Pos-Islamisme dalam Ayat-Ayat Cinta 2

oleh Cantini Cucum

22 Desember 2017 Durasi: 5 Menit
Pos-Islamisme dalam Ayat-Ayat Cinta 2 Kisah Fahri dan Aisha berlanjut di "Ayat-Ayat Cinta 2". Simak ulasannya beserta penjabaran pos-islamisme.

Seakan menggugat happy ending story yang telah tujuh tahun terbenam, kisah Fahri dan Aisha menarik kembali pembacanya pada nuansa eskapisme fiksi populer islami. Kali ini ada beban berat yang dipikul sekuel Ayat-Ayat Cinta ini.

Terdapat narasi-narasi besar yang menjadi misi sebuah fiksi pop islami yang tidak hanya memberikan pengalaman fiksi islami yang menghibur, tetapi juga mengangkat konten yang tengah memanas secara universal, menghadirkan Fahri dan situasinya berada di tengah lingkungan tetangganya yang selalu problematik baik di Ayat-Ayat Cinta maupun Ayat-Ayat Cinta 2, dan sikapnya yang tidak bisa melihat orang lain menderita.

Tantangan yang dialami Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta 2 seakan menjadi ketakutan muslim sedunia. Wacana-wacana dan justifikasi masyarakat di negara mayoritas nonmuslim terhadap Islam saat ini, dikemas ke dalam kisah seorang muslim di Eropa. Hal tersebut akan terasa berbeda jika melihat kisah Fahri Abdullah saat masih menjadi mahasiswa Indonesia miskin di Mesir pada Ayat-Ayat Cinta. Inilah yang hendak diangkat oleh Habiburrahman El Shirazy, bahwa pengalaman seorang muslim akan berbeda tergantung situasi, kondisi, dan tempatnya.

Meskipun terdengar naif, fiksi populer selama ini dianggap sebagai sastra yang hanya menghadirkan bentuk baru tanpa mengedapankan isi. Pada periode saat ini akan sulit menemukan perbedaan sastra populer dan sastra adiluhung atau serius. Fiksi pop islami menghadirkan moralitas, humanisme, religius, sekaligus membawanya pada gairah eskapisme sastra populer.

Terdapat pengalaman baru dalam kesusastraan Indonesia kontemporer, bahwa setelah runtuhnya Orde Baru, wacana Islam menemukan kebangkitannya, mencairkan stereotip Islam yang konvensional menjadi sebuah fenomena baru dalam budaya populer sebagai Islam moderat, termasuk di antaranya dalam fiksi pop islami.

Ayat-Ayat Cinta 2 mungkin masih mengikuti pola genre fiksi populer, mengikuti selera pembacanya, mengetengahkan Islam dengan gradasinya dengan genre-genre mapan lainnya; romance, travel writing atau fiksi perjalanan, fiksi sejarah, fiksi biografi, atau bahkan genre misteri. Banyak genre yang mungkin bisa hadir mengikuti perkembangan selera pembacanya, dan dalam hal ini Ayat-Ayat Cinta 2 muncul memenuhi kriteria tersebut.

Wacana serius yang dipikul Fahri menarik untuk dicermati. Bukan dari perspektif eskapis, lebih ke bagaimana sastra populer saat ini mengemban misi besar namun dikemas dalam formulasi genre fiksi populer.
 

Dari Romance ke Travel Writing

Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Forum Lingkar Pena pada 1997 telah menggerakkan fiksi bernuansa islami ke dalam bentuk fiksi populer. Perubahan itu menghadirkan genre baru di dalam gaya kepenulisan kesusastraan Indonesia bernama fiksi pop islami. Kebangkitannya menggeliat saat Ayat-Ayat Cinta dialihwahanakan ke dalam film dengan judul yang sama. Hal tersebut menjadi fenomena dalam budaya populer yang menyelaraskan Islam dan konsumerisme.

Pembaca Ayat-Ayat Cinta akan merasakan perubahan formulasi cerita dengan Ayat-Ayat Cinta 2. Kendatipun kisah cinta Fahri masih menjadi daya tarik utama, namun ada penegasan pada bab awalnya yang menunjukkan eksotisme Edinburgh yang jauh berbeda dengan kegersangan Mesir pada Ayat-Ayat Cinta.

Keutamaan fiksi travel writing adalah adanya misi perjalanan tokoh-tokohnya yang jauh dari tempat lahirnya. Perasaan jauh yang dimiliki Fahri adalah ketika dirinya hadir di tempat yang bukan mayoritas penganut Islam.

