Voice of Baceprot: Perempuan, Metal, & Hijab

oleh Yuka Dian Narendra

03 Januari 2018 Durasi: 8 Menit
Voice of Baceprot: Perempuan, Metal, & Hijab Ilustrasi: Yulia Saraswati

Setiap tanggal 22 Desember, saya selalu “sewot” menanggapi bermacam pos di media – baik media massa maupun media sosial – tentang Hari Ibu. Mungkin, saya yang berlebihan melihat romantisme terhadap Hari Ibu dengan kerinduan terhadap sosok itu, serta citraan Ibu sebagai perempuan lemah lembut. Kemudian, karakter Ibu dibingkai lagi dengan tema “masakan” dan “rumah tangga” yang khas Orde Baru. Sejauh ingatan saya, perasaan bahwa gagasan Hari Ibu bermasalah sudah muncul semenjak saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Kala itu, saya pernah diminta membuat karangan bertema Hari Ibu. Saya merasa tulisan saya berbeda sepenuhnya dengan teman-teman, karena saya tidak mampu bercerita tentang Ibu yang diam di rumah dan mengurus rumah tangga. Mengapa?

Sebab, Ibu sayalah yang bekerja mencari nafkah, sekaligus mengurus anak dan rumah tangga karena beliau adalah seorang single parent. Ibu pulalah yang mengajari saya pengetahuan tentang alam semesta, tentang dimensi spiritual manusia dan tentang menjadi sebaik-baiknya manusia. Mungkin saya yang salah karena terjebak dalam gagasan bahwa perempuan sejatinya adalah manusia tangguh, dan dapat juga melawan dengan ganas. Mungkin juga saya yang salah karena saya terlalu berkiblat pada citraan ibu saya sendiri -  perempuan tangguh yang berjuang sendirian menghidupi diri dan anaknya di tengah ganasnya patriarki Orde Baru. Terlepas dari salah atau tidak, Ibu saya telah membentuk cara pandang saya tentang perempuan sebagai petarung kehidupan yang tangguh.

Saya rasa, kecintaan saya pada Metal dan narasi perlawanan kaum muda di ranah budaya populer bertumbuhkembang akibat cara pandang tersebut. Saya ingin menjadi petarung kehidupan yang tangguh, seperti ibu saya. Itulah sebabnya saya menggemari musik rock, khususnya metal. Mendengarkan musik menjadi sebuah proses afirmasi nilai, bukan lagi sekadar kesenangan dan penikmatan. Itu sebabnya, saya sangat maklum bila seseorang yang mendengarkan musik-musik perlawanan seperti metal, menjadi akrab dengan gagasan-gagasan perlawanan terhadap narasi dominan dalam kebudayaan. Termasuk narasi dominan tentang perempuan.

Beberapa puluh tahun kemudian, perhatian saya terpecah pada pemberitaan di media massa internasional tentang “girlband Metal” asal Jawa Barat beranggotakan Firda Kurnia, Widi Rahmawati dan Euis Siti Aisyah, Mereka adalah Voice of Baceprot (VoB), band asal Garut yang beraliran metal. Secara musikal, VoB jelas bukan band metal pertama di dunia yang mencampur-adukkan hip hop, funk dan metal. VoB juga bukan band Metal pertama di Indonesia, apalagi di dunia yang seluruh personilnya perempuan.[1] VoB juga bukan band metal pertama di dunia yang berasal dari negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Campuran hijab dan metal juga sudah dipelopori oleh Giselle Marie Rocha, gitaris death metal asal Brazil yang tampil ke panggung lengkap dengan cadar. Bahkan di Indonesia, warganet sempat heboh ketika gadis asal Bandung bernama Meliani Siti Sumantri, mengunggah video dirinya memainkan gitar lagu Hourglass karya Lamb of God.[2]

Lantas, mengapa VoB spesial?

Islam dan Asumsi Perlawanan yang Latah

Secara sekilas, memang kelihatannya Islam dan metal tidak dapat menemui jalan tengah. Dalam buku Heavy Metal Islam: Rock, Resistance and the Struggle for the Soul of Islam, Mark Le Vine mencatat bagaimana musik rock, terutama metal, digunakan sebagai sarana bagi kaum muda untuk melakukan menegosiasikan – bahkan mungkin melawan – kebudayaan yang mereka temui di Timur Tengah, kawasan yang didominasi oleh kebudayaan Islam. Dalam hal ini, posisinya jelas: metal berdiri sebagai oposisi terhadap Islam.

