Catatan Selintas Penulisan Musik 2017

oleh Irfan R. Darajat

05 Januari 2018 Durasi: 8 Menit
Catatan Selintas Penulisan Musik 2017 Ilustrasi: Yulia Saraswati

Dalam rentang waktu lima tahun belakangan—setidaknya menurut amatan singkat saya— mulai banyak buku terkait musik yang diterbitkan di Indonesia. Kehadirannya cukup beragam: dari penelitian serius sampai yang pura-pura riset; dari biografi hingga catatan personal; dari produk jurnalisme naratif hingga analisis prematur; semuanya nyaris tersedia. Cacat dan kekurangan yang masih ada ini bukan sepenuhnya petaka, melainkan sebuah preseden baik. Dengan catatan, para penulis musik mampu memindai peta dari penerbitan tulisan musik ini dalam spektrum yang lebih luas. Sekaligus memahami posisinya dalam sebuah ekosistem yang besar dan utuh, sehingga ia tidak hanya berpusat pada dirinya.

Tentu kita semua paham, bahwa selain didengarkan, musik bisa jadi sangat menyenangkan untuk dibicarakan dan didiskusikan—baik secara lisan, maupun dalam bentuk tulisan. Pada mulanya, percakapan soal musik yang saya temui lebih banyak berkutat pada wilayah personal. Tepatnya, soal apa yang disukai dan tidak disukai dari jenis musik atau musisi tertentu. Dalam wilayah ini, obrolan soal musik pasti melibatkan perasaan. Misalnya, musisi ini cocok didengarkan ketika suasana batin sedang dirundung semak hati. Atau pada saat suasana sekitar sedang mendung, angin bertiup agak kencang, hujan sebentar lagi turun, dan yang dipedulikan pendengarnya adalah wangi hujan yang membasahi tanah. Pendengar semacam ini tentu tidak resah soal pakaian yang dijemurnya akan berbau apak karena tidak kering sempurna, atau persoalan remeh temeh lain yang luput dari pikiran orang dengan keistimewaan kelas sepertinya.

Padahal, sudah sejak lama pembicaraan tentang musik kita tidak berkutat di persoalan opini dan selera saja. Remy Sylado, misalnya, pernah mengkritik lagu cinta di artikel Suatu Kebebalan sang Mengapa, dan Suka Harjana pernah menulis Catatan Musik Indonesia: Fragmentasi Seni Modern yang Terasing. Belum lagi hasil penelitian yang memandang musik dari pendekatan etnomusikologi dan Indonesianis; seperti karya Bart Barendregt, Philip Yampolsky, serta Andrew Weintraub, dan masih banyak lagi. Mereka membuktikan bahwa membicarakan musik tidak mesti mentok pada persoalan perasaan suka atau tidak suka, tentang suasana batin, suasana alam,atau pengalaman personal belaka.

Tapi, apakah kemudian semua tulisan musik harus serius, rumit, kering, penuh kutipan, dan dilakoni dengan pendekatan etnografi yang panjang? Tentu saja tidak. Dari dulu kita tahu, bahwa keseragaman adalah hal yang berbahaya. Keragaman dalam membicarakan musik dengan berbagai cara tutur dan sudut pandang justru penting untuk menghadirkan variasi bacaan musik yang bergizi. Untuk itu, dengan memindai lanskap tulisan musik yang banyak hadir belakangan ini, kiranya nanti dapat diinsyafi bersama di mana letak kekurangan, sekaligus potensi yang masih belum tergarap oleh segenap penulis musik di Indonesia.

****

Pada beberapa media besar yang telah mapan, membaca kolom musik menjadi sangat membosankan. Karena cara penulisan dan pembacaan atas musiknya tidak mengalami perkembangan yang berarti. Kita dicekoki dengan liputan konser, informasi yang bersifat trivia, hingga wawancara yang tak berfaedah karena tidak mampu membawa hal-hal remeh personal grup musik pada konteks yang lebih besar dalam kerangka industri musik. Sorotan lampu yang digunakan pun lebih banyak terarah kepada pemusik yang telah memiliki nama besar, dan enggan berjudi dengan mengangkat nama-nama yang kurang dikenal untuk kemudian ditunjukkan dengan berbagai argumentasi pendukung bahwa ia layak dapat sorotan yang lebih.

