Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

Fungsi Kritik dan Tanggung Jawab Kritikus

oleh Malkan Junaidi

24 Desember 2017 Durasi: 9 Menit
Fungsi Kritik dan Tanggung Jawab Kritikus Kritik sastra berfungsi membuat pembaca mempunyai tempat untuk pulang. (Ilustrasi Yulia Saraswati)

Kritik sastra itu untuk apa? Apakah dia merenovasi pembaca? Apakah dia membongkar pembaca? Apakah dia merajut kembali, menyatukan pembaca? Apakah dia membuat pembaca merasa punya tempat untuk pulang?

Ini beberapa pertanyaan dalam pidato Afrizal Malna pada Malam Anugerah Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2014. Pertanyaan-pertanyaan ini dilanjutkan tidak dengan kemungkinan jawaban yang bisa diajukan, melainkan dengan keraguan bahwa masih terdapat kritik sastra di Indonesia. Dikatakan kritik sastra traumatik oleh sejarahnya sendiri. Entah apa maksud ungkapan ini. Afrizal yang bertindak sebagai salah satu juri kegiatan tersebut merasa, kalaupun masih ditemukan, kritik berfungsi tidak sebagaimana diharapkan. Dia memberi dua contoh fenomena. Pertama, kecenderungan peserta sayembara memilih buku-buku penerbit mayor sebagai subjek kritik. Tidak ada yang berusaha blusukan ke mana-mana, misal ke situs-situs internet, demi mencari karya yang layak diulas. Kedua, tak adanya ketegasan sikap dalam mengkritik. Para peserta mulanya terkesan bernapsu melakukan pembantaian dengan jargon ‘pengarang sudah mati’, namun akhirnya secara tersirat mengakui kuasa penulis dengan meminta maaf seandainya kritik yang disampaikan menyinggung perasaan.

Penulis Museum Penghancur Dokumen itu selanjutnya menyitir lanskap Pesta Seni DKJ tahun 70-an dan 80-an, di mana kritik menurutnya masih berfungsi optimal, ditandai dengan antusiasme para seniman-sastrawan dalam menyambut dan mengikutinya.

Lembaga tersebut pada waktu itu sangat terhormat. Juri pasang badan untuk argumentasi. Tapi, para pemenang pasang badan juga. Mereka bisa menolak hadiah, seperti gaya Sartre menolak Nobel. Pada waktu itu, pesta terjadi. Sekarang semuanya seperti sembunyi-sembunyi, penilaian juri juga sembunyi di balik mikrofon.

 

Jejak Pembahasan

Ihwal krisis kritik sastra tentu sering dibahas dan mungkin malah sudah mulai membosankan bagi sebagian orang. Dalam Manusia Berpikir Tuhan Tertawa, misalnya, Nuruddin Asyhadie merekam ‘polemik’ yang terjadi antara Saut Situmorang (yang kecewa dengan mutu kritik sastra sejauh ini). Pandu Abdurrahman (yang menilai Indonesia tak sedang kekurangan stok kritik dan kritikus sastra, dan kalaupun kekurangan ada satu jenis kritikus yang selalu bisa diandalkan: waktu dan dinamika pembaca). Juga Maman S. Mahayana (yang menganggap gugatan macam disampaikan Saut merupakan sikap apriori terhadap kritik sastra).

Nuruddin juga sekaligus mengajukan berbagai sanggahan, antara lain terhadap esai Maman: kritik atau teori senantiasa berdiri pada ideologi tertentu, yang memberikan kepadanya hak-hak menjustifikasi apakah sebuah karya adalah monumen atau sampah. Terhadap esai Pandu: karya dan ilmu sastra bersifat kualitatif, sehingga selagi makalah penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi baru menunjukkan kuantitas, tak mungkin dijadikan bukti tidak adanya krisis kritik sastra. Sanggahan juga terhadap esai Saut: kecenderungan komentar untuk bersifat emosional, subjetif, dan tidak ketat tak serta-merta menjadikannya barang nomor dua. Barthes dan Derrida adalah di antara figur penting yang menulis di bawah palang komentar.