Islam berada pada posisi dominan dan represif, sementara metal datang sebagai praktik budaya yang membawa ideologi kebebasan, sama halnya dengan musik rock di era 1960-an. Maka dalam narasi tersebut, metal dengan sendirinya menjadi “musuh” Islam. Le Vine memperkuat apa yang disampaikan sutradara Samuel Dunn dalam film dokumenternya yang berjudul Global Metal (2007). Dalam film ini, Dunn menarasikan bagaimana Metal dimaknai oleh kaum muda di seluruh dunia, termasuk pula di dalamnya negara-negara Timur Tengah (seperti Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab hingga Israel) dan juga Asia (Timur seperti RRC dan Jepang, serta Tenggara seperti Indonesia).

Dalam film ini, praktik konsumsi yang dilakukan kaum muda Timur Tengah terhadap Metal menjadi ideologis karena bersinggungan dengan keyakinan mereka sendiri. Oleh karena itu, perlawanan terhadap “narasi dominan” yang diutarakan metal seakan dimaknai sebagai perlawanan terhadap agama. Alhasil, kaum muda Timur Tengah seolah-olah harus memilih antara musik atau agama, antara menjadi Arab atau menjadi metal.

Dalam konteks ini, kita dapat memandang mereka sebagai anak muda yang berupaya mempertanyakan ulang identitasnya sebagai penduduk Timur Tengah – identitas yang juga menggabungkan elemen budaya populer global. Upaya tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya, kaum muda hanya ingin mengedepankan gagasan tentang kesetaraan dan persaudaraan antar umat manusia dengan cara mereka sendiri. Namun di sisi lain, narasi seperti ini membuat Islam seolah bermasalah dengan praktik budaya populer global khas kaum muda seperti metal. Lebih jauh lagi, terdapat kesan bahwa hal tersebutlah yang membuat citra Islam lekat dengan sikap kolot dan konservatif yang menolak kemajuan dan gagasan kesetaraan manusia.

Padahal, Le Vine dengan lugas mengungkapkan bahwa Islam mendominasi di Timur Tengah juga karena situasi politiknya. Saling terkait dan baurnya praktik budaya, politik dan agama di kawasan tersebut selama berabad-abad, telah menjadi warna budaya dari kawasan tersebut. Menjadi masuk akal pula bila dikatakan bahwa tidak ada keinginan dari kaum muda di kawasan tersebut untuk mengganti identitas kearaban dan keislaman mereka. Justru mereka lebih menginginkan identitas yang hibrid, cair, dan adaptif dengan dinamika kebudayaan dunia.

Pandangan semacam inilah yang kiranya luput dari narasi dominan yang berlaku di benak Barat dalam membingkai Voice of Baceprot, dan menempatkannya dalam perspektif tertentu. Mereka tak saja masih sangat muda, mereka memainkan musik metal yang keras, memakai hijab, dan berasal dari salah satu daerah di Indonesia yang dikenal kental dengan kebudayaan Islam. Maka, ketika mereka melihat VoB – atau perempuan secara umum – dalam kancah musik bernuansa perlawanan yang penuh dengan pandangan misoginis, muncullah harapan bahwa perempuan itu akan melancarkan perlawanan. Band muda seperti VoB pun dielu-elukan, seolah-olah mereka adalah pahlawan dan pendobrak batas yang luar biasa.

Saya rasa, dalam perspektif ini pulalah mengapa media massa internasional tertarik dengan fenomena VoB.[3] Media asing tersebut melihat sendiri bahwa tegangan antara kebudayaan populer dunia, aspirasi kaum muda, dengan nilai-nilai keislaman, tidak terjadi di Indonesia. Justru dinamika ketiganya menghasilkan sebuah artikulasi kebudayaan yang khas dan berbeda: metal Islami yang tidak mengajak penggemarnya untuk turut larut dalam semangat persaudaraan politik Islam, metal yang “sangar” sekaligus “imut” dan khas gadis remaja. Metal yang tetap punya semangat untuk melawan tanpa harus mengalienasi para pelaku perlawanan tersebut secara ekstrem, seperti perlawanan anti-Kristen kaum muda Norwegia yang disuarakan melalui musik black metal, atau dukungan sepersekian persen kaum muda Indonesia kepada gagasan Khilafah. Identitas metal yang ditawarkan oleh ketiga gadis VOB adalah metal yang ambigu. Mereka Islam, tapi bukan Islamis. Mereka berhijab tapi metal, tapi apa yang mereka bicarakan berbeda dengan gadis-gadis metal berhijab di Timur Tengah sana.

Mereka remaja perempuan berhijab pada umumnya yang menjadi berbeda karena memainkan musik yang penuh dengan stereotip buruk. Di sisi lain, mereka adalah kaum “mayoritas” di Indonesia, sehingga mereka tidak perlu meneriakkan gagasan-gagasan perlawanan terhadap stigma buruk Islam yang kuat di Barat, atau melawan represi terhadap kaum muda seperti di Timur Tengah. Singkatnya, mereka sama sekali bukan seperti yang dibayangkan oleh media massa internasional – terutama Barat. Mereka bukanlah seperti yang dibayangkan oleh para aktivis kemanusiaan internasional ketika mendapati fenomena terkait dengan  identitas keislaman. Bagi saya, VoB adalah cerminan gadis mainstream Islam di Indonesia, dan itulah yang membuat mereka menjadi sangat menarik.

