Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

(Bukan) Kisah Pengunduran Diri Almira Bastari

oleh Abduraafi Andrian

29 Januari 2018 Durasi: 4 Menit
(Bukan) Kisah Pengunduran Diri Almira Bastari Almira Bastari menceritakan naskahnya yang sembilan tahun ditolak penerbit. (Foto: Joshua Irwandi)

Pengunjung yang mayoritas mengenakan pakaian formal hilir mudik di food court pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Pusat itu. Jam makan siang tiba. Berpadu hijab kuning cerah, Almira Bastari datang mengenakan pakaian kantornya. Kami sengaja bertemu saat jam makan siang karena, setelah berdiskusi, pada saat itulah Almira bisa menyempatkan waktu.

"Bilang aja lagi bikin video buat pacar yang ulang tahun," ujar Almira bercanda. Sesaat berikutnya kami tertawa. Kamera Josh terpasang dengan tripod portabel di atas meja. Merasa khawatir, kami bersiasat merumuskan alasan kalau-kalau ditegur pihak keamanan mal. "Satpam di mal emang agak resek," celetuk Josh.

Sembari menikmati hidangan makan siang, Almira bercerita tentang karyanya yang baru saja diterbitkan, Resign!. Sebagai analis keuangan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, Almira menilai alasan orang mengundurkan diri dari pekerjaan tetapnya itu beragam. Alasan utama biasanya karena mendapatkan tawaran yang lebih baik atau merasa gaji yang sekarang terlalu rendah. Namun, sebagian orang terutama generasi milenial yang menginginkan resign karena butuh pengakuan dari atasan dan ingin dilakukan selayaknya karyawan pada umumnya.

Obrolan tentang mengundurkan diri memang lekat dengan pekerja kantoran. Begitupun obrolan tentang atasan atau bos di kantor. Coba saja curi dengar obrolan mereka ketika makan siang atau selepas jam kantor, pasti tidak jauh-jauh dengan dua topik itu. Dari situ pulalah ide Almira tercetus: membuat cerita yang amat berhubungan dengannya dan profesinya.

"Saya ingin mengangkat generasi milenial yang susah dipuaskan. Menurut saya, malah ini yang gampang diterima orang," jelas Almira.

Almira mengaku sudah hampir menyerah setelah sembilan tahun menulis dan mengirimkan naskah ke penerbit tapi selalu ditolak. Hingga temannya yang bekerja di dunia hiburan bermimpi bisa kerja bareng dengannya. Mungkin ada hubungannya dengan menulis novel karena Almira baru terima surat penolakan dari penerbit. "Hari itu juga saya merombak naskah itu dari sudut pandang pertama jadi sudut pandang ketika lalu mengirimkannya lagi," kenang Almira.

Sembari menunggu respons dari penerbit, Almira iseng cari tahu tentang Wattpad. Ia kemudian mengunggah naskah yang dikirimkannya ke situs kepenulisan itu walaupun tidak seluruhnya—jaga-jaga bila naskahnya kali ini diterima. Keasyikan, ia pun mengunggah Resign! di akun Wattpad-nya, Ratu Cungpret. Bab demi bab dibuatnya sepulang kerja sambil menunggu waktu aturan lalu lintas plat nomor ganjil-genap berakhir.

Saat dimintai pendapat tentang fenomena novel Wattpad yang hadir sejak tahun lalu, Almira menjelaskan alasan mengunggah karya-karyanya di Wattpad. "Saya cuma pengin tahu," ujarnya. Namun, semakin ke sini, ia melihat Wattpad bagus untuk tes pasar dan direct feedback. "Kalau dipetakan, ada bab-bab yang vote-nya melenting tapi ada yang jauh lebih sedikit. Dari situ, kita bisa melihat selera pembaca itu apa," imbuh Almira setelah menganalisisnya.

Sejak dulu, Almira punya keinginan untuk jadi penulis. "Pengin ada buku karya saya yang nangkring di toko buku," lengkapnya. Hobi menulisnya sudah lahir sejak SD. Kala itu, karya yang ditulisnya adalah cerita pendek. Ia selalu meminta teman-temannya membaca dan mencari tahu apakah mereka menyukai cerpen buatannya dan ingin baca cerita lanjutannya. Barulah pada umur 17 tahun ia mulai menulis naskah novel.