Semua ini menegaskan bahwa pada bidang dan kasus tertentu krisis merupakan diskursus, bukan fenomena aktual macam gempa bumi atau gunung meletus. Maksudnya, dalam kritik sastra misal seorang bisa menyatakan tengah terjadi krisis sementara yang lain membantah. Mana yang mampu memberi penjelasan paling rasional, bukti paling meyakinkan, dialah yang paling berkemungkinan dianggap paling benar dan memenangkan perang opini, walau untuk beberapa saat. Dan sementara pihak-pihak yang berkonfrontasi membesarkan kubu, menambah jumlah pendukung, penonton yang cerdik mungkin menyerap pelajaran berharga yang mendorongnya menghasilkan sintesis-sintesis tertentu, wacana berbeda, dan akhirnya diam-diam membangun kubu lain, rezim pemikir(an) yang turut ambil bagian dalam politik ekspansi kekuasaan.

Ruang Bicara dan Lingkup Publik Hari Ini

Balik ke pertanyaan Malna: Saut tak puas dengan produk kritik yang ada, demikian pula Afrizal tidak berbahagia dengan 106 esai yang diterima juri kritik sastra DKJ 2014. Selaras pernyataan Nuruddin soal kuantitas dan kualitas, krisis kritik bukan berarti kritik tak ditemukan sama sekali, melainkan boleh jadi ia ditemukan namun tak berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi apa sebetulnya fungsi kritik?

Di Eropa, kritik pernah berfungsi sebagai alat bagi kaum borjuis liberal untuk melawan negara absolut dan masyarakat hierarkis, sebagai pendukung industri kebudayaan, membantu perusahaan-perusahaan besar berjalan, sebagai pengoreksi moralitas masyarakat, dan tentu sebagai pembangun kesusastraan.

Maka saya pikir pertanyaan Afrizal bisa sekaligus dianggap sebagai jawaban. Kritik sastra bisa berfungsi untuk merenovasi pembaca, membongkar pembaca, merajut kembali dan menyatukan pembaca, dan membuat pembaca merasa punya tempat untuk pulang. Pengamen memfungsikan galon air mineral sebagai perkusi tentu bukan sebuah kesalahan. Fungsi selalu berkaitan dengan potensi. Bentuk galon air mineral sendiri memang potensial untuk menghasilkan suara layaknya drum, dan karenanya dalam ketiadaan drum atau dalam anggapan drum kurang praktis, ia bisa menjadi badal. Justru ini yang dinamakan sebagai kreativitas dan pengayaan.

Persoalan sebenarnya adalah bagaimana memberikan kritik kemampuan-kemampuan yang memungkinkannya melakukan fungsi tertentu. Jika seorang kritikus sastra ingin kritiknya “terbaca” oleh kelas pekerja, buruh bangunan, atau supir angkot yang tak akrab dengan istilah-istilah akademis, maka dia harus dengan cerdik, meminjam istilah Pandu Abdurrahman, membumikan bahasanya dengan cara yang menurutnya masih dalam parameter nyeni.

Namun itu saja tak cukup. Kebernasan dan kelincahan dalam mengartikulasikan gagasan saja juga tak cukup. Agar kritik berfungsi optimal dibutuhkan apa yang disebut Terry Eagleton sebagai “ruang bicara” terpisah yang khusus, yaitu ruang yang diwarnai oleh pertimbangan rasional dan kritis, bukan oleh keputusan-keputusan acak atau kasar dari politik otoriter; suatu “lingkup publik” yang pada abad ke-17 dan 18 di Eropa meliputi wilayah lembaga-lembaga sosial seperti klub-klub, warung-warung kopi, majalah berkala, atau lembaga lain tempat orang berkumpul dan berdiskusi secara bebas mengenai masalah yang serius. Tidak ada gunanya produk pemikiran bermutu namun terasing di perpustakaan dan rak toko buku. Ia harus memasyarakat, dengan cara apa pun, jika perlu dengan menggedor pintu, membuat orang bangun dari tidur nyenyak, dan membujuk mereka agar turut serta dalam sebuah gerakan perubahan. Apalagi menimbang kerusakan sudah mencapai level struktural sebagaimana disinggung Saut dalam Sastraku Sayang Sastraku Malang, yang untuk membenahinya tak cukup dengan cuap-cuap para sastrawan, melainkan butuh peran berbagai pihak dari lintas profesi dan institusi.