Genre travel writing menampilkan petualangan perjalanan di tempat asing. Gradasinya dengan unsur-unsur keislaman ditumpahkan pada peristiwa dan bangunan bersejarah Islam. Hal ini mengingatkan kaum muslim pada hijrah yang dilakukan para nabi, rasul, dan sahabat-sahabat nabi dalam menyebarkan dakwah dan jihad. Begitupun Fahri sebagai seorang tokoh muslim yang mengemban beban berat terhadap posisinya sebagai kaum minoritas di Britania Raya.

Fahri tidak hanya menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Inggris, tetapi juga pengusaha yang mengembangkan bisnis berlabel halal di Eropa. Tantangannya adalah harus bertetangga dengan beberapa warga yang membenci Islam, pemeluk Yahudi, dan perempuan modern pemabuk. Suatu tempat yang jika dibayangkan akan mencekam bagi seorang muslim.

Walaupun begitu, El Shirazy menunjukkan indahnya beribadah di antara segala tantangan tersebut dengan bertemunya Fahri dengan sesama muslim dari beragam negara, shalat berjamaah di masjid raya, dan merayakan momen-momen pertemuannya dengan Misbah, sahabatnya saat di Mesir. Dan tentu saja menunjukkan betapa indahnya perbedaan.
 

Pertarungan Identitas

Pertemuan Fahri dengan Aisha melalui kejadian diserangnya Alicia di metro oleh para muslim Mesir dengan alasan Alicia seorang nonmuslim memperlihatkan posisi non-Islam di negara Islam. Akan terasa pergerakan wacana identitas saat membaca Ayat-Ayat Cinta 2 ketika seorang muslim yang menjadi objek warga nonmuslim.

Beban berat yang diemban fiksi pop islami pada dekade ini adalah perspektif muslim untuk melunturkan wacana labelisasi Islam sebagai agama radikal. Peristiwa 9/11 telah mengglobalkan Islam sebagai kaum ekstremis karena teror yang belakangan menggema membawa ikon agama.

Seakan menyuarakan kegelisahan umat muslim dunia terhadap serangan identitas Islam yang selalu dianggap teror bagi umat nonmuslim. Hal ini mengingatkan pada film serial komedi situasi remaja Amerika, Alien in America, yang sempat tayang sekitar tahun 2005. Acara tersebut menrepresentasikan posisi remaja muslim Pakistan di Amerika Serikat.

Ayat-Ayat Cinta 2 membawa pembaca pada pelunturan identitas Arab yang selalu diidentikkan dengan muslim. Beberapa teks mengarahkan pada tokoh-tokoh keturunan Arab yang bersikap tidak islami.

Seperti salah satu karyawan Fahri, seorang warga Inggris nonmuslim. Ia digambarkan sebagai sosok yang humanis dan toleran ketika mengingatkan Fahri untuk memberikan ruang shalat di restoran halalnya. Sementara karyawan Fahri lain yang beragama Islam memberi saran untuk meningkatkan kualitas manajerial perusahaan agar lebih menguntungkan secara materi.

Ciri khas lain dari formulasi genre travel writing adalah ragam etnis yang ditemui oleh Fahri di Inggris Raya, tempatnya tinggal. Tema multikulturalisme yang ingin disampaikan secara tersirat inilah yang menjadi tantangan Fahri untuk beribadah di negara yang bukan mayoritas Islam.

Posisi Fahri sebagai seorang muslim dari Indonesia mewakili identitas muslim Indonesia di Eropa. Lebih dari itu, sosok Fahri yang digambarkan seorang muslim taat, baik hati, dan dermawan tetap menjadi daya tarik seorang lelaki ideal para muslimah.
 

Islamisme ke Pos-Islamisme

Ariel Heryanto pernah membahas bagaimana wacana pos-Islam hadir dalam proses produksi film Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Pos-islamisme merupakan gerakan politik Iran yang hadir dalam gejolak pra dan paska Revolusi Islam Iran yang diamati oleh Asef Bayat dalam bukunya Post-Islamism: The Changing Face of Political Islam. Meskipun asumsi gerakan pos-Islam dalam Ayat-Ayat Cinta 2 masih hipotetis, namun secara gejala, pos-Islam hadir kentara dalam teks-teks yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.

