Kisah Patah Hati Rain Chudori

oleh Abduraafi Andrian

31 Desember 2017 Durasi: 4 Menit
Kisah Patah Hati Rain Chudori Fotografi: Joshua Irwandi

Latar musik mengalun pada pagi itu di Butfirst. Dua orang berkutat dengan laptopnya, serius mengerjakan sesuatu yang bikin mereka harus bangun pagi dan beranjak ke sebuah kafe saat akhir pekan. Dua orang lainnya sedang bercakap-cakap, yang wanita sudah berdempul, mungkin sedang menghabiskan waktu sebelum beranjak ke sebuah acara penting.

Rain Chudori datang dengan balutan pakaian serbahitam, menguarkan kesan tegas sekaligus anggun. Ia menyapa dua barista di balik meja konter, tampak akrab satu sama lain. Beberapa saat kemudian, ia memesan Iced Cappuccino.
 

Rain Bersama Imaginary City

Butfirst menjadi tempat yang sering dikunjungi Rain. Kafe di bilangan Darmawangsa itu adalah tempat menulis karya terbarunya, Imaginary City. Seakan menegaskan kedekatannya dengan tempat itu, satu dari delapan lokasi yang menjadi latar Imaginary City adalah Butfirst.

Berbeda dengan karya sebelumnya, Monsoon Tiger and Other Stories, Imaginary City adalah novel fiksi berkonsep guide book yang dilengkapi dengan peta. Setiap babnya menceritakan sepasang laki-laki dan perempuan kala berada di delapan sudut Jakarta. Rain memiliki alasan tersendiri kenapa ceritanya berada di lokasi-lokasi tersebut dan selalu pada malam hari.

"It is always at night and it is always in these very small secret places because those were the only places and the only time they had be together because they are each other’s secret," terang Rain yang lebih fasih menggunakan bahasa Inggris.

Tokoh perempuan dan laki-laki pada Imaginary City dibawakan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Siapa mereka tidak penting. Apa yang mereka rasakan dan di mana mereka berada dan bagaimana mereka menemukan diri mereka satu sama lain, itulah yang penting.

Walaupun berlokasi di Jakarta, kedua tokoh itu bisa siapa saja dan bisa berada di mana saja. Ia mengaku berlatar Jakarta karena kota tersebut amat dekat dengannya. "Well I was born here. I have been living here almost my entire life. I mean, I have lived abroad but I always seem to come back here. Yeah, I think I will probably die here," ujarnya bergurau.

Rain menjelaskan proses kreatif menulis Imaginary City. Secara umum, Rain tidak pernah menulis secara terstruktur dan selalu ingin menyampaikan apa yang dirasakannya pada momen itu. "Everything that I am feeling about, I just write it down and then something begins to appear on the pages." Untuk buku ini, awalnya ia hanya menuliskannya terpisah-pisah. Setelah jadi beberapa bab dan meminta pendapat, temannya memberitahu bahwa naskah kasar itu seperti guide book. Dari situlah Rain membentuk Imaginary City layaknya buku panduan perjalanan.
 

Teka-Teki Rain

Rain menggunakan bahasa Inggris pada karya tulis yang dibuatnya, termasuk Imaginary City. Ia memang kesulitan menulis dengan bahasa Indonesia. Sejak sekolah hingga kuliah, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris. Bercakap-cakap dengan kedua orang tuanya pun seringkali menggunakan bahasa Inggris.

Walaupun begitu, Rain amat suka dengan Indonesia dan literaturnya. Ia pun berharap bisa menulis buku menggunakan bahasa Indonesia dengan catatan harus latihan bertahun-tahun terlebih dahulu. "Learning a language is one thing, speaking is one thing, but writing literature in another language is a whole different spectrum," ucapnya.