Sekarang telah menjadi tren di universitas negeri kita, seperti yang sudah terjadi pada universitas negeri yang elit semisal Universitas Indonesia  dan Universitas Gajah  Mada, yaitu mengganti nama “Fakultas Sastra” menjadi sekadar “Fakultas Ilmu Budaya”! “Sastra” sebagai sains dan seni bukan saja sudah tidak diakui lagi statusnya oleh mereka yang justru punya kewajiban akademis untuk membelanya bahkan dijatuhkan statusnya menjadi sekedar “Ilmu Budaya”!

Revolusi teknologi abad ini, yang telah mengubah cara masyarakat menyerap dan berbagi informasi, memberi kesempatan kita mewujudkan itu semua (atau beberapa hal krusial darinya) dengan relatif lebih mudah. Komunikasi dua arah sebagaimana konteks “ruang bicara” Eropa 3-4 abad silam mendapat platform-nya, di antaranya pada Facebook dan Twitter. Diskusi dan pertukaran pikiran secara bebas bisa berlangsung kendati tanpa kehadiran fisik para partisipan di sebuah tempat. Seorang bisa melakukannya sembari menikmati teh tubruk di beranda, menunggu kedatangan kereta malam di stasiun, berangkat ke kantor dengan bus trans, bahkan sambil bikin brownies atau nongkrong di toilet.

Apa yang harus dilakukan kritikus adalah mengoptimalkan lingkup publik virtual tersebut. Pertama, dengan membentuk jaringan pertemanan yang solid dan efektif, terdiri dari orang-orang dari latar keahlian dan pekerjaan berbeda namun memiliki kepedulian sama. Kedua, dengan menggunakan fitur dan template ekspresi secara tepat dan terukur. Sebab jika tujuan kritik adalah membangun kesadaran publik, maka serial tweet, status aforistis, emoji orang muntah, stiker tikus tertawa terbahak-bahak, hingga meme menggunakan foto tokoh tertentu kadang lebih menarik perhatian dan membekas di ingatan dibanding esai dengan kalimat canggih dengan sederet daftar rujukan.

 

Cakupan Masalah (Kritik) Sastra

Karya sastra memang lazim dibahas secara khusus, terlepas dari isu ideologi, politik, ekonomi, dan sosial yang melingkupinya. Kritikus bicara soal ketepatan metafora dan simile, efek bunyi dari pilihan kata tertentu, dan kekayaan makna akibat suatu konstruksi kalimat. Ini hal biasa. Namun kenyataannya kesusastraan adalah sebuah kehidupan dalam jaring kehidupan kebudayaan. Sebuah novel atau buku puisi bisa merupakan perpanjangan dari kampanye ideologi, tindakan politis menyusun curriculum vitae dalam rangka mencapai jabatan tertentu di pemerintahan, juga tentu aktivitas yang didesak oleh kebutuhan finansial. Bukan rahasia bahwa banyak penulis menjadi eksil, dipenjara, dan mati sebab sastra tak melulu urusan bahasa indah dan narasi besar yang netral dari kepentingan praktis dan implikasi politis apa pun.

Contoh bahwa masalah sastra bisa lebih kompleks, menyangkut bidang-bidang lain: Afrizal mempertanyakan homogenitas pilihan subjek kritik dan mengaitkannya dengan tidak berfungsinya kritik. Perlu dipertanyakan apakah penerbit mayor misalnya, benar menerbitkan novel yang ‘begitu-begitu saja.’ Jika iya, maka harus dipertanyakan pula ini persoalan branding, absennya dedikasi terhadap kemajuan literasi, ataukah semata strategi bertahan hidup dari penerbit tersebut. Sebaliknya, bukankah sebuah hil yang tak mustahal meski karya yang tersedia bersifat tipikal dan seragam namun berkat kecerdikan seorang kritikus lahir kritik yang tetap menarik, seperti seorang koki kreatif yang dengan bahan seadanya mampu menyuguhkan hidangan luar biasa. Jika tidak, yakni jika ternyata novel-novel terbitan penerbit mayor heterogen, maka tentu pemilihan subjek kritik terbatas pada buku-buku penerbit besar tidak bisa dijadikan landasan klaim kritik tak berfungsi.

