Buku Favorit 2017

oleh Wa Ode Wulan Ratna

30 Desember 2017 Durasi: 8 Menit
Buku Favorit 2017 Kumpulan buku-buku sastra favorit tahun 2017 (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Di akhir tahun 2017, Kanal Sastra mencoba merangkum sekumpulan komentar dari para kontributor, narasumber, penulis tentang buku-buku favorit mereka di tahun 2017, dan tidak ketinggalan editor Jurnal Ruang. Memilih satu atau beberapa buku kesukaan yang istimewa dari sekian buku yang ada di tahun 2017 tentu menjadi menarik karena kita bisa memetakan sendiri buku atau cerita yang mendapat tempat di hati kita. Sebagai pembaca tentu kita memiliki penilaian sendiri jauh dari penilaian pengamat, kritikus, para juri dalam ajang sayembara atau penghargaan. Menyukai berdasarkan selera, jatuh cinta tanpa perlu bersitegang dengan banyak hal untuk menyatakan buku tersebut memenangi hati kita.

Tahun 2017 sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Buku-buku menarik dan luar biasa banyak bermunculan, meski kita masih belum bisa menyebut ada nama baru. Namun buku-buku yang terbit sepanjang tahun 2017 memiliki kesegaran dengan tema-tema yang berbeda serta gaya penceritaan yang tidak membosankan, suatu pekembangan yang sangat baik bagi perjalanan sastra dan perindustrian buku kita. Berikut buku-buku favorit mereka di tahun 2017.

Setelah International People's Tribunal, perjalanan pengungkapan kebenaran sebagai "kenyataan" boleh dikata telah kemput disampaikan: sebaik dan sebisa-bisanya upaya. Tanah Air yang Hilang muncul dalam waktu yang sangat tepat, sebagai buku penting dan penanda babak baru kerja kemanusiaan yang masih panjang dan melelahkan itu.

(Gilang Saputro, Pengulas Buku)

Baca juga: Meninggalkan Tanah Air: Kisah Eksil

 

Pernahkah kamu makan sesuatu makanan yang sangat lezat, hingga kamu terbayang-bayang rasanya bahkan setelah menyapunya dengan air minum? Sebuah kesan mendalam yang enggan beranjak. Kurang lebih demikian setelah saya membaca Muslihat Musang Emas Yusi Avianto Pareanom, tak hendak beranjak ke buku lain agar keindahannya tetap terjaga. [Baca juga: Memikat Tanpa Muslihat]

Dawuk. Pengarangnya memang jagoan dalam bercerita. Bahkan saat kita sudah mengerti akhir kisah itu akan bagaimana, tetapi tetap saja Mahfud Ikhwan berhasil 'menjebak' pembaca untuk terus mengikuti kisahnya. Narator utama novel ini mengingatkan saya pada novel-novel thriller atau domestic-noir yang sedang booming di luar negeri; unreliable narator, narator yang tidak bisa dipercaya. [Baca juga: Pahlawan Menulis Mahfud Ikhwan]

24 Jam Bersama Gaspar karya Sabda Armadio. Dari lima judul jebolan Sayembara Novel DKJ 2016, novel ini yang sudah menyita perhatian saya bahkan sejak juri baru mengumumkan judul. Dan ternyata kisah di dalam novel ini benar-benar ajaib dan segar. Kisah detektif yang berbeda. Saya jatuh cinta pada Arthur Harahap. [Baca juga: Kebaikan Versi Gaspar]

(Teguh Afandi, Pengulas Buku)

 

Puisi-puisi Zulkifli Songyanan dalam Kartu Pos dari Banda Neira menyatakan kembali bahwa puisi itu indah. Zulkifli Songyanan menunjukkan keterampilannya menulis puisi; membuat metafora; memilih diksi; dan menampilkan peristiwa puitik, meski nampaknya ia belum menentukan jati dirinya dalam buku itu.