Anehnya, banyak orang membanding-bandingkan Rain dengan ibunya, terutama perihal selera bacaan. Padahal, gaya, tema, genre, hingga pengaruh keduanya berbeda sehingga membuat output karya keduanya pun berbeda—yang sudah amat jelas. Ibunya sering bilang bahwa Rain suka menulis tentang cinta dan memang seperti itu. Walaupun begitu, ia dekat sekali dengan sang ibu.

Rain malah memiliki kesukaan yang sama persis dengan sang ayah, dari film, buku, sampai musik. "Growing up, he was the one who exposed me to a lot of books," akunya.

Bisa dibilang, Rain seperti buah yang jatuh dari pohonnya. Sang ibu, Leila S. Chudori, adalah pengarang fiksi sejarah Pulang yang bukunya sudah cetak ulang beberapa kali. Pada Oktober lalu, Leila menerbitkan karya terbarunya, Laut Bercerita. Berselang beberapa minggu saja, Rain menerbitkan Imaginary City. Karya-karya keduanya memang diterbitkan oleh penerbit yang sama. Hal tersebut membuat sebagian orang berasumsi bahwa Rain bisa menerbitkan buku di penerbit itu berkat ibunya.

Rain selalu membaca beberapa buku dalam satu waktu.
Rain selalu membaca beberapa buku dalam satu waktu. (Fotografi: Joshua Irwandi)

Cerita pendek Rain pertama kali terbit di The Jakarta Post memang berkat sang ibu. Namun, Leila mengirimkannya dengan nama palsu. Bahkan identitas alamatnya pun palsu. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan: inikah gaya tulisan baru dari Leila? Apakah Leila sedang ingin menggunakan pseudonim? Sampai akhirnya Leila angkat bicara bahwa tulisan itu adalah karya anaknya. Setelah itu, Rain diminta untuk menulis lagi dan lagi.

Ketika cerpennya sudah banyak terkumpul, Rain dikontak secara langsung oleh Penerbit KPG. Walaupun ada penerbit lain yang menawarinya dan setelah menimbang-nimbang, ia memilih Penerbit KPG. "I'm gonna do what I want. Don't care what people said about that," tegasnya.
 

Rain Menutup 2017

Kini, menulis telah menjadi bagian dari Rain. Namun, ia tidak melihat menulis sebagai karier. "I look writing as a partner—like having a soulmate," ujarnya. Apalagi di Indonesia. Menurutnya, penulis juga harus ada pemasukan lain. Seperti Rain yang memiliki pekerjaan utama sebagai creative consultant.

Dari ketertarikannya dengen dunia buku dan tulis-menulis, pada 2017 ini Rain membuat Comma Books, sebuah imprint dari Penerbit KPG. Mengusung slogan "We make books, matter", akan ada 12 buku setiap enam bulan yang diterbitkan dan ada tiga buku per kelompok. Kesemuanya memiliki konsep matang dari isi hingga sampul. Juga akan  ada acara dari setiap kelompok untuk menunjang pengalaman membaca yang lebih mengesankan.

Rain menyebut 2017 adalah tahun penuh kejutan. Ia putus dua kali lalu bangkit dan menjalin hubungan lagi. Ia menerbitkan novel perdananya, Imaginary City. Ia juga merintis Comma Books bersama timnya. Bagi Rain, satu kalimat untuk 2017: "It began really brutally it end really beautiful."

Tak lupa, Rain juga memberi bocoran bahwa Imaginary City lahir berkat patah hati. Menurutnya, itu bukan hal buruk. Ia malah menyarankan untuk mencobanya. "Either falling in love or you are heartbroken, that is a good way to write a book," pungkasnya.

Akan lebih baik jika saran Rain dipertimbangkan sebagai pemicu untuk mulai menulis pada 2018. Boleh jadi, kamu akan menerbitkan karya sepopuler karya-karya Rain. (*)

Abduraafi Andrian

Abduraafi Andrian. Editor Fiksi Populer di Jurnal Ruang. Pencandu buku dan pegiat komunitas. Jeda kegiatannya diisi dengan menuliskan pengalaman membaca melalui ulasan di blog bukunya.