Hal ini terus menerus dilakukan sehingga menimbulkan kejenuhan, dan seolah memberi pernyataan bahwa kita perlu mendukung terus pemusik yang telah populer dengan membuatnya semakin populer, sementara kita tidak keberatanmelupakan potensi pemusik dari pelosok negeri hanya karena ia tidak terkenal. Bagaimana caranya ia dikenal dan didengarkan jika logika ini terus-menerus direproduksi? Akhirnya, semua pemusik dipaksa untuk mendekat ke pusat (Jakarta), dan setelah sekian tahun Reformasi rupanya logika keterpusatan media besar masih juga dijalankan.

Dari segi distribusi konten, sebetulnya kanal media sosial seperti Youtube sudah agak mengakali kondisi ini. Tapi, yang sedang kita bicarakan adalah kehadiran bacaan tentang musik, bukan sekadar panggungnya. Untuk itulah, dengan meminjam logika zine yang lekat dengan pemahaman musik sekaligus sebagai sebuah pergerakan, penting kiranya produk jurnalistik media besar melihat apa yang telah dilakukan oleh pegiat zine. Mereka mampu berbicara dengan suara mereka sendiri karena sifatnya yang sangat lokal. Mereka mampu membangun jaringan, mampu saling mengenalkan dan berbagi lampu sorot. Meskipun kualitas pemusik dan popularitas, memang tidak selalu berbanding lurus.

Inisiatif yang dilakukan oleh Nuran Wibisono dalam menghadirkan buku kumpulan tulisan Nice Boys Don’t Write Rock n Roll: Obsesi Busuk Menulis Musik 2007-2017 (EA Books, 2017) patut diapresiasi. Meskipun bentuk semacam ini tentu saja memiliki konsekuensi dalam pertemuannya dengan pembacanya. Landasan kesukaan terhadap musik tertentu – seperti obsesi Nuran terhadap hair metal – kemudian dapat dibaca sebagai sebuah surat cinta dari penggemar kepada idolanya. Pembaca dapat merasakan antusiasme yang ditularkan penulis terhadap satu grup musik tertentu, sekaligus penulis dapat menghadirkan data-data yang informatif.

Data-data inilah yang kemudian dapat menjembatani pembaca dengan penulis dalam menyikapi pembicaraan musik sejenis. Pertanyaan lanjutannya ialah, apakah penulis mampu menghadirkan itu semua dan tidak terjebak pada kesukaannya dan pada faktor selera semata, tapi kemudian dapat menempatkan konteksnya secara tepat guna?

Kehadiran buku Pekak!: Skena Eksperimental Noise di Asia Tenggara dan Jepang (Warning Books, 2017) yang ditulis oleh Indra Menus pun menjadi salah satu upaya menghadirkan diskusi tentang musik yang belum banyak diketahui orang. Musik yang diwacanakan dalam Pekak memang musik yang segmented dan tidak banyak diketahui atau digemari orang. Tapi kemudian, Menus mampu meletakkan konteks sosial-historisnya dengan tepat guna. Bagaimana kemudian musik impor jika telah melintasi batas negara dan batas kebudayaan, akan mengalami perubahan pemaknaan dan praktiknya, dan kita tidak perlu risau dengan ngotot bahwa musik tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan aslinya.

Terlebih lagi, buku tersebut mampu membuat sebuah dialog dengan buku terkait musik noise dan eksperimental yang sebelumnya ditulis oleh Cedrik Fermont, Not Your World Music: Noise Music in South East Asia, terkait bagaimana terjadi kesalahpahaman terkait isu pernyataan rasialis Fermont dalam bukunya.