(Langgeng Prima Anggradinata, Penyair dan Esais)

Baca juga esai Langgeng Prima Anggradinata: Sensor Sejak dalam Pikiran

 

Menulis biografi, tidak bisa tidak, merupakan upaya menafsir kehidupan seseorang, bukan sekadar menampilkan kehidupannya “apa adanya”. Dalam hal itu, novel Ini Kali Tak Ada yang Mencari Cinta: Pemberontakan Batin Seorang Penyair di Tengah Gejolak Revolusi Kemerdekaan karya Sergius Sutanto melakukan pendekatan tafsir yang strategis atas kehidupan Chairil Anwar, yaitu dengan mengikat realitas kehidupan Chairil ke dalam tema-tema yang diambil dari puisi-puisinya. Oleh Sergius, tema-tema itu diletakkan pada judul setiap bab dalam novelnya. Sergius menyadari bahwa kehidupan Chairil tidak bisa dilepaskan dari puisi-puisinya, dia hidup demi puisi-puisinya. Maka, tidaklah keliru jika puisi-puisi itu yang dijadikannya sebagai jalan masuk untuk memahami kehidupan penyair Generasi Gelanggang itu. Dengan begitu, dalam novel ini kehidupan Chairil dapat dipahami sebagai kesatuan yang relatif utuh.

Pada sisi lain, novel ini juga menafsir dan menyusun kehidupan Chairil sebagai sebuah pembelaan. Prolog novel ini menegaskan maksud itu. Itulah mengapa novel ini memilih narator yang sekaligus tokoh (“aku-an”) dalam penceritaannya sehingga kita merasakan seolah-olah Chairil yang sedang berbicara dan membuat pembelaan. Pada titik inilah novel ini mengambil risiko. Kita tahu, kehidupan dan proses kreatif Chairil memang penuh kontroversi. Mengambil posisi pembelaan justru akan menutup kemungkinan tafsir yang terbuka atas hidup Chairil. Lagipula, bohemianisme Chairil tidak membutuhkan pembelaan apa-apa, dia adalah tusukan maut di jantung moralitas humanisme itu sendiri. Namun, risiko memang harus diambil, dan novel ini telah menawarkan posisi tafsir yang penting bagi perbincangan selanjutnya tentang kehidupan Chairil dalam wacana biografis.

(Irsyad Ridho, Dosen Sastra Universitas Negeri Jakarta)

Baca juga esai Irsyad Ridho: Horor Sensor

 

Pulau Sae serupa wajah inosen milik sesuatu yang kecil, jauh, dan asing. Bagaimanapun, ada arus-yang-menyeret di bawah permukaan setenang bayi dalam buaian. Ada tarik-ulur antarmanusia dan antargenerasi yang lambat-laun terkuak. Masa lalu yang terselip di sana-sini seolah mengingatkan siapa pun yang menyimaknya bahwa kita-yang-kini adalah akumulasi kita-yang-lalu-dan-sepanjang-riwayat-hidup. Keluarga bukan lagi sekadar hubungan darah. Dan rumah adalah di mana pun seseorang merasa nyaman.

(Bramantio, Dosen Sastra Universitas Airlangga)

Baca juga esai Bramantio: Segugus Suara Periferal yang Menunggu (Lalu Mencari)

 

Salah satu novel favorit saya tahun ini adalah Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat karya Kedung Darma Romansha. Novel setebal 410 halaman tersebut mengangkat topik yang jarang dipersoalkan secara serius dalam sastra Indonesia, yaitu pemerkosaan. Lebih menarik lagi, pemerkosaan tersebut terjadi di kalangan rakyat biasa, dengan seting lokal Indramayu yang digali dengan berbagai detail kekhasannya. Seting yang bukan metropolitan, dengan tokoh yang bukan orang kelas menengah, membawa nuansa menarik tersendiri, termasuk dalam cara masyarakat menyikapi pemerkosaan.

(Katrin Bandel, Dosen Kajian Gender dan Kajian Pascakolonial Universitas Sanata Dharma dan Pemerhati Sastra)

Baca juga: Sastra, Seks, dan Sensor

Novel Vegetarian karya Han Kang, diterjemahkan dari bahasa Korea oleh Dwita Rizki, diterbitkan oleh Baca pada Februari 2017.

