Buku yang Mereka Baca pada 2017

oleh Fandy Hutari

28 Desember 2017 Durasi: 3 Menit
Buku yang Mereka Baca pada 2017 Buku-buku yang mereka baca pada 2017 (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Sebentar lagi, kita akan meninggalkan tahun 2017. Tentu saja, banyak kenangan baik maupun buruk yang tertinggal di tahun ini. Banyak peristiwa politik, kasus korupsi, kebrutalan brandal motor, bencana alam, radikalisme, berita bohong, dan sebagainya yang membuat dahi mengernyit. Kita akan menuju harapan-harapan baru di depan mata, di tahun baru 2018.

Sementara, tinggalkan dahulu peristiwa-peristiwa yang membuat jenuh itu. Mari kita menengok ke buku. Jangka waktu 12 bulan, bukanlah durasi yang pendek untuk kita membaca buku. Buku-buku apa saja yang kalian suka atau baca di tahun 2017?

Kali ini, saya mengundang tiga orang kontributor kanal Sejarah untuk membagi cerita buku-buku yang mereka baca pada 2017. Ternyata, ada yang membaca buku terbitan lawas. Ada pula yang tak hanya membaca buku nonfiksi.Berikut ulasan tiga orang kontributor kanal sejarah Jurnal Ruang.

---

Muhammad Iqbal (Sejarawan IAIN Palangkaraya dan editor Penerbit Marjin Kiri)

Buku The Idea of the Muslim World: A Global Intellectual History (Harvard Unoversity Press, 2017), yang ditulis oleh sejarawan   Turki, Cemil Aydin, bagi saya sangat indah. Aydin berupaya melacak asal-usul intelektual, dari apa yang kita sebut hari ini,   sebagai  “dunia Muslim”–-sebuah gagasan yang sebenarnya keliru–-dan menjelaskan daya tarik abadinya bagi orang-orang non-   Muslim dan Muslim.

Diciptakan sebagai antitesis peradaban Kristen-Barat, gagasan tentang dunia Muslim muncul pada akhir abad ke-19, ketika   kerajaan-kerajaan Eropa menguasai mayoritas umat Muslim. Hal ihwal itu dipicu sejak awal oleh teori supremasi kulit putih,   namun umat Muslim juga memiliki ide dalam membentuknya.

Aydin mengungkapkan peran intelektual Muslim dalam membayangkan dan memberi lukisan nan cerkas tentang masyarakat pan-Islam ideal, yang membantah klaim inferioritas rasial dan peradaban Muslim.

Selanjutnya, buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (Marjin Kiri, Juli 2017) karya L. Ayu Saraswati, dan diterjemahkan Ninus D. Andarnuswari. Buku yang edisi Inggris-nya meraih Gloria Anzaldua Book Prize Winner pada 2013 lalu ini merupakan karya yang sangat menarik.

Ayu Saraswati berusaha melacak peredaran citra-citra kecantikan lintas lokasi geografis dan babak kesejarahan yang berbeda-beda, dan mendedahkan kepada sidang pembaca bagaimana sirkulasi transnasional itu turut melestarikan supremasi putih di aras global, serta membentuk kontruksi ras, gender, dan warna kulit dalam sejarah Indonesia, sejak periode pra-kolonial di Nusantara.

Nosa Normanda (Dosen, antropolog, filmakes, dan seniman medioker segala bidang)

Buku yang gue baca pada 2017, Makrame (Gramedia Pustaka Utama, 2017) karya Dias Novita Wuri. Cerpen-cerpen di dalam   buku ini membuat otak gue istirahat dari wacana-wacana besar prosa yang sebelumnya gue baca. Kebetuan gue habis selesai   “maraton” baca buku Eka Kurniawan, yakni Lelaki Harimau, Cantik itu Luka, dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas   (versi Inggris), serta buku David Mitchell, yakni Cloud Atlas, Bone Clocks, dan Ghostwritten.

Baca Makrame, gue langsung diingatkan bahwa cerpen itu bisa lho bercerita soal kehidupan realis biasa saja. Dias bermain   dengan latar kultural, tapi konflik-konfliknya universal. Sederhana yang nggak terlalu aneh, tapi nggak ngepop juga. Seperti   minum air putih habis menenggak whisky dan ngopi melulu.