Dalam hal ini, dapat kiranya disepakati bahwa penulisan jurnalistik terkait musik mestilah memiliki kekhasan sekaligus keberagaman cara bertutur. Sehingga dapat menghadirkan informasi dan bacaan terkait musik yang tidak kosong, serta memiliki keberpihakkan – misalnya, pada musik-musik dan/atau tema-tema musik yang marjinal. Bukan hanya mengangkat tema yang sudah diangkat jutaan jurnalis lain, menjadi ajang pamer selera penulis, atau membeberkan pengetahuan yang lebih atas tema musik tertentu.

Ada kecongkakan atau bias kelas tertentu dari penulis yang memiliki kecenderungan sekadar memamerkan pengetahuannya tentang satu tema atau jenis musik tertentu. Tentu tidak ada salahnya memiliki pengetahuan dan akses terhadap bahan bacaan yang melebihi orang lain. Juga, tak ada salahnya memiliki selera musik yang lebih ‘arus pinggir’ ketimbang orang lain. Tapi, setelah itu apa? Setiap pengetahuan lebih yang didapat oleh penulis ialah sebuah pernyataan bahwa ia memiliki akses yang tidak bisa didapatkan setiap orang.Setiap bahan bacaan lebih yang dimiliki penulis ialah privilese berupa akses yang tidak dapat dinikmati setiap orang. Dan setiap keputusan menilai selera baik dan buruk adalah tanda keistimewaan yang dimiliki penulis dan tidak bagi orang lain.

Secara pribadi, saya tidak memiliki kepercayaan atas selera yang lebih, bagi saya semua itu omong kosong. Saya justru percaya bahwa penulis memiliki tanggungjawab dalam mempergunakan setiap pengetahuan, bahan bacaan, bahkan kemudian keputusannya terkait selera kepada pembaca dan lebih luas; terhadap masyarakat. Memiliki kesemuanya itu sama halnya dengan memiliki kekuasaan, dan mempergunakan itu secara seenaknya sama dengan mempergunakan kekuasaan secara sewenang-wenang.

Sementara di sisi lain, penulis kajian musik populer seringkali dianggap berada pada wilayah lain, yaitu wilayah akademis, bukan pada wilayah penulisan musik populer. Sejauh pengamatan saya, usaha-usaha kaum akademisi untuk membahasakan penelitiannya dengan cara lebih populer telah mulai dilakukan, bahkan telah memiliki sejarah. Pada terbitan terkini misalnya, saya dan kawan-kawan di Yayasan Kajian Musik Laras berupaya mengumpulkan penulis untuk terlibat dalam sebuah proyek menulis, bermuara pada buku Ensemble: Mozaik Musik dalam Masyarakat (Tan Kinira, 2016). Juga dengan apa yang dilakukan komposer Gardika Gigih dalam buku terbarunya yang berjudul Mendengar di Bali (Art Music Today, 2017) yang diterbitkan oleh Art Music Today. Dalam hal ini, Laras percaya bahwa pengetahuan harus disebar dengan bentuk yang sederhana dan populer. Hal demikian juga dilakukan oleh Gigih, yang mendekati kajiannya dengan cara populer: mengamati musik di Bali dengan pendekatan jalan-jalan dan pada bentuknya yang paling dasar, bunyi.

Kritik yang menganggap bahwa penulisan musik secara ilmiah tidak bisa dinikmati setiap orang dan lebih baik mangkrak di perpustakaan kampus justru luput. Akademisi memiliki kewajiban untuk mendistribusikan pengetahuannya kepada masyarakat lebih luas melalui penelitiannya. Akademisi mesti menguasai cara tutur yang populer, dan ahli membahasakan serta mendudukkan teori secara sederhana. Jika masih njlimet, maka ia mesti berusaha terus. Penggunaan kutipanmelimpah dan catatan kaki berundak-undak tidak jadi soal jika ia digunakan dengan benar. Jika penelitian akademis dikemas dengan cara tutur populer, dengan bahasa yang sederhana, dan dengan karakter yang membumi, kiranya penelitian itu tidak akan menjadi sia-sia.

