Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

Maaf yang Terlambat dalam Unspoken Words

oleh Daniel Dian Teguh Santosa

26 Januari 2018 Durasi: 4 Menit
Maaf yang Terlambat dalam Unspoken Words "Unspoken Words" karya Alicia Lidwina mengundang perasaan emosional tentang kisah ibu dan anak.

Apa yang membuat kita menyayangi orangtua, terlebih lagi ibu kita? Seorang psikolog bernama Harry Harlow, lewat penelitiannya yang dilakukan pada tahun 1960-an, membantah hipotesis para psikolog lain pada masanya yang menduga bahwa kita menyayangi ibu sebagai respons balik seorang anak karena telah diberi makan.

Harlow melakukan percobaan yang melibatkan beberapa ekor monyet yang terpapar dengan kondisi minim makanan, sementara Harlow memasang dua sosok “ibu”. Sosok “ibu” pertama berupa tabung kawat yang dilengkapi botol berisi makanan, sementara yang kedua hanyalah kumpulan kain yang memberikan kehangatan dan kenyamanan.

Secara mengejutkan, para monyet itu menghabiskan waktu lebih banyak dengan sosok “ibu” kedua yang mampu memberikan kenyamanan dan hanya mengunjungi sosok pertama ketika mereka benar-benar merasa lapar. Dari penelitian itu Harlow menyimpulkan bahwa kita menyayangi sosok ibu karena mereka mampu membuat kita merasa aman dan nyaman.[1]
 

Ikatan Batin Ibu dan Anak

Kemudian dari rasa aman dan nyaman itu terbentuklah sebuah ikatan batin yang tak terpisahkan antara seorang ibu dengan anaknya, ikatan yang bahkan ajal pun tak mampu mematahkannya. Ikatan seorang ibu dan anaknya adalah hal yang begitu personal dan setiap orang memiliki kisah tentang kasih sayang ibu mereka masing-masing.

Tentu, sebagai seorang manusia, ibu bukanlah sosok yang sempurna dan tanpa cela. Terkadang ibu memiliki kehendak yang berlawanan dengan keinginan kita, atau terkadang kesalahpahaman yang terjadi membuat hubungan antara ibu dan anaknya menjadi renggang.

Namun, ketika kita menyadari bagaimana seorang ibu rela mengorbankan nyawanya sendiri, tak hanya saat mereka melahirkan kita, tetapi juga saat mereka mengorbankan segala yang mereka miliki untuk membesarkan kita, rasanya sulit untuk membuat mata kita tetap kering, sulit untuk mengingat berbagai macam pertengkaran yang pernah terjadi di antara kita dan ibu kita. Dan meskipun kata maaf sulit diucapkan lewat bibir, kita semua tahu kata itu sudah ada di dalam hati kita. Alicia Lidwina, dalam bukunya yang terbaru, Unspoken Words, membuktikan hal tersebut.
 

Mahalnya Kata Maaf

Dalam buku ini Alicia menceritakan Kemuning, seorang wanita yang bermimpi tentang ibunya yang sudah meninggal. Mereka berdua kemudian akan bercakap-cakap, berusaha menyampaikan pesan yang belum sempat dia ucapkan ketika Bunda masih hidup, lalu setelah dia terjaga, adegan akan berpindah ke masa lalu ketika Kemuning mengenang bagaimana hubungannya dengan Bunda perlahan-lahan merenggang.

Rasanya sulit memercayai bahwa Unspoken Words, yang tebalnya 310 halaman ini, ditulis hanya dalam waktu sembilan hari[2] ketika Alicia sedang menikmati liburan Idulfitri. Apalagi mengingat bagaimana mendalam dan sentimental novel ini ditulis; mencampurkan berbagai macam lini masa ke dalam satu bentuk yang terstruktur.

Buku ini sedikit mengingatkan kita akan Sabtu Bersama Bapak, sebuah buku lain yang mengangkat tema keluarga dan sosok orangtua. Dalam novel yang sudah diadaptasi ke layar lebar tersebut, Adhitya Mulya menyampaikan pesan dari seorang ayah kepada putranya lewat video sebelum beliau meninggal, petuah tentang bagaimana caranya menjalani hidup.

Unspoken Words, di satu sisi, memang tidak menyampaikan pesan-pesan moral secara tersurat—dan itu yang menyebabkan mengapa buku ini terasa lebih emosional—tetapi Alicia berusaha menyampaikan tentang betapa berharganya kata maaf itu. Sosok  Bunda dalam buku ini hanya mampu berbicara lewat mimpi—karena keterbatasan waktu yang dia miliki membuatnya tak mampu merekam video—tetapi Alicia memastikan setiap perjumpaan Kemuning dengan Bunda begitu berkesan.