Hal lain: harapan agar DKJ bisa merebut posisinya di masa lalu justru berpotensi menunjukkan bahwa masalah sesungguhnya ada di pengelolaan lembaga. Saya dan seorang teman pernah menggunjingkan shortlist sayembara buku dari dua institusi berbeda yang beredar di waktu hampir bersamaan. Kami sepakat daftar yang satu komposisinya lebih kuat dari yang lain. Kami tidak melakukan investigasi (jadi silakan saja ini dibantah jika terbukti keliru), hanya membayangkan hal itu disebabkan mula-mula oleh anggapan adanya selisih gengsi. Jika ada dua sayembara buku dalam waktu hampir bersamaan, tentu para penulis akan memilih mana yang dianggap lebih bergengsi. Gengsi bisa muncul dari profesionalitas dan riwayat penyelenggaraan, komposisi juri, dan besar hadiah. Mereka harus memilih salah satu sebab lazim ada syarat bahwa buku yang diikutkan tidak sedang diikutkan event serupa. Maksud saya, DKJ mungkin memang tidak sebergengsi dulu. Sebabnya macam-macam. Mungkin karena lemahnya pidato pertanggungjawaban. Mungkin karena makin seringnya ia merekrut juri sekelas Afrizal Malna, yang bagi sebagian orang lebih pas untuk event lomba teater ketimbang kritik sastra. Sebagai imbas, hanya karya-karya medioker dan mengecewakan saja yang tiba di meja juri. Jadi sementara Afrizal mengeluhkan terjadinya sebuah masalah, mungkin dia tidak sadar dirinya merupakan salah satu penyebab munculnya masalah tersebut. Ngene iki kan ironis, Rek!

Fenomena Narudin

Pengertian kritikus sebagai orang yang dengan pengetahuan sinoptiknya menghantam penyelewengan dan menekan para pelanggar bisa diperluas hingga mencakup tindakan-tindakan penyingkapan makna dan penunjukan hubungan. Ini meniscayakan kritikus sebagai intelektual.

Antonio Gramsci, via Peran Intelektual Edward Said, berpendapat orang dapat mengatakan semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual. Mereka yang menjalankan fungsi intelektual terbagi dua. Pertama, tradisional, seperti guru, ulama, dan administrator yang melakukan hal sama sepanjang waktu (mengajar, berdakwah, mencatat). Kedua, organik, yaitu kalangan yang berhubungan langsung dengan kelas atau perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan mereka untuk berbagai kepentingan serta untuk memperbesar kekuasaan dan kontrol. Kritikus sastra karenanya boleh jadi intelektual tradisional, seperti dosen sastra yang menulis kritik lebih sebagai tuntutan profesi akademis ketimbang oleh dorongan murni untuk terlibat dalam dan demi kehidupan kesusastraan; boleh jadi pula intelektual organik, yang menulis demi kepentingan tuannya, tak peduli harus berkali-kali menjilat ludah sendiri.

Hari ini tidak ada contoh lebih otentik dan konkret dari dugaan adanya krisis kritik(us) sastra dibanding fenomena Narudin Pituin. Penulis jebolan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini mempertegas apa yang disampaikan, sekali lagi, oleh Saut Situmorang di paragraf pertama esai Dicari: Kritik(us) Sastra Indonesia.

Kalau para dosen sastra sendiri, yang konon sehari-harinya bergelut dengan sastra sebagai ilmu pengetahuan akademis, mutu analisis sastranya tidak bisa memuaskan kritikus asing seperti A. Teeuw, bagaimana lagi kualitas para mahasiswanya yang kelak di kemudian hari mungkin jadi penulis tentang sastra, sastrawan atau malah dosen sastra.

Narudin adalah penulis yang empat tahun terakhir konsisten mencitrakan diri sebagai kritikus. Jika rata-rata sastrawan memberi keterangan diri sebagai “penyair dan esais”  di akhir esai mereka, maka Sarjana Sastra Inggris ini ajek menulis di atas judul esainya keterangan “Kritik Sastra Narudin” untuk menegaskan apa yang akan disampaikan bukanlah ceramah moral atau panduan menginstal laptop.

