Perjalanan Perempuan Terkutuk yang Kosmopolit

oleh Gilang Saputro

26 Januari 2018 Durasi: 5 Menit
Perjalanan Perempuan Terkutuk yang Kosmopolit Gentayangan. Intan Paramaditha. Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2017. 490 hlm.

"Paspor lebih buruk dari surat kawin,

kau bisa memilih suami tapi

kau tak pernah bisa memilih negara asalmu." (Satu Kunang-kunang Seribu Tikus, hlm. 48)

 

Gentayangan bukanlah kisah hantu urban seperti yang belakangan terus muncul dengan berbagai tawaran "identitas" nya. Kita tidak akan menemukan setan yang terlalu menyeramkan, dukun penipu, dan Kiai yang gagal. Gentayangan juga bukan aktivitas paranormal atau hantu yang tiba-tiba muncul di jendela, mengerjai saat mandi, dan mendekap di petiduran atau di dalam lemari, arwah penasaran atau iblis yang merasuk dan mewujud sebagai anak kecil menyebalkan yang tidak mati-mati.

Gentayangan tidak tampak bersusah payah untuk menghadirkan tegangan-tegangan suspen, misal seperti ketika kita membaca Abdullah Harahap atau Patrick Süskind. Sebagai novel dengan model alur "pilih sendiri". Gentayangan juga tidak seperti R.L. Stine yang membuat kita rela dikerjai untuk membolak-balik halaman, mengambil kaca, atau menerawang halaman dengan cahaya untuk sekadar menikmati bagian kisah seru yang sengaja ditulis terbalik. Sebagaimana dalam format memilih sendiri alur kisah, perjalanan yang seolah acak itu pada dasarnya mengisi fungsi sekuen yang logis. Pembaca akan mendapatkan pengalaman yang tidak jauh berbeda meskipun mengambil rute pengisahan yang berbeda. Tentu ada upaya agar pembaca memilih apa yang "diharapkan" oleh pengarang". Tanpa menjalani peristiwa itu, pengalaman membaca tidaklah utuh, kita bisa saja kehilangan kesempatan untuk memahami semesta kisah.

Gentayangan adalah kisah perjalanan perempuan kosmopolit dengan banyak kemungkinan rute dan kejadian bercampur horor, mitologi, serta berbagai penafsiran baru kisah-kisah petualangan masa kecil. Narator akan memosisikan Saudara sebagai "kau" pembaca, dengan cara itu pembaca dibawa masuk sebagai si perempuan gentayangan. Bagi pembaca lelaki, ada waktu yang cukup untuk masuk dan membaca lebih dalam sebagai perempuan. Sepanjang perjalanan dengan banyak kemungkinan itu, narator tidak peduli apakah Saudara setuju atau tidak pada berbagai kebenaran yang diajukan, bisa jadi dia sok tahu.

Pandangan narator terhadap dunia, godaannya untuk melibatkan kita dalam semesta yang dia bangun serupa dengan Iblis. Bedanya, dia tidak sedang menguji iman. Bahwa kemudian Saudara menemukan berbagai cara pandang baru selama perjalanan, itu tidaklah lain adalah hadiah, sebagai penemuan identitas serta pemahaman baru terhadap dunia. Pada pemahaman itu, berbagai anggapan moral yang universal muncul seiring dengan identitas yang baru Saudara jumpai. Tetapi Saudara tidak perlu khawatir, dunia yang baru ternyata tidak begitu asing, semudah jatuh cinta.

Sasaran pembaca Gentayangan bukanlah anak-anak. Saudara tentu tidak akan menemukan kesenangan membaca cerita hantu, misteri dan petualangan seperti masa kecil: pembunuh di suatu perkemahan musim panas dengan perilaku para penyintasnya yang konyol dan dengan amanat sederhana bahwa persahabatan dan kebaikan akan menang. Meskipun begitu, dalam novel ini Saudara bisa saja menemukan sedikit kesenangan dalam perpaduan yang janggal antara Malin Kundang, Bajak laut, Cermin Ajaib, dan Dorothy dalam The Wizard of Oz sembari menyimak berbagai adegan bercinta yang spontan dan liar antara si Perempuan dan Iblis di makam Bertolt Brecht, atau dengan lelaki lain. Tetapi, apakah pembaca dewasa memang tidak benar-benar lagi butuh bersenang-senang?