Terdapat beberapa ciri identik pos-islamisme yang terjadi dalam gerakan politik Islam Iran: munculnya gerakan kaum perempuan yang menghendaki pilihan untuk tampil sebagai perempuan modern namun tetap islami; aksi-aksi yang dilakukan oleh pemuda-pemudi Iran; dan terbukanya akses keluar masuk jalan yang semula ditutup membaurkan budaya Islam dan budaya Barat (Amerika dan Eropa).

Sekilas, tampak gerakan revolusioner pos-islamisme merupakan gerakan politis. Namun, dapat dikatakan, terdapat gejala yang sama dalam gerakan epistemologis dalam Ayat-Ayat Cinta 2.

Pertama, muslimat maupun perempuan nonmuslim yang lalu lalang dalam teks menjadi eksotisme utama, terlebih dalam fiksi pop islami. Salah satu formulasinya adalah eksotisme perempuan etnis atau keturunan Arab, dengan membuatnya (makin) ideal dengan hijab namun tetap modis, menggunakan boots, gadget, tidak bercadar, moderat, terpelajar, dan (tentu saja) digambarkan cantik.

Sabrina adalah salah satu perempuan yang ditemui Fahri digambarkan berwajah rusak dan memiliki identitas misterius. Hadir pula Hulya, saudara Aisha yang mengingatkan Fahri pada istrinya yang hilang di Palestina; Brenda, tetangga Fahri yang hobi ke bar bersama teman-temannya; Keira yang membenci Fahri karena kematian ayahnya akibat bom terorisme; serta wanita paruh baya Yahudi, tetangga Fahri yang taat beribadah.

Hilir mudiknya perempuan-perempuan dalam kisah Fahri tersebut menggambarkan bagaimana fiksi pop islami memberikan ruang tampil bagi beragam tokoh perempuan. Yang perlu digarisbawahi pula adalah kehadiran mereka yang tidak hanya muslim, tetapi juga nonmuslim.

Kedua, salah satu kriteria fiksi populer adalah dengan melibatkan tokoh-tokoh muda sebagai penggerak narasi. Sebagian besar pembacanya berusia muda yang memiliki waktu luang untuk membaca. Pembaca muda lebih mudah terideologikan dengan gagasan-gagasan di dalam fiksi. Dengan kata lain, pemuda menjadi media sekaligus perantaranya. Perlu diingat bahwa Revolusi Islam Iran lebih banyak digerakkan oleh kaum muda.

Terdapat tokoh remaja Inggris bernama Jason, adik Keira yang diperlakukan baik oleh Fahri, meskipun Jason sempat bersikap tidak ramah padanya. Persahabatan Fahri dan Jason mengantarkan narasi yang menghangatkan cerita. Fahri sendiri digambarkan sebagai pemuda religius yang terpelajar dan moderat, mewakili pemuda yang selalu ingin tahu dan ingin maju.

Ketiga, berbaurnya dua budaya—Islam dan Eropa—dalam Ayat-Ayat Cinta 2 menggambarkan harmonisasi muslim dan nonmuslim. Dalam alurnya, keduanya memiliki konflik ketegangan mengenai terorisme, radikalisme, dan fanatisme sebagai isu sentral Islam di mata dunia.

Namun gagasan yang ingin ditunjukkan El Shirazy adalah mencairkan identitas yang telah dijelaskan sebelumnya. Bahwa tidak semua Etnis Arab memiliki sikap islami, pun non-Islam yang bersikap sebaliknya.

Hal tersebut ditegaskan Bayat bahwa ketika periode islamisme yang dibahas adalah mana yang Islam dan mana yang bukan, pos-islamisme menyuarakan mana Islam dan mana yang sangat Islami.

Melalui tindak pembacaan yang serius, gejala-gejala dalam fiksi populer tak hanya hadir sebagai sebuah fenomena selera pembaca, produksi masif, atau hanya sebagai eskapisme belaka. Fenomena budaya populer merupakan kondisi kebangkitan hasrat individu yang berubah menjadi subjek kolektif. Meledakkannya, menjadi sebuah fenomena massal yang membangkitkan minoritas menjadi mayoritas. (*)

Ayat-Ayat Cinta 2
Habiburrahman El Shirazy
Republika
2015

Cantini Cucum

Cantini Cucum. Lahir di Bandung tinggal di Jogja. Akan hibernasi tanpa kopi. Penyayang kucing. Tidak suka makanan pedas.