Bagi para pengagumnya, yang rata-rata novis dan amatir, dia sosok intelektual bernyali besar, meski blokir akun lawan debat kerap menjadi jurus pamungkas. Tidak ada tokoh yang terlalu besar untuk dijatuhkan. Di papan keyboard komputernya, penulis dari era Amir Hamzah hingga Aan Mansyur bisa mengalami pengecilan makna di luar dugaan kebanyakan orang. Semua sastrawan boleh sungkan untuk mengatakan tulisan Tagore dan Rumi mengandung sejumlah kelemahan, Narudin tidak. Tentang puisi Abdul Hadi W. M. dia menulis: menyarankan suatu tendensi sufistik yang melambung-lambung hingga tak jarang lupa pijakan di atas bumi. Tentang puisi “Celana” dan “Tahilalat” Joko Pinurbo: tak pantas jika dibaca anak-anak sekolah, kaum terpelajar, para mahasiswa, guru, dosen, alias para pendidik. Apa sebab? Sebab kesan porno dalam puisi-puisi itu tak mengandung manfaat yang berarti. Tentang puisi Mardi Luhung: menawarkan permainan fantasi kata-kata, bukan keutuhan makna, sehingga agak sukar—jika enggan disebut mustahil—menangkap maksud atau makna yang disampaikan Mardi Luhung lewat puisi-puisinya.

Dalam kaitan dengan krisis totalitas sebagaimana disitir Afrizal Malna di pidato itu, sebetulnya keberanian Narudin merupakan perkecualian. Narudin adalah jenis kritikus yang tidak akan bilang maaf setelah menilai buruk sebuah tulisan. Hanya saja nyali tanpa kecermatan dan objektivitas cenderung menghasilkan kekonyolan dan sikap tidak bertanggung jawab.

 

Pemerkosaan Amir Hamzah (1911-1946) terhadap puisi lama, sekadar contoh, tampak pada bait puisi berikut:

Wah kalau begini naga-naganya

Kayu basah dimakan api;

Aduh kalau begini aku laku rupanya

Tentulah badan lekaslah fani.

(“Buah Rindu I”)

 

Perhatikan sejenak kata “api” dan kata “fani” berturut-turut pada baris ke-2 dan baris ke-4. Di situ, Amir Hamzah, telah dengan seenaknya mengubah kata “fana” menjadi “fani” untuk kebutuhan purwakanti. Sampai akhirnya, seorang H.B. Jassin setelah mengumpulkan dan mempertimbangkan kualitas puisi-puisi Amir Hamzah, menjulukinya sebagai Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru (1963).

 

Apa yang disampaikan Narudin di makalah Perkembangan Sastra Mutakhir Indonesia (Sebuah Kaki Langit Kemungkinan) ini menjadi sebuah fitnah keji yang muncrat dari ketergesaan di dalam menilai. Andai dia menyempatkan diri untuk membuka kamus tentu akan lain cerita. “Fani” jelas merupakan salah satu lema KBBI, dengan arti “menjadi fana” atau “bersifat fana”. Pemilihan kata ini bukanlah tindakan seenaknya dari Amir Hamzah hanya untuk mencipta purwakanti. Narudinlah yang menyimpulkan tanpa terlebih dulu menganalisis secara layak.

Makalah tersebut disampaikan di Seminar dan Temu II Sastrawan NTT, dua tahun silam. Semoga para peserta kritis, tidak menelan mentah-mentah kebodohan yang disuguhkan. Kita patut heran, bagaimana mungkin sebuah universitas meluluskan orang dengan tingkat kecerobohan dan kengawuran demikian tinggi. Jika ini terjadi pada lulusan Fakultas Kedokteran, bahaya macam apa akan mengancam masyarakat akibat berbagai malapraktik? Apakah dipikir kerusakan pemikiran tidak lebih berbahaya dibanding kerusakan fisik?

