Badrul Mustafa, Upaya Mengolah Produk Bahasa

oleh Ardy Kresna Crenata

04 Januari 2018 Durasi: 5 Menit
Badrul Mustafa, Upaya Mengolah Produk Bahasa Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa. Heru Joni Putra. Nuansa Cendekia, 2017. 80 Hlm.

Jika ada satu hal yang sangat kentara yang bisa ditangkap pada pembacaan pertama puisi-puisi Heru Joni Putra dalam Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, itu adalah upaya-upaya Heru dalam mengolah kembali produk-produk bahasa seperti pantun, peribahasa, petuah, dan pepatah.

Ia lantas menyajikannya ke hadapan kita sebagai sesuatu yang segar—baik dalam arti “bentuk”-nya berbeda dari “bentuk” produk-produk bahasa yang diolah kembali itu, maupun dalam arti sangat terasa ada humor pada apa yang kemudian tersaji ke hadapan kita. Tulisan ini, yang sewaktu-waktu mungkin menyaru esai dan sewaktu-waktu lain menyaru resensi, akan berusaha mengupasnya.

Untuk memulainya kita bisa menyimak beberapa puisi Heru yang menghadirkan hewan-hewan. Empat puisi pembuka, misalnya—“Ada Garam Ada Semut”, “Katak di Atas Tempurung”, “Gajah di Seberang Lautan dan Semut di Seberang Lautan”, “Udang di Depan Batu”. Semut, gajah, katak, udang, hewan-hewan ini dimunculkan di sana dan kita bisa yakin mereka adalah hewan-hewan yang selama ini ada dalam peribahasa, karena Heru memberi petunjuk gamblang ke arah sana. Ada gula ada semut. Kita tentu akrab dengan peribahasa ini. Begitu juga katak dalam tempurung. Begitu juga ada udang di balik batu. Begitu juga semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tidak. Menariknya, di tangan Heru, dari apa yang tersaji di keempat puisinya itu, posisi hewan-hewan tersebut tidak lagi sama, tidak lagi seperti yang tertera dalam peribahasa-peribahasa tadi. Mereka “berbicara”, muncul ke permukaan dan seakan-akan mengoreksi apa yang telanjur dikenakan pada mereka (oleh kita)—meski kata muncul di sini tidak selalu berarti aktif. Dan kini bersama mereka ada semacam narasi yang ikut membentuk perubahan posisi itu. Si katak, ternyata, selain tak lagi ada dalam tempurung, kini ia duduk di atas kepala Badrul Mustafa. Si gajah, rupanya bersitegang dengan si semut yang menilai penglihatan si gajah keliru. Si udang, bukannya berada di balik batu; justru ia berada di depannya. Dan si semut, ketika gula sudah habis, ternyata dibuang (seseorang) ke laut.

 

UDANG DI DEPAN BATU

Entah batu apa
Yang disembunyikan udang
Di balik tubuhnya.
Badrul Mustafa mengira
Mungkin itu cuma batu yang biasa
Diperbincangkan orang,
Batu yang cuma ada dalam pepatah
Yang sempit itu.
Tapi kalau cuma batu biasa,
Pikir Badrul Mustafa,
Tak mungkin si udang mau
Berlama-lama di depan batu itu.
Ia percaya pasti ada sesuatu
Dengan batu itu.
Atau mungkin, pikirnya,
Itu cuma batu prasangka
Yang tersusun seperti batu biasa.

 

Perubahan posisi hewan-hewan ini, beserta narasi yang membentuknya, tentu saja dengan sendirinya mengusik pemahaman kita atas mereka, lebih tepatnya mereka dalam peribahasa-peribahasa yang kita kenal itu. Dan kita pun terdorong untuk mendekati mereka—baik si hewan maupun si peribahasa—dengan cara lain, menggunakan cara pandang yang berbeda. Selanjutnya, ini jika kita membiarkan diri kita terbawa oleh “arus” yang ditawarkan keempat puisi tersebut, kita pun mungkin akan tergerak untuk mencoba mendekati realitas yang kita jalani secara lain, dengan cara pandang yang berbeda.