Jorge Luis Borges pernah menyatakan bahwa wahana utama dalam semua karya sastra fantastis hanyalah empat jurus: cerita di dalam cerita, kontaminasi realitas oleh mimpi, perjalanan waktu, dan penggandaan. Dalam Vegetarian, Han Kang meramu jurus “kontaminasi realitas oleh mimpi” itu sehingga menghasilkan jalinan cerita yang kuat, mencekam, sekaligus terasa indah meski kental menyiratkan kepedihan. Vegetarian mengungkap kompleksitas hubungan antara perempuan dan lelaki serta kegilaan manusia yang dipaparkan dengan menarik. Dalam beberapa bagian, imaji tentang sensualitas dan kekerasan digambarkan dengan terbuka. Namun, uniknya semua itu dikisahkan dengan pilihan diksi dan metafor yang bisa dibilang feminin: bunga, tumbuhan, burung dara. Sementara, lewat gagasan menjadi seorang vegetarian yang membuat protagonis Yeong-hye mengalami berbagai peristiwa tak menyenangkan, bahkan kekerasan, hingga pada titik tertentu Han Kang seakan berupaya mengeksplorasi sejauh mana manusia berhak atas tubuhnya, bahkan hidupnya sendiri.

Kumpulan cerita Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini karya Eko Triono, diterbitkan oleh Basabasi pada Desember 2017.

Buku ini sesungguhnya bisa juga dibaca sebagai novel eksperimental sebab satu cerita dengan cerita lainnya saling berkelindan secara tematis meski bisa dibaca sendiri-sendiri sebagai “cerpen”. Saya membaca buku ini sebagai sekumpulan cerita tentang cerita. Atau lebih tepatnya cerita-cerita yang ditulis dengan teknik metafiksi dan eksperimen bentuk yang imajinatif. Elemen-elemen metafiksi yang digunakan Eko antara lain cerita yang berkisah tentang cerita, keterlibatan tokoh cerita di dalam cerita secara sadar, pemberontakan karakter cerita, serta pelibatan aktif pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam cerita untuk mereproduksi makna.

Eko menyadarkan kita secara “subversif” bahwa terkadang saat membaca sebuah cerita, kita “dihasut” untuk menjadi “pengarang”—mencipta makna dan realitas baru. Dengan kata lain, laku membaca sesungguhnya adalah laku yang aktif. Eko juga seakan-akan bermain-main seenaknya. Berimprovisasi secara suka-suka. Tetapi sesungguhnya tidak. Saat membaca cerita-cerita di dalam buku ini, kita diajak berpikir dan terlibat secara aktif di dalam “permainan” Eko. Dalam beberapa cerita di sini kita bahkan boleh (dan bisa) memilih sendiri “permainan” teks yang kita suka. Dengan demikian, membaca buku ini kita tak hanya “mengikuti apa saja yang diminta tulisan ini dari pikiran kita”, tapi juga diajak menjadi pengarang yang “mengobrak-abrik” narasi cerita.

(Anton Kurnia, Kurator dan Penerjemah Sastra)

 

Saya senang dengan buku puisi Kekasih Teluk karangan Saras Dewi. Saya tertarik dengan lelaku penciptaan Saras Dewi dalam menempatkan alam pada posisi subjek sebagaimana manusia. Bila banyak puisi Indonesia yang menjadikan alam hanya sebagai piranti untuk mengartikulasikan serba-serbi melankolia aku-lirik, alam dalam sebagian puisi Saras Dewi justru dibiarkan berinteraksi dengan manusia, sehingga kemudian kita didorongnya melihat alam sebagai makhluk hidup yang saling melindungi dengan kita. Dengan kata lain, puisi Saras Dewi menghendaki alam bukan sebagai objek yang bebas dipergunakan manusia sekehendak mau. Alam juga  makhluk yang punya jiwa. Saya berkira bahwa puisi seperti itu tak terlepas ikatnya dari aktivisme Saras Dewi dalam memperjuangkan isu-isu lingkungan hidup selama ini. Aktivisme dan estetisme bisa kita temukan simpulnya pada puisi-puisi dalam Kekasih Teluk.

(Heru Joni Putra, Penyair)

Baca juga: Personifikasi Alam dalam Puisi Saras Dewi

 

Menggunakan magical realism, Bloem menulis ulang sejarah Indonesia dari perspektif kaum Indo-Belanda yang ambivalen; yang tampak terus bersitegang di antara dua kutub: penjajah dan terjajah, rasionalitas ala Pencerahan Barat dan kekuatan supranatural Timur, zaman kolonial yang damai dan masa Indonesia merdeka yang penuh chaos, dingin bumi Eropa yang asing dan kehangatan tanah Hindia yang selalu dirindukan. Ini sebuah novel pascakolonial yang digarap dengan serius, saya kira.