Dari definisi intelektual Gramsci yang longgar itu, Narudin jelas masuk kategori intelektual, tapi pada fungsi mana sebetulnya dia berperan, berikut saya sarikan (sebagian) data yang dihimpun dengan baik oleh Muhidin M. Dahlan:

Jumat, 3 Januari 2014, bertempat di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, buku 734 halaman berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh diluncurkan. Hasil ikhtiar kelompok yang menamakan diri Tim 8 ini segera menimbulkan kegaduhan luar biasa di media sosial. Sebab utamanya adalah masuknya nama Denny Januar Ali, seorang konsultan politik, ke dalamnya. Empat hari kemudian, Saut Situmorang dan kawan-kawan membuat petisi menentang program penerbitan tersebut di situs change.org dan mendapat 759 pendukung pada hari penutupannya. Tanggal 10 Januari 2014, grup Facebook Aliansi Anti Pembodohan (sekarang Politik Sastra) dibuat. Selang enam hari, Cecep Syamsul Hari menerbitkan surat terbuka pengunduran diri sebagai redaktur Horison sehubungan dengan keterlibatan para sahabatnya, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, dan Agus R. Sardjono (semua notabene pernah/masih menjabat redaktur majalah sastra itu) di dalam Tim 8. Tanggal 17 Januari 2014, para pendukung Petisi 7 Januari menggelar unjuk rasa di Taman Ismail Marzuki. Di hari yang sama, Denny J.A. menulis sebuah tweet: “Mereka yang mendukung petisi akan dicatat sejarah meminjam tangan kekuasaan untuk melarang sebuah buku”. Tanggal 21 Januari 2014 wakil PDS H.B. Jassin, Ariany Isnamurti, mengeluarkan pernyataan resmi menjelaskan bahwa PDS H.B. Jassin tidak terlibat baik dari segi dana, ide, maupun proses dalam penyusunan buku dimaksud, dan secara tak langsung ini bantahan atas klaim Denny J.A. sebelumnya: “Buku ini diterbitkan oleh Gramedia, atas inisiatif sebuah lembaga sastra sangat berwibawa PDS H.B. Jassin”. Tanggal 6 Februari 2014, salah satu anggota Tim 8, Maman S. Mahayana menyatakan mencabut lima esainya dan berjanji mengembalikan honor yang telanjur ia terima.

Sketsa tersebut menggambarkan banyak hal: bagaimana sebuah skandal berlangsung, ditanggapi secara kritis dan dalam berbagai bentuk oleh pemerhati dari berbagai latar profesi, kemudian menghasilkan beberapa efek. Bisa dilihat, petisi dan demonstrasi ternyata bisa menjadi format yang tidak kalah efektif dibanding esai lepas di koran nasional. Tidak semua yang terlibat menentang skandal tersebut memiliki kemampuan mengartikulasikan gagasan secara mumpuni, namun toh kegaduhan yang mereka timbulkan cukup untuk membuat figur-figur populer yang terkait langsung atau tidak langsung berubah sikap. Ada kritikus berperan, bentuk kritik tertentu dipilih, dan kritik menampakkan hasil-hasil nyata.

Dalam kisruh yang berlarut-larut hingga menyeret Saut ke pengadilan ini, Narudin mula-mula dalam posisi netral, nyaris acuh tak acuh, namun akhirnya melalui akun facebooknya dia menulis:

Dari diskusi sebelumnya, ada dua hal yang perlu saya sorot dari komentar-komentar. Pertama, soal "puisi esai". "Puisi esai" ingin mengandaikan dirinya "puisi genre baru", padahal istilah "puisi esai" itu "contradictio in terminis" (istilah rancu, karena puisi dan esai punya wilayah masing-masing). Kalau "kecanggihannya" terletak pada catatan kaki yang panjang lalu dengan mengabaikan nilai-nilai puitik (aestetis) ucapannya, tentu ini problem lebih berat karena abad ke-15 atau abad ke-16 pun di Inggris, karya-karya sastra Shakespeare menggunakan catatan kaki, dan tak membuat pembacanya lantas "lebih terpikat dengan catatan kakinya". Pengamatan saya, puisi esai selain bernilai populer, cenderung lebih bagus catatannya adalah semacam "kebaruan yang mundur" dalam perpuisian tanah air. Kalau hendak menulis artikel sosio-politik, ya, menulis saja yang baik.

