranya dengan intensitas yang semakin meningkat. Tetapi, patutkah saudara kembar saling bersaing secara tidak sehat seperti ini? Pertanyaan itulah yang akan dijawab oleh Dwipatra dalam TwinWar.
 

Novel yang Terasa Familier

TwinWar bukanlah novel teenlit pertama yang menyasar demografis remaja laki-laki. Itu mengingatkan pada Join the Gang karya Ken Terate yang diterbitkan lebih dari dua belas tahun lalu. Join the Gang menceritakan sekumpulan remaja lelaki yang saling berbeda namun membentuk sebuah klik, tempat mereka bisa mengenal arti persahabatan.

Berbeda dari Join the Gang, TwinWar justru lebih kental dengan nilai kekeluargaan. Dalam novel ini, Dwipatra lebih fokus ke proses bagaimana Gara dan Hisa perlahan-lahan memahami arti persaudaraan sebenarnya. Suara Gara dan Hisa juga terasa sangat autentik karena ditulis langsung oleh orang yang sungguh-sungguh mengalami bagaimana remaja laki-laki berinteraksi dan berbicara.

Interaksi antara Gara dan Hisa, interaksi mereka dengan orang dewasa, interaksi mereka dengan teman-teman mereka—lengkap dengan guyonan yang jorok dan menjurus—terasa begitu natural. Dialog mereka mengalir dengan baik dan Dwipatra mampu menggambarkan sifat remaja hormonal dengan sangat akurat. Gara dan Hisa terasa begitu bersahabat, mereka terlihat seperti kawan sekelas di SMA kita yang pernah kita kenal sebelumnya.

Itulah yang membuat TwinWar terasa begitu dekat. Dwipatra menulis cerita berdasarkan hal-hal yang erat dengan pembaca atau yang pernah dia alami. Dan meskipun Dwipatra membawanya ke dalam ranah fiksi sains—seperti yang dia lakukan dalam cerpennya Mata Rantai yang Hilang—dia masih tetap menyelipkan pengetahuan biologinya—yang sudah jadi makanannya sehari-hari—ke dalam novelnya.

TwinWar bukan perkecualian, namun justru hal itulah yang membuatnya terasa biasa cenderung jenuh. Tidak ada faktor yang membuat pembaca terkesiap. Plotnya terjalin teratur—sesekali diselipi dengan kilas balik dari masa kecil Gara dan Hisa—dan alur ceritanya runut dengan konflik utama yang jelas dan subkonflik utama yang beragam.
 

Darah Lebih Kental daripada Air

Meski demikian, ada satu hal menonjol yang membuat TwinWar menjadi novel remaja yang bagus. Dwipatra menekankan pentingnya keluarga dan bagaimana definisi keluarga menjadi sangatlah luas dalam zaman modern seperti ini.

Pemenang penghargaan National Book Award, salah satu penghargaan buku bergengsi di Amerika Serikat, untuk kategori novel remaja terbaik tahun ini jatuh kepada Far from the Tree karya Robin Benway. Novel tersebut berusaha mendefinisikan ulang makna dari sebuah keluarga. TwinWar—lewat subkonflik yang baru muncul di akhir cerita—bisa dibandingkan dengan buku peraih penghargaan tersebut.

Dwipatra mengingatkan pembacanya bahwa pertalian saudara kembar yang paling erat pun bisa renggang hanya karena adanya kesalahpahaman, suatu hal yang bisa dengan mudah diselesaikan dengan komunikasi. Dan dalam twist—jika bisa disebut dengan twist—terakhir yang Dwipatra simpan di bagian akhir buku, dia juga menyadarkan bahwa kita tidak bisa mengingkari hubungan dalam ikatan darah, tak peduli sudah berapa lama kita berpisah.
 

Mengaduk Perasaan Pembaca

Dalam sebuah gambar gif yang dibagikan oleh Sukutangan, sang perancang logo teenlit yang baru ini, lewat akun Twitter-nya, logo baru ini dipersonifikasi dengan menggerak-gerakkan hurufnya untuk menyerupai ekspresi manusia: sedih, marah, dan gembira. Sama seperti gambar gif tersebut, membaca TwinWar ini menimbulkan perasaan campur aduk yang sama.

Pembaca diajak untuk merasakan amarah Gara ketika dia diminta untuk menggantikan Hisa mengerjakan soal tryout agar Hisa tidak membongkar rahasia Gara. Pembaca juga merasa terharu ketika terjadi reuni keluarga yang mengharukan. Dan pembaca juga ikut merasa gembira ketika kisah Gara dan Hisa akhirnya berakhir bahagia.

Rasanya bisa dipahami kenapa TwinWar bisa dipilih menjadi juara pertama Gramedia Writing Project dan juga kenapa buku ini yang menggunakan logo teenlit baru. TwinWar menyuarakan perasaan remaja yang serbaneka, yang berhasil Dwipatra kemas ke dalam novel teenlit ini.

Daniel Dian Teguh Santosa

Daniel Dian Teguh Santosa. Pegawai swasta yang di tengah-tengah kesibukannya menjadi reviewer buku dan musik amatir.