Akademisi menara gading memang layak digugat, pun demikian dengan penulis musik dalam bentuk lainnya. Apa gunanya penulisan musik populer jika ditambal-tambal dengan mencatut nama-nama pemusik yang asing, dengan teoritisi-teoritisi beken tanpa ada sambungannya dan hanya jadi ajang narsis penulisnya? Artinya, persoalan penulisan musik tidak melulu terletak pada bentuk penulisannya, melainkan pada mentalitas dan watak penulisnya.

Lebih lanjut, mentalitas dan watak penulis musik ini juga dapat ditelusuri melalui diskusi apa yang ia pilih dalam tulisannya. Beberapa penulis musik, misalnya, memilih tema tertentu karena menganggap musik tersebut terpinggirkan. Definisi arus pinggir ini pun saya rasa tidak boleh mandek. Misalnya, selepas penelitian Lono Simatupang dan Andrew Weintraub soal musik Dangdut, beberapa penulis kemudian tidak ragu untuk menulis jenis musik serupa. Dalam karya fiksi yang baru-baru ini diterbitkan, dapat kita jumpai pula bagaimana pembicaraan tentang musik – dalam hal ini Dangdut – mampu berkembang lebih jauh. Misalnya pada cerpen Goyang Penasaran karya Intan Paramaditha, juga dalam novel Telembuk karya Kedung Darma Romansha.

Artinya, Dangdut sebagai tema kemudian terangkat dan menjadi tren, menggeser penelitian kajian tentang musik (katakanlah) Punk di Indonesia. Definisi dan pemaknaan arus pinggir ini pun terus berubah. Praktik dan pemaknaan Punk yang dianggap sebagai musik perlawanan pada awal kemunculannya dapat dipertanyakan ulang: benarkah ia berbicara dengan bahasa yang sama pada konteks yang berbeda di Indonesia? Begitu pula dengan musik dangdut. Ketika ia terus merangsek ke permukaan, bukan hanya dalam ranah penelitian tapi juga dalam tayangan televisi, kita perlu terus mempertanyakan: suatu saat nanti, masihkah Dangdut terpinggirkan?

Selanjutnya, selain apa yang telah Yuka Dian Narendra paparkan dalam artikelnya tentang alasan peneliti lokal untuk meneliti fenomena musik di sekitarnya, kiranya juga penting untuk mewaspadai agar peneliti musik tidak terjebak dalam cara pandang orang asing dalam menatap fenomena musik yang ada sekelilingnya. Asing dalam hal ini tidak hanya merujuk pada kewarganegaraan saja, tapi lebih jauh, yaitu soal keakrabannya dengan fenomena musik atau praktik konsumsi musik yang dijalaninya selama ini. Tidak perlu juga “melokal-lokalkan” diri jika kemudian konsumsi musiknya sejak lahir telah campur-aduk, atau justru asing dengan yang ada di sekitarnya karena perubahan zaman dan pengaruh teknologi informasi.

Seorang penulis musik, misalnya, dapat tersandung ketika ia tidak akrab dengan fenomena musik jathilan atau Dangdut, namun memaksakan diri karena terseret dalam arus tren penulisan musik tersebut. Padahal – seperti yang ditulis oleh Yuka – keunggulan peneliti lokal terletak pada pemahamannya terhadap konteks kebudayaan dan pengalaman serta pertemuan pribadinya dengan unsur budaya tersebut. Jika kedekatan ini tidak ada, maka yang ia lakukan nantinya hanyalah meniru dan mereproduksi cara pandang asing terhadap fenomena budaya kita.

