Becermin pada Animasi Jepang

oleh Angga Rulianto

09 Januari 2018 Durasi: 8 Menit
Becermin pada Animasi Jepang Miss Hokusai dianugerahi Judge Award dari Annecy International Animation Film Festival. (Copyright: Image.net/TIFF)

Seekor kupu-kupu menari-nari di udara, seirama dengan lembutnya hembusan angin. Cuaca yang cerah membuat gumpalan awan mengambang dan berjalan pelan di langit. Seorang putri yang mengenakan pakaian tradisional Jepang menatap langit dari bawah pohon besar. Ia lalu berjalan maju lebih dekat ke pohon itu. Hamparan air danau yang jernih menangkap momen dan lanskap alam tersebut, lalu merefleksikannya nyaris tanpa cela.

Inilah adegan pembuka Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Battle of the Warring States karya Keiichi Hara. Ketika dirilis di bioskop pada April 2002, film feature animasi ke-10 yang diadaptasi dari seri animasi terkenal Jepang Crayon Shin-chan ini bisa membuat penonton awam bingung dan menduga telah menonton film yang salah. Sebab, adegan tersebut jauh berbeda dari kekhasan animasi Crayon Shin-chan (yang diciptakan oleh mendiang Yoshito Usui dalam medium manga).

Film Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Battle of the Warring States merupakan lanjutan kerja kreatif yang out of the box dari Keiichi Hara. Setelah membuat Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Adult Empire Strikes Back yang dirilis pada Oktober 2001, Hara menetapkan tantangan baru di batas tertinggi yang harus ditaklukkannya sendiri.

Hara lantas melakukan riset. Ia mengunjungi desa-desa dan kastil-kastil yang berarsitektur era feodal Jepang. Ia juga mempelajari seni dengan menonton seri-seri drama sejarah dan mengamati benda-benda yang dulu digunakan orang-orang, seperti senjata, pedang, dan tombak.

"Saya pikir saya akan membuat sebuah 'hard-core period drama' yang memperlihatkan keautentikan dan detail-detail dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh film live-action," ujar Hara kepada Ryusuke Hikawa, kritikus dan akademisi sekaligus Animation Focus Programming Advisor di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2017.

Dari film Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Battle of the Warring States. (Copyright: Image.net/TIFF)

Dalam perhelatannya ke-30 pada Oktober-November lalu, TIFF membuat program Special Focus on Japanese Animation: The World of Keiichi Hara yang menampilkan retrospeksi karya-karya fenomenal Keiichi Hara sekaligus untuk menandai satu abad usia animasi Jepang yang jatuh pada tahun ini. Hara dan karya-karyanya terpilih untuk jadi fokus animasi di TIFF lantaran alasan yang penting.

"Keiichi Hara adalah seorang sutradara film dengan prinsip-prinsip yang teguh yang telah menunjukkan 'identitas real Jepang' dalam sudut-sudut pandang yang beragam," ungkap Hikawa. "Jika Anda ingin mendapat pemahaman yang lebih dalam tentang seluk-beluk animasi Jepang, cara yang paling tepat adalah menonton karya-karya Keiichi Hara dan memperhatikan bagaimana cara dia menuturkan cerita."

Hikawa menjelaskan, film-film animasi Keiichi Hara mempunyai ciri yang khas, antara lain penggambaran yang realistis (tidak seperti animasi pada umumnya yang tidak realistis), komposisi gambar yang stabil layaknya penempatan kamera dalam kebanyakan film live-action, penggunaan long shot untuk mengekspresikan perasaan, hingga tema dan cerita yang bisa memberikan rasa yang melodramatis kepada penonton.

