Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

Dilan, Lintang, Meva, Kalian Sungguhan?

oleh Muhammad Al Mukhlishiddin

04 Februari 2018 Durasi: 5 Menit
Dilan, Lintang, Meva, Kalian Sungguhan? (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Sorak gereget para gadis menggema di seantero teater. Gara-garanya Iqbaal Ramadhan, pemeran Dilan di layar lebar itu, tertawa beberapa kali pada suatu adegan panggilan telepon. Pada adegan Dilan menjilat materai pun mereka lebih semangat lagi bersorak.

Sejak di lobi bioskop, saya menduga pemutaran film Dilan 1990 akan sangat ramai. Saya saja mesti menanti dua sesi pemutaran untuk dapat kursi padahal film arahan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq itu diputar di lebih dari satu teater. Tapi, saya tidak menyangka reaksi penonton akan begitu heboh ketika menontonnya. Apakah ini pertanda bahwa kehebohan seputar pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai Dilan berakhir bahagia?

Berbeda dengan pengumuman Vanesha Prescilla memerankan Milea, kabar karakter Dilan yang diperankan Iqbaal Ramadhan menuai kontroversi. Bersama gelombang keberatan itu, muncul pula beragam saran mengenai siapa saja yang cocok memerankan Dilan, sebagaimana juga diajukan pada artikel ini.

Proses alih wahana dari novel ke film adalah lazim ketika terdapat hal-hal yang dirasa tidak cocok, baik itu pemilihan aktor maupun adegan yang ditampilkan di film. Fedi Nuril saja mengaku pernah dianggap tidak cocok memerankan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta.

Lebih besar dari soal cocok-tidaknya pemilihan Iqbaal adalah kehebohan seputar keberadaan sosok Dilan maupun Milea, sebagaimana yang dapat disaksikan dalam banyak sesi tanya jawab pada acara bincang buku Dilan. Apakah sosok mereka memang benar-benar ada? Siapakah sebenarnya mereka itu dan di mana mereka sekarang?

Dalam bukunya, terdapat hal-hal yang membuat Dilan dan Milea terasa sebagai fakta. Misalnya,  pencantuman tanggal peristiwa tertentu oleh Milea pada Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 yang makin terasa nyata kala beberapa tanggal itu dibantah oleh Dilan pada Milea: Suara dari Dilan, seperti waktu kematian Bu Rini. Dilan yang mengaku ingat samar-samar tentang peristiwa-peristiwa tertentu, hal yang alami terjadi apabila seseorang bercerita sehari-hari. Lalu, semacam penegasan pada buku ketiga juga bahwa trilogi Dilan adalah penyusunan ulang Pidi Baiq atas kesaksian Milea dan Dilan. Itu baru segelintir petunjuk saja.

Belum lagi adanya akun Twitter bernama Milea Adnan yang aktif bersahutan dengan Pidi Baiq dan dibanjiri pertanyaan seputar Dilan serta masa lalunya. Misalnya, pertanyaan soal kematian Akew pada tanggal kematiannya. Foto di Tribun Jabar pun berasal dari akun Twitter itu. Juga pada sesi tanya jawab, Pidi Baiq mengaku tokoh-tokoh dalam buku itu memang ada. Kesan bahwa Dilan dan Milea (juga apa-apa yang mereka alami) itu nyata, bukan fiktif, makin menguat.

Persoalan semacam ini bukan yang pertama. Saat serial Sepasang Kaos Kaki Hitam karya Ariadi Ginting (atau yang terkenal sebagai Pudjanggalama) meledak di Kaskus, orang-orang ingin tahu rupa sesungguhnya Mevally, tokoh utama dalam kisah itu. Tidak heran apabila tanggapan orang-orang demikian.

Sepasang Kaos Kaki Hitam dituturkan oleh orang bernama Ari, nama asli dari Pudjanggalama. Ditambah lagi, kisah gadis yang punya kecenderungan melukai diri itu diterbitkan di subforum Stories From the Heart yang pada mulanya dimaksudkan untuk memuat curhat. Sebagaimana halnya Milea, beredar pula foto yang konon merupakan sosok asli gadis yang kerap disapa Meva itu.

Walaupun tidak seheboh Dilan dkk. dan Mevally, Laskar Pelangi juga mengalami hal serupa. Toh Andrea Hirata sendiri mengaku bahwa bukunya itu didasarkan pada pengalaman masa kecilnya bersekolah di SD Muhammadiyah. Pada salah satu episode Kick Andy tentang buku itu, dihadirkan pula Bu Muslimah, tokoh guru yang digambarkan penuh perjuangan dalam buku itu.

Bahkan, Liputan 6 membuat laporan bertajuk “Jejak Laskar Pelangi di Kehidupan Nyata”. Dalam laporan itu, tim Liputan 6 mendatangi Belitung dan mewawancarai “anggota Laskar Pelangi”, seperti Kucai, Harun, dan Mahar. Salah satu tujuan laporan itu adalah mengusut jati diri Lintang, anak jenius malang yang tersia-siakan akibat kemiskinan.