Untuk itu kiranya perlu ideologi dan keberpihakkan yang jelas dalam melakukan pembacaan atas musik. Agar penulis tidak melulu terjebak dalam tren penulisan musik yang tengah marak dan kemudian mampu menghadirkan cara pandang atau pendekatan yang berbeda dari sebelumnya. Juga, supaya penulis musik dapat lebih teliti dalam memindai mana yang marjinal dalam kajian musik. Katakanlah dalam ranah kajian musik populer yang secara spesifik membahas musik beraliran pop. Memang, musik pop adalah musik yang paling digemari masyarakat. Tapi dalam ranah akademis, bisa jadi musik pop justru jarang dibicarakan – padahal ia paling dekat dengan pendengar, dan pembacaan kritis terhadapnya sangatlah perlu. Maka, bukankah musik pop menjadi marjinal dalam konteks kajian akademis?

****

Beberapa fakta yang telah disebutkan dapat menunjukkan bagaimana musik dapat dibicarakan dalam medium tulisan akademis, jurnalistik, blog pribadi maupun karya sastra. Tapi bagi saya, semua kategori tersebut hadir bukan untuk memisahkan dan memberi kotak-kotak terhadap penulis. Semua itu hanya persoalan bentuk. Sementara, penulis musik membutuhkan bacaan dari semua bentuk tersebut. Laporan jurnalistik, ulasan album, kajian pertunjukkan, kajian komposisi dan struktur musik, landasan teoritik hadir sebagai alat bagi penulis musik untuk memperkaya wawasannya.

Keragaman bentuk dalam penulisan musik kiranya penting untuk dijaga, dan hari ini kita dapat menyaksikannya secara langsung. Lebih dari itu, keragaman dalam cara berpikir dan cara tutur dalam mendekati tema musik untuk dituliskan pun sangat penting. Karena penulis musik kemudian mesti menyadari posisinya sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar. Kajian tentang pertunjukan secara lebih luas, misalnya, dapat menengahi pembahasan mengapa tata panggung konser musik hadir demikian rupa. Kajian kritis, misalnya, dapat dipergunakan untuk mempertanyakan bagaimana peran industri rokok yang setiap tahun terus terlibat dalam pertunjukan musik dan menggunakan terma ‘indie’ sebagai bahan jualannya.

Kajian media, misalnya, dapat menengarai bagaimana konstelasi sistem distribusi musik di zaman yang telah menyodorkan media konsumsi musik serupa Spotify, iTunes, dan lainnya. Pun, bagaimana peran netlabel di masa kini, serta masih relevankah pembicaraan tentang anti-pembajakan, dan bagaimana kehidupan pemusik di era digital kini. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat terus diajukan dan diperluas, diuji kembali, sehingga pembahasan mengenai musik lebih kaya, sekaligus mendapat tempat untuk persebaran pengetahuan. Persoalan bentuk penulisan tentu saja bukan yang paling mendasar. Tapi, peneliti musik dari ranah sosial-politik jelas membutuhkan jurnalis musik, membutuhkan pengarsip musik, membutuhkan tinjauan musikolog dan sebaliknya. Semua saling membutuhkan.

Kesadaran inilah yang menurut hemat saya lebih penting untuk dimiliki bersama selaku penulis musik, jurnalis, peneliti, penggemar, pemusik, bahkan teman-teman yang bekerja di panggung. Agar tidak melahirkan pemikiran yang sempit berpusat dan pada dirinya, yang menjadikan tulisan musik hanya sebagai ajang resonansi snobbisme-nya.

Penulisan musik secara spesifik, sempit (lokus pembahasannya), dan fokus itu perlu dan penting. Tapi wawasan yang sempit dan ekslusif tidak akan memberikan keuntungan apapun bagi penulis dan – ini kuncinya – pembaca. Maka dari itu, jejaring sesama penulis, pengkaji, dan pelaku harus dibangun dan tradisi kritik mesti dilakukan dengan cara yang sehat. Baik kritik terhadap musisi yang diidolakan, maupun kritik terhadap para penulis! (*)

Irfan R. Darajat

Peneliti di Yayasan Kajian Musik LARAS: Studies of Music in Society, Yogyakarta.