Mendobrak Agar Fleksibel

Lahir pada 24 Juli 1959 di Tatebayashi, Gunma, Jepang, Keiichi Hara tumbuh menjadi pencinta anime. Lulusan Tokyo Designer Gakuin College ini dipinang Shin-Ei Animation (perusahaan animasi milik TV Asahi yang memproduksi seri animasi Doraemon dan Crayon Shin-chan) pada 1982. Karier Hara kemudian melesat. Ia ikut membuat animasi Doraemon, menyutradarai film feature animasi perdananya Mami the Psychic: Dancing Dolls in a Starry Sky (1988) dan seri animasi Crayon Shin-chan sejak 1996. Ia juga menjadi sutradara film feature animasi kedua sampai kesepuluh Crayon Shin-chan.

Pada Maret 2007, ia meninggalkan Shin-Ei Animation dan membuat sejumlah film feature animasi, antara lain Summer Days with Coo (2007), Colorful (2010) yang diganjar dua penghargaan dari Annecy International Animation Film Festival ke-35, dan Miss Hokusai (2015) yang juga dianugerahi Judge Award dari Annecy International Animation Film Festival ke-39. Pada 2013, Hara juga merambah film live-action dengan menyutradarai Dawn of A Filmmaker: The Keisuke Kinoshita Story.

Dari deretan karya tersebut, boleh dibilang dua film feature animasinya, yakni Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Adult Empire Strikes Back dan Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Battle of the Warring States, yang paling disukai dan menuai banyak pujian dari publik Jepang karena berhasil menyentuh hati kalangan anak-anak maupun dewasa. Secara personal, The Adult Empire Strikes Back menjadi semacam titik balik Keiichi Hara.

"Film ini telah benar-benar mengubah cara saya dalam membuat film," ujar Hara setelah pemutaran Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Adult Empire Strikes Back di Toho Cinemas Roppongi Hills, Tokyo, pada Jumat, 27 Oktober 2017 dalam rangkaian acara TIFF.

Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Adult Empire Strikes Back. (Copyright: Image.net/TIFF

Kala itu, sebagai kreator Hara ingin menunjukkan orisinalitasnya dengan cara tersendiri. Lewat The Adult Empire Strikes Back, ia kemudian melakukan dobrakan dengan tidak mengikuti pola biasa seperti yang dikerjakan Hara dalam seri animasi TV maupun film feature animasi Crayon Shin-chan sebelumnya. Hara mengetengahkan cerita tentang kehidupan manusia dalam abad 21 yang jauh dari ideal dan tidak real, serta makna menjadi orang dewasa. Menurut Ryusuke Hikawa, film tersebut adalah skeptisisme terhadap modernitas Jepang sekaligus ungkapan perasaan tulus Hara.

"Saya kira fans bakal marah, dan saya akan dipecat, tapi saya memutuskan untuk tetap mengerjakannya," kata Hara di depan ratusan penonton. "Saya merasa telah mengkhianati Shin-chan, tapi di saat bersamaan, saya benar-benar ingin membuat sebuah film seperti ini."

Di luar dugaan, para penonton anak-anak dan dewasa bisa menikmati bahkan berempati kepada kisah Crayon Shin-chan: The Storm Called: The Adult Empire Strikes Back saat dirilis pada 2001. Hara mengaku terkejut dan merasa disemangati oleh para penonton.

"Hal itu membuat saya tersadar bahwa selama ini saya terlalu mempercayai pada gagasan tentang bagaimana film Crayon Shin-chan semestinya. Pengalaman itu membuat saya lebih fleksibel sebagai pembuat film," ujar Hara kepada penonton pada Jumat itu.

Pull untuk Jepang dan Indonesia 

Prinsip-prinsip yang diterapkan Keiichi Hara dalam mengerjakan karyanya agar dapat menunjukkan, seperti yang disebut Hikawa, 'identitas real Jepang', juga diterapkan oleh banyak kreator muda di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia.

Andrew Raditya adalah salah satu kreator itu. Mulanya ia menciptakan karakter Bayu Sekti untuk tugas akhir kuliahnya di Desain Komunikasi Visual (DKV) Binus University. Setelah itu, Andrew mengembangkannya menjadi materi film feature animasi bersama rekannya, Antonius, yang bertugas sebagai sutradara.