(Sunlie Thomas Alexander, Penulis)

Baca juga: Siapa Kamu, Siapa Saya: Rupa-Rupa Politik Identitas di Indonesia dalam 'Moemie' dan esai Sunlie Thomas Alexander Mayor vs Indie, Sastra vs Populer

 

Dari Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi (HPI) tahun ini di Jakarta kita dapat melihat ternyata kurang lebih 247 buku puisi diikutkan oleh penerbit atau penulis sendiri untuk ‘dilombakan’. Daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, baik kategori puisi atau kategori karya perdana-kedua, sebagian besar juga termasuk di dalam daftar HPI. Tentu, di luar daftar 247 buku dan KSK 2017, ada beberapa buku puisi lain yang tidak diikutkan atau tidak terlacak oleh juri sayembara tersebut. Dua penghargaan untuk buku puisi tersebut memang memilih buku terbitan pertengahan 2016 (agustus untuk KSK dan Oktober untuk HPI), tapi jika melihat jumlah buku pada agenda tahun sebelumnya, instensitas pengiriman karya pada HPI jumlahnya hampir sama. Selain itu, selepas dua sayembara tersebut diumumkan, masih banyak daftar buku puisi yang terbit sepanjang 2017. Ada 200 lebih buku puisi terbit di tahun 2017 (sebagaimana juga tahun 2016), dan hampir sebagian besar buku puisi tersebut tidak dapat diakses. Barangkali dicetak terbatas, dijual terbatas di komunitas, disebar secara persoanal, atau khusus dicetak untuk kepentingan sayembara.

Setidaknya dari dua sayembara tersebut juga kita dapat melihat reaksi pembaca buku puisi, dari daftar panjang menuju daftar singkat, hingga pemenang unggulan dua sayembara tersebut diumumkan. Kekecewaan dan kebahagiaan bersambung. Tapi yang pasti masing-masing pembaca, penikmat puisi, atau pengoleksi buku puisi punya unggulan masing-masing dari ratusan buku puisi yang terbit tahun ini (sebagaimana juga tahun-tahun sebelumnya). Saya juga punya daftar puisi yang menurut saya harus dibaca-dikoleksi bagi para penggemar puisi Indonesia (jika belum mengoleksinya) tahun 2017: Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa karya Heru Joni Putra, Penyair Revolusioner karya Deddy Arsya, Non-Spesifik karya Gratiagusti Chanaya Rompas, Pledoi Malin Kundang karya Indrian Koto, Pasien Terakhir Rio Fitra Sy, Kartu Pos dari Banda Neira karya Zulkifli Songyanan, Tanda Bagi Tanya karya Frischa Aswarini, Pemanggil Air karya Jamil Massa, dan Berlatih Solmisasi karya Dedy Tri Riyadi. Dan 2018 menunggu, barangkali akan lebih banyak lagi puisi terbit, dan tidak dapat terlacak dan diakses oleh pembaca puisi Indonesia.

(Esha Tegar Putra, Penyair)

Baca juga: Tanda Bagi Tanya: Dari Cinta Hingga Kefanaan dan esai Esha Tegar Putra Kecurigaan Pada Politik Literasi

Cerita-cerita Dias Novita Wuri dalam Makrame sesungguhnya tidak menawarkan banyak kejutan, dan kisah-kisah itu sendiri terbilang umum dalam arti mungkin dialami oleh sejumlah orang dan karenanya kurang terasa autentik. Selain itu, perspektif yang ditawarkan Dias lewat tokoh-tokoh ciptaannya pun kurang segar dan seakan tidak memantik pembacaan baru atas persoalan yang diketengahkan si tokoh si cerita. Akan tetapi, cara Dias menuturkannya sangatlah manis, sangatlah memudahkan saya untuk mengalaminya dengan penuh suka cita; sedikit pun saya tidak merasakan penyesalan telah meluangkan waktu, energi, dan perhatian untuk menikmati cerita-ceritanya itu. Dan itu saya kira adalah sebuah tanda: Dias seorang pencerita ulung yang kita miliki di masa depan.

