Baca tema bulan ini: Retrospektif

Ketagihan Berpuisi dan Nostalgia Kota

oleh Bandung Mawardi

06 Desember 2017 Durasi: 5 Menit
Ketagihan Berpuisi dan Nostalgia Kota Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono. Gramedia Pustaka Utama, 2017. 208 hlm.

Di Solo, segala bermula. Sapardi Djoko Damono (SDD) lahir dan mengalami lakon remaja di Solo. Hari demi hari, SDD berpuisi, sejak 1957. Solo telah ramai tapi puisi mengajak ke hening. Kota mulai berlampu terang. Di Komplang, kampung pinggiran Solo, SDD masih sering menemu suram dan gelap. Suasana itu terasakan menjadi puisi.

Si pujangga tua memberi cerita dan menjajakan buku-buku: kumpulan puisi dan novel. Buku-buku itu laris, mengalami cetak ulang sampai belasan kali. Di Indonesia, pembaca buku sastra masih ada dan berjumlah ribuan. Tulisan SDD jadi kegandrungan, hampir sampai ke pujaan. Kini, gandrung itu sampai ke penikmatan membuka halaman-halaman buku berjudul Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono garapan Indah Tjahjawulan. Buku baru dan terlihat molek. Di plastik pembungkus buku, tempelan harga: Rp 360.000. Buku apik, bukan buku murah(an).   

SDD sebagai pujangga muda menggubah puisi di buku tulis. SDD menulis dengan pulpen, belum mesin tik. Puisi-puisi di buku-buku sekrip disajikan ulang dalam tatanan cakep di Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono. Pemanjaan masa lalu, sebelum SDD tenar di kesusastraan modern di Indonesia. Tulisan-tulisan halus dan miring itu diabadikan di buku berharga mahal, bermakna kesungguhan menekuni sastra sejak berusia belasan tahun, pada saat masih menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Solo. Buku undangan nostalgia si pujangga berpuisi pada 1958-1970.

“Kini, walaupun sebagian besar dari naskah ini sudah diterbitkan di media dalam bentuk buku, melihat manuskrip tulisan tangan asli dari puisi SDD membuat saya bergidik,” pengakuan Indah Tjahjawulan.

Pada abad XXI, jari-jari kita sudah kecanduan mengetik, tak lagi menggerakkan pensil atau pulpen. Di kertas bergaris, SDD memilih berpuisi, membuat selebrasi imajinasi dengan kata-kata. Jari-jari menari menghasilkan tulisan-tulisan molek meski susah terbaca (lagi) oleh manusia mutakhir.

Indah ingin membaca manuskrip tapi sulit. Keputusan memindah manuskrip ke buku dimaksudkan sebagai album kolase gambar. Para pembeli buku tak perlu tergesa membaca tulisan tangan. Di depan pembaca, halaman demi halaman adalah gambar digenapi keterangan-keterangan kecil. Kita diajak melihat puisi, bukan membaca puisi. Siasat itu menjadikan buku terlihat anggun, megah, dan klasik. Bermula dari tulisan-tulisan (puisi) di buku-buku sekrip, Indah mengerjakan buku dengan pemanjaan rupa dan menggoda mata untuk larut ke nostalgia bersama SDD.

Di pengantar, SDD pun berpesan: “Manuskrip sajak-sajak ini sebaiknya diterima lebih sebagai gambar daripada sebagai sajak.” Di mata SDD, aksara itu gambar. Pesan cenderung meminta mufakat ke pembeli buku agar jangan merepotkan membaca puisi, mending melihat dan takjub. Isi puisi teranggap tak terlalu penting. Kehadiran sebagai gambar dalam olahan apik justru memberi godaan mengerti gairah remaja berpuisi ketimbang berlagak ingin mengadakan studi atau tafsir berkepanjangan secara teks. SDD memastikan tulisan tangan itu pengalaman beribu makna, sebelum memilih menggunakan mesin tik dan komputer. Pada tulisan tangan, puisi mengalami pencoretan, penggeseran, penebalan, dan penambahan. Tulisan mungkin menjadi semrawut atau amburadul.

Pada usia 70-an tahun, SDD mengenang diri dan puisi saat masih berusia 17 tahun. Ada ragu dan malu membaca atau melihat puisi-puisi lama? SDD tak mau semua itu hilang atau tersimpan tanpa pembaca dan “penonton”. Diri terkandung di puisi saat dituliskan dengan pulpen. Dulu, ketekunan itu masih menampilkan kecengengan, impian muluk, dan angan gegabah. SDD tetap menulis dan menulis, tak terlalu direpotkan agar dimuat di koran atau majalah. Urusan menulis puisi sudah kegirangan bergelimang makan, sulit dituduh iseng atau obsesi.

Puisi masih mungkin terbaca, tak melulu dipandang sebagai gambar. Pada 1958, SDD menulis puisi berjudul “Penjair”, penulisan masih menggunakan ejaan lama (1947). Puisi bermaksud mendefinisikan keinginan diri menjadi si penggubah puisi. SDD menulis:

menerima dengan senjum paling sederhana/ ia penjair jang melangkah dalam benua dewasa/ lewat djendela-djendela, pintu demi pintu/ lewat lurung jang basah atau berdebu.