Laporan itu seolah mengatakan bahwa apa-apa dalam Laskar Pelangi faktual padahal tidak sedikit pendapat bahwa kebolehjadian novel itu patut diragukan. Misalnya, terdapat pertanyaan, “Bagaimana bisa Lintang punya pengetahuan sebanyak itu sedangkan Laskar Pelangi menekankan bahwa sekolah mereka sangat miskin dan koleksi buku satu-satunya hanya milik kepala sekolah yang tidak seberapa?”

Kasus Dilan, Mevally, maupun Lintang itu memicu pertanyaan, sedemikian berartinyakah permasalahan faktual atau fiktif (dengan kata lain, nyata atau tidak) sebuah kisah sehingga orang-orang melontarkan pertanyaan, “Apa tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa itu sungguh ada?”

Lantas, bagaimana seandainya para penulisnya mengaku bahwa kisah-kisah itu hanya rekaan mereka belaka? Apakah dengan begitu kemudian orang-orang menampik segala rangsangan perasaan maupun pikiran dari karya-karya itu? Misalnya, dengan berkata, “Ah, itu kan cuma novel. Jadi, tak perlu terlalu dipusingkan.”

Di satu sisi, persoalan semacam ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh itu berhasil digambarkan semengesankan mungkin. Dilan adalah panglima tempur geng motor yang tak segan memukul guru sekaligus jago merayu dengan gaya yang lucu dan cerdas dalam hal pelajaran. Citra urakan sekaligus slengean inilah yang dianggap tidak cocok dengan persona panggung Iqbaal yang telanjur melekat sebagai personel Coboy Junior, boyband yang erat dengan hal-hal manis dan imut.

Mevally adalah gadis yang berasosiasi dengan setelan hitam dan bersifat sangat tertutup tapi ternyata bisa bermanja-manja juga. Pokoknya cantik nan menggemaskan. Tapi, ketika foto perempuan yang diduga Mevally beredar, orang-orang mengeluh bahwa di foto itu ternyata Mevally tidak secantik dan semenggemaskan itu.

Tokoh Lintang memang tidak mengalami hal-hal itu, tapi juga tidak kalah mengesankan. Lihat saja adegan cerdas cermat dalam bukunya atau adegan Lintang harus melewati kawanan buaya untuk sampai sekolah.

Penggambaran mengesankan semacam itulah yang berhasil membuat mereka hidup dalam benak dan hati pembaca.

Sebagaimana peribahasa dari mata turun ke hati, simpati yang muncul akibat betapa mengesankannya tokoh-tokoh itu mengantar pembaca untuk lebih dekat dengan persoalan yang dipaparkan dalam bukunya. Lintang, misalnya, pada masalah orang berpotensi besar tapi terhimpit persoalan kemiskinan. Mevally pada masalah betapa keyakinan tertentu merusak rumah tangga sehingga menimbulkan trauma pada semua pihak, apalagi anak. Dilan pada masalah betapa prasangka hitam-putih akan merugikan. Atau mungkin yang setidak-tidaknya terasa adalah betapa beragam faktor memisahkan dua orang manusia yang kelihatannya pasangan sempurna.

Simpati terhadap para tokoh itu dimaksudkan sebagai pintu menuju persoalan-persoalan di seputar mereka, bahkan sampai detail-detail di sekelilingnya. Misalnya, lewat Dilan kita diingatkan/diperkenalkan dengan keadaan Bandung pada tahun ’90-an. Tokoh-tokoh itu adalah gerbang menuju apa-apa yang ingin disampaikan penulis, walaupun tidak mesti mereka menjadi toa si penulis secara gamblang.

Saya jadi ingat salah satu dialog dalam 24 Jam Bersama Gaspar karya Sabda Armandio. Dalam sebuah interogasi polisi bertanya, “Tapi, bisa saja adik ipar Anda mengarang cerita tentang kotak itu, kan?” Lalu, dijawab, “Iya, tentu, Bapak benar sekali. Tapi, selama ceritanya disampaikan dengan menarik, saya tidak peduli.”

Bisa saja cerita yang disampaikan itu karangan belaka. Bisa saja klaim tentang kefaktualan cerita itu karangan belaka. Selama disampaikan dengan menarik, tidak mungkin pembaca akan mengabaikan cerita. Malah sangat mungkin segala rangsangan perasaan dan pikiran yang timbul dari cerita itu akan terus bercokol dalam benak dan hati. Malah sangat mungkin perasaan dan pikiran akan berubah gara-gara rangsangan itu.

Kalau sudah begini, kita mesti peka terhadap apa-apa yang ingin disampaikan lewat sebuah kisah. Kita mesti lebih perhatian terhadap kenapa hal-hal itulah yang disampaikan para penulis. Dalam bercinta saja mesti peka dan perhatian, masa dalam membaca tidak?

Sungguh sayang apabila sudah berpanjang-panjang bicara tentang faktual atau tidak satu tokoh, tapi ketika ada fotonya, misalnya, ujung-ujungnya perdebatan yang timbul hanya berkutat pada cantik atau tidaknya Mevally atau Milea asli, atau pada Iqbaal yang terlalu imut untuk jadi Dilan belaka. Memelintir Sujiwo Tejo, para penulis berkarya tidak sebercanda itu. (*)

Muhammad Al Mukhlishiddin

Muhammad Al Mukhlishiddin. Menulis ulasan buku, film, dan gim di al-ulas.blogspot.com, dan menerjemahkan komik dan cerita pendek di terjemahal.blogspot.com.