Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

Peminggiran Sastra di Tahun Politik

oleh Hikmat Gumelar

22 Januari 2018 Durasi: 6 Menit
Peminggiran Sastra di Tahun Politik Pinggiran bukanlah penguburan tetapi lahan subur bagi kreativitas sastra. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

"Sastra menciptakan persaudaraan antara keanekaragaman manusia dan memudarkan batas-batas yang didirikan antara lelaki dan perempuan oleh kepicikan, ideologi, agama, bahasa, dan kebodohan”.

(Mario Vargas Llosa)

Semangkuk mie rebus habis sudah. Namun belum pula sudah malam diguyur hujan. Di warung bubur kacang ijo dekat salah satu kampus ternama ini, terpaksa untuk kedua kali saya memesan kopi. Terpaksa pula saya terus menyimak tujuh anak muda yang meradang dari jarak sekitar sedepa. Mengitari sebuah meja bundar bekas gulungan kabel yang dipenuhi mangkuk bubur kacang, gelas-gelas kopi, dan asbak, ketujuh anak muda ini terdengar kompak. Mereka sama menganggap tahun 2018 sebagai tahun yang makin meminggirkan sastra. 

Dari meja bundar di sebelahnya, saya berkeras mengerahkan daya dengar. Suara mereka memang lantang. Namun suara hujan yang menimpa atap seng juga keras. Bersiasatlah saya. Ketika pesanan kopi kedua tiba, saya sontak berdiri dan pindah. Kursi kayu baru mengurangi jarak kami. Suara-suara mereka lebih mudah ditangkap.

Tahun 2018 memang tahun di mana politik dirayakan sebagai panglima. Pada tahun yang baru beberapa pekan kita masuki ini, selain akan diadakan 171 pemilihan kepala daerah, pun ada pendaftaran pemilihan presiden serta pendaftaran pemilihan DPR RI, DPRD tingkat provinsi, DPRD tingkat kabupaten/kota, dan DPD.

Jika saja demokrasi kita sudah sebuah demokrasi yang matang, berbagai pemilihan umum tersebut merupakan peristiwa berkala belaka. Bahkan besar kemungkinan merupakan peristiwa-peristiwa berkala yang  bermakna perbaikan di berbagai tingkatan dan dalam berbagai bidang. Akan tetapi, hingga kini politik yang dominan masihlah jauh dari berorientasi pada kebaikan bersama. Hingga kini kebaikan bersama lebih kerap sekadar nama untuk kebaikan pribadi dan atau golongan.

Berbagai pemilihan umum pun masih jauh dari sirkulasi elit eksekutif dan legislatif yang rasional melalui kontestasi integritas dan kompetensi dengan cara sesuai jargonnya, yakni jujur, adil, dan terbuka. Berbagai pemilihan umum masih lebih banyak sebagai pertarungan memperebutkan jabatan-jabatan untuk mereka yang kebanyakan minus integritas dan kompetensi. Mereka terjun ke dalam pertarungan lebih demi mengeruk bumi, air dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besar kemakmuran dirinya dan atau golongannya.

Pertarungan-pertarungan tersebut dimungkinkan oleh institusi-institusi demokrasi yang masih mudah dimanipulasi, masih merupakan ruang terbuka untuk berbagai jenis korupsi. Dan terjun ke dalamnya sebagai petarung tak pelak memperlihatkan kepribadian yang memprihatinkan dan berjarak sedemikian lebar dengan publik. Jarak sedemikian lebar dengan publik ini pun diatasi dengan akal-akalan belaka, bukan dengan bertungkus lumus dalam lautan keseharian khalayak dan berdasarkannya “berdarah-darah” dalam rentang waktu menahun membangun apa-apa yang merupakan jembatan yang kukuh.