Lima tahun mereka habiskan untuk merampungkan film yang kemudian diberi judul Knight Kris. Akihirnya pada 23 November lalu, Knight Kris, yang memiliki cerita dan visual dengan nuansa budaya Indonesia nan kental, dirilis di bioskop-bioskop Indonesia. Syahdan, Bayu menjadi sakti setelah menemukan sebilah keris di candi kuno. Di saat yang sama, raksasa Asura muncul dan mengamuk. Bayu bersama Rani kemudian menemui Empu Tandra demi bisa menaklukkan Asura dan Prajurit Bayang.

"Sejak kuliah kami memang diwanti-wanti untuk bikin local content. Kami benar-benar fokus mau kasih lihat visual-visual yang khas Indonesia dengan menampilkan keris maupun silat. Kami mau menonjolkan dan mempopulerkan budaya kita," ujar Antonius di Jakarta pada akhir November lalu.

Sementara jalan berbeda ditempuh Faza Ibnu Ubaydillah Salman alias Faza Meong, kreator komik populer Si Juki. Faza bercerita, karakter Si Juki awalnya lahir pada 2010 dalam seri komik strip yang disebarkan lewat media sosial. Warganet rupanya suka, bahkan memiliki banyak penggemar. Faza lalu mulai serius memikirkan cara agar karakter Si Juki bisa menjadi ikon Indonesia sekaligus merek yang punya daya jual.

"Awal tahun 2012, saya mulai rebranding Si Juki. Karakter ini enggak boleh cuma jadi komik saja, tapi juga harus muncul di berbagai macam media, misalnya stiker, merchandise, game, dan lainnya," ungkap Faza, yang juga lulusan DKV Binus University ini.

Lewat perusahaan Pionicon miliknya, Si Juki bisa mendapatkan IP (Intellectual Property) rights atau hak cipta, dan laris manis ketika diterbitkan jadi buku komik strip. Menurut Faza, setiap satu jilid buku komik strip Si Juki diterbitkan sebanyak 10 ribu kopi dan alami cetak ulang. Popularitas yang tinggi ini kemudian membuat Falcon Pictures (Comic 8, Comic 8: Casino Kings, My Stupid Boss, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) kepincut untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Film feature animasi Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir sudah rilis di bioskop sejak 28 Desember lalu.

Film Knight Kris dikerjakan selama lima tahun. (Image: Bookmyshow)

Kehadiran Knight Kris dan Si Juki ini menambah daftar pendek film feature animasi Indonesia yang telah diisi oleh beberapa film, seperti Meraih Mimpi (Phil Mitchell, 2009), Petualangan Si Adi (Heri Kiswanto, 2013), Battle of Surabaya (Aryanto Yuniawan, 2015), hingga Petualangan Singa Pemberani Atlantos (Lee Croudy, 2016).

Knight Kris dan Si Juki ini sedikit banyak juga bisa menjadi contoh untuk menjelaskan dua jenis strategi pemasaran, yakni push (membawa produk ke konsumen dengan cara mempromosikannyayang cenderung dilakukan Knight Kris) dan pull (mendorong konsumen untuk mencari tahu produk dalam proses yang aktif, seperti yang diterapkan Si Juki). Di luar negeri, penerapan strategi push ini lazim ditemui dalam pemasaran film-film animasi Hollywood, sementara film-film animasi Jepang biasanya memakai strategi pull.

Bagaimana hasil dari penerapan dua strategi tersebut bagi dua film animasi lokal ini? Berdasarkan data jumlah penonton di Indonesia yang dihimpun filmindonesia.or.id, dalam empat hari pemutaran perdananya, Knight Kris ditonton lebih dari 9.000 orang. Sedangkan Si Juki mendulang 72.000 penonton pada hari pemutaran perdananya, dan per 9 Januari ini sudah ditonton lebih dari 613 ribu penonton.