Berawal dari perbicangan saya dengan Nadia Yustina, rekan saya yang terlibat sebagai representatif VoB di kancah industri musik, saya menjadi ingin berbincang langsung dengan ketiga gadis remaja ini. Dari Nadia, saya mendapatkan cerita tentang lagu mereka yang berjudul School Revolution. Lagu tersebut tidak lain merupakan protes mereka atas perilaku mencontek dan mengapa sistem pendidikan abai akan perilaku tersebut. Sesuatu yang khas remaja SMA, akan tetapi secara kontradiktif menunjukkan adanya sikap kritis yang mereka miliki. Kualitas yang kini agak jarang saya temui di ruang-ruang kuliah saya.

Maka, pada bulan Agustus 2017 lalu saya berhasil mendapatkan kesempatan sejenak berbincang dengan mereka bertiga dan juga Abah (mentor, guru SMA merangkap manajer mereka) di kawasan Kebayoran Baru. Melalui Abah, saya mendapatkan cerita bagaimana posisinya sebagai gurulah yang memungkinkannya memperkenalkan ketiga gadis tersebut pada buku bacaan (karya sastra) yang bermutu, dan referensi musik. Dia juga bercerita tentang perjuangan Firda, Widi dan Eus dari belajar musik, berlatih band, hingga strategi mengakali berbagai situasi sulit. Mulai dari ketiadaan prasarana dan sarana bermusik, hingga cara menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Abah secara singkat menceritakan kepada saya bagaimana ketiga gadis tersebut mengalami tekanan dari berbagai pihak atas pilihan mereka untuk bermain musik.

Dari tuturan Abah, letak persoalannya terdapat pada persoalan pandangan agama, dan citra tentang pergaulan bebas yang terkait dengan penyalahgunaan obat bius serta perilaku seks bebas. Dalam liputan BBC Indonesia, dikatakan bahwa pada awalnya kehadiran mereka ditentang oleh sekolah, keluarga, hingga teman-teman, dengan alasan moral hinggal dalil agama.[4] Sementara, perjuangan mereka untuk sekadar dapat memainkan musik yang mereka inginkan sungguh merupakan kisah yang wajib disimak oleh teman-teman segenerasi mereka di seluruh negeri ini. Keberterimaan berbagai pihak akhirnya diperoleh ketika VoB berhasil meraih popularitas dan tampil di pentas televisi nasional.

Firda, Widi, dan Euis bukanlah sosok pahlawan yang sengaja menggunakan identitas perempuan (yang dihadapkan secara ekstrem dengan patriarki), konteks geopolitik, dan musik metal untuk menyuarakan agenda tertentu. Bermain musik bagi Firda, Widi dan Euis merupakan kesempatan untuk bersuara. Kesadaran untuk memiliki dan mengeluarkan suara inilah yang menurut saya penting untuk dicermati. Terlebih ketika yang mereka suarakan bukanlah teriakan ideologis dari kaum terpinggirkan, melainkan persoalan yang lebih hakiki dan manusiawi sesuai dengan cara pandang gadis remaja.

Buku bacaan yang diberikan Abah kepada mereka pun sama sekali tidak menginspirasi mereka untuk melawan, melainkan untuk bersuara. Ketika mereka mengalami represi dari lingkungan sekitar dan mereka tetap bersuara, di situlah mereka dapat dianggap berhasil membentuk identitas mereka. Bukan dalam citraan “pemberontak” di tengah riuh rendah narasi perlawanan khas budaya populer global, melainkan sebagai perempuan tangguh layaknya karakter San si Putri Mononoke dalam film animasi Mononoke Hime karya Hayao Miyazaki (Studio Ghibli).[5] Perempuan macam ini boleh jadi tidak melakukan perlawanan seperti dalam narasi heroisme Barat. Akan tetapi, mereka juga tidak gentar dengan represi.

Mereka tetap melakukan apapun yang mereka ingin lakukan tanpa peduli bahaya mengancam. Firda, Widi dan Euis sama sekali tidak membingkai pengalaman dan perjuangan mereka dalam narasi perlawanan, terlebih terhadap agama ataupun posisi sosio-kultural mereka sebagai perempuan. Mereka hanya merasa bahwa mereka perlu bersuara karena ada hal-hal yang perlu disuarakan dan tidak ada orang di sekeliling mereka (saat itu) yang mau melakukannya. Itu saja. Perlawanan melawan patriarki, stereotip perempuan dalam Islam seperti yang dinarasikan oleh media massa internasional, sama sekali tidak muncul di benak mereka.