Pemilihan umum mereka kontruksikan bukan sebagai kontestasi berkala, tapi pertempuran penghabisan; bukan sebagai ranah agonistik, tapi medan antagonistik. Hidup atau mati ditentukan oleh menang atau kalah di medan pertarungan penghabisan itu. Hal ini dicapai tentu tidaklah dengan mengerahkan visi, misi, dan program yang diedar dengan bahasa rasional dan mengakodomasi keragaman khalayak, tapi dengan mengobarkan api yang membakar sentimen-sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Dan para kontestan mengkonstruksi diri masing-masing sebagai representasi dari golongan yang unggul, bahkan kudus, namun hidup jauh dari patut karena ketidakadilan terus menggerusnya.

Konstruksi demikian bersifat ekslusif. Tertutup. Haram dipertanyakan. Yang dituntut olehnya hanya kepercayaaan dan kepatuhan. Begitu ada yang menyoalkan, betapa pun yang disoalkan jelas-jelas fitnah dan yang menyoalkan beralas data dan argumen misalnya, sontak disambut ledakan. Sontak menyoalkannya dituding bid'ah. Yang menyoalkannya diperlakukan sebagai anjing buruan. Darahnya dihalalkan. Darahnya seakan dipercaya sebagai air keramat yang membersihkan segala dosa. Alirannya seakan diyakini sebagai arus sungai suci yang yang membawa bahtera hidup menuju keabadian surga.

Jadilah beda tafsir ditampik. Tafsir yang lain, tafsir yang tak seperti diinginkan, langsung dihadapi sebagai najis, sebagai bisikan iblis, sebagai sang pemungkin kebenaran raib dan tatanan yang tertib dan adil gaib. Kesetaraan, keterbukaan, dan percakapan pun dimusuhi. Diusahakan untuk dibasmi bahkan semasih berbentuk benih.

Padahal, itulah substansi demokrasi. Padahal, itu pula yang dimuliakan dan diperjuangkan sastra.

Dalam Sepuluh Perintah Kepada Penulis Muda, Carlos Fuentes menulis, “Karya sastra –puisi atau novel—melejit ke banyak arah. Mereka tidak menuntut sebuah penjelasan singular, unik, apalagi kronologi yang presisi.”

Maka, seperti ditulis penyair besar asal Suriah, Adonis, kebenaran sastra “tidaklah tetap, tidak pernah final, dan senantiasa samar”.

Implikasinya sastra menanam dan merawat kepercayaan terhadap pluralitas kebenaran. Sastra berkeras memungkinkan kebenaran-kebenaran semua, seperti ditulis Chairil Anwar dalam CATETAN TH. 1946, “harus dicatet” dan harus “dapat tempat”. Mereka dimungkinkan leluasa saling berbincang, saling mendedahkan dan membedah hingga kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih teruji bermunculan. Dan, ini dilakukannya dengan terus mengolah bahasa keseharian, membebaskannya dari perangkap pemakaian yang serampangan, memerdekakannya dari penjadiannya sebagai alat komunikasi fungsional belaka, memungkinkannya bersayap dan terbang lepas menembus batas-batas hingga membentangkan cakrawala-cakrawala baru yang mengejutkan sekaligus masuk-akal. Bahasa dengan sendirinya menjadi semakin kaya dan berdaya karenanya.

Sastra pun lantas menjadi seperti yang disampaikan Mario Vargas Llosa saat menerima hadiah Nobel Sastra tahun 2010. Sastrawan asal Peru ini tegas mengatakan bahwa sastra “Membangun jembatan antara orang yang berbeda-beda, dan dengan membuat kita menikmati,menderita, atau terkejut, mempersatukan kita melampaui bahasa, kepercayaan, kebiasaan, adat istiadat, dan prasangka-prasangka yang memisahkan kita… Sastra menciptakan persaudaraan antara keanekaragaman manusia dan memudarkan batas-batas yang didirikan antara lelaki dan perempuan oleh kepicikan, ideologi, agama, bahasa, dan kebodohan”.

Akan tetapi, di tahun 2018, di tahun yang umum disebut sebagai tahun politik ini, semua bidang kehidupan didesak untuk mengurus dirinya dengan menjadikan peristiwa-peristiwa politik seperti yang telah disebutkan minimal sebagai bahan pertimbangannya. Langkah-langkahnya di tahun ini dan tahun berikutnya mau tak mau diharuskan menjadikannya sebagai dasar perhitungan. Sastra bukanlah bidang yang dikecualikan. Suka atau tidak, kegiatan-kegiatan kesastraan pun bertalian dengan itu semua.