Tingginya perolehan jumlah penonton Si Juki juga tak bisa dilepaskan dari peran Falcon Pictures yang memang terkenal lihai dan tak ragu menggelontorkan uang untuk berpromosi. Mengutip berita Tempo.co, total biaya produksi dan promosi Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir disebut Frederica, produser Falcon Pictures, mencapai sekitar Rp 10 miliar.

Terlepas dari data tersebut, yang menjadi pertanyaan kemudian, strategi manakah yang lebih cocok diterapkan dalam memasarkan film animasi di Indonesia? Dermawan Syamsuddin, Head DKV Binus University, berpendapat bahwa strategi push belum bisa diterapkan di Indonesia karena membutuhkan bujet besar.

"Jepang juga enggak berhasil pakai push, karena duitnya enggak ada. Dia biasanya pakai pull," kata Deddy, panggilan akrab Dermawan, kepada saya pada akhir November lalu. Namun, lanjutnya, strategi pull maupun push pun tidak dapat terjamin bisa berjalan efektif apabila ekosistemnya belum mendukung, seperti yang terjadi di Indonesia.

"Banyak produk bagus, tapi enggak bisa maksimal penjualannya karena enggak di-endorse dengan benar. Problem lainnya, kebanyakan orang desain hanya mikir desain, tapi tidak untuk distribusinya maupun cara mengelola right-rights-nya," lanjut Deddy.

Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir. (Image: Bookmyshow)

Di tengah masalah-masalah struktural dalam industri film animasi yang belum matang di Indonesia tersebut, kemunculan para kreator muda, seperti Andrew, Antonius, dan Faza, tetaplah menjadi angin segar. Apa pun strategi pemasarannya, karya dan kerja kreatif mereka adalah wujud dari semangat sekaligus gairah yang membuncah di dunia animasi.

"Kalau sudah passion, mereka bakal jalan terus walau bertahun-tahun bikinnya dan menghabiskan banyak uang. Mentalitas ini sebenarnya tamparan buat industri," ujar Deddy.

Berani dan Butuh Kolaborasi

Sementara itu, Jepang, yang industri animasinya sudah berusia satu abad, ternyata kini juga menyimpan masalah struktural di balik fakta bahwa sejumlah film feature animasinya mampu meraih kesuksesan di pasar lokal maupun internasional. Sebut saja Your Name (Makoto Shinkai, 2016) dan Mary and The Witch's Flower (Hiromasa Yonebayashi, 2017). Keiichi Hara mengungkapkan hal ini ketika diwawancarai Screen International.

"Sebenarnya, hanya ada segelintir animator yang mampu membuat produksi film layar lebar dalam industri animasi Jepang saat ini. Karena kondisi ini, setiap produksi kekurangan personel dan terjadi perselisihan," bebernya.

Mengapa Jepang bisa sampai kekurangan animator? Hara menyebut upah yang rendah untuk mengerjakan film feature animasi sebagai penyebab terbesarnya. Ditambah lagi, para animator berbakat seringkali memilih masuk ke industri game karena upah yang lebih tinggi. Menurut Hara, upah layak, yang disepadankan dengan tuntutan teknik dan kerjanya, harus diberikan kepada orang-orang yang ahli dan terampil dalam industri animasi.

"Dengan begitu lingkungan kerja bagi para animator muda berbakat akan membaik. Saya tidak berpikir bahwa tidak ada masa depan bagi animasi Jepang. Saya hanya berharap akan ada anak-anak muda yang berani untuk masuk ke dalam industri ini," ucap Hara.

Berani memang titik mula menuju sukses. Saya ingat kata pepatah “Berani hilang tak hilang, berani mati tak mati?” yang memiliki makna: orang yang berani akhirnya akan menang juga. Namun, berani saja seringkali tidak cukup. Persiapan dan sokongan orang atau pihak lain juga bakal menentukan, tak terkecuali dalam industri animasi Indonesia yang ekosistemnya belum terbangun dengan baik. Dengan begitu, para kreator muda Indonesia yang berani masuk industri animasi ini bisa bertambah lagi, mengikuti jejak Andrew, Antonius, dan Faza.