Mencermatinya lebih dalam, kita mendapati bahwa hewan-hewan tadi, di dalam puisi-puisi itu, selalu dihadirkan di ruang yang relatif sama dengan manusia, terutama sosok bernama Badrul Mustafa. Kehadiran Badrul selalu mengiringi kehadiran si hewan, maupun sebaliknya. Seperti ada relasi langsung yang menghubungkan si hewan dengan Badrul; sebuah relasi yang dengan itu komunikasi dua arah di antara mereka mungkin terjalin dan dari sinilah kelak koreksi yang memantik perubahan posisi itu ada. Dan hewan-hewan itu, meski tetap dihadirkan dalam wujud fisiknya sebagai hewan, ternyata tidak diposisikan sebagai diri yang jauh inferior atas Badrul atau manusia lainnya, melainkan relatif setara; Badrul hampir-hampir melihat hewan-hewan itu sebagai manusia saja, sebagai sosok-sosok yang secara psikologis tidak berbeda dari dirinya. Sebuah tawaran lain dalam melihat relasi antara kita dan hewan-hewan, barangkali. Yang pasti, ini sesuatu menarik lainnya yang juga bagian dari kesegaran tadi.

Tetapi kemudian pemahaman seperti apa yang bisa kita peroleh dari tawaran(-tawaran) tersebut?

Kritik dan Pemaknaan Ulang atas Relasi

Dengan mengolah produk bahasa dan memberikan perlakuan lain terhadap unsur tertentu di dalamnya sehingga si unsur ini tampil dengan posisi yang berbeda, dalam relasi yang juga berbeda, saya kira Heru sedang menggiring kita untuk bersikap kritis terhadap produk bahasa tersebut. Terlihat dari caranya mempertanyakan relevansi dan urgensinya dalam realitas kita yang sudah sangat banal, yang tentu saja kemudian berlanjut ke pertanyaan lain seperti apakah si produk bahasa ini masih memiliki makna atau tidak jika kita menggunakannya sekarang. Atau apakah makna yang kadung dimilikinya itu sesuatu yang sakral atau bagaimana. Peribahasa, misalnya, masihkah kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam komunikasi kita sehari-hari? Lalu apabila kita sudah terbiasa menjadi bagian dari realitas yang banal ini? Apakah peribahasa pun dengan demikian lenyap, lesap, tak lebih dari sesuatu yang silam padam?

Jika benar demikian, maka apa yang dilakukan Heru adalah mengusiknya, mencoba mengubah situasi ini, membuat kita kembali mengenal si peribahasa dan mungkin perlahan-lahan menjadi akrab dengannya. Tetapi sekali lagi, dalam upaya melakukannya, Heru mengolah terlebih dahulu si peribahasa sehingga ia tersaji sebagai sesuatu yang segar. Dan menghadirkan kesegaran ini sendiri, barangkali, adalah cara Heru melontarkan kritik atas nilai-nilai konservatif yang membuat si peribahasa begitu kaku, seperti berada dalam jeruji masa lalu yang tak lagi sesuai dengan semangat zaman. Barangkali juga, itu adalah cara Heru untuk mengatakan bahwa peribahasa bukanlah sesuatu sakral yang tak boleh diganggu-gugat apalagi digoyahkan; begitu juga makna yang kadung dikandungnya.

Chiharu Shiota, seniman Jepang yang kini bermukim di Berlin, yang banyak menghadirkan rajutan benang sebagai salah satu subject matter dalam karya-karya instalasinya, mengatakan bahwa yang sakral bukanlah benda, bukanlah peristiwa, tetapi reaksi kita atasnya.