(Ardy Kresna Crenata, Penulis)

Baca juga esai Ardy Kresna Crenata: Buku Sastra dan Realitas yang Ada

 

Dawuk adalah kisah sederhana dari kompleksitas dampak perubahan sosial. Daya pikatnya terletak pada bagaimana ia mampu mengubah pembaca menjadi pendengar yang betah menyimak, bahkan cenderung enggan ditinggalkan, narator ceritanya.

(Asef Saeful Anwar, Penulis)

Baca juga: Alkudus: Novel Suci untuk Bulan Suci dan Novel-Kitab-Suci, Ayat-Ayat Lupa, dan Ingatan-Ingatan Saya

 

Novel Reem karya Sinta Yudisia. Konsistensi, sensitivitas, dan kecakapan Sinta pada olahan tema-tema Palestina membuat Reem tidak hanya terbaca sebagai novelisasi kisah Palestina melalui tokoh rekaan, melainkan kekuatan yang memancar ke mana-mana--dengan diksi dan plot sesuai takaran, dengan kesusastraan yang lebur dengan moralitas-sensitivitas-kemanusiaan; sesuatu yang seakan-akan sudah tabu dibincangkan dalam sastra, namun sebenarnya niscaya.

(Benny Arnas, Penulis)

Baca juga: Pekarangan Masa Kecil Benny Arnas dan Curriculum Vitae: Membuka Keran Kejamakan

 

Muslihat Musang Emas,... dahsyat!

(Ni Made Purnama Sari, Penyair)

Baca juga: PURNAMA: Puisi yang Terus Mencari

 

Lewat Vegetarian Han Kang mampu mengungkapkan sisi kelam dan kejahatan manusia dalam kisah yang sederhana tetapi sublim. Penulis berhasil membuktikan betapa novel merupakan hasil peradaban tinggi yang berpotensi menyelamatkan manusia dari keterpurukan dan kehampaan. Vegetarian adalah cermin betapa kita semua pada hakikatnya adalah manusia yang rapuh.

(Triyanto Triwikromo, Penulis)

Baca juga: Triyanto Triwikromo: Berburu Kafka di Berlin

 

Dawuk, novel yang aku suka di tahun ini. Mahfud Ikhwan adalah salah satu penulis Indonesia Idolaku. Ia adalah seorang penulis yang baik dari generasi sesudah aku.

(Linda Christanty, Penulis)

Baca juga: Wajah Kemanusiaan Linda Christanty

 

Resep Membuat Jagat Raya karya Abinaya Ghina Jamela. Menyajikan petualangan imajinasi yang mengasyikkan. Menghidupkan kembali jiwa kanak-kanak kita di tengah situasi kehidupan yang gaduh, berisik, dan penuh kepalsuan. Menampilkan kecerdasan bermain kata yang bahkan sering lenyap dari karya para penyair dewasa.

(Joko Pinurbo, Penyair)

Baca juga: Cahaya Mata Joko Pinurbo

 

Bukan buku sastra, tapi ini yang paling berkesan tahun ini. Gunungkidulan oleh Wonggunung. Karya 800 halaman berisi segala sesuatu tentang Gunungkidul yang mengagumkan berkat dedikasi, ketekunan, dan kecintaan penulis pada subjeknya. Si penulis yang menerbitkan sendiri bukunya ini bahkan tidak ingin dikenal karena merasa apa yang ia tulis lebih penting.

(Yusi Avianto Pareanom, Penulis dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta)

 

Nai Kai - novel pendek karya Joss Wibisono. Penerbit Oak, Yogya, 2017. Joss sebagai peminat sejarah mengangkat isu perbudakan di abad 19 di Hindia yang sebetulnya ingin disembunyikan Belanda dari pandangan dunia. Saya suka cara berkisahnya: mengungkap riwayat budak Flores yang menjadi penyanyi tenar dari sudut penulis resensi pertunjukan melalui wawancara.

Berlatih Solmisasi - kumpulan puisi karya Dedy Tri Riyadi. Penerbit Basabasi,Yogya, 2017. Puisi-puisi Dedy tidak berseru, namun memberi bekas kuat serupa prasasti. Ia bermain rima, tanpa kehilangan tema, dan keluasan pengetahuannya ditujukkan dengan pemilihan diksi yang baik. Saya mengagumi imaji yang tidak jatuh pada kegelapan.