Sejumlah upaya untuk membenahi ekosistem ini pun sudah dilakukan, meski belum maksimal. Menurut Ardian Elkana, Ketua Ainaki (Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia), upaya yang sudah dilakukan adalah kolaborasi promosi sejumlah IP ke dalam dan luar negeri dengan bekerja sama Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). Upaya hasil kerja sama dengan Bekraf lainya adalah kolaborasi akses permodalan dengan lembaga perbankan dan non-perbankan.

Namun, Ardian mengakui untuk upaya kolaborasi akses permodalan masih alami kendala lantaran terbentur regulasi, kendati Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta telah menyebut bahwa IP atau hak cipta bisa dijadikan jaminan fidusia (hak jaminan atas benda bergerak dan benda tidak bergerak yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu).

"Tapi itu baru berupa undang-undang, sedangkan lembaga perbankan meminta supaya Bank Indonesia dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menjadikan hak cipta sebagai jaminan bisa dimekanisasi sehingga bisa dijalankan oleh lembaga perbankan ini. Kalau itu sudah berjalan diharapkan akan lebih mudah lagi untuk mengucurkan dananya," jelas Ardian pada akhir November lalu.

Keiichi Hara. (Copyright: Image.net/TIFF)

Dalam kondisi industri animasi Indonesia yang masih belum matang dan terus berbenah diri ini, maka sudah sewajarnya untuk terus mengambil pelajaran dari mana saja, salah satunya adalah industri animasi Jepangsebagai salah satu kiblat animasi di duniaberikut problematikanya. Selain itu, sinergi dan kolaborasi juga harus selalu dilakukan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) industri animasi Indonesia, baik yang internal maupun eksternal.

Sebab, seorang kreator muskil bisa melahirkan karyanya apabila tidak bersentuhan dengan kreator dan pihak lain, lingkungan, masyarakat, hingga budaya serta aspek lainnya. Sebuah karya (seni) tercipta lewat siklus yang merespon dan melibatkan unsur-unsur tersebut. Tak bisa kita abaikan pula peran institusi art worldyang dibangun oleh jaringan produksi budaya, distribusi, konsumsi (Kadushin dan Williams dalam Inglis, 2005), serta elemen lain di dalamnya, seperti teknologi, penghargaan, kritik, dan audiens atau publik, terhadap napas sebuah karya.

Proses kreatif dan jaringan kerja seperti itu dipahami betul oleh Keiichi Hara. Ia tidak menempatkan diri secara khusus sebagai kreator. Dari interaksi dengan berbagai pihak, seperti novelis, komikus, hingga sutradara film, maupun persinggungan dengan elemen lain, ia menyadari bahwa orisinalitas tidak bisa selalu direngkuhnya. Ia memahami justru interaksi dan persinggungan itulah yang menjadi tahap penting dalam proses penciptaan karya, sehingga sensasi yang diterima dan dirasakannya dapat diteruskan ke penonton, bahkan generasi berikutnya.

Namun, yang tak kalah krusial, lewat karya-karyanya yang merupakan hasil dari interaksi dan persinggungannya tersebut, Hara berkata, “Saya ingin memprovokasi penonton.”

Provokasi ini menjadi penting karena kemudian ikut ambil peranan dalam mendorong anak-anak muda agar berani masuk ke industri animasi, seperti yang Hara juga harapkan. Kelak bukan tidak mungkin kerja dan karya Andrew Raditya, Antonius, dan Faza Meong dapat memprovokasi calon kreator lainnya di Indonesia.(*)

Angga Rulianto

Angga Rulianto. Editor Film di Jurnal Ruang. Sejak jadi jurnalis pada 2006, ia banyak meliput film. Tulisan-tulisannya terbit di filmindonesia.or.id, Pikiran Rakyat, Cinema Poetica, dan Muvila.