Dan, itu berarti sastra pun dituntut untuk turut mengonstruksi daerah-daerah di Nusantara sebagai medan pertempuran penghabisan. Sastra didesak untuk ambil bagian mendirikan partisi-partisi dengan bahan sentimen-sentimen primordial. Sastra disesak untuk pula mengerahkan dayanya memecah belah bangsa, menjadikannya satu sama lain berseteru, bahkan siap membunuh dan dibunuh. Sastra juga didesak untuk untuk memproduksi bahasa yang mengubur kompleksitas pengalaman dan mensterilkan misteri-misteri dari bumi manusia. Sastra didesak untuk lebih banyak memproduksi ungkapan-ungkapan bernada khotbah atau fatwa yang dengannya menjadi (alat) kuasa dogma dan ortodoksi tertentu.

Jika memang demikian, teranglah tahun 2018 tak berlebih agaknya jika dikata sebagai tahun yang semakin meminggirkan sastra. Tahun yang semakin menjadikan sastra tergiring untuk berjalan memunggungi takdir dan kelebihannya.

Meski begitu, tak elok agaknya jika kita melulu tersedu atau meradang berkepanjangan. Saya sendiri melihat posisi sastra di pinggiran itu sebagaimana kerap dilontar almarhum Sutan Batugana, “Ngeri-ngeri sedap.” Saya melihatnya demikian karena sejarah sastra, setidaknya sejarah sastra yang pernah saya baca, mendedahkan bahwa karya-karya sastra bermutu banyak yang justru lahir dari pinggiran, atau sebagai narasi pinggirian.

Misalnya, prosa-prosa Pramoedya Ananta Toer. Karya-karya seperti Di Tepi Kali Bekasi, Percikan Api Revolusi, Perburuan, dan tetralogi Buru, semua merupakan narasi pinggiran. Begitu pula puisi-puisi Agam Wispi, seperti Matinya Seorang Petani, atau puisi-puisi Sutarji Calzoum Bahri yang dikumpulkan dalam O Amuk Kapak. Kebanyakan puisi bermutu para penyair Palestina, seperti Mahmoud Darwis dan Nizar Qabbani, pun merupakan narasi-narasi pinggiran.

Novel-novel Jose Rizal pun demikian. Prosa yang ditulisnya jelas merupakan perlawanan terhadap suara penjajah Spanyol yang saat itu mendominasi Filipina. Perlawanannya bukan saja turut membuatnya dihukum mati, tapi pun terus membangkitkan semangat kebangsaan dan antipenjajahan. Pun begitu dengan Gunung Sukma. Novel Gao Xingjian ini meruapakan salah satu karyanya yang terang melawan kuasa rezim komunis Cina. The Master and Margarita, novel Bulgakov, merupakan salah satu dari tak sedikit karya sastra Rusia yang melawan berbagai jenis teror diktator Stalin.

Tentu masih melimpah karya sastra yang demikian. Puan dan Tuan pun, hemat saya, bisa dengan mudah menambahkannya. Namun, itu saja rasa-rasanya sudah cukup menunjukkan bahwa peminggiran bisa bukanlah penguburan sastra. Pinggiran bukanlah kuburan bagi puisi, cerpen, drama, dan novel. Pinggiran malah justru bisa menjadi lahan subur bagi kreativitas sastra.

Sastra bisa menjadi demikian karena, seperti ditulis Fuentes, “Sastra mengubah sejarah –apa yang berlangsung di medan tempur Water­loo atau apa yang berlangsung di kamar pengantin Natasha Rostova dan Pierre Bezhukov—ke dalam puisi dan fiksi."

“Sastra melihat sejarah, dan sejarah mensubordinasikan diri kepada sastra sebab sejarah tak mampu melihat dirinya sendiri tanpa bahasa.” (*)         

Hikmat Gumelar

Hikmat Gumelar. Penulis esai, cerita pendek, puisi asal Bandung. Ia aktif juga di Institut Nalar.