 

Kota, Perempuan, dan Tragedi

Gentayangan diawali dengan persekutuan seorang perempuan single yang baru saja terlepas dari kekasihnya, Yudi yang "Marxis-Eksploitatif", dengan seorang iblis lelaki berbulu, kerempeng, penuh luka, bermata merah, dan piawai bercinta. Iblis yang lalu mengabulkan permintaan si perempuan untuk bisa melakukan perjalanan dengan cara memberikan sepasang sepatu merah curian dari penyihir (dikisahkan terpaut dengan cerita Dorothy dalam The Wizard of Oz- atau sosok perempuan Hekate, Si Merah Salju-Dewi Persimpangan. Dewi orang tak berumah). Sepatu itulah, yang kemudian membawanya tidak dapat berhenti untuk "gentayangan".

Kepiawaian Intan Paramaditha berkisah dalam genre ini sebelumnya telah dibuktikan pada sebelas cerita Sihir Perempuan (2005). Tidak heran rasanya bahwa penggabungan antara gagasan terkait identitas perempuan, pandangan terhadap dunia dan identitas yang kosmopolit. Sikap individu yang sarkastik, dan sinis (untuk tidak disebut nyinyir) dalam memandang berbagai persoalan mulai dari hal remeh temeh, hingga persoalan-persoalan tragedi kemanusiaan dapat ditulis sebagai kisah yang saling sengkarut satu dengan lain. Dalam beberapa bagian terkadang terasa janggal, namun mengalir dan tidak kehilangan kepaduan. Tentu, dalam beberapa hal kisah-kisah horor dan mitos sebagaimana pada Sihir Perempuan, masih muncul dalam cara yang memikat baik sebagai ketakutan dan misteri atau muncul sebagai tafsir ulang.

Dalam Gentayangan, sebagaimana perjalanan yang diharapkan tidak terduga, pembaca diajak masuk dan berpindah dari satu kisah ke kisah lain.  Sebagaimana jalan nasib, tidak ada kepastian apakah setelah pergi kita akan menemukan apa yang diangankan, atau justru menghadapi hal-hal yang lebih pelik, sebelum sadar akhirnya tidak bisa kembali dan menarik keputusan. Tiap kisah, selanjutnya menghasilkan satu "benda", di sanalah identitas itu kemudian dikumpulkan yang kebanyakannya adalah tragedi.

Kehidupan dunia dalam Gentayangan, tidak lain adalah masalah yang tidak kunjung selesai dan tidak sepenuhnya dapat dipahami. Saya mengalami sekurangnya delapan akhir cerita yang berbeda, setelah memutuskan untuk tidak terburu-buru dan memutuskan untuk berjalan lebih lama dan lebih jauh. Seperti ketika saya memenuhi tantangan pada halaman 475 untuk mengenakan sepatu dan kembali lagi ke halaman pertama. Saudara dapat saja mengakhiri perjalanan di luar angkasa, di halaman 38 dan menutupnya dengan sepotong puisi "Manusia Pertama di Luar Angkasa" Soebagio Sastrowardoyo di sana: "Beritakan pada dunia Bahwa aku telah sampai pada tepi".  Atau Saudara bisa saja memutuskan untuk kembali pulang dan menghentikan perjalanan. "Kau" yang diajak bicara oleh narator tidak lain adalah kita pembaca yang dikutuk mengenakan sepatu dan tidak bisa berhenti melakukan perjalanan.

Kuperingatkan dirimu, sepatu ini adalah sepatu terkutuk. Kau terkutuk untuk bertualang, atau lebih tepatnya gentayangan. Bernaung, tapi tak berumah. ... Tapi mungkin ini sesuai dengan keinginanmu. Tiket sekali jalan. Dalam perjalananmu, kau akan mendengar banyak cerita, dan kau akan memungut hadiah. Satu hadiah untuk satu cerita, begitu kira-kira. Kau boleh memilih hadiah, juga jalan cerita sesuai keinginanmu. ... Kadang kau bertanya bagaimana kau bisa sampai di suatu tempat. Ini mungkin pengaruh sihir, tapi dalam perjalanan panjang, seseorang sering mengajukan pertanyaan macam itu. (Iblis Kekasih, hlm. 7-8)