Lalu, buku The Better Angels of Our Nature; Why Violence Has Declined (Viking Books, 2011) karya Steven Pinker. Buku ini merupakan buku tebal nonfiksi soal kekerasan dan imajinasi serta data sosiologi dan politik, tentang kekerasan dari masa ke masa, dari zaman batu hingga sekarang.

Sangat tebal. Namun, Pinker sudah memberikan pengantar yang baik, jadi pembaca sudah tahu apa yang akan dibaca di bab-bab selanjutnya. Dengan struktur macam ini, tidak ada kejutan, yang ada rasa ingin tahu soal detailnya dan metodologinya.

Buku ini bisa menjawab pertanyaan mendasar soal perkembangan peradaban yang sejalan dengan perkembangan sikap (behaviour) manusia dalam menggunakan kekerasan. Mulai dari perang yang membabibuta dan memakan korban begitu banyak hingga perang modern yang efektif hanya membunuh beberapa orang.

Ada pula peran institusi macam agama, negara, dan budaya dalam mempromosikan atau mengurangi kekerasan: mengubah kekerasan dari fisik jadi simbolik. Sampai sekarang, saya belum selesai baca. Tapi, karena kesimpulan ditaruh di awal, jadi bacanya benar-benar santai.

 

Koko Hendri Lubis (Peneliti komik dan roman-roman terbitan Medan)

Buku pertama berjudul Logas (Loekisan Poedjangga, 1949) karya Joesoef Sou’yb. Melalui Logas, Joesoef menyoroti perlakuan   tentara Jepang yang tak manusiawi sewaktu memperlakukan tenaga sukarela untuk membangun jalan. Tenaga-tenaga sukarela   ini dikumpulkan dari kampung-kampung, dan tentu saja tidak dibayar sepeserpun. Banyak yang meninggal dunia karena   kelaparan.

Malahan ada yang “sekarat”, belum meninggal tapi dikubur hidup oleh Jepang. Pihak Jepang tidak mau repot untuk mengobati   orang sakit. Sehingga diputuskan untuk menyingkirkan orang yang dianggap tidak berguna.

Kedua, buku Ot en Sien (A.W. Sijthoff, Alphen Den Rijn, 1978) karangan Jan Ligthart dan H. Scheepstra, dengan editor A.F. Ph. Mann. Buku sekolah bahasa Belanda ini pertama kali diterbitkan pada 1911. Awalnya terdiri dari empat jilid.

Sebenarnya, buku Ot en Sien lebih diperuntukkan kepada anak Eropa (Belanda) yang bersekolah di tingkat sekolah dasar. Walau Ot en Sien adalah sosok anak-anak Eropa, namun pembawaannya lebih mengarah kepada bumiputra.

Bisa kita lihat dari ilustrasi gambar yang dibuat oleh C.Jetses. Mereka tampak tidak canggung berjalan-jalan tanpa memakai sepatu. Lewat masa lampau itulah kita bisa melihat gambaran-gambaran orang Eropa dan bumiputra secara baik. Ot en Sien mungkin salah satu buku yang paling jitu mengambarkan kenyataan semangat “kebersamaan” antara orang Indonesia dengan Belanda.

Ketiga adalah buku Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota (Suka Buku, 2012) karangan Tubagus P. Svarajati. Pengarangnya punya dasar utuh dalam bicara sejarah Semarang. Lihai, mendalam, dan lensanya tajam saat mengkritik orang-orang yang sering mengadu untung untuk mengeksploitasi “kemolekan” Kota Semarang.

Saya sangat menghargai saran-saran pengarang, terkait masalah komunikasi yang “kurang lurus” antara seniman/insan seni dengan para pemangku kepentingan di Semarang. Jelas berat tugas sebagai pengamat dan aktivis kebudayaan itu. Ia harus kuat, cerdas, punya inisiatif, kaya dengan fantasi, dan sedikit banyaknya tahu ilmu jiwa.

Dari buku ini saya banyak belajar tentang kiat mengatasi macam problematika apa yang terjadi di dalam suatu kota. Walau tempat berlainan, namun substansi masalah tidak berbeda jauh. Hanya orang tertentu yang mengerti jawaban suatu masalah dari apa yang telah dilihatnya (*)

Fandy Hutari

Fandy Hutari. Editor Sejarah di Jurnal Ruang. Penulis, periset, dan pengarsip sejarah hiburan. Berminat pada kajian sejarah sandiwara dan film Indonesia.