Usaha tak pernah mengkhianati hasil. Tahun lalu, ia merilis novel pertamanya berjudul Melbourne (Wedding) Marathon. Resign! pun menyusul dengan euforia luar biasa. 800 eksemplar terjual habis dalam beberapa menit pada kloter pertama pemesanan awal. Kloter kedua, 800 eksemplar lagi pun habis walaupun dalam jangka waktu lebih lama. Angka yang termasuk besar untuk pemesanan awal buku karya penulis pemula.

Berbeda dengan novel pertamanya yang bergenre romance, Resign! lebih mengusung tema komedi. Almira mengaku tidak pernah belajar untuk menulis humor. "Sejujurnya, saya menulis saja. Ketika menulis dan tertawa, bagi saya itu sudah lucu. Alhamdulillah, ternyata jokes-nya bisa diterima," ungkapnya.

Resign! bercerita tentang seorang karyawan kantoran biasa atau biasa disebut cungpret yang berkeinginan untuk resign karena tidak tahan dengan sikap bosnya dan selalu mendapat benturan. Bersama cungpret satu timnya, ia membuat taruhan dengan hukuman siapa pun cungpret yang paling terakhir mengundurkan diri akan mentraktir yang lainnya di restoran paling mahal. Interaksi konyol antarpara cungpret juga dengan bos mereka akan membuat pembaca tertawa geli.

Berbicara soal penokohan, Almira menilai bahwa tokoh-tokoh dalam Resign! tipikal karyawan kantoran biasanya. Ada atasan laki-laki yang arogan, karyawan yang pekerjaannya bagus namun selalu diremehkan, dan karyawan kesayangan bos. Ada juga karyawan baru lulus cantik jelita yang lugu dan sangat feminin. Terakhir, karyawan yang rada-rada bebal. Karakter-karakter yang amat mendukung untuk dibuat cerita dengan sentuhan humor. Dan Almira dengan lihai memadukan kesemuanya dalam Resign!.

Saya gak gak pernah suggest orang untuk resign di novel ini, ujar Almira. (Foto: Joshua Irwandi)
Melalui novel ini, Almira tidak menyarankan orang untuk resign. (Foto: Joshua Irwandi)

Banyak karya literatur populer nan laris manis dikontrak rumah produksi untuk diangkat ke layar lebar. Kans itu pun berlaku pada Resign!. Ketika ditanya apakah menerima tawaran karyanya difilmkan atau tidak, Almira amat terbuka dengan kesempatan itu sejauh penulis skripnya dapat menerjemahkannya ke dalam bahasa visual. Ia khawatir keseluruhan adegan dalam bukunya tidak memenuhi standar durasi tayang film karena terlalu pendek. Humor yang dihadirkan pun jadi perhatian khusus. "Apa yang kita anggap lucu di novel, belum tentu bila divisualisasikan akan tetap lucu," acuhnya.

Bila difilmkan, Almira pun mengatakan tidak akan mengekang proses penulisan skripnya. Menurutnya, penulis skrip sudah punya jam terbangnya sendiri sehingga lebih tahu adegan-adegan yang tepat untuk divisualisasikan. Malah egois kalau terlalu mengatur dan hasilnya juga tidak bisa maksimal. "Setiap orang punya spesialisasinya sendiri-sendiri. Penulis skrip menulis skrip dan saya menulis novel."

"Hal terbaik dapat terjadi ketika kita mengenyampingkan kesempurnaan," Almira berpedoman.

Ketika ditanya soal asal mula kata cungpret, Almira menganggap hal itu cukup lazim di kalangan pekerja. Cungpret sendiri merupakan singkatan dari kacung kampret sebagai kata ganti karyawan kantoran biasa. Sebagai penulis Resign! dan dalam rangka memperkenalkan istilah cungpret, Almira menobatkan dirinya Ratu Cungpret. Temukan dirinya melalui media sosial Instagram @almirabastari untuk berkenalan langsung dengannya, juga akan ada aktivitas seru seputar novel terbarunya ini.

Akhirnya, sebagai Ratu Cungpret, Almira memberikan saran mengundurkan diri dari pekerjaan—yang tidak ada di dalam Resign!. Katanya, "Kalau mau resign, pastikan jangan karena emosi sesaat. Lakukan untuk hal yang lebih baik. Baik itu dalam hal karier maupun keluarga." Wahai para cungpret, ingatlah petuah Ratu Cungpret ini! (*)

Abduraafi Andrian

Abduraafi Andrian. Editor Fiksi Populer di Jurnal Ruang. Pencandu buku dan pegiat komunitas. Jeda kegiatannya diisi dengan menuliskan pengalaman membaca melalui ulasan di blog bukunya.