Dalam perjumpaan mereka yang pertama, misalnya, terjadi tujuh tahun setelah Bunda meninggal, mereka berdua bertemu di meja makan rumah mereka yang lama, seakan-akan tak pernah ada ajal yang menghalangi mereka berdua. Hanya dengan satu kalimat sederhana, “Marah kenapa, Ning?”, Kemuning menangis kemudian dia terkenang masa ketika dia masih kanak-kanak, retakan pertama dalam hubungan antara ibu dan anak ini.

Pembaca kemudian akan dibawa ke masa kecil Kemuning ketika ayahnya meninggal dan membuat Bunda dan dirinya hidup pas-pasan, sementara Kemuning belia yang masih memiliki begitu banyak keinginan hanya bisa menelan ludah.

Setiap kali aku meniup lilin kue ulang tahunku dan melihat apa yang tertulis di sana, aku akan teringat pesta ulang tahun di taman kanak-kanak yang tak pernah kudapatkan.

Ketika Kemuning beranjak remaja, retakan itu semakin besar, terutama ketika keterbatasan ekonomi membuatnya tak memiliki teman di sekolah. Hal-hal sepele membuat Kemuning marah besar dengan ibunya, seperti masakan ibunya yang selalu tak terasa enak dan Kemuning terpaksa membawa bekal yang Bunda masak untuk menghemat, atau ketika sesosok pria mulai menghiasi kehidupan Kemuning sementara ibunya tak terlihat menyetujui hubungan mereka.

Jurang di antara ibu dan anak ini semakin lebar sampai akhirnya Kemuning menikah dan sambaran petir terakhir membuat hubungan mereka berdua tak bisa diperbaiki lagi karena Bunda meninggal.
 


Pencarian Sosok Ibu

Pada akhir buku ini, Kemuning menyadari betapa salah anggapan dirinya mengenai sosok ibunya sendiri. Kemuning mengira ibunya tidak menyayangi dirinya hanya karena dia tidak bisa merayakan ulang tahun bersama teman-temannya, atau karena ibunya tak pernah membelikan barang-barang yang dia inginkan. Bunda hanya tak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan Kemuning dan akhirnya beliaulah yang memohon maaf. Kemuning pun juga memaafkan ibunya, lama setelah Bunda memaafkan dirinya terlebih dahulu.

Hal itu mengingatkan pada sosok Taylor dalam On the Jellicoe Road, sebuah karya epik Melina Marchetta, Unspoken Words bukan hanya sekadar novel tentang kata maaf yang terlambat, melainkan juga pencarian Kemuning akan sosok ibu yang sebelumnya tak pernah dia kenal. Kata maaf harus melibatkan kedua belah pihak.

Mudah sekali untuk menyukai karya kedua pengarang ini, terutama karena tema ceritanya yang komunal meskipun eksekusinya bisa dibilang cukup tipikal dan sengaja ditulis untuk mengundang air mata. Gaya menulis Alicia sangat nyaman untuk dibaca, dengan pilihan kata yang lembut dan unik. Selain itu, perjumpaan lewat mimpi memang bukanlah suatu trope yang baru dalam dunia penulisan, tetapi Alicia berhasil menyelamatkannya dengan menyematkan akhir cerita yang sangat baik, sesuatu yang sulit ditebak—akhir cerita ini membuat hati menjadi hangat.

Karena Unspoken Words adalah tipe novel yang disetir oleh naratif dan alur, karakter-karakter dalam buku ini seakan menjadi latar belakang belaka, seakan-akan sosok Kemuning, Bunda, dan Samudra bisa diganti dengan sosok yang lain dan cerita ini masih akan berjalan.

Dalam blognya[3], Alicia mengaku bahwa dia merasa takut kalau Unspoken Words tak mampu sampai ke pembaca dengan baik, takut bahwa hubungan ibu dan anak yang dia rasakan tidak mampu dirasakan oleh para pembaca. Sebuah ketakutan yang beralasan. Hubungan ibu dan anak memang personal, tetapi kasih sayang seorang ibu bersifat universal. Tenang, Alicia, para pembaca bisa terhubung dengan Unspoken Words yang menakjubkan ini. (*)

Unspoken Words
Alicia Lidwina
Gramedia Pustaka Utama
2017


[1] Tannenbaum, Melanie. 2013. "The Incredible Importance of Mom" dalam Scientific American. 12 Mei 2013. Diakses dari https://blogs.scientificamerican.com/psysociety/mothers-day-2013/

[2] Lidwina, Alicia. 2018. "How I Wrote a Novel in 9 Days (Unspoken Words)" dalam blog. 5 Januari 2018. Diakses dari https://alicialidwina.com/2018/01/06/how-i-wrote-a-novel-in-9-days-unspoken-words/

[3] Lidwina, Alicia. 2017. "Of How Unspoken Words Came into Existence" dalam blog. 17 Desember 2017. Diakses dari https://alicialidwina.com/2017/12/17/of-how-unspoken-words-came-into-existence/

Daniel Dian Teguh Santosa

Daniel Dian Teguh Santosa. Pegawai swasta yang di tengah-tengah kesibukannya menjadi reviewer buku dan musik amatir.