Sejak remaja, SDD sudah membarakan ingin dan imajinasi di jalan puisi. Halaman demi halaman buku sekrip perlahan berisi puisi-puisi: tulisan tangan miring ke kiri. Pada malam-malam hening, SDD mungkin menulis puisi seperti membuat ramalan bakal menjadi pujangga ternama di Indonesia. Kejadian itu di Solo, sebelum SDD bergerak ke Jogjakarta dan Jakarta. Bergerak tapi meninggalkan kebiasaan menulis puisi dengan menarikan pulpen. Sesalan tak diperlukan. Puisi-puisi terus dihasilkan, terbit di majalah dan tersaji di buku. Pada saat menua, puisi-puisi pun menunaikan janji memberi kemuliaan bagi SDD. Puisi-puisi lama tanpa malu menghampiri kita saat si penulis semakin tua.

Pada saat remaja, SDD tak melulu menggubah puisi asmara cengeng dan bertaburan impian picisan. Ia menulis diri dan kota. Gubahan puisi pada masa 1950-an sampai 1970-an bercerita tentang Solo, Semarang, dan pelbagai kota. Puisi gubahan remaja cenderung mengacu ke pengalaman dilumuri imajinasi, tak terlalu mempertimbangkan tata cara mendokumentasi (perubahan) kota. Kata-kata lekas saja dituliskan dengan pulpen di buku sekrip. Dulu, SDD masih pujangga berpulpen, belum bermesin tik atau komputer.

Puisi bertanggal 30 Juli 1958 berjudul “Tembang Pinggir Bengawan” mengisahkan pengalaman dan pengamatan melintasi jembatan di Sungai Bengawan Solo. SDD menulis:

djika malam ini kita bersampan diatas bengawan/ orangtuamu orangtuaku tjemas menanti dipintu/ sedang dibawah nafas bulan semilir/ bersampan kita bersama mendajung tjinta.

Dulu, sungai dan jembatan menjadi tanda kota. Orang-orang saling memberi arti: ekonomi, transportasi, bencana, dan asmara. Pengimajinasian Bengawan Solo bagi SDD adalah diri sedang membentuk identitas dan menempuhi titian asmara. 

Dulu, SDD sempat menulis Solo dan Semarang. Kini, dua kota itu nostalgia saat kita melihat tulisan tangan di kertas bergaris, kertas milik murid di sekolah. Pada akhir 1958, SDD menulis puisi berjudul “Surakarta”. Enam bait mengenang dan mengisahkan kota. Sejak mula, SDD sesumbar: “aku jang paling kenal kerna lahir disana.” Kita simak kemahiran bercerita setelah pengamatan kota:

sebuah kereta melintas didjalan raja/ kadang terpikir kotaku ini sudah tjukup tua/ berapkah sadja mentari dan bulan bergilir/ debu djalan mengotorkan muka.

Kita tak perlu membaca dengan estetika perpuisian modern di Indonesia. Puisi itu gubahan remaja: peka dan bersegera ingin dituliskan tanpa seribu pertimbangan. Puisi tentang kota masa 1950-an. Kota tercatat dan teringat saat SDD kini berusia 77 tahun. Puisi membekali nostalgia kota.

SDD pun menulis Semarang. Puisi berjudul “Pelabuhan Semarang” mungkin mengantar pembaca ke masa lalu. Kunjungan terlaporkan dengan puisi meski khas remaja. SDD mengisahkan:

pelabuhan ini tubuh-tubuh tjemara membungkuk/ mengarah padaku seperti sudah kenal sedjak dulu/ angin darat djatuh kepundakku kelajar terbuka/ djatuh ketengah laut jang membuih dihati muda.

Di Solo, SDD menulis sungai, jalan, dan kereta. Kunjungan ke Semarang melalui perjalanan darat sampailah ke pelabuhan. Pengalaman berkota masih mungkin dituliskan secara bersahaja tanpa rinci dan terkesan sosiologi-perkotaan. Puisi cenderung diri mengalami dan olahan imajinasi tak harus kebablasan.    

Pengisahan kota agak filosofis ada di puisi pendek berjudul “Kota”. Di kertas, tercantum tanggal penulisan: 30 Juni 1959. SDD sedang gelisah dan ingin mendefinisikan kota. Jari-jari menggerakkan pulpen menghasilkan puisi:

disini ada apa/ aku berdjalan hanja sendiri/ lontjeng masih berbunji/ disini ada apa/ aku berdjalan bibir terkuntji/ lontjeng terus bernjanji.

Barangkali SDD sedang berjalan di kota. Lonceng di gereja memberi tanda kehidupan kota. Diri remaja sedang ingin mengerti tapi merasa sendirian dan diam di keramaian kota. Pada kota, SDD berhak mengerti segala agar tak sia-sia. Tema kota itu terus digarap SDD di puisi-puisi mutakhir, tak melulu Solo. SDD menggubah puisi mengenai puluhan kota: Solo, Semarang, Jakarta, New York. SDD pun mencatat kota-kota di Asia dan Eropa. Diri dan puisi menempuh perjalanan dari kota ke kota sampai usia menua.

Pada buku Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono, pembaca sempat diundang turut bernostalgia kota dan mengimajinasikan si remaja bertubuh ceking ketagihan menulis puisi. Begitu. (*)

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi. Seorang penggiat literasi dan esais. Kuncen Bilik Literasi dan Jagat Abjad (Solo). Menulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com