Dalam hal ini yang dimaksud Chiharu adalah karya-karya instalasinya itu, yang oleh sebagian orang dinilai sakral. Tentu kita bisa memahami pemahaman Chiharu ini secara luas, memosisikannya dalam konteks yang lain seperti peribahasa. Sebagai produk bahasa, sebagai “benda”, jika kita sependapat dengan Chiharu, peribahasa mestilah bukan sesuatu yang sakral; yang sakral, jika ada, itu adalah reaksi kita atasnya, adalah bagaimana kita menyikapinya. Dan jika kita bicara soal reaksi atau sikap, tak mungkin tidak, kita juga bicara soal konteks. Wajar saja kita yang hidup di saat ini menyikapi peribahasa secara berbeda dengan orang-orang yang dulu menciptakannya, atau orang-orang yang dulu lazim menggunakannya dalam keseharian mereka. Yang artinya juga hal yang wajar bagi kita yang hidup di saat ini jika peribahasa dimaknai secara berbeda, termasuk di dalamnya dilenyapkannya yang sakral itu. Di tangan Heru, misalnya, peribahasa tampil sebagai sesuatu yang segar dan cair; ia jadi lebih cenderung sesuatu yang profan ketimbang yang sakral. Peniadaan yang sakral ini terlihat juga di puisi-puisi Heru lainnya yang menghadirkan peribahasa atau produk bahasa lain yang tanpa hewan, seperti “Membunuh Pujangga Istana”, “Jenggot Haji Agus Salim”, dan “Duri dalam Daging”.

Kemudian jika kita fokus ke perubahan posisi yang dialami hewan-hewan tadi, kita mestilah sampai pada pemahaman bahwa dalam produk bahasa seperti peribahasa, di mana di sana dihadirkan hewan-hewan, selalu ada semacam relasi hierarkal yang terjalin di antara kita dan mereka, di mana kita manusialah diri yang superior-cum-dominan. Hewan-hewan itu, telah dengan sesuka hati kita hadirkan di sana, tanpa kita peduli seperti apa sesungguhnya mereka, tanpa kita peduli apakah tepat penggambaran kita atas mereka atau tidak. Relasi semacam inilah yang sepertinya coba diusik Heru. Dalam puisi-puisinya tadi, hewan-hewan itu diberi ruang untuk melakukan “koreksi”, untuk meluruskan cara pandang kita yang mungkin keliru dan dengan itu posisi mereka berubah; dan mereka pun dalam arti tertentu menjadi setara dengan kita—superioritas-inferioritas, kalaupun masih ada, lebih dekat ke relasi antara manusia satu dengan manusia lain. Puisi-puisi Heru, dengan demikian, berfungsi juga sebagai kritik atas diri kita sendiri, lebih tepatnya kecenderungan kita untuk merasa superior dan dominan atas hal-hal lain selain kita.

Keterpengaruhan dan Tradisi sebagai Titik Tolak

Sebelum Heru, Nirwan Dewanto sebenarnya telah melakukannya. Dalam dua buku puisinya, Jantung Lebah Ratu (2008) dan Buli-Buli Lima Kaki (2010), Nirwan banyak menghadirkan hewan dan memberi semacam ruang-koreksi kepada mereka, sebuah ruang di mana mereka menawari kita pembacaan ulang atas diri mereka untuk kita kenali dan pahami secara berbeda. Tentu saja tawaran ini berpeluang besar untuk mengusik kita—sebab kita cenderung memosisikan diri kita sebagai sosok yang superior atas mereka. Di puisi berjudul “Hiu”, misalnya, Nirwan, atau si penutur, menghadirkan hiu sebagai sosok ramah dan senang bermain; sangat jauh dari berbahaya. Di puisi berjudul “Babi Merah Jambu”, babi digambarkan sebagai sosok yang suci dan memesona, hanya saja ia kadung gemar mengendus cacing dan umbi-umbian. Di puisi berjudul “Ular”, sesosok ular dalam Alkitab merupa tokoh protagonis yang meminta tindakan-tindakannya tidak disalahartikan oleh Tuhan. Di puisi berjudul “Lebah Ratu”, sesosok lebah ratu dikisahkan berada dalam pertarungan psikologis yang pekat dan tanpa henti antara mencintai koloninya atau justru membenci mereka.