Postingan ini mendapat beragam komentar, antara lain berupa pertanyaan, “Kenapa Sapardi bisa memuji dan membuatkan kata pengantar buat buku ini? Apakah benar murni atau karena unsur uang?” Narudin menjawab:

Kecenderungan politis dapat saja terjadi, walaupun kita mesti ekstra hati-hati memandangnya, karena "sesuatu yang ajek dapat berubah dengan iming-iming uang", dan itu saya nilai "kehancuran bangunan kemurnian sastra kita". Dan kita perlu bukti konkret jika politik uang ini sebagai ideologi rendah (false consciousness), "kesadaran palsu".

Pertanyaan lain diajukan dengan sangat eksplisit, tanpa tedeng aling-aling, “O ya, kalau seandainya Pak Narudin di kasih uang 10 juta untuk memuji puisi esai Denny JA bersedia tidak? Coba jawab dengan sejujur-jujurnya serta alasannya...” dan sang kritikus dengan tanpa ragu pula menjawab:

Wah, saya bukan seorang neo-Kapitalis, dibayar uang, langsung berubah haluan. Itu sungguh, rendah. Saya berbagi ilmu, Kang Toy, ingat itu.

Namun apa mau dikata, linimasa Facebook dan portal-portal berita kemudian mengabarkan penyeberangan Narudin ke kubu Denny J.A., bukan dalam rangka agresi membuktikan integritas dan konsistensi atas ucapan-ucapannya di atas, melainkan sebaliknya untuk menjadi sekutu. Tepat tiga belas bulan setelah pernyataan-pernyataan negatifnya mengenai Denny J.A., sebuah esai berjudul Indeksikalitas Fiksional Denny J.A. dia buat dan menjadi tonggak awal mutualismenya dengan sang pembuat ontran-ontran, sekaligus memasukkan dirinya ke dalam golongan intelektual organik, manusia upahan.

Denny J.A. tahu dia harus memperkuat rezimnya dengan merekrut berbagai ahli. Untuk memapankan posisinya di kesusastraan Narudin pilihannya. Narudin sendiri berdalih adalah sudah selayaknya penulis dibayar untuk jerih payahnya.

Anda sudah tahu siapa Denny JA? Tokoh sastra ini telah mengguncang dunia sastra Indonesia. Maka, saya meneliti semua karya dan pemikirannya. Ingat, Denny JA itu bergelar Ph.D, politikus, aktivis sosial, dan sudah ratusan penelitian ilmiah, ia kerjakan.

Entahlah, yang jelas Edward Said menghadirkan, dari Julien Benda, definisi intelektual yang lain:

Segelintir manusia berbakat yang diberkahi moral filsuf-raja, yang kegiatannya pada dasarnya bukan untuk mencapai tujuan praktis, tetapi mereka menemukan kepuasan dalam mempraktikkan seni atau ilmu pengetahuan, atau spekulasi metafisik.

Ini jelas lebih ketat dibanding definisi Gramsci, meski tidak lebih spesifik. Intelektual tidak hanya orang dengan kecerdasan di atas rata-rata, tetapi juga yang menggunakan kecerdasannya itu untuk membangun tatanan, bukan merusaknya demi keuntungan sesaat.

Maka keberpihakan Narudin Pituin pada Denny J.A., pembelaannya yang gigih pada berbagai gagasan manipulatif tokoh lembaga survei itu (terakhir dalam bentuk buku berjudul Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang, yang dibagi-bagikan secara cuma-cuma pada para penulis dari berbagai pelosok Indonesia, dan esai pendek dukungan inklusi film sebagai genre karya sastra), juga praktik jual jasa menulis pengantar buku pada penulis relatif belum dikenal, menunjukkan bahwa mantan Duta Bahasa itu tidak saja harus dieliminasi dari kategori intelektual, tetapi juga layak ditahbiskan sebagai salah satu intelektual pengkhianat, sebagaimana konsepsi Benda dalam The Treason of the Intellectuals.