Selamanya, perjalanan adalah tarikan antara ingatan masa lalu yang tertinggal di tanah asal dengan masa kini. Dari sanalah kemudian orang membawa persoalan yang melekat ditubuhnya; seperti kecintaan pada tanah air bagi para eksil, trauma bagi para penyintas Austwitch, Kunang-Kunang di Manhattan yang kosmopolit, wacana patriarki, moral dan fundamentalisme agama di Tanah air yang berjalin muncul dengan narasi tentang Sex Shop di Red Light Distrik. Tragedi tidaklah tersimpan di dalam museum, tapi tersimpan pada langkah setiap hari.

 

Kosmopolitanisme

Sebagaimana kosmopolitanisme memosisikan manusia dalam anggapan bahwa semua kelompok manusia dengan ragam etnik dan budaya merupakan satu komunitas yang didasarkan pada prinsip moralitas bersama. Perjalanan, tidak lain merupakan bagian dari gagasan besar terkait perubahan individu dunia ketiga dengan identitas yang kosmopolit sebagai warga dunia. Tentu pelik jika kemudian terkait pula dengan perempuan yang terikat oleh akar budaya patriarki, serta berbagai hal terkait anggapan fundamentalisme insitusi agama dalam memosikan perempuan.

Di sisi yang lain, pada identitas kosmopolit, simbol terkait identitas yang sebelumnya ideologis tidak terlalu menjadi dasar dalam pertimbangan penggunaan simbol-simbol itu. Sejarah yang memosisikan wacana demonik Partai Komunis Indonesia misalnya, dalam bentuk kelakar bisa saja muncul dalam akronim yang humoris. Penggunaan akronim PKI untuk "Perempuan Kutang Item" dalam cerita misal, sudah tidak lagi terpaut dengan makna esensial simbol itu. Sama halnya kemudian pada tidak ada lagi kategori Nyai, untuk menyebutkan perempuan-perempuan Indonesia yang dijadikan pendamping oleh lelaki Eropa kulit putih, berganti dalam sebutan perempuan eksotis "selera bule". 

Identitas tokoh perempuan utama "kelas menengah" yang berasal dan desa dan merasa pengap dalam menjalani kehidupan di Jakarta untuk kemudian melakukan perjalanan dalam berbagai identitas yang diberikan oleh Si Iblis dan menemukan hal-hal baru yang tidak terduga berbagai belahan negara yang berbeda, New York, Manhattan, Belanda, Berlin, Tijuana adalah gambaran pada bagaimana kemudian invdidu menjadi bagian warga dunia. Dalam upaya menjadi warga dunia itu, tragedi kemanusian dan isu-isu yang menjadi persoalan bersama adalah salah satu motif penyatuan, selain tentu saja penerimaan pada diri dan orang-orang dengan berbagai macam latar belakang.

Lantas apakah benar-benar individu dapat berubah sepenuhnya menjadi indentitas yang kosmopolit? Dalam faktanya tidak, batas identitas terkait warga negara yang tertera pada paspor adalah gambaran sederhana pada bagaimana "menjadi warga dunia yang tanpa batas" masih belum dimungkinkan. Hal utama yang lain adalah sikap esensial terkait tanah air yang masih melekat baik sebagai memori ataupun identitas diri dalam sudut pandang nasionalisme.

Situasi tersebut kemudian menjadikan individu semacam si perempuan ini dalam kondisi antara. Di satu sisi lain, ia telah memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiran dan membawa angan-angan kebaruan peradaban di negara-negara yang ia bayangkan. Setelah tercapai tujuannya dan dalam perjalanan panjang itu ia tidak menemukan harapannya dan memutuskan ingin kembali ke tanah kelahirannya. Sekembalinya di tanah kelahiran, ia tidak lagi bisa menemukan identitas lamanya, asing di tanah kelahiran, tidak diterima ataupun bisa kembali menjalani hidup seperti semula. Melanjutkan perjalanan adalah pilihan satu-satunya, tidak benar-benar akan bisa berhenti. (*)

Gilang Saputro

Gilang Saputro. Lahir di Bogor 1987. Seorang pembaca buku dan pengulas buku.