Di titik ini wajar saja untuk curiga bahwa apa yang telah dilakukan Nirwan inilah yang menjadi titik tolak dari apa yang kemudian dilakukan Heru. Dan kecurigaan ini diperkuat dengan kenyataan bahwa di sejumlah puisinya Nirwan pun melakukan pengolahan kembali atas produk-produk bahasa seperti pantun, peribahasa, puisi, haiku; bahkan Nirwan bergerak lebih jauh lagi dengan mengolah kembali produk-produk non-bahasa seperti lukisan, patung, dan film. Dengan demikian puisi-puisi Heru tadi bisa dibilang semacam perpanjangan dari puisi-puisi Nirwan. Namun tentu, wujudnya tidak benar-benar sama.

Membandingkan puisi-puisi kedua penyair ini dengan saksama, kita mendapati sejumlah perbedaan. Misalnya, sementara dalam puisi-puisi Nirwan nyaris tidak ada humor, dalam puisi-puisi Heru humor itu justru kuat terasa. Atau, sementara puisi-puisi Nirwan sibuk menghancurkan struktur yang tengah dibangunnya sendiri, di mana “pesan” menjadi sesuatu yang muskil ditangkap sebab ia telah menyaru sebagai “bentuk”, sebagai “komposisi”, puisi-puisi Heru, dalam arti tertentu, masih sangat “ramah”, di mana kita bisa menduga-duga si “pesan” tanpa harus teramat bersusah-payah mengupas “bentuk”-nya. Perbedaan lainnya: ketika meminjam bentuk naratif puisi-puisi Heru sangat dekat ke anekdot (dan tentu saja humor) dan ini salah saatnya dikarenakan Heru hampir-hampir tidak berusaha memisahkan bahasa puisi dari bahasa sehari-hari yang kita kenal, sedangkan Nirwan terlihat begitu berupaya, dengan ketat dan tekun, untuk menjaga agar bahasa puisi senantiasa berjarak dengan bahasa sehari-hari. Sepertinya, khusus untuk yang meminjam bentuk naratif dan menyaru anekdot, puisi-puisi Heru lebih dekat dengan puisi-puisi Joko Pinurbo; kebetulan cara keduanya menghadirkan humor pun mirip, meski pada kasus Heru humor itu terasa banal dan cenderung kasar.

Lantas apakah keterpengaruhan ini buruk? Saya kira tidak. Tentulah ia mesti dilihat sebagai sebuah keniscayaan, sebab Heru bagaimanapun menulis puisi dengan bertolak pada tradisi perpuisian yang ada, bisa jadi sebagai bagian dari tradisi itu sendiri. Satu hal yang jelas: Heru tampak berusaha mencari semacam “jalan keluar” dari labirin tradisi yang telah dimasukinya itu, untuk menyajikan ke hadapan kita sesuatu yang segar, dan dalam hal ini saya kira ia (cukup) berhasil. Adapun kekurangan puisi-puisi Heru, jika ada, adalah masih terlampau diposisikannya “pesan” sebagai diri yang kentara dan dominan, yang menjadi penggerak utama kata, bahasa, dan narasi yang ada. Itu terutama terlihat pada puisi-puisinya yang senapas dengan puisi-puisi Wiji Thukul atau W.S. Rendra, seperti “Di Makam Seorang Paderi” dan “Menumbangkan Pohon Beringin”.(*)

Ardy Kresna Crenata

Ardy Kresna Crenata. Penulis yang tinggal di Bogor dan telah menerbitkan dua buku: Kota Asing (Basabasi, Juni 2017) dan Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku (Diva Press, September 2017).