 

Penutup

Perkenankan saya bercerita singkat tentang diri saya. Saya seorang petani. Bukan jenis yang tekun namun cukup sadar untuk berusaha mendapat hasil terbaik. Mempertanyakan fungsi kritik bagi saya serupa mempertanyakan manfaat padi. Jawabannya bisa macam-macam dan cukup jelas bagi kebanyakan orang yang makanan utamanya nasi. Yang pasti, padi harus sehat agar bermanfaat optimal. Apa yang harus saya lakukan agar padi sehat? Benih unggulan saja tak cukup. Saya harus melakukan pemeliharaan kesuburan dan kegemburan tanah, harus mengawasi kemungkinan menjangkitnya penyakit, dan sebagainya. Saya tak boleh buang botol aqua, bungkus snack, hingga bangkai ayam dan softex ke sungai mana pun, yang dekat rumah atau yang jauh, yang kecil atau besar. Jika saya melakukannya hanya sebab berpikir saya bukan yang akan terdampak langsung, artinya ribuan orang lain juga melakukan hal sama dengan alasan sama. Alhasil saluran air menuju sawah saya berisiko tersumbat dan tanaman padi saya tak bisa tumbuh sehat karena kekurangan salah satu zat penting yang dibutuhkannya. Jadi ternyata tugas saya jika saya ingin mendapat hasil panen optimal cukup banyak dan bisa meluas ke hal-hal yang tak berkaitan langsung dengan proses bercocok tanam.

Demikian saya kira dengan kritik. Adalah tanggung jawab kritikus untuk memeriksa dan memastikan dalam keadaan baik segala yang terkait dengan keberfungsiannya. Jika Julien Benda tidak menyetujui ketidakbersentuhan total dari para pemikir menara gading yang terlalu pribadi, yang mencipta hal yang sulit dimengerti, maka Terry Eagleton menyampaikan ada keadaan tertentu di mana kritik hanya menjadi penting jika ia terlibat dengan masalah-masalah yang bukan (karya) sastra. Jika ini kurang untuk menggambarkan luasnya tanggung jawab kritikus, izinkan saya mengutip satu kaidah fikih: Mâ lâ yatimmu al-wâjibu illâ bihi fa huwa wâjibun. Sesuatu yang tanpanya sebuah kewajiban tak dapat ditunaikan secara sempurna hukumnya wajib.(*)


Daftar Rujukan

 

Abdurrahman Hamzah, Pandu. Tolong, Jangan Jadikan Aku Kering Meranggas! 20 Desember 2017. http://sastra-indonesia.com/2009/03/tolong-jangan-jadikan-aku-kering-meranggas/

Asyhadie, Nuruddin. Manusia Berpikir Tuhan Tertawa. 20 Desember 2017. https://nuruddinasyhadie.wordpress.com/2008/02/26/manusia-berpikir-tuhan-tertawa/

Dahlan, Muhidin M. 17 Tonggak Heboh Buku “33” & Tips Meresensi Buku di Abad 21. 20 Desember 2017. https://muhidindahlan.radiobuku.com/2017/05/23/17-tonggak-heboh-buku-33-tips-meresensi-buku-di-abad-21/

Eagleton, Terry. Fungsi Kritik. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003.

Katabergerak, Admin. Kata Afrizal Malna Tentang Kritik Sastra. 20 Desember 2017. https://katabergerak.wordpress.com/2014/02/25/kata-afrizal-malna-tentang-kritik-sastra/

Pituin, Narudin. Indeksikalitas Fiksional Denny J.A. 20 Desember 2017. https://www.inspirasi.co/dennyja/21767_indeksikalitas-fiksional-denny-j.a.-

Pituin, Narudin. Perkembangan Sastra Mutakhir Indonesia (Sebuah Kaki Langit Kemungkinan). 20 Desember 2017. Arsip Pribadi.

Said, Edward W. Peran Intelektual. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.

Situmorang, Saut. Politik Sastra. Yogyakarta: [sic], 2009.

Situmorang, Saut. Sastraku Sayang Sastraku Malang. 20 Desember 2017. https://boemipoetra.wordpress.com/2017/12/06/sastraku-sayang-sastraku-malang-2/

Malkan Junaidi

Malkan Junaidi. Seorang pemerhati sastra, aktivis media sosial, dan petani. Tinggal di Blitar.