Untuk  dapat memaknai posisi VoB dalam peta kebudayaan, kita harus mengamati beberapa faktor determinan seperti gender, Islam dan Dunia Ketiga. Alih-alih berusaha memaksakan narasi perlawanan, VoB menjadi menarik jika ia dibingkai sebagai lokus pertemuan antara Islam dengan budaya populer dalam bingkai geokultural Dunia Ketiga. Kemunculan VoB seperti melabrak segregasi Islam dengan praktik budaya populer global yang cair dan membawa semangat pemberdayaan. Menguatnya narasi Islam dalam pertarungan politik identitas yang secara tidak langsung membingkai wacana keislaman di Indonesia dengan bingkai yang sama dengan Islam di negara-negara Arab. Dalam pertarungan ini, Islam menjadi tawaran identitas alternatif terhadap keindonesiaan.

Budaya populer global yang masuk ke Indonesia dan dikonsumsi oleh kaum muda menjadi salah satu arena sekaligus strategi itu sendiri dalam memperebutkan narasi keislaman yang dominan. Posisi perempuan Muslim membawa polemik tersendiri yang juga kompleks. Dari perspektif Barat, perempuan Muslim seringkali dibingkai sebagai korban patriarki yang tidak memiliki suara dan tidak mampu menentukan hidupnya sendiri. Islam melalui kacamata ini dianggap sebagai agama patriarkis yang kerap kali meminggirkan – bahkan mengeksploitasi – perempuan.

Hal tersebut membuat posisi perempuan muslim di negara Dunia Ketiga seperti Indonesia menjadi semakin terpojokkan. Tanpa membicarakan agamanya sekalipun, Dunia Ketiga kerap dibingkai sebagai tempat di mana kaum perempuan terpinggirkan karena kondisi ekonomi, politik dan budaya. Mereka kerap dianggap sebagai kaum yang kehilangan hak individu serta hak politiknya. Selain miskin, kurang sehat dan tidak berpendidikan, perempuan dari Dunia Ketiga kerap menjadi objek dari kuasa patriarki dalam sistem kemasyarakatan yang masih “terbelakang.”

Terlepas dari berbagai perdebatan metodologis dan posisi geokultural mereka di peta kebudayaan manapun, kehadiran VoB adalah sebuah tantangan tersendiri terhadap bermacam konstruksi narasi dominan yang bermain di ranah kebudayaan (populer) Indonesia. Fenomena mendunianya VoB merupakan tantangan tersendiri bagi industri musik (dan budaya) populer Indonesia, yang selama ini masih berorientasi pada “pusat,” atau setidaknya, kota-kota yang memiliki kancah metal penting di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung dan Solo.

Respon industri musik, industri media massa, para tokoh musik metal Indonesia (dan dunia, bila perlu) terhadap ketiga gadis asal Garut ini juga menjadi penting untuk ditelisik. Lebih jauh lagi, pandangan para ilmuwan ahli kajian Islam, budaya populer dan gender dapat memperkaya perspektif yang diperlukan untuk memaknai fenomena ini dengan tepat. Hal ini penting, karena disadari atau tidak, VoB memikul beban banyak stereotip sejak awal. Stereotip sebagai perempuan, kota kecil, Islam, Dunia Ketiga, hingga metal, dan interseksi dari masing-masing stereotip merupakan salib-salib yang mereka pikul sepanjang La Via Dolorosa Metal mereka dari Indonesia menuju Dunia. (*)

 


[1] Di kancah musik Rock dan Metal internasional kita mengenal band seperti The Runaways, Girlschool, Vixen, hingga Scandal dan Baby Metal. Di kancah nasional kita juga punya banyak band perempuan mulai dari Geger hingga Anabelle. Masih banyak lagi band-band serta musisi Rock dan Metal perempuan di seluruh dunia termasuk Indonesia (Penulis).

[2] Mengenai Meliani Siti Sumantri, lihat tautan berikut ini: http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38053437. Diakses tanggal 5 Agustus 2017, pukul 10:11

[3] Sumber: http://regional.liputan6.com/read/2937906/voice-of-baceprot-band-metal-remaja-berhijab-garut-mendunia, diakses tanggal 4 Agustus 2017, pukul 13:55

[4] Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40095742, diakses tanggal 4 Agustus 2017, pukul 13:44.

[5] Lihat tautan https://www.rottentomatoes.com/m/princess_mononoke_1999/

Yuka Dian Narendra

Sekarang bekerja di Prodi DKV Universitas Matana. Minat penelitiannya adalah hal remeh-temeh dalam kebudayaan populer Indonesia, terutama kajian tentang subkultur musik Metal.