Ratu Sekop - kumpulan cerpen karya Iksaka Banu. Penerbit Marjin Kiri, Jakarta, 2017. Setelah telanjur dikenal sebagai penulis fiksi berlatar kolonial, Iksaka Banu bermaksud memperluas kesan pembaca dengan merilis cerpen-cerpennya yang berangkat dari inspirasi sains dan gothic. Ini karya-karya awalnya yang brilian, menurut saya, karena ia mengolah surealisme yang didukung ilmu pengetahuan (bisa jadi karena ia menggemari komik superhero) fisika.

(Kurnia Effendi, Penulis)

Imaginary City - Rain Chudori. Dua alasan. Pertama, karena belakangan saya mulai muak dengan Jakarta, dan buku ini adalah satu dari sedikit penawar yang membantu saya memandang kota ini dari sudut pandang yang agak lain. Kedua, karena saya tahu cerita di balik buku ini, dan melihat perjalanan penulisnya menemukan harapan dalam buku adalah proses yang menyenangkan. [Baca juga: Rain Chudori: Person atau Persona?]

Telembuk - Kedung Darma Romansha. Lebih dari apapun, buku Kedung ini unggul karena kemampuannya menarasikan sebuah dunia yang sebetulnya dekat dari saya - hanya beberapa jam naik bus - namun terasa begitu berjarak. Narasi-narasi terpinggirkan itu mewujud jadi nyata, dan saya tidak lagi bisa mendengarkan Dangdut Koplo dengan telinga mencibir. [Baca juga esai Kedung Darma Romansha: Dangdut, Indramayu, dan Hikayat Masa Silam]

(Raka Ibrahim, Editor Kanal Musik Jurnal Ruang)

 

Puisi-puisi Gratiagusti Chananya Rompas di buku Non-Spesifik adalah lautan kata dengan gelombang emosi yang mengaduk-aduk pikiran, perasaan bahkan kenangan. Kadang gelombangnya tenang dengan cuaca yang cerah sehingga mampu menyenangkan hati. Kadang gelombangnya tinggi dan kuat, berbahaya bak badai sampai membuat hati ikutan khawatir. Namun, sebesar apa pun gelombangnya, yang diterjangnya tetap adalah inti hati kita sebagai manusia yang soliter dan tak bisa lepas dari lingkungan sosialnya.

(Angga Rulianto, Editor Kanal Film Jurnal Ruang)

 

Belajar Lucu dengan Serius oleh Hasta Indriyana. Perspektif berbeda tentang mentertawakan hidup tersaji dalam kumpulan puisi ini. Bukan buku humor. Bukan buku dengan penuh lelucon ringan yang akan membuat saya hanya mengernyitkan dahi atau mempersatukan kedua alis. Personifikasi dari kata-kata sifat atau nomina memberikan pengalaman membaca yang berbeda.

Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya karya Gunawan Tri Atmodjo. Betapa penulis membuat cerita-cerita di dalam buku ini nyeleneh dengan guyon yang sarkastis yang terlihat mulus dan sopan namun begitu menampar. Cerita yang bila dibaca terasa ringan dan terkadang membuat terkikik-kikik namun setelah selesai membacanya terdapat hal-hal besar yang sebenarnya ingin penulis sampaikan.

(Abduraafi Andrian, Editor Kanal Fiksi Populer Jurnal Ruang)

 

Meski bukan dari penulis Indonesia, saya puas sekali melahapVegetarian Han Kang. Diterjemahkan dengan baik, rapi, dan apik membuat saya cemburu dengan gaya bertuturnya. Kesan mencekam juga terjadi sepanjang cerita, saya seperti membaca cerita misteri berbau horor, membawa saya pada kesan lain tentang Korea yang selama ini dibentuk oleh industri hiburannya. Cerita ini berhasil menenggelamkan saya ke dalam berbagai catatan kelam dan kejahatan manusia yang selalu kita nafikan.

(Wa Ode Wulan Ratna, Editor Kanal Sastra Jurnal Ruang)

Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna. Editor Sastra di Jurnal Ruang. Seorang penulis, editor lepas, dan pengajar lepas.